Friday, April 27, 2012

John Nelson Darby: Ahlinya Nubuatan Alkitab yang Gemar Memisahkan Diri


John Nelson Darby
Ahlinya Nubuatan Alkitab yang Gemar Memisahkan Diri

Sebagian umat Kristen percaya bahwa Alkitab mengandung nubuatan-nubuatan mengenai banyak peristiwa yang belum terwujudkan bahkan hingga sekarang, ribuan tahun setelah surat-surat di Alkitab itu ditulis. Sebagian besar diantaranya bicara mengenai akhir zaman: masa pengangkatan, masa seribu tahun pemerintahan Yesus di muka bumi sebelum “langit yang baru dan bumi yang baru” muncul, masa penghakiman, dan masih banyak lagi. Banyak buku kristiani yang beredar membahas topik-topik akhir zaman ini, dari yang sifatnya deskriptif (buku Planet Bumi pada Zaman Akhir karya Hal Lindsey, misalnya), hingga yang fiktif (contohnya novel berseri Left Behind karangan Tim LaHaye dan Jerry Jenkins).

Kebanyakan dari mereka yang percaya bahwa segala nubuatan tentang akhir zaman ini akan terwujud di masa mendatang (atau bahkan dalam generasi sekarang) juga umumnya percaya bahwa segala hal dan peristiwa yang tertulis di Alkitab harus dimaknai secara literal. Artinya, setiap informasi dalam Alkitab adalah benar adanya, tanpa perlu diinterpretasikan lain secara figuratif (kiasan). Jika di kitab Wahyu ditulis akan ada tujuh sangkakala yang dibunyikan menjelang kiamat nanti, maka, berdasarkan pemahaman ini, nanti yang terjadi akan benar-benar demikian. Jika di kitab Kejadian ditulis bahwa Matahari diciptakan setelah air, cakrawala, dan Bumi, maka itulah yang sesungguhnya terjadi.

Munculnya berbagai pemahaman tentang nubuatan Alkitab yang diyakini belum terpenuhi dan akan segera terlaksana tak bisa dipisahkan dari gagasan seorang Inggris yang pernah hidup di abad ke-19 bernama John Nelson Darby. Pemikirannya dan pemahamannya tentang teologi dan Alkitab, tidak dipungkiri lagi, menjadi batu penjuru bagi banyak teolog lainnya untuk mengembangkan pemahaman mereka sendiri tentang akhir zaman, sampai sekarang, 120 tahun lebih setelah kematiannya. Secara tak langsung, ia juga sering dibilang berperan paling besar dalam memopulerkan gerakan Evangelicalism di Inggris Raya, atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Penginjilan.

Sayangnya, tidak banyak orang Kristen yang mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama John Nelson Darby. Padahal, tanpa dirinya, panggung ide tentang hari kiamat tidak akan sehebat, dan seheboh, yang kita punya sekarang.

John Darby dilahirkan di London tanggal 18 November 1800 sebagai anak dari sebuah keluarga tuan tanah yang boleh dibilang kaya-raya. Masa kecilnya dihabiskannya dengan bersekolah di Westminster, London, tetapi di usianya yang ke-15, karena ia adalah keturunan Inggris-Irlandia, keluarga John Darby pun pindah untuk menempati puri leluhurnya, Leap Castle, di Irlandia. Selama masa mudanya, ia mendapatkan pendidikan Alkitab dan juga belajar banyak tentang kekristenan, yang sudah jadi agamanya sejak kecil.

John kemudian melanjutkan studinya ke Trinity College, Dublin, sebuah perguruan tinggi yang berkelas di Irlandia. Sebagai mahasiswa, John Darby tergolong sangat berprestasi. Berbagai penghargaan dan medali diraihnya, baik dari bidang sains maupun bidang klasik (sastra dan sejarah). Ia pun lulus tanpa cela dengan menyabet gelar Classical Gold Medalist pada tahun 1819. 

John tidak berhenti belajar sampai di situ. Ia tertarik dengan dunia hukum, jadi ia memutuskan untuk mendalaminya selama tiga tahun, sampai akhirnya ia menjadi seorang pengacara. Tetapi di masa-masa ini, suara hatinya tidak pernah berhenti membisikinya, dan membuatnya tidak tenang. Ia merasa bahwa menjadi pengacara tidaklah sejalan dengan prinsip-prinsip religiositas yang ia yakini. Alhasil, hanya setahun ia menjadi pengacara, lalu memutuskan untuk berhenti.

Panggilan bagi John saat itu adalah menjadi orang yang memberitakan Injil Kristus bagi jiwa-jiwa, jadi selepas itu, ia memilih untuk melayani Tuhan secara penuh waktu. Tahun 1825, di usia yang masih belia, ia dilantik sebagai diaken, lalu satu tahun berikutnya sebagai pendeta di Church of Ireland. Ia lalu diberi daerah untuk digarap, yaitu di Wicklow. Terbukti, pekerjaannya yang ini benar-benar disukai olehnya. Jadi, John mengerjakannya juga dengan penuh semangat. Ia betul-betul terjun ke dalam masyarakat di Wicklow, membantu banyak sekolah dan institusi kemanusiaan, dan berhasil memenangkan hati mereka. Terkadang, ia begitu sibuknya dengan urusan ini-itu buat gereja sampai-sampai ia mengabaikan kesehatannya sendiri dan sering tampil di depan orang dengan muka kusut dan pakaian tidak terurus.

Akan tetapi, hasilnya sangat terlihat. Banyak rakyat miskin di sana yang tadinya merupakan jemaat gereja Katolik, beralih menjadi Protestan karena “dimenangkan” oleh John. Konon kabarnya, ratusan orang Katolik berpindah agama menjadi Protestan hanya dalam waktu seminggu. Namun, prestasinya yang luar biasa bagi Gereja Irlandia ini tidak berlangsung lama, hanya dua tahun lebih sedikit saja.

Idealismenya yang masih menggebu-gebu membuat John Nelson Darby mengalami banyak bentrok dengan pengurus-pengurus gereja yang lebih senior, termasuk Uskup Agung William Magee, yang melantik John sebagai pendeta. Sayangnya, selain memang perselisihan ini didasarkan pada hal-hal gerejawi, faktor yang paling menentukan adalah soal politik. Pada intinya, John tidak setuju umatnya harus bersumpah bahwa mereka takluk pada Raja George IV sebagai raja sejati dari Irlandia.

Hebatnya, John berani memutuskan untuk mundur sebagai pendeta. Tak lama setelahnya, ia terjatuh dari kudanya dan menderita cedera yang cukup parah. Tetapi hal ini justru merupakan suatu berkat yang tersembunyi. Waktu istirahatnya digunakan untuk mendalami Alkitab, khususnya kitab Yesaya. Waktu ini juga ia manfaatkan untuk mematangkan prinsip-prinsip teologinya, dan berkumpul dengan sesama orang percaya dari berbagai denominasi.

Persekutuan orang-orang percaya ini (kebanyakan mereka nantinya menjadi tokoh-tokoh Kristen yang dikenal luas) berkembang dan menjadi makin kokoh, dan lama-kelamaan bertransformasi menjadi suatu gerakan yang disebut sebagai Plymouth Brethren (saudara-saudara sekutu dari Plymouth).

Selepas dari Church of Ireland, John banyak menulis karya-karya mengenai hubungan dan pemisahan antara bangsa Israel dan umat gereja Tuhan (ini membuat John dikenal sebagai Bapak Dispensasionalisme, suatu cabang pemikiran dalam kekristenan), dan juga nubuatan-nubuatan tentang gereja di akhir zaman. Para penganut kekristenan dispensasionalisme berupaya keras untuk mengabarkan Injil ke seluruh pelosok di muka bumi agar semua orang mendengar tentang hal itu dan dengan demikian berharap dapat mempercepat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

Karena sering berkhotbah dan memberi kuliah soal akhir zaman, John Nelson Darby juga memperoleh reputasi sebagai pakar di bidang pemaknaan nubuat-nubuat Alkitab. Pemikiran-pemikirannya sampai sekarang masih diajarkan di berbagai seminari di dunia, termasuk di Dallas Theological Seminary (gudangnya para penubuat).

Belum lagi dua dekade usianya, Plymouth Brethren yang didirikan oleh John Darby harus terpecah karena John berbeda prinsip dengan rekan-rekannya. Ini membuat Plymouth Brethren terpecah menjadi dua: Open Brethren, dan Exclusive Brethren, yang didukung oleh John. Ini membuktikan bahwa ia tidak takut mempertahankan pendapatnya di tengah orang banyak. Ia berhenti menjadi pengacara karena perbedaan prinsip. Ia mengundurkan diri sebagai pendeta Church of Ireland karena perbedaan prinsip. Dan untuk yang ketiga kalinya, ia memisahkan diri dari Plymouth Brethren, lagi-lagi karena perbedaan prinsip. Tetapi tak pernah sekalipun ia mengkompromikan pelayanannya bagi kesenangannya pribadi.

Kerja kerasnya bagi kekristenan patut diacungi jempol. Sumbangsihnya bagi teologi juga bukan main-main. Berbagai kunjungan misi ia laksanakan, di tengah sulitnya transportasi pada zamannya. Saat John meninggal pada usia 80-an di Bournemouth, Inggris, William Kelly (rekan kerjanya dalam menginterpretasikan Alkitab selama 40 tahun), berkata, “Saya tak pernah melihat orang yang lebih setia pada nama Tuhan dan pada Firman-Nya daripada John Nelson Darby.” []


Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com