Sunday, January 1, 2012

Kapitalisme di Rumah Tuhan


Kapitalisme di Rumah Tuhan

Secara umum, Kapitalisme mengacu pada sistem ekonomi dan sosial dimana produksi didominasi, dikuasai dan dioperasikan dengan tujuan mendapatkan laba untuk keuntungan para pemiliknya.
– Terjemahan bebas dari kamus Wikipedia.


“Ambil aja beberapa lembar, lumayan buat dibagiin ke murid-murid lo.”

Itu yang saya ucapkan ke seorang teman, waktu kami melihat brosur-brosur berbahasa inggris di sebuah gerai kopi sambil memasukkan sedotan ke wadah kopi masing-masing. Teman saya adalah seorang guru bahasa Inggris. Waktu itu, kami sedang melihat gambar-gambar cantik dengan teks bahasa Inggris, yang muncul di pikiran saya cuman: ih lucu juga nih buat dibagi-bagi dan dipelajari artinya.

Teman saya menggeleng. “Ogah, gue males ngajar pake materi gituan. Kapitalis banget.”

Saya cuma manggut-manggut nggak penting sambil membawa gelas berisi Peppermint Mochacinno Latte ke meja yang udah kami pilih. Mendadak, saya ingat pada perbincangan di kanal maya dengan seorang kawan pria, beberapa bulan lalu, waktu lagi ngobrolin soal aktivitas mengajarnya di sebuah universitas swasta. Betapa kualitas pendidikan pada masa sekarang ini nggak lagi menempati tangga teratas dalam daftar prioritas. Betapa jumlah mahasiswa-lah yang paling penting, nggak peduli kondisi kampus dan fasilitas yang semakin menua dan nggak mampu lagi menyerap pendatang baru secara maksimal.

“Kampus gue mah kapitalis sejati, lah,” cetusnya sambil membubuhkan icon berupa bulatan kuning yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Lain waktu, melalui blog, seorang teman mengomentari berdirinya sebuah pusat hiburan untuk anak di Jakarta. Pusat hiburan itu menawarkan berbagai sarana bermain yang terbilang sangat ‘wah’ dan nomor satu megahnya di Indonesia, belum lagi janji-janji mengenai pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan sambil bermain. Tiket masuk terdiri dari enam digit angka, dan untuk memperolehnya para orang tua harus rela mengantri di loket dari jauh-jauh hari. Di sana, anak-anak diajarkan cara melakukan berbagai pekerjaan layaknya orang dewasa, lengkap dengan kostum dan fasilitas yang mendekati betulan. Nggak cuman itu, usai bekerja, setiap anak bakalan dapat ‘gaji’ berupa mata uang mainan yang bisa didapatkan melalui ATM dan dibelanjakan di area bermain tersebut. Canggih.

Intinya, selain diperkenalkan pada dunia kerja dan beragam profesi, anak-anak diperkenalkan pada realita kehidupan yang bakal mereka temui di dunia nyata – mungkin belasan taon dari sekarang. Bekerja demi mendapatkan uang. Berpeluh dan menguras tenaga demi lembar-lembar rupiah yang seringnya cuman ‘numpang lewat’ di rekening (sampai ahli keuangan Safir Senduk menawarkan solusi atas masalah ini via SMS, yang tentunya nggak gratis juga, hahaha!). Kalo mencari uang itu ternyata nggak gampang. Kalo hidup tidaklah sesederhana dunia kecil yang mereka miliki.

Dumbfounded,” itulah komentar yang muncul di commenting system blog teman saya. “Anak kecil udah diajarin kapitalisme. Bodoh.”

Ya. Di wahana super-luas dan megah itu, anak-anak kecil belajar sebagian realita hidup. Bahwa mereka harus siap berhadapan dengan monster kapitalisme di dunia nyata. Bahwa keuntungan berupa materi adalah sesuatu yang lumrah buat dikejar sekuat tenaga.

Beberapa minggu sebelum saya menuliskan artikel ini, seorang sahabat --yang udah jadi pengkhotbah penuh waktu selama belasan taon-- menceritakan pengalamannya. Ia didatangi seorang ‘broker’ rohani yang menawarkan ‘cara cepat jadi populer’.

Broker itu menawarkan diri buat ‘membukakan pintu-pintu pelayanan’ bagi sahabat saya – nggak tanggung-tanggung bos, ke seluruh penjuru Indonesia. Koneksi mantap, kerahasiaan terjaga.

“Mau pelayanan tiap hari juga bisa, dan untuk jadi terkenal sama sekali nggak sulit,” sahabat saya menirukan ucapan Broker.

Itu saja? Ya enggak lah. Ada timbal baliknya. Broker tersebut meminta ‘kompensasi’ sebesar 5 sampai 10 persen dari setiap persembahan yang diterima si pengkhotbah usai melayani.

(Nggak sekalian minta 20 persen, ngalahin perpuluhan, batin saya kecut.)

Sahabat saya menolak tawaran itu. Ia memilih untuk mempercayai kalo Tuhan yang udah memanggilnya masuk dalam pelayanan adalah Tuhan yang sama, yang akan mencukupi setiap kebutuhan dan membukakan pintu demi pintu baginya. Promosi datang dari Tuhan, dan kalau Tuhan yang membuka, nggak ada seorang pun yang bisa menutupnya. Nggak perlu mencoba mengangkat diri sendiri, apalagi dengan cara-cara yang sangat manusiawi.

Di sisi lain, bagaimanapun, keberadaan para ‘broker’ rohani itu nggak dapat disangkali. Ada, bos. ADA. Mereka eksis dan berjaya di tengah kebangunan rohani yang menggelora di negeri tercinta ini --menggaungkan kemudahan untuk menjulang tinggi tanpa usaha, tanpa menunggu-- yang membuat saya bertanya-tanya: Apa sebenarnya esensi pelayanan yang sejati?

Tolong jangan salah paham dulu. Saya nggak menghubungkan pelayanan dengan apa pun yang negatif. Saya percaya pelayanan yang lahir dari kerinduan untuk memuliakan Tuhan akan mendatangkan berkat atas hidup kita, dan nggak ada yang salah dengan itu. Menerima berkat atas ketaatan yang lahir dari hati yang mencintai Tuhan adalah sesuatu yang akan dialami setiap orang percaya. Hal yang sama juga berlaku bagi promosi, popularitas, dan banyak lagi. Nggak ada yang salah ama itu semua, soalnya hal-hal tersebut adalah sarana yang Tuhan berikan buat kita menggenapi rencanaNya. Sekali lagi, nggak ada yang salah dengan menerima berkat, promosi dan popularitas. Yang menjadikannya ‘keliru’ adalah waktu kita menempatkan sarana dalam urutan teratas dan membiarkannya menjelma menjadi keinginan yang menutup mata hati kita dari kehendak Tuhan. Sarana harus tetap menjadi sarana, nggak boleh lebih.

“Serius. Orang-orang seperti itu beneran ada. Dan ada juga hamba-hamba Tuhan yang memakai jasa ‘broker’ rohani,” ungkap sahabat saya, pada saya dan beberapa teman lain yang bengong berat mendengar ceritanya.

Saya tertawa getir, miris. Betapa kapitalisme telah menjajah kita.

cd

3 comments:

  1. Mau tahu yang lebih miris selain keberadaan broker rohani? Di beberapa gereja (tak perlu disebutkan di sini)para hamba Tuhan yang melayani cenderung untuk mengeruk 'keuntungan lebih' dari hasil persembahan jemaatnya. Ketika hal ini diketahui oleh para jemaat, mereka kecewa dan mulai pindah gereja, dan ya termasuk pindah iman juga ada di dalamnya.

    Menurut saya sistem kapitalisme itu baik dalam skala kecil. Tetapi biasanya sistem itu akan gagal dengan sendirinya. Hal ini terbukti dari masyarakat di Amerika Serikat (tempat berkuasanya sistem kapitalisme ini) mulai mengecam sistem ini, karena dianggap gagal untuk memecahkan masalah perekonomian dunia.

    Celakanya si jahat memanfaatkan sistem ini untuk kepentingannya dan mulai merambah ke rumah-rumah Tuhan hingga mencoreng iman anak-anak Tuhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya sich..kita sama-sama melihat saja keadaan para rasul.. Kisah Para Rasul 3: 6 Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!". Kalau disimak, apa sich yang tidak bisa diminta oleh Para Rasul..apakah iman mereka kurang banyak setelah Pentakosta..TIDAK...namun yang ada adalah kesederhanaan dalam meminta...

      Delete
    2. kesederhanaan dalam meminta..
      nice...

      Delete

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com