Sunday, January 8, 2012

SEKOLAH MINGGU - CERPEN


"Mira, gimana kalo ntar kita jalan"
"Boleh" sahut Mira sambil mengemasi buku-buku di meja perpustakaan
"Nanti aku jemput ya"
Mira bereaksi dengan tatapan manja sembari tersenyum.
Begitulah angan dalam benak Mira, berharap malam minggu ini malam yang menyenangkan setelah seminggu suntuk kuliah.
"Oh my God" ujar Mira sambil menepuk jidatnya setelah keluar dari perpustakaan seolah ada sesuatu yang terlupakan, "besok aku harus ngajar sekolah minggu bagaimana mungkin aku dengan nyaman bermalam mingguan nanti".

SEKOLAH MINGGU
Oleh Lukas Prasetya Efendy

Sesampainya di  rumah.
"Mir, tolong bantu mama, hari ini mama banyak kerjaan, piring didapur dari pagi belum di cuci dan pakaian dari kemaren mama belum sempat setrika" teriak mama dari balik tembok yang menyekat kamar Mira memberi instruksi.
"Iya Ma, nanti Mira kerjain"

Klutak, klutak srek, srek byur…
Mira dengan cekatan mengerjakan pekerjaannya itu. Tampak ia tenggelam dengan apa yang ia lakukan. Setelah dapur selesai, pakaian segunung menantinya.
"Selesai, selesai, cepet selesai" gumam Mira ingin segera menuntaskan pekerjaan yang ia kerjakan.
"akhinya selesai juga" ujar Mira lega
"Mir, Lexi udah nunggu di depan" teriak mama entah dari mana, yang kedengaran cuma suaranya doang.
"Iya Ma!! Suruh tunggu sebentar" tanggap Mira

Keesokan harinya... "Hari ini adalah hari pertama aku ngajar, mana semalam nggak persiapan, mungkin nanti aku hanya perkenalkan nama sebagai pertemuan awal" ujar Mira pesimis sembari melangkah meninggalkan rumah.
"Mir, nanti kamu ngajar kelas anak ya?" tanya Ibu Sarah, gembala sekolah minggu kasih instruksi.
"Tapi Bu..."
"Saya ngerti apa yang akan kamu ucapkan, kamu akan bisa ngerasa sendiri di kelas mana kamu cocok mengajar nanti, setelah kamu ngajar beberapa kali, baru kamu bisa dengan sendirinya menentukan dimana kamu ngajar" tambah Ibu Sarah.
Mira hanya bisa mengangguk saja mendengar penuturan pemimpinnya itu.
"Selamat melayani" ucap Ibu Sarah sembari menjabat tangan Mira dengan erat.

Mira memulai kelas barunya.
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi kak" tanggap mereka  polos
"Kakak sangat senang bisa bertemu dengan ade-ade yang manis semua disini"
"Kakak mila tinggal dimana?" tanya Selvi salah seorang murid dengan dengan lidah cedalnya
"Kakak tinggal di jalan leli, kalo Selvi?"
“Selvi tinggal di gang petluk no 124 yang banyak lumah-lumah..." kalimat Selvi terpotong karena tiba-tiba terdengar teriakan dari sudut kelas, "Bu guru, Marco pukul saya, huahuahuahaaaaa...!!!!!!"
Mira segera ambil tindakan untuk menenangkan muridnya itu
"Cup cup, sudah Fabio nggak boleh nangis lagi ya. Marco, lain kali nggak boleh diulangi lagi ya… Nanti kakak bisa marah kalo ada murid yang bandel seperti ini" Mira mulai bereaksi
"Kakak Mira rambutnya panjang, bagus, kalo besar aku pengen seperti kakak Mira" ujar Tasya sambil membelai-belai ekor kuda Mira yang sedang menenangkan Fabio.
"Nggak boleh!!! Itu kakak Mila-ku, Tasya nggak boleh pegang-pegang kakak Mila-ku!!!!" teriak Selvi sambil berlari menuju Tasya, sementara itu Tasya menarik ekor kuda Mira, Mira pun terjerembab ke belakang, "tuh kan Tasya nakal, Tasya bikin jatuh kakak Mila-ku" tuduh Selvi
"Plak!!!!" Tasya mendaratkan sebuah pukulan refleks di wajah imut Selvi
"Huaaaaa, huaaaa!!!!!!!!!" Selvi menangis sekenceng-kencengnya.
Mira segera bangkit dari posisi jatuhnya, wajahnya memerah, menahan emosi, Mira memperhatikan satu persatu muridnya itu. Pandangannya sedikit terhenti ketika melihat salah satu dari muridnya yang berbeda dengan yang lain. Tampak ia tenang tidak seperti murid-murid lain.

Baru kali itu Mira pulang dari gereja dengan kondisi fisik yang letih lesu, tak bertenaga, "apa yang terjadi tadi, apakah ini yang dinamakan dunia anak, apakah dunia anak memusingkan seperti ini, sampai kapan aku seperti ini" berbagai gerutuan muncul dalam benak Mira, namun ia teringat dengan kata-kata ibu Sarah . "Ah mungkin baru awal dan lagian aku tidak ada persiapan, akan kuusahakan untuk lebih matang dalam persiapan"

Beberapa hari kemudian. "Tlilitt-lilit-tlilit" ponsel Mira berdering.
"Shaloom selamat siang"
"Selamat siang, Mir, ini Ibu Sarah. Ibu mau kasih sedikit info tentang salah seorang muridmu"
"Iya bu terimakasih banyak, anak yang mana ya?"
"Namanya Andre, beberapa bulan yang lalu papanya meninggal karena sakit keras, terus sekarang orang tua yang tersisa hanya ibunya semata wayang, tapi sampai sekarang ibunya masih terbaring di rumah sakit karena kanker rahim"
"Lalu siapa yang merawat Andre sekarang?"
"Sementara yang merawat andre sih Pamannya, itupun kurang diperhatikan, karena Pamannya hanya seorang tukang becak yang harus bekerja untuk menghidupi orangtua dan harus membiayai pengobatan ibu Andre". Mira terkejut mendengar penuturan Ibu Sarah.

Beberapa jam kemudian, Mira dan Ibu Ssarah tiba di rumah sakit, sungguh pemandangan yang mengharukan, seorang bocah dengan wajah yang belepotan, hanya mengenakan celana monyet  tanpa mengenakan baju atau kaos menangisi ibunya yang terbaring lemah di ranjang pasien. Tak terasa Mira menitikkan air matanya. Andre terus menangis berharap ibunya lekas sembuh

Sepulang dari rumah sakit, Mira bagaikan patung hidup di dalam kamar, pikirannya jauh melayang memikirkan  Andre, "Apa yang harus ia makan ketika pamannya yang hanya seorang tukang becak berpenghasilan sangat minim belum mendapatkan sesuap nasi? Apa yang terjadi kalau aku dan Ibu Sarah nggak datang memberinya pakaian untuk dipakai, apa dia nggak masuk angin?"  pikirannya melayang, melayang dan terus melayang sementara jiwanya merasakan kepedihan yang dialami  Andre sebagai  bocah 5 tahun yang harus menghadapi problem seperti itu. Mira memejamkan matanya tak kuasa merasakan kepedihan itu, kelopak matanya yang tertutup itu membuat air mata jatuh membasahi pipinya.

Hari-hari dalam minggu itu pun berlalu seiring dengan berjalannya waktu, seperti biasa, hari Sabtu ia habiskan siang dengan diskusi kelompok untuk praktikum yang akan dijalani minggu depan, dan seperti biasa juga pada akhir diskusi Lexi menawarkan untuk berakhir pekan bareng.

Tapi kali itu Mira menolak. "Kenapa Mir?" tanya Lexi dengan gelagat penuh selidik.
"Aku besok harus ngajar sekolah minggu"
"Hah!!! Sejak kapan kamu jadi guru sekolah minggu?"
"Emang kenapa?"
"Nggak, ga papa kok cuma kaget aja ternyata seorang yang biasanya kutu laboratorium bisa jadi guru sekolah minggu, aku salut ma kamu Mir, met melayani sukses selalu," ucap Lexi
"Thanks ya, Lex"

Minggu pagi yang cerah pun tiba dengan segala kesejukannya . Mira melangkahkan kaki dengan penuh kemantapan. "Aku rasa kali ini akan lebih baik" ujar Mira meyakinkan.

Mira memulai kelasnya. "Selamat pagi ade-ade yang manis "
"Selamat pagi kakak" jawab mereka serempak.
"Pagi ini kakak akan bercerita tentang seekor ayam yang mati karena melindungi  anak-anaknya" Mira memulai ceritanya, namun tak semudah apa yang ia pikirkan, murid-murid tidak ada yang memperhatikannya, Mira seperti mesin robot yang disetel tanpa ada yang melihat.
Si kaleb perputar-putar kian kemari, berlagak seperti power ranger, "kawan-kawan saatnya berubah, chiaattt" serunya seolah-olah dia power ranger betulan. Si Marco sejak tadi memandangi pensil yang dipegang diatas kepalanya, matanya tak berkedip sedikit pun memandangi pensil yang dipegang melebihi kepalanya, Marco bagai patung hidup di kelas itu. Si  Fabio dengan jahilnya kesana kemari menjahili Tasya dan Selvi, tapi Tasya dan Selvi tampak tidak terganggu dengan kejahilan si Fabio, mereka asyik ngobrol seperti orang dewasa. Menyaksikan itu Mira jadi pusing tujuh keliling, refleks ia mengetukkan kotak pensil yang ia bawa pada meja belajarnya,"Kaleb, bisa diam nggak? Kalo nggak bisa diam kakak keluar dari kelas" bentak Mira.
"Tapi kak, Kaleb kan power ranger harus membasmi ketidakadilan di muka bumi" jawab Kaleb dengan polos, Mira pusing mendengar jawaban anak usia 5 tahun itu.
"Fabio, kakak bisa marah kalo kamu selalu ngganggu teman" tegur Mira, Fabio hanya cengengesan mendengar teguran Mira yang semakin pusing, dalam hati Mira ingin berteriak sekuat tenaga namun ia tahan, Mira beralih pada Selvi dan Tasya, "Selvi, Tasya apa yang kamu lakukan? Kakak masih ada di     depan kelas kalian malah ngobrol sendiri".
"Kakak kita sedang main pasar-pasaran, saya yang beli, Selvi yang jual" ujar Tasya, seolah tidak bersalah, Mira semakin geram dengan tingkah  mereka, amarahnya semakin tak tertahankan lagi.
"Marco, kenapa kamu sejak tadi memandangi pensil yang kamu pegang? Apa kamu tidak lihat kakak ada disini?" Mendengar itu Marco memalingkan wajah inocence pada Mira, "Kakak ini adalah apolo yang Marco bawa ke luar angkasa, ini bukan pensil, ini adalah apolo yang akan mendarat di bulan"
"Grrrrrrrrrr" Mira semakin geram, sebelum mengakhiri kelasnya dengan doa ia memandang seluruh muridnya, pandangannya terhenti sejenak oleh Ian yang sejak tadi hanya diam.

Ternyata siang itu sama dengan minggu lalu, bahkan kali ini Mira lebih parah kelelahan. Sesampainya di rumah Mira hanya diam memahami apa sebenarnya yang dipikirkan oleh bocah-bocah lima tahun itu.
Sampai matahari terbenam, Mira masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia terlelap dalam ketidakmengertiannya.

"Mira" terdengaar ada suara yang memanggil
"Iya, siapa ya?" jawab Mira
"Ini Aku yang mengutus kamu"
Mira tercengang mendengar kata itu, ia berusaha mendapati asal suara  itu namun  yang ia dapati hanya hamparan bunga dan rumput yang luas, anak-anak berlarian kesana kemari sambil tertawa bahagia
"Mira, selamat datang di dunia anak" terdengar suara itu lagi, Mira masih tak mengerti
"Mira, Aku tahu kamu pusing menghadapi anak-anak yang memang membuat kamu pusing"
"Lalu kenapa Engkau membuat orang dewasa pusing kewalahan menghadapi mereka?"
"Hahahaha, Mira, pertanyaanmu lucu tapi memang jawaban itu yang Kutunggu-tunggu, kenapa Aku   membuat orang dewasa pusing menghadapi bocah-bocah itu? Supaya kalian orang-orang dewasa tahu betapa susahnya Aku menangani kalian, asal kamu tau, Aku  menghadapi kalian dengan sangat ekstra seperti kamu menghadapi anak-anak 5 tahun yang susah mengerti bahasa orang dewasa" Mira  terdiam mendengar jawaban seperti itu
"Mira..." terdengar lagi suara itu, "Apa kamu pikir Aku akan menghancurkan media televisi dan penyebab lain bobroknya fenomena anak dunia ini?" Lagi lagi Mira hanya terdiam.
"Itu lucu Mira dan Aku tidak akan menghancurkan manusia seperti jaman Nuh. Mira, selamat melayani anak-anakKu, tangani mereka dengan ekstra hati-hati, mereka seperti porselen indah yang mudah  pecah". Itu adalah suara yang terakhir. Tak ter dengar lagi suara itu. Mira hendak melangkahkan kakinya namun tersandung sesuatu, sebuah bungkusan.

Mira membuka  bungkusan yang menghalangi kakinya itu, sementara suara anak-anak yang  berlarian  kesana kemari dengan tawa riang terdengar riuh di taman itu. Bungkusan itu  berisikan tisu, tusuk gigi, kawat tembaga, permen  polo, permen mentos, dan coklat. Ada secarik kertas di bawah bertuliskan:

Mira selamat melayani… 
Aku berikan tisu ini untuk menghapus air mata muridmu ketika mereka sedih. Ubah kesedihan mereka menjadi sukacita, hapus air mata mereka dengan tisu itu atau air matamu juga ketika kamu menghadapi mereka.
Aku berikan tusuk gigi untuk kamu pakai mengorek kesalahan mereka. Tapi ingatlah untuk selalu mengorek dengan kasih
Aku berikan kawat tembaga untuk mengingatkan bahwa kamu adalah seorang mediator anak-anak kepadaKu
Aku berikan permen polo supaya kamu selalu ingat pelampung penyelamatKu selalu tersedia buatmu  ketika kamu mengalami kesusahan
Aku berikan permen mentos untuk mengingatkan kamu bahwa Aku selalu melihat pelayananmu
Aku berikan coklat sebagai hadiah untukmu, Aku tau kamu suka coklat dan Aku berikan ini sebagai hadiah untukmu sebab Aku menghargai pelayananmu
Dari: Bapa mu di sorga "J Christ"

Mira terbangun dari tidurnya, sejenak ia terdiam kemudian ia tersenyum dan berkata dengan lirih, "Terimakasih Tuhan".
(LP)

Kiriman lukas prasetya efendy

2 comments:

  1. Wonderful story.. Saya sudah mengajar di SM selama 8 tahun. Karena penempatan kerja di daerah, sekarang saya sudah tidak mengajar selama lima bulan. Tapi cerita ini seperti menggelitik dan kembali mengingatkan saya waktu dulu saya masih mengajar... Trima Kasih Tuhan Yesus tetap panggil saya dimana pun saya berada.

    ReplyDelete
  2. Tanya Gf:
    Apakah saya bisa membaca cerita yang pernah saya tulis dan dimuat di Gf Magz?
    Misalnya saja Cerpen/Story dengan judul " Kesempatan Itu Masih Ada " Kalo gak salah, Edisi tahun 2005 ato 2006.
    Saya pasti sangat senang.
    dan menurut saya, semua teman-teman yang tulisannya pernah dimuat, juga akan senang membaca karyanya kembali...

    Terimakasih.

    ReplyDelete

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com