Thursday, March 8, 2012

ORANG-ORANG GILA DI GEREJA

ORANG-ORANG GILA DI GEREJA

Harus menjadi baik, aku harus baik. Dan ia duduk dengan tenang.

"Aku benci hidup.”

Gadis cantik di sebelahnya. Seperti memandangnya.

Lalu ia teringat akan berkat-berkat Tuhan yang banyak.

Kenapa aku ada di sini?

Mimbar pendeta yang ada di hadapannya diam saja tak menjawab. Tentu saja, wong mimbar.

Aku sudah gila.

Tapi aku guru sekolah minggu, masak gila?

Justru karna itu, pasti gila ini benar-benar.

Diam lagi.

Biar gila harus tetap baik.

Gadis cantik di sebelahnya. Seperti senyum-senyum memandangnya.

Dia yang gila, cetusnya cemberut.

"Tuhan maha sempurna, manusia tak kan sanggup menyamaiNya. Yesus saja sanggup kudus di hadapanNya. Ia teladan hidup yang baik."

Itu suara Pendeta Ruth, terdengar jauh dari depan, di belakang mimbar.

Ia melihat dengan gundah kejadian yang terus dialaminya sepanjang waktu.

Bareta sebenarnya tidak melayani Tuhan, tapi bermusik untuk dirinya sendiri. Ah, sory, tak boleh menghakimi, ya? Tapi terlalu kelihatan, terlihat dari buahnya, gitu kata Andreas.

Ester hilang telepon genggamnya, bukan hilang, tapi dicuri, terjadinya di gereja juga. …Maksudnya di gereja berkeliaran pencuri? Tau ah, rada gelap. Ngga berani komen.

Wulan selalu menyalamiku sebelum melayani Tuhan, tapi di luar waktu itu? Mit-amit, pokoknya ngga usah diceritain deh.

Lita hamil sebelum menikah dengan Joan, mereka pertama berkenalan di sini, di gereja.

RumahKu akan disebut rumah doa, dan kamu membuatnya menjadi sarang penyamun! Teringat Yesus berucap suatu saat.

Hening lagi, lalu tiba-tiba…

“…ANAKKU, KAU PANDANG YESUS SAJA, PASTI TAK KAN KECEWA!”

Itu bukan suara Pendeta Ruth, juga pastilah bukan suara gadis di sampingnya ini, enak aja panggil anak, emang dia ibuku? Jadi, mungkinkah itu suara Tuhan?

Pendeta Ruth telah menyelesaikan khotbahnya.

Skarang ngapain lagi? Oh iya.

Ia merogoh kantong untuk memberi kolekte. Nah lho, yang nagih kolektenya Tante Dorkas, wanita setengah tua ini hampir ngga pernah akur sama Oom Bram, padahal itu suaminya.

Gila, ia merasa makin pusing dengan sekelilingnya, ini kan gereja? Dengan susah payah ia menetapkan pikirannya untuk pandang Yesus saja, jadi takkan pernah kecewa.

Ant, 13 Oktober 2000

22.38



Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com