Monday, January 9, 2012

Suatu Hari Di Bukit Hermon

Suatu Hari Di Bukit Hermon


Malam belumlah larut namun suasana di Rumah Retreat Bukit Hermon - Tawangmangu yang hari ini dipakai untuk acara retreat mahasiswa Kristen dari FISIP UNS Solo terlihat sangat sepi. Hal ini dapat dimaklumi sebab acara yang telah berlangsung selama 2 hari ini memang menguras banyak tenaga. Akibatnya semua peserta malam ini lebih memilih tidur mengistirahatkan badan daripada bergadang.

Tapi benarkah semua telah tertidur? Eit tunggu dulu... Ada tiga mahluk hidup yang berlarian menuju kamar paviliun. Apa saja yang menghalangi, mereka terjang, kalau halangannya terlalu berat untuk diterjang ya dilompati, kalau gak bisa diterjang atau dilompati ya nyari jalan lain... yang penting lari... lari... lari... Kelihatan sekali mereka sedang dikejar alias melarikan diri dari sesuatu. Tapi apa ya?

"Gawat, gawat... wah bener-bener gawat, Met!"

Meity yang sedang duduk di depan kamar paviliun heran melihat Burwan, Irvan, dan Arief lari pontang-panting ketakutan, "Ada apa sih?"

"Ada di sana, Met..." jawab Arief sekenanya, "hegh... hegh... hegh..."
"Ada di sana apa?"
"Ada hegh... hegh... hegh... ada hegh... hegh... hegh..."
"Ada hegh... hegh... hegh... apaan?,"
"Ada hantu, Met,"
"Boooong!"

"Bentar, Met nanti kami ceritakan tapi sebelumnya biar kami bernafas dulu, OK?" pinta Burwan yang langsung ditanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Meity.

Tanpa babibu ketiga anak tersebut langsung sibuk mengatur nafasnya masing-masing hegh... hegh... hegh... meong (lho)

"Begini ceritanya," Irvan mulai bercerita setelah merasa irama nafasnya sudah mulai teratur, "tadi kami jalan-jalan ke depan terus melihat Sigit sedang duduk sendirian di depan. Ya kita samperin aja lalu kita ngobrol ngalor-ngidul, utara-selatan tanpa juntrungan. Nah pas asyik-asyiknya ngobrol, Sigit bilang eh kalo wajahku kayak gini cakep gak? Begitu aku liat wajahnya... tiba-tiba sudah berubah jadi tengkorak!"

Burwan ikut nimpali, "kupikir ah paling cuma topeng tapi waktu kulihat di mulai berdiri dan ternyata kakinya gak menyentuh tanah, ya udah kami sepakat untuk lari..."

"Eh, jangan-jangan dia ngejar kalian." goda Meity.

"Hush, jangan bilang gitu donk," protes Arief sambil mengarahkan pandangannya ke lorong menuju arah depan.

"Tadi kalian bilang hantu itu memakai wujud Sigit, ya?" Meity coba kembali menegaskan cerita teman-temannya. Mereka pun hanya menjawab dengan anggukan.

"Wah terjadi lagi, deh," ucap Meity singkat tanpa menunjukkan wajah kaget, takut atau cemas. Ekspresi wajah yang tentu saja mengundang tanda tanya besar bagi teman-temannya. Ada apa dibalik semuanya ini. Mengapa Meity berkata 'wah terjadi lagi' Apakah peristiwa ini sudah terjadi sebelumnya?

"Emangnya ada apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya, "dulu udah pernah kejadian kayak gini, ya?"

"Iya," jawab Meity singkat. Sejurus kemudian ia mulai bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu ada peserta retreat yang meninggal karena kecelakaan. Waktu itu ia datang menyusul retreat. Tapi malangnya di tengah perjalanan ia ditabrak bis dan tewas seketika di tempat itu juga. Hal ini membuat arwahnya masih penasaran untuk mengikuti acara retreat. Akhirnya ia sering menemui siapa saja peserta retreat di Bukit Hermon ini dengan mengambil wujud peserta lain.

"Nah rupanya kali ini ia menampakkan diri kepada kalian dengan mengambil ujud Sigit"

"Hiii..." respon ketiga anak tersebut hampir bersamaan.

"Eh kalian harusnya bangga donk dijumpai arwah orang tersebut," canda Meity, "jarang-jarang lho ada yang bisa melihat penampakannya."

"Enak aja... amit-amit... dibayar berapapun gak sudi aku ngalaminya lagi!! " teriak Burwan.

Akibat teriakan Burwan tersebut, sebuah pintu kamar terbuka. Di depan pintu tersebut terdapat nama "Bambang", ketua panitia retreat. Memang ini adalah kamarnya Bambang, karena sesaat kemudia ia keluar dari kamar.

"Lho, kok kalian belum tidur?" tanya Bambang penasaran.

Tanpa basa-basi, ketiga anak tersebut secara bergantian menceritakan peristiwa yang baru saja mereka alami.

"Kalian masih percaya dengan arwah penasaran ya?!"
"Ya, jelas donk, soalnya tadi kami mengalami sendiri."
"Bagaimana kalian tahu kalau dia adalah arwah penasaran?"
"Kan ceritanya memang begitu, dia itu arwah orang yang meninggal sewaktu hendak pergi..."
"Kalian yakin cerita itu benar?", tanpa memberi kesempatan teman-temannya menjawab Bambang kembali bertanya, "bagaimana kalau yang muncul ke hadapan kalian tadi bukan arwah penasaran?"
"Lalu apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya.
"Setan," jawab Bambang, "setan yang mengambil wujud manusia dengan memanfaatkan peristiwa mengenaskan yang dulu pernah terjadi."

"Kenapa kamu bisa yakin bahwa dia adalah penjelmaan dari setan," kali ini Burwan yang bertanya
"Lho, tadi kan sudah dijelasin secara gamblang saat KKR," jawab Bambang

Ketiga anak tersebut saling berpandangan satu dengan yang lain sebelum akhirnya memberi pengakuan, "Kami tadi gak ikut KKR-nya, hihihihi..."

"Ah, kalian ini." Walaupun agak jengkel karena ada yang tidak menaati peraturan yaitu mengikuti semua acara retreat, Bambang tetap antusias menceritakan isi khotbah saat KKR tadi. Ia menceritakan bahwa dunia orang mati sudah berpisah dengan dunia orang hidup. Orang yang sudah mati tidak dapat lagi berhubungan dengan orang yang masih hidup dan sebaliknya. Ini dilukiskan dalam perumpamaan orang kaya dengan Lazarus. Bila ada orang yang kelihatan seperti orang mati bisa jadi ia adalah setan yang mengambil wujud orang yang sudah mati. Tujuannya tentu saja untuk melemahkan iman seseorang agar ia lebih takut kepada orang yang sudah mati dibandingkan takut kepada Allah.

Pembicaraan satu arah pun akhirnya berkembang menjadi diskusi yang cukup segar. Sesekali mereka bercanda namun isi dari pembicaraan tetap terjaga.

"Hei, kalo mo sharring pelanan dikit dunk?!" bentak Meity yang terganggu dengan suasana ramai diluar kamarnya.

Burwan, Irvan, dan Arief saling berpandangan. Mereka merasa Meity yang tadi duduk di sebelah kiri Burwan belum masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kanan Burwan. Sementara itu jalan satu-satunya masuk kamar ialah melalui pintu kamar tapi sejak mereka datang tadi pintu kamar tersebut sedikitpun belum bergerak.

"Lho, Met sejak kapan kamu masuk kamar? Bukankah tadi kamu masih ngobrol bersama kami?"

"Enak aja! Aku dah tidur sejak jam 9.00 tadi dan baru bangun karena mendengar suara berisik kalian!"

Spontan Burwan, Irvan, dan Arief menoleh ke tempat Meity duduk. Kosong! Ketiga anak tersebut saling berpandangan dan akhirnya sama-sama pingsan.

(Hardhono)

1 comment:

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com