Saturday, January 21, 2012

JANGAN MENYERAH



Mendung malam ini tidak begitu kelabu, masih ada setitik sinar bulan yang menerangi. Semilir angin menerpa perlahan, pohon-pohon berguncang ringan. Tidak ada yang lebih menarik untuk dilakukan malam ini selain tidur dengan selimut tebal atau duduk-duduk sambil menikmati segelas cokelat, teh, kopi panas atau sekedar menonton televisi. (DS)

JANGAN MENYERAH
Oleh Devi Syane

                        Ezra duduk terdiam memandang langit yang gelap, di sudut kamarnya. Ia mencoba melihat remang cahaya bulan yang samar-samar karena tertutup awan gelap. Ia merasa ada sesuatu yang istimewa ketika melihat bulan itu. Ia merasa bahwa bulan itu berusaha memberi terang untuknya di malam yang gelap seperti ini.
                        Ezra kembali menghampiri meja belajarnya yang penuh dengan kertas. Malam ini entahlah tidak ada satupun ide yang muncul dalam benaknya. Padahal harus ada artikel yang harus ia kumpulakn 3 hari lagi. “Sepertinya aku harus bekerja keras malam ini, semoga besok aku tidak terlambat kuliah” pikirnya sambil kembali membuka lembaran-lembaran berita, ia berusaha mencari berita yang semenarik mungkin untuk menjadi bahan artikelnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 24.35 tapi tidak ada satupun ide yang muncul. Ezra berjalan menuju tempat tidurnya,ia memutuskan untuk segera tidur karena ia tidak ingin terlambat kuliah besok.

                        Matahari di ufuk timur sudah mulai menampakkan cahayanya. Meskipun kemarin malam tampak mendung tapi pagi ini sangat cerah. Ezra terbangun karena mentari pagi menyilaukan matanya. Ezra langsung berdiri dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Selesai mandi, ia kembali duduk di tempat tidurnya, membuka Alkitabnya dan mengambil sebuah buku renungan. Yosua 1:9. Ezra merasa mendapat kekuatan baru melalui Firman itu. Ezra pun segera bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
                        Di kampus, Ezra bertemu dengan Nico, sahabatnya yang sudah lama tidak bersua.
                        “Ezraaaaa…” teriak Nico dari jauh, “udah lama nggak ketemu, aku kangen banget sama kamu”
                        “Hai friend” mereka berpelukan sebentar.
                        “Gimana kesehatanmu? Kamu tetep minum obat dari dokter kan? Soalnya aku dengar dokter Fandi nungguin kamu sejak 2 minggu lalu tapi kamunya nggak datang-datang. Jangan terlalu sibuk donk. Atau kamu masih belum bisa menerima penyakitmu itu?”
                        “Nic, bukannya aku nggak terima penyakit yang tak tersembuhkan ini tapi…” Ezra terdiam kembali.
                        “Aku tahu pasti ini nggak mudah buat kamu menerima kenyataan kalo kamu menderita leukimia tapi aku Yesus mengasihimu Ez… kalo kamu tahu kamu menderita penyakit ini nggak berarti kamu harus meninggalkan Tuhan, meninggalkan semua pelayananmu. Kamu tahu nggak kalo anak-anak udah kangen sekali padamu. Selama ini kamu yang memotivasi mereka sehingga mereka tetep semangat, kmau yang kasih mereka ketrampilan supaya mereka nggak mengamen di jalanan, kamu yang membawa mereka supaya mengenal Yesus dan datang ke gereja, tapi sekarang kamu nggak pernah datang ke gereja. Kamu selalu bilang pada anak-anak kalo Yesus selalu ada di samping kita menemani kita dan menyelesaikan semua masalah kita. Ingat nggak? Pikirkan baik-baik Ez… kalo sekarang kamu meninggalkan Tuhan karena kecewa, kamu nggak akan dapat apa-apa tapi kamu akan semakin berada dalam masalah. Hari Minggu ini kita ke tempat anak-anak yuk…” Nico menyemangati Ezra panjang lebar.
                        Selama ini Ezra dan Nico membuka pelayanan untuk anak-anak jalanan. Anak-anak itu mereka ambil dari jalanan dan menempatkannya di sebuah rumah kontrakan. Selama ini mereka berdua yang membiayai hidup anak-anak itu dengan dibantu oleh beberapa gereja. Anak-anak itu dapat bersekolah dan setiap sore mereka membuat kue untuk dijual.

                        Hari Minggu…
                        “Ezra, aku tahu kamu pasti datang… wah… mereka pasti senang melihat kamu. Kamu nggak akan pasang muka pepaya kan? tanya Nico sambil tertawa yang disambut dengan tawa juga oleh Ezra, “tentu tidak donk”.
                        Ketika mereka berdua membuka pintu rumah kontrakan itu, mereka disambut dengan teriakan anak-anak yang langsung berhamburan keluar, memeluk Ezra. “Kakak kemana aja? Kami kangen” kata beberapa dari mereka.
                        Ezra tersenyum dan berkata dalam hati, “Aku juga kangen ama kalian”.
                        Anak-anak mengajak Ezra masuk kedalam dan duduk di ruang tamu dan mereka sudah siap duduk di tempat masing-masing. Memang setiap hari Minggu Ezra selalu menceritakan sebuah cerita Alkitab pada mereka. Ezra pun melakukannya dengan gembira, demikian juga anak-anak.
                        Baru kali ini Ezra tertawa lepas sejak ia mengetahui diagnosa penyakitnya. Di tengah-tengah cerita Ezra, tiba-tiba beberapa anak berlarian ke pintu depan dan menyambut seorang gadis yang membawa tas besar di kedua tangannya.
                        “Nico, itu siapa? Kok aku belum pernah melihatnya?” tanya Ezra
                        “Sori friend, aku lupa kasih tau kamu. Itu Nina, rumahnya cuman selisih 5 rumah dari rumah ini. Selama kamu nggak ada, dia yang bantuin aku perhatiin anak-anak” jelas Nico, dan disambut dengan gumaman Ezra, “Oooo…”
                        “Nina…” teriak Nico. Nina bergegas menghampiri Nico dan Ezra.
                        “Hai, Nic, sori aku telat. Tadi di gereja ada rapat dadakan” lalu Nina melihat Ezra, “kamu, Ezra kan? Aku Nina. Hai apa kabar? Anak-anak dan Nico banyak cerita soal kamu” Nina mengulurkan tangan.
                        Ezra menyambutnya, “Iya, aku Ezra, makasih ya selama ini kamu udah bantuin ngurus anak-anak”
                        “Nggak apa-apa, aku malah senang kok disini sama anak-anak, mereka lucu-lucu”
                        Ezra terdiam sebentar lalu melirik ke Nico, “Emang Nico cerita apa aja soal aku?”
                        “Hmmm… semuanya” kata Nina sambil tersenyum sehingga terlihat jelas lesung pipitnya.
                        Ezra terdiam sambil memandang Nico. Untuk memecah suasana, Nina tertawa dan berkata, “Lihat anak-anak main lumpur, mereka sudah seperti badut” yang disambut dengan gelak tawa juga oleh Ezra dan Nico.
                        Sudah tiga minggu berlalu sejak pertemuan Ezra dan Nina. Mereka bertiga mengurus anak-anak secara bergantian. Nico senang sekali melihat Ezra sudah kelihatan kembali bersemangat, berkat Nina yang berusaha membawa Ezra kembali lagi menemukan kehidupannya yang dulu lagi dan mengangkat dia dari keputusasaan dan kekecewaan yang dia alami. Nina seorang gadis yang manis, masih berkuliah di semester 2 di sebuah sekolah musik, bisa dibilang dia gadis yang sempurna. Nina selalu ceria seolah-olah tidak mempunyai masalah dalam hidupnya, takut Tuhan dan setia dalam pelayanan.
                        Tapi kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Suatu hari Nico ditelepon oleh Mamanya Ezra, “Apa? Ezra masuk rumah sakit, Tante? Iya Tante, Nico segera kesana”
                        Nico bergegas menjemput Nina, berdua mereka menjenguk Ezra yang masih terbaring di kasur, tak sadarkan diri. Menurut dokter, Ezra terlalu kelelahan sehingga pingsan. Sejam kemudian, Ezra sudah sadar dan bisa mengenali Papa, Mamanya juga sahabatnya, Nico dan Nina. Selama seminggu Ezra dirawat di rumah sakit. Dokter berpesan supaya Ezra membatasi kegiatannya, jangan terlalu banyak bekerja sehingga kesehatannya jadi makin memburuk.

                        Tapi Ezra masih tetap menjalani kegiatannya sehari-hari yaitu kuliah dan memperhatikan anak-anak. Dia berpikir bahwa dia akan tetap melakukannya sambil menunggu hari kematiannya yang mungkin nggak berapa lama lagi. Sampai pada titik kelelahannya dan akhirnya dia memutuskan untuk kabur dari rumah. Orang tuanya yang kuatir karena sudah jam 11 malam tapi Ezra belum pulang juga, akhirnya menelepon Nico dan Nina.
                        Ponsel Ezra berdering, “Halo, Nina…” jawab Ezra
                        “Ezra… kamu dimana? Papa Mama kamu kuatir karena kamu belum pulang. Ezra, please… kamu dimana?” kata Nina dengan nada kuatir.
                        “Nina, kamu nggak usah kuatirkan aku, aku baik-baik aja. Kamu nggak usah kasihan ama aku. Emang aku sakit tapi bukan berarti aku butuh belas kasihanmu. Kamu kuatir karena kamu kasihan kan ama aku?” kata Ezra
                        “Ezra, kamu ngomong apa barusan? Jangan mikir yang macam-macam” kata Nina yang disambut dengan putusnya hubungan telepon, Ezra telah mematikan ponselnya.
                        Nina diam, dia tidak tahu harus kemana mencari Ezra. Tiba-tiba Nina ingat cerita Ezra tentang satu tempat pertapaannya bila Ezra ingin menyendiri. Nina pun segera pergi dengan mobilnya menuju pantai yang tidak jauh dari kota mereka.
                        Dari jauh, Nina sudah melihat Ezra duduk termenung memandang ombak, seperti orang yang tanpa pengharapan. Nina menghampiri Ezra perlahan, lalu duduk di sampingnya dan berkata, “Ezra, walaupun di dunia ini nggak ada seorangpun yang bisa mengasihimu dengan tulus, tapi Yesus mengasihimu melebihi kasih siapapun di dunia ini”
                        Ezra memalingkan wajahnya pada Nina, “Nina… makasih kamu udah datang kesini. Tapi aku sama sekali nggak butuh penghiburanmu”
                        “Aku nggak datang kesini buat menghibur kamu. Cuman Yesus yang sanggup menghibur kamu. Ezra, sampai kapan kamu hidup dalam keputusasaan dan menyalahkan Yesus? Yesus selalu kasih yang terbaik buat kamu. pengorbananNya di kayu salib jauh lebih berharga daripada sakit yang kamu alami. Yesus udah mati buat kamu, menebus dosamu sehingga kamu diselamatkan dan berhak mendapatkan hidup kekal. Apa gunanya kalo kamu sehat tapi kamu kehilangan hidup kekal? Bukannya lebih beruntung meskipun kamu sakit tapi ada jaminan keselamatan yang akan kamu terima asalkan kamu tetap percaya padaNya?” kata Nina sambil tersenyum.
                        “Nina, kamu nggak tau apa yang aku alami dan rasain sekarang ini. Kalo kamu jadi aku, kamu juga pasti akan kecewa” kata Ezra
                        “Ezra, aku juga mengalaminya, sama seperti kamu” balas Nina. Ezra memandang Nina dengan tatapan tak mengerti.
                        Nina tertawa perlahan dan menarik napas panjang, “Ezra, kamu tuh beruntung masih punya umur beberapa tahun lagi buat menikmati hidup ini bersama Tuhan. Hidupku cuman hitungan hari. Tapi aku tau kemana aku pergi yaitu ke Sorga, bertemu dengan Bapa dan aku yakin aku lebih merasa bahagia disana tanpa harus merasakan penyakitku. Aku juga mengidap leukimia, tapi aku bersyukur karena sambil menunggu hari dimana aku ketemu Yesus, aku boleh berdiri sampai saat ini dan diberi kesempatan buat melayani” Mereka terdiam selama beberapa saat, Ezra coba meresapi perkataan Nina.
                        “Ezra, Yesus mengasihimu. Jangan pernah ninggalin Dia, apapun yang kita alami, kita harus berjuang untuk tetap setia selamanya” kata Nina lembut. Ezra tidak bisa berkata apa-apa, ia memandang Nina. Ia dulu berpikir bahwa Nina bisa tersenyum, tertawa dan selalu menasehati hal-hal yang rohani karena ia tidak mengalami penderitaan seperti dirinya.
                        “Makasih ya… kamu ngingetin aku soal kasih Yesus yang tidak pernah habis. Aku berjanji pada Tuhan, aku nggak akan pernah ninggalin Yesus lagi” (**)


No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com