Sunday, January 8, 2012

PARADIGMA KASIH


PARADIGMA KASIH

Suatu hari orang-orang Farisi mau mencobai Yesus, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:36-40).

Paulus lebih-lebih lagi negesin kalo sekalipun manusia punya semua kemampuan dan segala macam karunia, tapi kalo dia nggak punya kasih maka semuanya bakalan jadi sia-sia (baca deh 1 Korintus 13:1-3). Jelaslah disini bahwa keutamaan kasih menjadi nggak bisa dibantah. Bahkan hukum kasih telah meringkas en ngerangkum seluruh hukum Allah yang ada.
“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu… namun demikian Aku mencela engkau karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan”. (Wahyu 2:2-5). Dalam ayat yang ditulis oleh Yohanes ini, ketiadaan kasih bahkan dianggap sebagai kejatuhan rohani!

Tapi kenapa ya, sekalipun udah jelas kalo kasih itu merupakan parameter seluruh segi kehidupan dan kerohanian, dorongan untuk mengasihi kian hari kok kayaknya makin lemah? Kenapa sulit, bahkan gagal, untuk mengasihi?

Roma 12:2 bilang “...berubahlah kamu oleh pembaharuan budimu…”, yang berarti persoalan kita yang sebenarnya untuk berubah dari kebencian ke mengasihi adalah pikiran kita. Perubahan dimulai dari akal budi! Sudut pandang atau paradigma kita tentang kasih dan mengasihi perlu dievaluasi dan mengalami “truth encounter” atau perjumpaan dengan kebenaran. Ada 3 paradigma atau kebenaran tentang kasih terhadap yang lain, yaitu:

1.   Melepaskan Kasih.
Bayangin betapa bodohnya kalo ada orang yang bersusah payah bikin api dengan cara menggesek-gesekkan kayu ala jaman batu padahal dia punya banyak sekali korek api di kantongnya! Nah seironis itu jugalah kebanyakan dari kita kalo berjuang buat memiliki kasih tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita memilikinya di dalam diri kita.  Sebenarnya kita sanggup mengasihi, tapi sudut pandang yang salah tentang kasih membuat kasih nggak teraktivasi. Roma 5:5 bilang tentang kasih yang udah dicurahin Allah dalam hati kita oleh Roh Kudus yang udah dikaruniain (Bhs Inggris = pour out) pada kita. Dalam teks yang lain disebutkan “…dicurahkan sampai habis”. Nggak peduli gimana perasaan kita pada orang yang melukai kita maka kasih udah ada dalam hati kita. Kasih bukan diminta tapi tinggal disalurkan. Kita nggak mempunyainya tapi Yesus di dalam kita mempunyainya, “…oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”, dan kasih agape (kasih Tuhan) nggak pernah gagal.  Semakin dahsyat masalah kita, maka seharusnya semakin banyak jumlah liter kasih yang kita harus salurkan.

Seperti listrik akan mengalir kalau saklarnya ditekan, dan dalam hal ini saklar tersebut adalah keputusan kita! Sekali lagi, kenapa listrik nggak mengalir buat menyalakan sang lampu? Bukannya kabelnya nggak ditinggali listrik tapi soalnya saklarnya belum ditekan.  Jadi, putuskan untuk mengalirkannya sekalipun perasaan berkata lain, maka perasaan pada akhirnya akan mengikuti keputusan.
Di Alkitab kasih itu bentuknya selalu perintah, itu artinya kasih adalah keputusan bukan perasaan. Kasih yang berdasarkan perasaan akan kehilangan kekuatannya waktu perasaan itu sedang terluka, tapi kasih yang berdasarkan keputusan memiliki kekuatan yang berasal dari kasih karunia Allah. Ada tiga hal yang bisa membuat aliran kasih sulit dilepaskan/dialirkan, yaitu:
a) Nggak ada hati yang suci = kepahitan.
Kepahitan adalah ketidakmampuan buat mengampuni. Kepahitan adalah dosa karena Firman Tuhan berkata: “...jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:15).  Dan celakanya kepahitan merupakan dosa yang paling nggak disadari ama pelakunya soalnya orang yang pahit (marah, kecewa, jengkel, dan sebagainya) biasanya merasa benar.

b)    Hati nurani yang nggak murni.
Semua dosa yang kita perbuat terhadap sesama harus kita pertanggungjawabkan demi kemurnian nurani kita. Bacalah kisah tentang pengampunan dalam Matius 18:21-35.  Kisah ini berbicara mengenai restitusi dimana pemberesan tuntas akan membuat hati kita kembali murni dan siap melepaskan kasih.
c)    Ketiadaan iman.
Iman seringkali berlawanan dengan perasaan jadi sikap kita kalo perasaan yang menghalangi keputusan kita buat melepaskan kasih itu muncul, udah jelas banget: Hiraukan aja!, dan tetap pada keputusan mengasihi!

2.    Menyerahkan Kuasa.
Mengasihi seperti Yesus mengasihi itu perlu penyerahan kuasa, sebab kasih dan kuasa nggak dapat diekspresikan secara serempak. Allah Maha Kuasa udah mendemonstrasikan kuasaNya dengan menciptakan jagad raya, penghancuran kekuatan musuh-musuhNya, dan membelah laut merah pada masa lampau. Tapi 2000 taon yang lalu, waktu Dia ingin mendemonstrasikan kasihNya, Dia menyerahkan kuasaNya. Yesus mengesampingkan kemuliaan yang akan mempesona dan menyilaukan manusia, merendahkan diri dan datang pada kita dalam kemanusiaan.  Dia sangat merendahkan diriNya, menderita dan mati di kayu salib.  Orang-orang mengejek dan meludahi Dia. Mereka berteriak pada Yesus supaya mendemonstrasikan kuasaNya untuk menyelamatkan diriNya sendiri tapi Dia menolaknya. Dia menolak sebab salib bukan tempat untuk mendemontrasikan kuasa, itu tempat untuk mendemonstrasikan kasihNya. Nggak bisa serempak.  Bagi dunia Yesus terlihat bodoh. Mereka percaya cuman kuasa yang dapat membawa perubahan sejati. Mereka pikir nggak punya kuasa berarti nggak ada apa-apanya. Padahal love’s never fail. Penderitaan dan pengorbananNya bagi dunia udah memukau banyak orang untuk akhirnya menyerah dalam pelukanNya. Untuk mengasihi seperti Yesus berarti menyerahkan kuasa. Itu bisa berkaitan dengan reputasi, kendali, kedudukan, status, atau kekuatan yang dikosongkan! Semakin kita menyerahkan kuasa maka semakin kita sanggup mengasihi meskipun berarti juga lebih mudah diserang. Semakin rendah hati maka semakin sanggup mengasihi. Orang sombong nggak akan pernah bisa mengasihi.
Mengasihi seperti Yesus memerlukan penyerahan kuasa dan mau melayani seperti yang Yesus udah lakukan. Ibu Theresa tahu kebenaran ini dan mencontoh gaya hidup Yesus. Dia mengosongkan dirinya sendiri dari kemakmuran, kekuasaan dan martabat lalu menjadi hamba bagi masyarakat miskin di India. Dia memberikan dirinya sendiri sampai nggak meninggalkan apa-apa lagi untuk diberikan. Orang-orang diseluruh dunia mendengarkan dia bukan karena dia mengomandoi sebuah laskar tapi karena dia berkehendak untuk meneladani Yesus. Bunda Theresa berkata: Kasih yang sejati harus menimbulkan rasa yang sakit; dan tanpa berani menderita, kita hanya akan melakukan pekerjaan sosial saja, bukan tindakan cinta. (Bidadari dari Kalkuta-by Wahyudin-2004, halaman 169)

3.       Prinsip “Melakukan seperti untuk Tuhan”
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23). Kalo kita memandang orangnya pasti kita nggak sanggup buat mengasihi sehubungan dengan kesalahannya yang begitu besar dimata kita.  Tapi kekuatan kita buat mengasihi datang dari Tuhan yang berfirman: Perbuatlah seperti untuk Tuhan! Jangan memandang orangnya karena pasti kita akan gagal dalam mengasihi dan nggak bisa ngelakuin yang terbaik buat orang tersebut. Tapi coba bertindak seperti sedang memperlakukan Tuhan sendiri maka pasti sikap kita berubah.  Firman Tuhan menegaskan: “Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20).  Mengasihi orang lain juga merupakan petunjuk bahwa kita mengasihi Allah! (**)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
 Disunting atas seijin pengarang Cornelius Wing www.corneliuswing.com

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com