Monday, April 2, 2012

PASKAH ALA NASHA

PASKAH ALA NASHA

    Semburat warna oranye menghiasi langit senja. Sesekali bola mata Nasha bergerak memandangi keindahannya. Ah, malam sebentar lagi tiba. Nasha sudah tak sabar menanti datangnya waktu makan malam bersama mama dan papa. Rencananya nanti Nasha ingin mengajukan usulnya menyambut perayaan Paskah yang tak lama lagi tiba. Nasha mengulum senyum mengingat-ingat usulnya itu. Bukan usul yang luar biasa sebenarnya, tapi Nasha sudah sejak lama ingin mewujudkannya.
    Pada saat di meja makan, Nasha segera membuka pembicaraan. “Ma, Pa sudah ada rencana untuk merayakan Paskah minggu depan belum?”
    “Belum. Memangnya ada apa? Bukankah biasanya kita merayakan Paskah dengan mengikuti kebaktian di gereja?” jawab Papa.
    “Itu kan biasanya. Boleh dong kalau sekali-kali kita nggak cuman ibadah di gereja aja?” balas Nasha.
    “Ha... ha... jadi Nasha sudah bosan mengikuti drama Jalan Salib dan perlombaan mencari telur Paskah?” Mama ikutan menanggapi.
    “Yah Mama... bukannya bosan, tapi Nasha kan sudah gede, sudah 16 tahun lagi. Nasha ingin perayaan Paskah kali ini tidak hanya dilalui begitu saja, tapi dengan sesuatu yang berkesan” Nasha menimpali.
    “Lantas Nasha ingin Paskah yang seperti apa?” Papa gantian bertanya.
    “Paskah yang memberkati orang lain” jawab Nasha cepat seraya menyantap makan malamnya.
    “Maksud Nasha?” tanya Papa dan Mama bersamaan.
    Nasha hanya terkekeh-kekeh melihat reaksi kedua orang tuanya yang penasaran.
    “Bagaimana kalo Paskah nanti kita memasak makanan untuk pengemis, gelandangan, saudara-saudara kita yang kurang mampu, juga untuk orang-orang yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita” Nasha menjelaskan.
    “Siapa saja contohnya, yang luput dari perhatian kita?” Mama menanyakan.
    “Ya... orang-orang yang selama ini jarang terlihat di persekutuan atau di gereja, mungkin karena sibuk, sungkan atau malah ingin undur. Bisa juga untuk kenalan jauh atau sahabat lama” terang Nasha panjang lebar.
    “Usul yang bagus” kata Papa sambil manggut-manggut, “Darimana kamu dapat ide itu?”
    “Nasha hanya ingin kita tidak sekedar melewati Paskah tanpa makna, sedangkan saat Natal kita semua merayakan secara besar-besaran dan meriah. Padahal justru saat Paskah, kasih Allah nyata lewat pengorbanan Yesus di kayu salib”
    “Ya, kebanyakan dari kita telah kehilangan makna Paskah yang sesungguhnya” Mama menyetujuinya.

    Hari Sabtu, sehari sebelum Paskah tiba, Nasha dan Papa sudah sibuk berbelanja untuk keperluan memasak sesuai usulnya. Mama di rumah menyiapkan alat dan membaca-baca buku resep. Nasha senang karena mereka sekeluarga bisa saling membantu mempersiapkan kejutan Paskah ini. Kemarin Mama sudah memutuskan untuk memasak nasi, ayam panggang dan lalapan untuk dibagi-bagikan pada pengemis dan gelandangan. Sedangkan untuk saudara-saudara seiman yang selama ini terlupakan dan kurang mendapat perhatian, Mama akan membuat kue brownies kukus dan pisang keju.
    Esoknya setelah pulang dari mengikuti kebaktian Paskah di gereja, Nasha meluangkan waktunya sebentar untuk saling mengucapkan selamat Paskah dengan jemaat yang lain.
    “Lho Sha, kok buru-buru pulang sih? Kita kan mau bantuin anak-anak Sekolah Minggu menyembunyikan telur Paskah?” tanya Sita, sahabatnya.
    Nasha hanya tertawa kecil lalu membalas, “Mau bantu menyembunyikan atau ikut mencari nih?”
    Sahabat-sahabatnya yang lain hanya terbahak-bahak.
    “Sha, biasanya kamu ikut anak-anak Sekolah Minggu lomba melukis telur Paskah kan?” Hagai menawarkan.
    “Itu kan dulu. Nasha hanya ingin memberi kesempatan buat yang lain” tolak Nasha halus.
    “Wah, sudah sadar umur ya?” Hagar tersenyum-senyum, “Mau ada acara apaan sih?”
    “Ada deh, mau tahu aja” ucap Nasha menirukan gaya iklan di televisi.
    Nasha pun segera beranjak pulang setelah berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Nasha tidak merasa kecewa tidak merayakan Paskah bersama teman-temannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Nasha malah bersyukur bisa melewati Paskah tahun ini dengan cara yang berbeda.
    Sesampainya di rumah, Nasha lalu berganti pakaian dan langsung meraih celemek untuk membantu Mamanya memasak nasi, lauk pauk dan kue-kue. Mamanya sudah mulai memasak lebih dulu.
    “Hmm... lezatnya! Kapan nih Papa bisa mencicipi?” canda Papa.
    “Mencicipi boleh tapi nggak gratis lho” ledek Nasha. Mereka pun tertawa bersama.
    “Ma, gimana kalau nasinya dibikin nasi timbel khan Sunda itu lho” usul Nasha tiba-tiba.
    “Boleh” jawab Mamanya.
    Begitulah, Mama dan Nasha sibuk memasak dan Papa ikut membantu membuat kardus buat kue. Sesekali mereka bercanda, kadang-kadang sambil menyanyi pujian yang biasa mereka nyanyikan di gereja.
    “Meski sedikit cape tapi Nasha lebih suka kalau kita sendiri yang menyiapkan semua kejutannya” Nasha membuka obrolan kembali.
    “Betul, karena kita sendiri jadi bisa merasakan sukacita berbagi kasih dengan mereka” Mama mengiyakan.
    Dalam hati Nasha mengucap syukur pada Tuhan Yesus, karena tidak ada kasih yang sebesar kasihNya dan tidak ada pengorbanan yang sebesar pengorbananNya. Kesanggupan Nasha untuk berbagi kasih dengan orang lain seperti ini, merupakan rencana dan pekerjaan Allah saja. Allahlah yang berinisiatif, Nasha dan keluarganya hanya jadi saluran berkat Tuhan buat orang lain.
    Sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit saat loyang terakhir berisi adonan kue pisang keju dimasukkan ke dalam oven. Kue brownies juga sedang dikukus. Semuanya hampir beres, hanya tinggal memanggang ayam sambil menunggu nasi timbel matang.
    Nasha menyandarkan punggungnya di atas sofa yang empuk untuk beristirahat sambil menunggu kuenya matang. Mamanya masih asyik memanggang ayam sedang Papanya memeriksa daftar siapa-siapa saja yang akan menerima kue nanti. Dari dapur terdengar suara Mama dan Papa mengingat-ingat kalau-kalau ada kenalan, kerabat atau sahabat lama yang belum dicatat. Ada dua belas orang jemaat gereja yang mendapat perhatian Nasha dan orang tuanya untuk diberi kejutan saat Paskah ini. Sebagian adalah jemaat yang jarang menghadiri kebaktian, sebagian lagi jemaat yang kurang mampu.
    Nasha memasukkan kue yang sudah matang satu per satu kedalam kotak dus kue. Di atas tutup dus tersebut Nasha menambahkan kartu ucapan bertuliskan

SELAMAT PASKAH
KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH KEMENANGAN
DAN KESELAMATAN BAGI KITA

    Sembilan dus berikutnya disiapkan untuk tetangga Nasha yang berada satu gang.
    “Walaupun tidak semuanya seiman dengan kita tapi berkat dari Allah juga harus dirasakan oleh orang-orang di sekeliling kita” kata Papa.
    “Itu salah satu bukti kalau kita tidak menumpuk berkat Allah untuk diri kita sendiri tapi dibagikan untuk orang lain juga. Jadilah berkat tidak hanya bagi saudara seiman saja tapi bagi mereka yang belum mengenal Kristus” Mama ikut menerangkan.
    “Wah... berarti banyak juga yang harus kita siapkan” Nasha menjawab, “Tapi nggak apa-apa, kan di Galatia enam ayat tujuh juga dibilang apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Nggak hanya menabur uang untuk persembahan di gerea saja tapi bisa juga taburan dalam bentuk perbuatan kita terhadap orang lain, betul kan?” sahut Nasha.
    Pukul setengah dua belas tepat oven menyala. Itu tandanya kue-kue tadi sudah matang. Nasha bergegas mengeluarkannya. Ada empat loyang kue yang masih tersisa. Sambil mendinginkan kue-kuenya, Nasha membantu Mamanya menyiapkan kotak makan yang berisi nasi timbel, ayam panggang, lalapan dan juga air minum cup. Kira-kira pukul satu siang semuanya sudah selesai. Nasha dan orang tuanya merasa sangat puas. Lalu mereka berdoa bersama supaya setiap orang yang menerima berkat Tuhan tersebut tidak hanya menerima berkat jasmani saja tapi juga menerima keselamatan dari Yesus.
    Kira-kira setengah jam kemudian, mereka mulai membagikan kotak-kotak makanan untuk para pengemis dan gelandangan di emperan mall dan trotoar. Bahkan pengamen, tukang sapu dan tukang becak pun juga kebagian. Mereka sangat bersukacita saat melihat wajah-wajah kumal para pengemis dan gelandangan itu berseri-seri saat menerima makanan tersebut. Ucapan terima kasih yang tulus pun terdengar dari bibir mereka. Walau sangat sederhana tapi begitu bermakna.
    Nasha sampai terharu dibuatnya. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kota, saat ucapan terima kasih sudah bukan lagi menjadi budaya, ada orang-orang seperti mereka, yang untuk mereka pula Yesus telah mati di kayu salib.
    Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, lima puluh kotak makan sudah habis dibagikan. Berikutnya mengantarkan kue-kue untuk tetangga dan jemaat gereja. Sebagian merasa terkejut, sebagian lagi merasa bersyukur karena begitu diperhatikan. Selanjutnya masih ada empat dus kue lagi yang tersisa. Orang tua Nasha akhirnya memutuskan untuk memberikan satu pada kawan lama mama yang tinggal di rumah susun dan dua dus lagi pada pegawai kantor Papa yang bertugas sebagai cleaning service dan satpam.
    “Satu dus lagi buat siapa dong?” tanya Nasha sambil menunjuk pada dus kue terakhir.
    Mama dan Papa hanya terdiam. Mencoba berpikir siapa yang akan menerima kue terakhir itu. “Gimana kalau kita berikan pada Oma Bertha saja” usul Papa tiba-tiba.
    Nasha terkejut mendengar usul Papa. Siapa? Oma Bertha? Apa Papanya nggak salah bicara?
    “Jangan ah. Yang lain aja. Kan ada Tante Rhuna, Oom Frans... siapa sajalah yang penting jangan Oma Bertha” tegas Nasha tidak setuju.   
    “Memangnya kenapa Sha? Kalau Tante Rhuna dan Oom Frans kan sudah sering menerima kue dari kita” Mama menanyakan alasannya.
    “Oma Bertha juga. Setiap Natal Mama selalu kirim kue dan parsel. Sebulan yang lalu Mama malah memasak makanan untuk Oma” tukas Nasha.
    Nasha jadi teringat Oma Bertha. Nasha punya kenangan buruk dengan Omanya itu, meski sebenarnya beliau bukan orang tua kandung Mama Papanya tapi masih ada hubungan kerabat. Mama dan Nasha pernah tinggal dengan Oma Bertha selama dua tahun. Waktu itu Nasha kelas tiga SD, Papa Nasha sedang ditugaskan di Papua. Menurut Nasha, Oma Bertha itu galaknya minta ampun. Pukul lima pagi Nasha harus bangun pagi lalu menyapu dan mengepel lantai. Mama Nasha disuruh memasak dan mencuci pakaian. Karena Mama dan Nasha menumpang tanpa biaya disana, jadi pemakaian listrik, air dan telepon harus sehemat mungkin. Teguran dan sidiran Oma Bertha sudah jadi makanan tiap hari. Begitulah resiko menumpang di rumah orang.
    “Sha, jangan mengingat apa yang sudah kita berikan untuk orang lain. Kalau kamu masih mengingatnya itu tidak tulus namanya. Masa Nasha nggak kasihan sama Oma Bertha, bertahun-tahun hidup seorang diri tanpa ada yang memperhatikan” kata Mama lembut.
    “Salah sendiri Oma galak dan pelit. Masih mending kalau Oma baik sama kita. Kita sudah baik sama Oma tapi Oma tetep saja jahat sama kita” kata Nasha.
    “Bukannya Nasha sendiri pernah bilang, kalau apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. Sekarang ada kesempatan untuk kita menabur perbuatan baik, kenapa kita tidak menggunakannya?” Papa bersuara.
    Sesaat suasana menjadi hening. Nasha diam terpaku. Nasha termenung mendengar ucapan Papanya tadi.
    “Bicara memang mudah Sha. Tapi perlu praktek juga” lanjut Papa.
    Nasha tersadar. Ia malu pada dirinya sendiri. Secara teori Nasha mungkin jauh lebih tahu daripada orangtuanya, tapi aplikasinya, Nasha nihil. Kedewasaan rohani tidak diukur dari dalamnya pengetahuan tentang Alkitab, tapi dari perbuatan dan karakter yang serupa dengan Kristus.
    “Ampuni Nasha, ya Tuhan” kata Nasha dalam hati.
    “Baiklah, Nasha mengerti sekarang. Maafkan Nasha ya Pa, Ma. Nasha yang akan mengantarnya sendiri ke rumah Oma Bertha. Save the best for last” kata Nasha sungguh-sungguh.
    “Lho serius Nasha mau mengantarnya sendiri? Rumah Oma kan jauh” tanya Mama kaget.
    “Nggak apa-apa, Nasha ingin kasih kejutan buat Oma Bertha di hari Paskah ini” jawab Nasha.
    Dalam perjalanan menuju rumah Oma Bertha, Nasha kembali melihat indahnya langit senja. Saat mentari perlahan membenam di cakrawala mata, ia menyadari bahwa kekristenan tercermin dari hubungan kita dengan orang lain. Seperti yang Yesus lakukan, memikirkan dan mengutamakan orang lain.
    Nasha berbisik dalam hati. Terima kasih Tuhan untuk Paskah yang indah dan penuh makna. Biarlah bukan hanya hubungan Nasha dengan Allah yang diperdamaikan tapi dengan Oma Bertha juga. Terima kasih Yesus untuk damai yang Kaubawa. (by: Seen)

Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu?
... tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dengan tidak mengharapkan balasan.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati
(Lukas 6:27-36)

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com