Tuesday, January 17, 2012

John Bunyan Melahirkan Sang Musafir di Penjara


John Bunyan
Melahirkan Sang Musafir di Penjara

Pernah nggak kamu baca buku yang judulnya Perjalanan Sang Musafir? Buku yang judul aslinya The Pilgrim’s Progress ini mungkin adalah buku yang paling dikenal dalam dunia Kekristenan setelah Alkitab sendiri. Buku ini sangat berpengaruh soalnya di dalamnya terkandung sebuah kisah alegoris (sebuah gaya bahasa yang sarat pengandaian) tentang seorang yang berkelana dalam hidupnya dari Kota Kehancuran sampai ke Kota di Langit, buat mencari Tuhan, dan menemukannya.

Penulis buku itu adalah seorang pendeta Baptis bernama John Bunyan. John dilahirkan di awal abad ke-17 (tahun 1628) di sebuah kota kecil di Inggris yang namanya Barrowden. Dia nggak dibesarkan kayak anak biasanya, soalnya dia cuman mengenyam pendidikan dasar yang sangat singkat, sekitar 4 taon aja. Dia ikut ayahnya berdagang ke seluruh negeri, dan di usianya yang masih 17, John mendaftar menjadi pasukan parlemen Inggris selama tiga taon.

John bercerita kalo usia mudanya dia adalah seorang yang hidupnya bengkok; nggak jelas arahnya dan sangat memalukan. Waktu itu, dia emang udah beragama Kristen, tapi belum mengenal Tuhan secara pribadi. Bahkan, menurut catatan autobiografinya, Grace Abounding to the Chief of Sinners (Berkat Melimpah bagi Orang yang Paling Berdosa), John ngerasa kalo waktu muda dia pernah melakukan dosa yang “nggak termaafkan” (Matius 12:31-32) dan waktu itu dia sama sekali nggak merasa bersalah.

Beberapa kali pikiran John sempet dihantui ama kata-kata “juallah Kristusmu.” Ini yang bikin hatinya nggak tentram dan jiwanya terganggu. John ngalamin serangkaian konflik batin yang bikin dia tersiksa banget. Tapi akhirnya dia sanggup memenangkan pergumulannya, dan mulai nunjukkin perubahan sejak saat itu.

Perubahan ini tampak kentara dalam seluruh aspek kehidupan John. Kekristenan pun ia dalami lebih lanjut, dengan cara masuk sebagai anggota resmi Gereja Baptis. Di usianya yang ke-27, John Bunyan yang semangat memberitakan Injilnya berapi-api ini dilantik sebagai diakon gereja, dan ia mulai berkhotbah di atas mimbar.

Salah satu hal yang paling dikenal dari hidup John Bunyan selain karya fenomenalnya, Perjalanan Sang Musafir, adalah perdebatannya yang sengit dengan umat Kristen Quaker (tentang siapa itu kaum Quaker, baca kisahnya William Penn di edisi lalu) yang baru saja bertumbuh di Inggris. Hebatnya, perdebatan ini dilakukannya secara tertulis, yaitu masing-masing pihak bikin pamflet bahkan hingga buku!

Pada periode ini, istrinya yang seorang perempuan saleh meninggal. Baru empat taon setelahnya John memutuskan buat menikah lagi. Karena sebenernya dia nggak punya izin buat berkhotbah di atas mimbar (izin ini waktu itu cuman boleh dipegang ama para pendeta Church of England), di taon 1658 John dituduh ngelanggar hukum. Tapi ia masih dibiarin bebas ama pihak yang berwajib. Kesempatan ini justru dia pake lagi buat berkhotbah lebih banyak dan lebih sering, sampai akhirnya, karena gerah, polisi menangkapnya taon 1660. Dia ditahan selama tiga bulan di Bedford, lalu ditanya, “Apa kamu udah nggak akan berkhotbah lagi kalo kamu dikeluarin dari tahanan?”

John Bunyan dengan tegas menjawab, “Saya nggak akan berhenti berkhotbah.”

Penahanan selama tiga bulan itu pun akhirnya memanjang jadi sampe kira-kira 12 taon, gara-gara John nggak pernah mau berubah pendiriannya! Tapi justru saat-saat 12 taon inilah yang jadi momen terpenting dalam hidupnya. Karena di sini, di waktu-waktu luangnya dalam tahanan, dia punya kesempatan buat nulis magnum opus-nya, Perjalanan Sang Musafir. Buku ini ditulisnya dalam dua bagian, yang pertama diterbitin taon 1678, dan yang kedua enam taon kemudian, 1684.

Pada taon 1672, waktu Raja Charles II ngeluarin suatu dekrit yang memperbolehkan kebebasan beragama dan berkhotbah di luar ajaran Church of England, John Bunyan praktis mendapatkan kebebasannya. Dia nggak lagi dituduh berkhotbah tanpa izin sekarang. Lucunya, cuman tiga taon berselang, Charles II tiba-tiba menarik kembali dekrit itu, dan bikin John kembali ditangkap. (waktu itu John Bunyan udah jadi seorang pastor yang sangat dikenal di gereja Bedford.) Untungnya cuman enam bulan dia dipenjarakan, dan dia nggak pernah ditangkap lagi setelahnya.

John Bunyan meninggal karena terkena penyakit flu parah cuman empat taon setelah dia melihat bukunya itu dibaca ama banyak orang. Sekarang, ratusan tahun setelah ia meninggal, buku itu konon adalah buku berbahasa Inggris yang paling banyak dibaca di dunia, setelah Alkitab. Kisah Sang Musafir ini adalah kisah yang nggak akan pernah lekang dimakan usia. Dan kamu yang belum pernah membacanya, ayo coba temukan dan baca! [cs]


No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com