Friday, March 16, 2012

Cerpen M A N G K A T


M A N G K A T

Kaget dan tidak percaya. Itulah yang dialami Irma, begitu dia mendengar kabar, Tante Ratih meninggal. Tante yang sudah memelihara dan mau membiayai sekolah selama 6 semester, meninggal. Rasanya tidak mungkin. Pagi tadi, Irma masih bercanda, sarapan bersama, bahkan sempat mencium pipi Tante Ratih sebelum berangkat. Ah, rasanya tidak mungkin. Dea pasti bercanda.

Dengan berlari kecil, Irma menuju kantin di belakang sekolah. Begitu melihat Dea di sudut kantin, Irma menghampiri dan sengaja membuatnya terkejut.
“Hai! Melamun saja!!” seru Irma setengah berteriak di telinga Dea. Buku-buku yang ada dalam pelukannya, Irma letakkan  di meja.  Irma duduk menghadap Dea. Sapaan yang Irma perkirakan akan mendapat umpatan dari Dea, ternyata tidak mendapat tanggapan. Dengan sedikit kecewa, Irma memperhatikan wajah Dea.
“De, kamu sehat-sehat saja ‘kan?” nada suara Irma sedikit kuatir melihat wajah sahabatnya yang pucat. Kedua matanya pun memerah.
Irma memegang tangan Dea dan mengguncangnya.
“Ayolah Dea, kamu jangan begitu”
Sorot mata Dea memandang Irma dengan raut muka yang tidak berubah.
“Ir…, kamu tidak percaya dengan berita yang aku sampaikan tadi. Ir, aku tidak bohong. Tante Ratih benar-benar meninggal jam 9.00”
Ada suatu aliran hangat yang mendesak  ke dada, saat Irma mendengar ucapan Dea yang serius. Antara percaya dan tidak, Irma harus menerima kenyataannya. Ingin rasanya Ia menangis, tetapi rasanya tidak mampu. Mendadak kepala Irma menjadi sakit, dan wajahnya menjadi pucat. Sebagian dirinya, tetap menolak kenyataan meninggalnya Tante Ratih.
Sekarang gantian Dea yang merasa kuatir.
“Ir, sebaiknya kita pulang yuk. Aku rasa, mereka yang di rumah sudah menunggumu.”
Dengan lesu, Irma menganggukan kepalanya. Diikutinya saran Dea. Sambil beriringan mereka berdua berjalan meninggalkan kantin sekolah. Sejak kecil, Dea sudah menjadi sahabat, sekaligus menjadi tempat Irma bercerita. Kata orang, Dea dan dirinya memiliki kemiripan. Baik raut wajah, cara berjalan bahkan cara bicarapun sama. Bedanya, mereka berdua tidak sedarah tetapi satu perasaan. Dan mereka sama-sama mencintai Tante Ratih.

Rumah Tante Ratih yang juga tempat tinggal Irma sejak ayah dan ibunya meninggal, terlihat ramai. Tergesa, Irma masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, terlihat peti mati dari jati yang diukir sepanjang tepiannya. Bunga mawar tersusun rapi membentuk salib, berada di bawah peti. Sepasang lilin putih menyala, berada di atas meja. Foto Tante Ratih, tersenyum. Sorot matanya, seolah menatap Irma dengan lembut, berkata “Selama tinggal Irma”
Kedua lutut Irma menjadi lemas. Matanya berkunang-kunang. Mendadak semuanya menjadi gelap.
“Ir, Irma sadar. Sadar Ir!”  seru seseorang sambil menepuk-nepuk pipi Irma. Bau minyak putih yang tajam, membuat Irma tersadar dari pingsannya. Kelopak mata Irma sedikit terbuka, ketika kesadarannya mulai pulih. Antara sadar dan tidak, rasanya Irma baru saja melihat Tante Ratih berada di sampingnya.
“Tante…jangan tinggalkan Irma, Tante” rintih Irma perlahan.
“Ir, kamu harus tabah. Tabah ya Ir” kata Dea terisak.
Irma mencoba bangun dari pembaringan. Sambil terhuyung-huyung, Irma berjalan menuju ruang tamu. Ia tidak menghiraukan orang-orang yang memandangnya dengan sorot mata kasihan.
“Tante, kenapa Tante tega ninggalin Irma? Bagaimana dengan Irma nanti Tante? Kenapa Tante tidak tunggu Irma….?” Tangis Irma meledak saat melihat mayat Tante Ratih terbaring dalam peti. Dengan cepat, Dea memeluknya.
“Sudahlah Ir. Kita harus menerima kepergian Tante Ratih. Relakan Ir! Sekarang Tante Ratih sudah berada dengan Bapa di surga” hibur Dea dengan suara serak.

Dea, membimbing Irma ke kamar. Dibiarkannya Irma menangis sepuasnya. Di dalama kamar, Dea mendengar, di luar suara anak-anak Tante Ratih  yang baru datang dari luar kota. Mereka tampaknya menangis dengan histeris.

Acara pemakaman berjalan dengan lancar. Setelah semuanya selesai, di rumah almh. Tante Ratih masih tinggal beberapa kerabat dari luar kota. Ketiga anak Tante Ratihpun masih ada. Terus terang keberadaan orang-orang itu, membuat Irma tidak tahu harus berbuat apa.  
Meskipun Irma sudah dianggap anak oleh Tante Ratih, tetapi Irma tidak mengenal dekat dengan anak-anak Tante Ratih. Saat Irma tinggal dengan Tantenya, saat itu anak Tante Ratih sudah berada  di luar kota  dan berkeluarga. Mereka jarang mengunjungi  ibunya. Hal ini yang membuat Irma tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Sikap ketiga anak Tante Ratih, mulai berbeda. Mereka menghentikan obrolan, apabila tanpa sengaja Irma mendekati. Irma menjadi tidak enak. Rumah yang dulunya menjadi surga baginya, dalam beberapa hari rasanya menjadi neraka.

“Dea, aku harus bicara sama kamu” kata Irma begitu bertemu Dea di kampus.
“Baiklah. Kita bicara di kantin saja yuk!” ajak Dea sambil memegang tangan Irma.
Begitu sampai di Kantin, mereka memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas minuman dingin.
“De, aku pikir, aku harus keluar dari rumah Tante Ratih.” kata sendu.
“Kenapa Ir?” tanya Dea terkejut.
Irma menceritakan apa yang terjadi di rumah Tante Ratih. Sikap ketiga anak Tante Ratih yang seolah-olah memusuhinya.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Ir” sela Dea.
Irma menggeleng.
“Semuanya benar. Dea, aku masih memiliki beberapa tabungan dan beberapa perhiasan warisan orang tuaku. Aku rasa, masih lebih untuk membayar kamar kos dan makan untuk beberapa bulan, sampai aku mendapat pekerjaan.”
“Kuliahmu bagaimana Ir?”
“Aku akan ambil kuliah sore. Tolong bantu aku cari informasi tempat kos dan kalau bisa, aku perlu juga rekomendasi Papamu untuk mendapat job,  gimana De? please….” Pinta Irma dengan mata berkaca-kaca.
Melihatnya Dea jadi tidak tega.
“Iya… deh! Untuk pekerjaan, aku akan minta tolong Papaku. Tapi, sebelumnya kamu harus janji, belum atau sudah dapat pekerjaan, asal kamu sudah putuskan untuk keluar dari rumah Tante Ratih, kamu harus tinggal di rumahku.”
“Tapi Dea…”
“Tidak ada kata tapi, tapian. Pokoknya, kamu harus ikuti saranku. Kamu tidak usah kuatir, Papa dan Mama yang memintanya untuk membicarannya  masalah ini dengan kamu” potong Dea dengan serius, sambil memegang tangan Irma.
Irma tidak tahu harus berkata apa. Matanya menjadi hangat. Hatinya terharu. Tidak Irma sangka, dunia masih bermurah hati padanya. Dan, ternyata Tuhanpun tidak pernah meninggalkannya. Dia selalu ada,  menjaga, melindungi bahkan menyediakan keperluannya tepat pada waktunya.
“Terima kasih Tuhan untuk semuanya” bisik Irma dalam hati. (Yen – BLBS)

Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com