Wednesday, February 1, 2012

Aminoto Kosin: Bakat itu cuman 5%

Kehadirannya di blantika musik Indonesia, udah cukup diakui. Seorang arranger dan juga konduktor. Dari tangannya, udah banyak musik dan musisi yang berkualitas dihasilkan. Tapi semua itu melalui banyak perjuangan, “Buat saya seseorang yang mau menjadi musisi, sebaiknya dimulai dari yang formal. Artinya sekolah musik dulu. Mungkin bisa kursus, kalo mo singkat. Tapi yang pasti kalo mo jadi musisi tidak bisa instant. Tidak ada yang singkat. Harus menempuh beberapa jalur. Saya sendiri ngerasa banget perbedaannya. Bisa aja sih tidak melewati hal tersebut. Mungkin kasih karunia kali”, ujar Papa dari 2 putri yang juga sekarang udah menunjukkan bakat bermusiknya.


Ceritain donga masa kecilnya!
Wah masa kecilku bahagia syeekali! Aku dibelai dan aku disayang juga (Ko Amin, begitu ia senang dipanggil, menceritakannya persis kayak anak kecil, hehe. -red). Aku terlahir di tanahnya orang batak, Medan, 18 Februari 1963. Dan sempat pindah ke Kuala Lumpur. Kita tinggal di sana lebih kurang tiga tahunan. Sekitar tahun 1969 sampe 1972 gitu deh. Masuk sekolah Inggris. Waktu itu kakakku ikut les piano, aku pengen ikut-ikutan. Lalu kita sekeluarga balik lagi ke Medan. Sekitar kelas empat SD kita pindah ke Jakarta sampe sekarang. Meski pindah-pindah, aku tetep komitmen dan serius ngeles musik. Aku ngeles drum dan piano.


Kira-kira bakat musiknya Ko Amin ada bakat keturunan nggak sih?
Susah juga ngomongnya ya. Papaku tuh suka nyetel musik yang rada berat-berat gitu. Jadi aku sering mendengarnya. Mungkin ini yang membuat aku makin menyukai musik. Di umur yang begitu masih kecil aku udah terbiasa dengan musik jazz atau klasik. Bahkan Papaku juga sering membawa aku nonton konser-konser musik. Kalau aku teliti lagi, lingkungan ini mungkin yang membentuk aku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil sekolah musik secara serius setelah selesai SMA.


Bakat kita paling cuman 5%, sisanya itu kerja keras. Mau nggak kita belajar lebih lagi. Meski kita berbakat, kalo nggak pernah belajar hasilnya nggak akan pernah baik. Alangkah baiknya bila keduanya berjalan dengan baik. Dana itu hanya faktor berikutnya. Dan saya pikir kalo kita pintar dan berbakat, pasti banyak yang akan membiayai. Jangan khawatir deh!


Bisa mengambil keputusan untuk sekolah musik itu ceritanya bagaimana?
Aku mulai kuliah di Berklee Colege Music di Amrik tahun 1982 dan kelarnya tahun 1985. Sebenarnya pas mo mutusin masuk sekolah musik rada berat juga. Jarang banget orang ngambil jurusan ini. Tambah lagi setelah sampe di Amrik, cuma aku yang yang orang Indonesia. Lumayan ribet juga mencocokin diri. Nah, Papaku tuh kan dokter en aku anak cowok sendiri. So, maunya Papa sih aku nerusin kayak dia. Tapi aku nggak mo nyerah gitu aja. Aku lobi bokap lewat guru les musik. Aku suruh mereka nemuin bokap. Disini mungkin bokap udah liat kali keseriusan aku. So akhirnya aku diberangkatin. Keren kan teknik aku nge-deketin bokap?! Hehe. Bokap akhirnya mau suppoert aku, tapi dengan satu syarat, aku harus tekun en serius. Harus jadi musisi yang bener.


Nah setelah selesai kuliah dan balik ke Jakarta, ngapain?
Aku sempat nganggur. Aku ketemu sama Om Willy Sumantri. Kebetulan dia dekat ama Papa. Lalu Papa bilang, “Eh, anakku habis sekolah coba ajak dia rekaman aja”. Waktu itu aku umur 25 tahun. Lalu aku diajak rekaman sama Om Willy Sumantri, ngerjain rekamannya Maya Rumantir. Dari sini aku kenal dengan Dian Pramana Putra. Lalu ama Yoppi Item. Dan mulai sejak itu aku diajak rekaman ama yang lain-lainya. Termasuk Pak Peter F. Gontha. Lalu ketemu sama Erwin Gutawa. Kok kayaknya nyambung ngobrol dan bermusiknya akhirnya kita bentuklah grup Karimata.


Enak nggak ya jadi musisi?
Sebenarnya jadi musisi itu ada enak dan nggaknya. Enaknya kita melakukan dengan apa yang kita suka. Dapat duit lagi. Nggak enaknya, kita dikejar-kejar ama deadline. Kerjaan kita gini menggunakan feeling banget. Kalau emang lagi nggak ada ide, rada berat ngerjainnya. Tapi tetap juga kita usahakan. Nggak boleh nggak. Emang sih, kita harus memikirkan diri kita juga. Tetapi kerjaan kita kan melibatkan banyak orang. Kalo hanya satu kita banyak orang yang telat. Jangan sampelah itu terjadi. Satu lagi, ketika masuk dalam industri musik, apa yang kita kurang suka, juga harus ditoleransi. Kita harus dapat belajar memaklumi. Karena semuanya nggak dapat seperti apa yang kita harapkan. Apalagi kalo kita bekerja dalam sebuah tim. Harus ada kesepahaman.


Menurut Ko Amin untuk menjadi musisi itu mendingan masuk sekolah formal atau otodidak saja cukup?
Nah ada dua jenis musisi. Ada otodidak dan formal. Untuk otodidak, nggak semuanya bisa. Contohnya, Mas Erwin Gutawa. Nggak semua musisi bisa seperti dia. saya angkat topi sama dia.


Menurut Ko Amin, kalau mau menekuni musik harusnya gimana?
Ya sebaiknya sekolah sih. Ini paling aman. Karena nggak semua orang bisa seperti Mas Erwin. Buat orang tertentu bisa gampang secara otodidak. Tetapi buat orang yang lain, belum tentu. Kalau kita di sekolah musik yang formal pasti akan mendapatkan pengajaran basic yang kuat. Ini bisa jadi modal ketika nanti udah terjun dalam dunia profesional. Kita nggak akan kehabisan ide. Soalnya pada masa sekolah kita udah banyak explore. Di lapangan kita tinggal ngikutin perkembangan musik aja.


Sebaiknya juga sejak usia belasan tahun, kalo udah mulai SMP atau SMA baru belajar musik, biasanya itu telat. Harus belajar ekstra banget. Kepekaan kita itu banyak dilatih sejak usia dini. Kalo udah gede, kitanya udah kebentuk. Jadi sangat susah untuk mengarahkannya lagi. Liat aja akan lebih gampang mengajar anak kecil dibandingkan anak yang udah dewasa. Biasanya anak yang udah dewasa lebih gampang menjalankan sendiri dibanding mendengarkan orang lain.


Biasanya kan kalo baru lulus SMA rada susah nentuin pilihan kuliah. Apalagi kalau ada intervensi dari orangtua. Menurut Ko amin bagaimana ya?
Menurut aku, orangtua mana sih anaknya nggak mau maju. Persoalannya kita juga harus menunjukkan apa yang kita maui. Kita juga harus menunjukkan dengan prestasi. Jangan asal mo milih aja. Tapi tidak dengan dengan perbuatan kita. Saya sangat yakin orangtua kita pasti mendukung.


Menurut Ko Amin standar sekolah musik di Indonesia sudah memenuhi syarat atau belum sih?
Belum banget. Masih jauh, untuk membuat sekolah yang baik haruslah juga guru-gurunya yang terbaik pula. Guru-guru yang saya temui selama kuliah di Amrik, mereka sangat bertalenta mengajar. Jadi nggak jarang keluar banyak siswa-siswa yang luar biasa berbakat. Tambah lagi, pemerintah di sana juga mendukung. Saya pikir ini semuanya satu paket. Nah, apa yang saya lakukan di Chapel Music Ministry, adalah salah satunya ini. Saya rindu anak-anak muda bisa tertampung kreatifitasnya di musik. Melalui wadah ini saya pengen anak-anak muda bisa berkembang. Silahkan aja bergabung dengan kita. Kita tunggu. Sekarang ini kita udah punya Chapel Band, Chapel Singers, Chapel Choir dan terakhir kita udah buat Chapel Music Course.


Harapan buat anak-anak Ko Amin apa?
Manfaatkan usia yang masih muda. Lakukan sesuatu yang positif sekarang untuk di masa depan. Karena apa yang kita tabur sekarang, tuainya entar setelah tua. Jangan buang-buang waktu. Penyesalan selalu datang diakhir. Secara umum anak muda pengen cepat jadi lias instant. Pengen terkenal dan dapat pengakuan. Semuanya itu ada prosesnya. Harus melewati latihan yang luar biasa.


Kalau kita ngomongin gereja, menurut Ko Amin tentang musisi gereja?
Banyak musisi gereja yang sebenarnya bisa main musik, tapi hanya bisa main saja, nggak pernah menempuh pengalaman yang formal. Harusnya berani menambah skill lagi, biar urapan dan skill bergabung, akan menghasilkan impact yang luar biasa. Kuncinya ya di SDM-nya. Balik ke orang-orang yang punya hati membangun musik gereja lagi. Kita harus mendidik musisi gereja. Kalau kualitas bermusik mereka bagus pasti menghasilkan musik yang luar biasa.


Kendala-kendala gereja secara umum apa sih ?
Biasanya soal paradigma. Kalo setiap anak Tuhan punya pandangan luas, Tuhan pasti ikut bekerja. Nggak ada yang mustahil. Kalau ternyata uang adalah masalahnya, DIA pasti memberkati. Alat-alat musik pasti terbelilah. Akhirnya, SDM-nya pun akan pasti banyak yang lahir. Masalahnya di pola pikir.


Gereja biasanya kurang bisa menerima sesuatu yang baru, apalagi kalau kita ngomongin musik ?
Kita lihat sejarah musik dulu deh. Sejarah musik kristen itu sendiri berasal dari budaya Mesopotamia lalu berkembang ke Timur Tengah. Lalu berkembang lagi ke klasik. Terus berkembang lagi ke modern. Jadi musik itu sebenarnya luas sekali. Jadi gereja nggak bisa bilang musik yang bener ini ato itu. Kalau memang mau nggak berubah, harusnya musik gereja cuman gambus, ceracap dan kecapi dong? Yang lainnya nggak boleh. Nah, ini kan nggak sesuai dengan jaman lagi. Tuhan justru mau kita berkembang. Kapasitas kita menjadi lebih besar lagi.


Menurut Ko Amin mengapa kok gereja bisa sampai mengkotak-kotakan musik gitu?
Setiap orang lahir dalam generasi yang berbeda. Kalo kita nyaman dalam satu generasi kita, ketika lahir generasi yang berikutnya kita akan gusar. Rasanya aneh dengan hal-hal yang baru. Padahal bayangkan coba seandainya kalo kita sendiri yang dianggap aneh. Pasti nggak bisa terima juga. Yang paling penting dari semua adalah, generasi yang tua harus tetap belajar dan mengikuti perkembangan jaman. Dan generasi yang muda juga harus belajar berkomunikasi yang baik terhadap orangtua.


Enakan mana sih, main di band ato orkestra?
Masing-masing itu lain disiplinnya. Misalnya main di orkes, dituntut disiplin yang cukup tinggi. Apalagi kalau kita lagi main akustik. Nggak boleh main keras. Kita harus mendengarkan yang lain. Kita nggak bisa seekpresif mungkin. Karena ada nada-nada yang dimainkan oleh teman-teman yang lain. Kalau kita di band cuma beberapa orang saja. Diband kita bisa berekspresi. Segala macam fell kayak apa juga bebas. Mau ngambil nada apa juga bebas. (pt, foto: pt, ist)


FAST FACT
- Lama pacaran ama istri hingga memutuskan menikah, 4 tahun. Kenalan pertama di kebaktian pemuda tahun 1984
- Bangun pagi, harus tersedia kopi
- Dulu pake kaca mata
- Lebih suka pake celana pendek ¾ dan t-shirt berwarna putih serta jarang banget pake sepatu yang tertutup. Meski terkadang dalam acara yang formal. Lumayan cueklah.
- Rambut panjang (kemungkinan kecil banget untuk dibotak, he he, red)
- Suka bergaul dengan anak muda. Mengayomi. Orangnya easy going banget
- Punya anjing lumayan gede. Namanya, Conan. (lumayan sering dibawa jalan-jalan, so ati-ati deket ama Ko Amin, hehe)
- Nyetirnya suka ngebut
- Pernah dipalak ama kapak merah di daerah Slipi. Hp-nya raib
- Jarang banget pake parfum
- Lumayan romantis
- Kurang suka olahraga
- Kalau main ke rumahnya pasti selalu ditawarin makan
- Di kamar mandinya banyak banget bacaan
- Orangnya rada last minute. Kalo uda gini, dia akan belain kebut-kebutan dengan waktu. Begadang, no problema banget
- Susah marah. Tapi kalau lagi marah, banyakan diamnya


Nama Lengkap :: Aminoto Kosin
Nama Panggilan :: Amin ato Ko Amin
Tempat dan Tgl lahir :: Medan, 18 Februari 1963
Anak ke :: 4 dari 6 bersaudara
Nama Istri :: Esther Harjadi
Nama Anak :: Pamela Kosin dan Nicole Kosin
Ayat Fave :: Semua yang di Mazmur
Minuman Fave :: Gado-gado, Seafood
Makanan Fave :: Air putih, Chinese tea, Coffe
Buah Fave :: Apel, Jeruk, Water Melon, Plum
Binatang Fave :: Anjing, Ikan
Buku Fave :: God Chaser en every Inspirational book
Musik Fave :: Semua Jenis Musik
Musisi Fave :: Pat Metheby, Lyle Mays, Dave Grusin
Film Fave :: Forrest Gump, Saving Private Ryan
Kartun Fave :: Walt Disney
Warna Fave :: Biru, Putih, Hitam
Sport Fave :: Renang
Motto :: Always do the best you can do
Pendidikan :: Barkle College of Music, Boston, USA

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com