Monday, January 2, 2012

Santo Andrew Kim Tae-Gon Tunjukkan Nyalimu Selagi Muda!



Santo Andrew Kim Tae-Gon
Tunjukkan Nyalimu Selagi Muda!
 Orang muda nggak bisa berbuat apa-apa? Itu yang kamu denger dari orang-orang tentang kamu? Jangan mau percaya itu. Cerita Santo Andrew Kim Tae-Gon berikut ini ngebuktiin kalo justru selagi muda, kita bisa berbuat banyak hal bagi Tuhan. (cs)

Kim dilahirkan pada taon 1821, di sebuah keluarga bangsawan di pusat kota Solmoe, Korea. Dari mulai kakek buyut sampe ayah Kim semuanya mati karena mereka memegang teguh agamanya, yaitu Katolik. Garis keturunan yang melahirkan Kim Tae-Gon adalah sebuah garis keturunan yang sejarahnya sarat ama kisah martir; nggak cuman mereka bertiga yang mati martir, tapi juga paman buyutnya. Nggak heran, Kim yang masih muda pun waktu itu sangat kuat keimanannya dan ia sangat berani menyatakan apa yang ia percayai sebagai kebenaran dalam hidupnya.

Waktu ia berumur 15, ia berkenalan ama seorang romo Katolik, bernama Pastor Maubant, yang sedang melayani di daerah tersebut. Orang Korea sejak abad ke-16 ternyata udah mengenal Kekristenan, akibat penyebaran yang dilakukan ama orang-orang awam yang merantau ke negeri tersebut, salah satunya adalah kelompok pedagang. Keluarga Kim, misalnya, sejak masa hidup kakek buyutnya, taon 1700-an, udah menganut agama Katolik. Maka waktu para misionaris datang ke Korea, termasuk Pastor Maubant, mereka ngerasa keduluan ama orang-orang awam itu. Tapi ini tentunya bukanlah hal yang buruk.

Karena terkesan dengan semangat Kim dalam keagamaan, Pastor Maubant mengirimkan Kim bersama kedua orang temannya, Choi Yang-Up dan Choi Bang-Je ke Makau, buat belajar kehidupan masyarakat Barat dan mendalami agama Katolik. Di Paris Foreign Mission Society di kota yang sekarang dikenal sebagai kota judi itu, mereka bertiga belajar teologi, bahasa Latin, geografi, bahasa Prancis, dan masih banyak lagi. Sayangnya, studi mereka sempat terganggu, mereka harus lari menyelamatkan diri ke Manila dua kali, gara-gara pecahnya Perang Opium di daratan Cina waktu itu.

Taon 1842, waktu Perang Opium masih berlangsung, Kim Tae-Gon berhasil menyelesaikan sekolahnya dan ia bisa menguasai empat bahasa sekaligus selain Korea: Prancis, Spanyol, Mandarin, dan juga Inggris. Dengan kemampuan berbahasanya yang canggih itu, ia berhasil menyusup ke sana-sini dalam teritori Cina daratan. Niatnya sebenarnya cuman satu: ia pengen kembali ke Korea, tapi hal itu sangat sulit dilakukan, terlepas dari segala kerja kerasnya, termasuk sampai berkelana ke Mongolia.

Frustrasi karena nggak kunjung bisa pulang juga, Kim tetap melaksanakan tugasnya sebagai orang yang terpanggil buat memberitakan ajaran Tuhan. Ia tetap mengabdi pada gereja, dan akhirnya di Cina pada taon 1844 Kim dilantik sebagai seorang diakon. Posisinya ini ternyata berhasil memperlicin jalannya kembali ke Korea. Seorang diri Kim berjalan menuju Uiju, dan dari sana ia akhirnya mencapai Seoul taon 1845.

Situasi di Asia Timur saat itu, termasuk di Korea, sedang kacau balau karena perang yang nggak juga usai. Selain itu, pembantaian oleh pasukan kerajaan terhadap umat Kristen dan Katolik, dan juga terhadap sekte-sekte agama lainnya, sedang menggila. Banyak pastor yang dibunuh secara keji, banyak umat yang disiksa dan dipenjarakan karena iman mereka. Kondisi yang nggak aman ini bikin Kim nggak berani memunculkan dirinya di mata publik. Bahkan waktu di Korea pun ia nggak sempat bertemu ama ibunya, yang konon waktu itu nggak punya rumah dan berkelana dari rumah ke rumah buat minta makan. Ia juga mendenger kabar kalo ayahnya, yang aktif di gerejanya, pun udah dibunuh.

Kim Tae-Gon kembali ke Cina bareng ama 11 penganut Katolik dari Korea naik sebuah perahu kecil. Ternyata ia mengalami peristiwa yang sama seperti yang dialami Yunus: badai besar di tengah laut selama berhari-hari. Kondisi genting ini bikin awak kapal terpaksa membuang persediaan makanan supaya kapal jadi lebih ringan dan mudah dikemudikan. Dilanda rasa takut karena dahsyatnya ombak dan angin serta dilemahkan ama rasa lapar yang menggigiti fisik, orang-orang dalam kapal tersebut malah mendapati diri mereka disejukkan oleh Kim yang nggak sedikitpun kelihatan takut.

17 Agustus 1845, beberapa lama setelah perahu itu tiba di Shanghai, seorang pastor dari Prancis menahbiskan Kim Tae-Gon sebagai imam. Pada usia ke-24 itu, Kim Tae-Gon, yang punya nama baptis Andrew, resmi menjadi imam pertama berkebangsaan Korea. Pada waktu itu Kim udah cukup dikenal lewat khotbahnya yang berapi-api dan nyalinya yang sungguh berani.

Tapi sayangnya, karir Kim harus berakhir dengan cepat. Cuman satu taon setelahnya, waktu sedang mengatur salah satu perjalanan misi mereka, Kim ditangkap di Pulau Sunwi-do, lalu dikirim sebagai tahanan ke Seoul. Raja dari dinasti Choson waktu itu, yang sangat membenci umat Kristen,  memerintahkan pasukannya buat menghukum mati Pastor Kim dengan cara memenggal kepalanya di depan publik pada tanggal 15 September 1846. Ia mati dengan cara yang amat mengenaskan; penuh penyiksaan. Kim Tae-Gon bergabung dengan ribuan orang Korea lainnya dalam sejarah dinasti Choson yang terbunuh karena alasan yang sama: iman mereka.

Kehidupan Pastor Kim yang sekejap namun sarat makna ini menunjukkan arti hidup yang sesungguhnya. Selama usianya yang pendek itu ia udah mengubahkan banyak orang, udah menunjukkan apa yang diyakininya sebagai jalan keselamatan, bahkan sampai napas terakhirnya. (Kim Tae-Gon menyampaikan sebuah pidato yang menggetarkan sesaat sebelum pemenggalannya dilaksanakan.) Usia muda bukanlah penghalang buat kita ngelakuin perbuatan-perbuatan besar bagi Tuhan. Berani nyatakan iman kamu? [**]

1 comment:

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com