Monday, April 30, 2012

Skenario Hari Kiamat: Dari Lubang Hitam hingga Perang Para Dewa


Skenario Hari Kiamat
Dari Lubang Hitam hingga Perang Para Dewa


Adalah sesuatu yang lucu bahwa manusia begitu terpesona oleh kematian, tetapi juga takut mengalami kematiannya sendiri. Mati sendirian tampaknya lebih menakutkan daripada mati beramai-ramai, jadi tidak heran jika kemudian muncul rasa ketertarikan orang terhadap konsep “kematian massal” yang kita kenal sebagai hari kiamat.

Bagi mereka yang percaya bahwa kejadian-kejadian yang dituliskan di Kitab Wahyu belumlah terjadi tetapi pasti akan berlangsung nanti—entah kapanpun nanti itu—akhir zaman alias kiamat adalah sesuatu yang dinanti-nantikan. Begitu pula bagi umat Muslim, yang menanti-nantikan kedatangan Imam Mahdi yang dipercaya akan menjadi bagian pembuka dari bagian penutup sejarah manusia. Tak hanya kedua agama tersebut yang mempercayai adanya hari akhir ini. Mereka yang tidak beragama sekalipun sulit menyangkal teori bahwa suatu saat kiamat akan datang.

Tentu saja, yang dimaksud kiamat di sini bisa diartikan dua cara: kiamat dalam arti yang sempit dan dalam arti yang luas. Secara sempit, kiamat bisa dianggap sebagai kepunahan umat manusia dari seluruh muka bumi (dan juga dari seluruh alam semesta, jika misalnya saat itu kita udah berhasil bikin koloni di Jupiter). Tak ada lagi artinya alam semesta ini terus berjalan, jika kita sebagai umat manusia sudah tidak ada lagi untuk mengapresiasinya, bukan?

Sedangkan secara luas, kiamat dapat diartikan sebagai hancurnya alam semesta. Pengertian yang luas ini otomatis mencakup pengertian yang sempit. Jika alam semesta kita runtuh dan tidak ada lagi, tentu saja manusia tidak dapat hidup lagi, bukan? Jadi, biarpun saat kiamat seperti ini tiba manusia masih ada, kita juga akan ikutan punah.

Ada banyak kemungkinan bumi dan alam semesta kita pada akhirnya menemui ajalnya. Berbagai kemungkinan yang kita sebut dengan skenario hari kiamat ini didasarkan dari macam-macam sumber: kitab suci, nubuatan orang-orang “pintar”, tradisi dan mitologi, dan yang paling mutakhir, dari ilmu pengetahuan sosial dan alam. Tak semuanya masuk di akal, tetapi nggak sedikit juga yang kemungkinan terjadinya cukup besar, meski nggak dalam waktu dekat.

ILMIAH

Bencana Alam Global
Letusan gunung berapi yang sangat besar (supervolcano) atau gempa bumi mahadahsyat dapat menyebabkan kerusakan besar di muka bumi. Selain itu, materi dari perut bumi yang terhambur ke angkasa dapat menghalangi masuknya sinar matahari ke atmosfer bumi, sehingga tumbuhan tidak lagi dapat berfotosintesis dan tidak dapat memproduksi makanan. Karena tumbuhan berada di dasar piramida makanan, maka tanpa dirinya, seluruh makhluk hidup yang makroskopis tentunya akan punah.

Tabrakan Kosmis
Gelapnya langit kita juga dapat disebabkan oleh tumbukan bumi dengan suatu benda langit yang massanya cukup besar untuk menimbulkan bencana. Tumbukan dengan meteor atau asteroid, misalnya, jika tidak menghancurkan bumi secara menyeluruh, bisa menghamburkan debu di atmosfer yang sangat tebal sehingga bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Suhu di bumi akan menjadi sangat dingin, tidak ada pagi, siang, ataupun sore, dan kehidupan akan musnah. Inilah yang diyakini menyebabkan punahnya para dinosaurus 65 juta tahun yang lalu.

Epidemi Global
Kasus SARS yang beberapa tahun kemarin membuat dunia ketakutan, dapat terulang kembali di masa mendatang. Bayangkan suatu virus baru yang dapat menular lewat udara, dapat hidup di udara bebas baik pada cuaca dingin maupun panas, dan mereka yang terserang virus tersebut akan mati dalam hitungan hari. Mudah sekali bagi virus semacam itu untuk menyebar di kota-kota besar sampai ke daerah pedesaan dan membunuh seluruh penduduk bumi dalam waktu tak lebih dari setengah tahun. Yang tersisa mungkin hanyalah orang-orang yang tinggal di daerah paling terpencil di muka bumi.

Pemanasan Dunia
Tidak ayal lagi, inilah bencana yang paling mungkin menyebabkan “kiamat”, setidaknya secara lingkungan, dan justru paling bisa kita hindari. Banyak hal yang udah kamu tau soal global warming, jadi daripada berpikir dan berencana untuk menghemat energi nanti, lebih baik kamu melakukannya sekarang, selagi kita masih punya waktu.

Adanya Lubang Hitam di Dekat Bumi
Baru di tahun 2008 lalu, dioperasikannya akselerator partikel Large Hadron Collider di Pusat Riset Nuklir Dunia di Jenewa, Swiss, menuai rasa ketakutan orang-orang. Apa yang mereka takutkan? Munculnya sebuah lubang hitam yang akan menelan bumi dan segala di sekelilingnya dengan cepat, yang dapat membinasakan seluruh makhluk. Lubang hitam adalah suatu daerah dalam ruang yang gravitasinya begitu besar sampai-sampai cahaya pun tidak bisa lolos darinya. (Ingat bahwa kecepatan cahaya adalah yang tertinggi di semesta.) Tetapi, ketakutan itu sangatlah berlebihan, karena lubang hitam tidak dapat tercipta, berapapun besarnya energi yang mampu dibangkitkan di bumi.

Matinya Matahari
Kalau yang satu ini, bagaimanapun kita menghindarinya, pasti nggak akan bisa. Matahari dalam waktu 7,6 miliar tahun lagi akan menjadi bintang raksasa merah. Apa yang terjadi? Energi yang dipancarkannya menjadi berkali-kali lipat dari yang sekarang, yang mampu membuat samudra di seluruh bumi menguap dan permukaan tanah terlalu panas untuk ditinggali. Skenario yang kedua, jika matahari menjadi bintang katai putih (alih-alih raksasa merah), permukaan bumi akan menjadi terlalu dingin bagi kehidupan. Seandainyapun manusia masih bisa selamat, bumi kemungkinan akan “ditelan” oleh matahari yang pada akhirnya akan membesar.

Luruhnya Alam Semesta
Sebagaimana diamati sekarang, alam semesta berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Yang jadi pertanyaan besar bagi para ilmuwan adalah, apakah kecepatan berkembangnya itu bertambah atau berkurang. Jika bertambah, maka alam semesta akan terus berkembang tak terbatas dan pada akhirnya semua benda (bintang, galaksi, hingga partikel-partikel yang lebih kecil dari atom) akan “terobek-robek” oleh kekuatan pengembangan itu. Kiamat dengan cara ini diberi istilah Big Rip. Menurut Robert Caldwell, pembuat hipotesis ini, alam semesta usianya tinggal 50 miliar tahun lagi. Lebih lama daripada yang sanggup kamu bayangkan.

Semuanya Melebur Jadi Satu Titik Lagi
Kebalikannya, jika perkembangan alam semesta melambat, dan pada akhirnya akan berhenti mengembang dan berbalik arah menjadi menyusut, maka seluruh isi alam semesta ini akan kembali melebur menjadi satu titik. Sulit dibayangkan secara akal, memang, bagaimana alam semesta yang luas ini menjadi terkumpul dalam satu titik—sebuah lubang hitam—yang ukurannya jauh lebih kecil daripada atom. Tetapi hal itu pernah terjadi, seperti yang dijelaskan oleh teori Big Bang, dan ada kemungkinan terjadi kembali. Namun, pengukuran ilmiah beberapa tahun terakhir menyimpulkan bahwa situasi yang disebut dengan Big Crunch ini tidak akan terjadi, karena tampaknya alam semesta berkembang terus, dan bertambah cepat.

Persamaan Hari Kiamat
Heinz von Foerster, fisikawan Austria, pernah membuat suatu persamaan yang disebutnya dengan persamaan hari kiamat (Doomsday Equation). Serem banget ya! Menurut Heinz, ia dapat memperkirakan suatu tanggal di masa depan di mana populasi bumi akan berjumlah “tak hingga”. Persamaan ini bilang bahwa populasi bumi akan mencapai nilai maksimumnya pada tanggal 13 November 2026. Jika pada tanggal tersebut von Foerster masih hidup, usianya akan tepat 115 tahun. Entah ia bercanda atau tidak, yang jelas kita punya waktu kurang dari 20 tahun untuk membuktikannya! 


RELIGIUS + MITOLOGIS

Perang Para Dewa
Yang ini tidak mungkin terjadi, karena sifatnya hanya cerita mitologi. Dalam kebudayaan Norse, para dewa yang baik dan dewa yang jahat akan bertemu di medan perang untuk bertempur dalam perang besar yang jadi bagian dari peristiwa Ragnarok. Setelah kejadian ini, bumi akan ditenggelamkan oleh air bah, dan kemudian muncul kembali dalam bentuknya yang baru, subur, dan tentunya juga berkeriapan dengan bermacam bentuk kehidupan yang baru. Hanya akan ada dua orang manusia yang selamat dari Ragnarok, dan menjadi leluhur bagi manusia di bumi yang baru itu.

Dihancurkan untuk Dibentuk Kembali
Umat Hindu umumnya percaya bahwa kita sekarang sedang hidup di zaman Kali Yuga (Masa Kegelapan), periode (Yuga) terakhir dari zaman yang sekarang. Di masa Kali Yuga, keributan dan kemunafikan adalah lumrah. Jadi, dewa Wisnu akan datang dalam bentuk avatarnya yang kesepuluh (sekaligus yang terakhir) bernama Kalki. (Krishna dan Rama, yang kamu kenal dari kisah Mahabharata dan Ramayana, adalah avatar Wisnu yang kedelapan dan kesembilan.) Setelah itu, dewa Syiwa akan menghancurkan seluruh alam semesta yang kemudian akan dibentuk kembali, sesuai prinsip Hindu bahwa waktu bukanlah garis lurus, melainkan suatu lingkaran.

Pertempuran yang Baik dan yang Jahat
Penganut Zoroastrianisme, yang bisa dibilang paling optimistis terhadap kehidupan setelah kematian, percaya bahwa kiamat akan datang saat matahari sulit dilihat di langit, saat bumi semakin kering, dan saat orang-orang telah sepenuhnya berhati jahat dan tidak tahu terima kasih. Saat itu, Saoshyant, Manusia Perdamaian, akan datang untuk memerangi kuasa-kuasa jahat. Semua orang akan dibangkitkan: yang baik akan bertempur melawan yang jahat. Kemudian, datanglah penghakiman terakhir untuk semua jiwa. Mereka yang berdosa hanya akan dihukum selama tiga hari (disiksa habis-habisan di dalam logam panas), tetapi akan diampuni. Lalu, semua orang akan tinggal di dalam “dunia” yang sempurna, selama-lamanya. []


Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com