Monday, July 12, 2010

Dwight L. Moody, Si Bocah Penjual Sepatu

Dwight L. Moody
Si Bocah Penjual Sepatu

Tanggal 5 Februari 1837, Keluarga Moody yang tinggal di sebuah kota kecil di Amerika Serikat bagian timur bertambah satu anggotanya dengan lahirnya bayi laki-laki yang diberi nama Dwight Lyman Moody. Tapi kebahagiaan itu nggak bertahan lama, soalnya si ayah, yang memang udah lama kecanduan minuman keras, kembali jadi galak en beringas sama anak istrinya.

Usia empat tahun, Dwight, si anak bungsu ini, udah harus terima kenyataan kalo dia en keluarganya harus hidup tanpa ayah gara-gara ayahnya meninggal karena alkohol. Makanya, sejak kecil, Moody muda udah nunjukin semangat en bakatnya yang hebat di bidang kewirausahaan. Ia pintar nyari uang en mau kerja keras. Di umur 17 aja, Moody berani merantau dari kampung halamannya yang terpencil en pergi ke Boston, bekerja sebagai tukang jualan sepatu di toko pamannya.

Salah satu syarat pamannya mau terima Moody bekerja di tempatnya ialah ia harus mau pergi ke gereja. Moody sih nurut aja, tapi ia sekedar datang aja tanpa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang penting. Moody sama sekali nggak membangun hubungan pribadi dengan Tuhan yang disembahnya di gereja. Sampe suatu kali di usianya yang ke-18, ia mendengar tentang kasih Kristus dari guru Sekolah Minggunya, dan dari sana mulai percaya akan Tuhan.

Setahun kemudian, Moody pindah ke Chicago dengan satu tekad: ia harus bisa mengumpulkan uang seratus ribu dolar. Empat tahun kemudian, Moody, yang begitu teguh dan tekun dan berjiwa bisnis ini mampu menabung sebanyak tujuh ribu dolar.

Ternyata tekadnya mencapai 100 ribu dolar ini nggak kesampaian, soalnya di usia 23, Moody dipimpin oleh Tuhan buat melayani orang-orang keturunan Skandinavia dan Jerman yang sangat miskin di kotanya. Ia sangat berdedikasi pada proyek yang satu ini, sampe-sampe bisnis dan mimpi seratus ribu dolarnya rela ia tinggalkan sama sekali.

Pecahnya Perang Saudara di AS tahun 1961 bikin Moody melibatkan dirinya di dalam Komisi Kristen Amrik untuk YMCA. Moody melayani di beberapa medan peperangan. Ia pun membangun gereja di Chicago. Tapi, tanggal 8 hingga 10 Oktober 1871, Kebakaran Hebat melanda Chicago, sepertiga daerah kota itu ancur beantakan. Gereja Moody pun ikut hancur rata dengan tanah. Tapi, seperti juga tekad pemerintah kotanya, Moody langsung memulai pembangunan kembali, dan tiga bulan kemudian, gereja itu udah bisa berdiri lagi.

Moody mulai dikenal sebagai penginjil saat ia berkunjung ke Inggris. Begitu terkenalnya Moody sampe-sampe ia dijuluki penginjil terbesar abad ke-19. Orang-orang menyamakan dirinya dengan pengkhotbah-pengkhotbah hebat lainnya kayak George Whitefield atau John Wesley. Selama masa hidupnya, ia udah pernah melintasi ratusan ribu kilometer, berbicara di depan lebih dari 100 juta orang, dan membawa ratusan ribu hingga jutaan di antara mereka ke dalam pengalaman pribadi mereka dengan Tuhan Yesus.

Dua orang presiden AS, Abraham Lincoln dan Ulysses Grant, pernah mendatangi kebaktian yang dipimpin oleh Moody. Saking besar en terkenalnya Sekolah Minggu Moody ini di mata masyarakat, bahkan Presiden Lincoln pernah datang ke sekolah itu di Chicago dan berpidato di depan pengunjungnya. Rekor pengunjung kebaktian terbesar yang pernah dicatatnya adalah di Chicago World’s Exhibition di tahun 1893, ketika ada lebih dari 130 ribu orang yang datang buat denger khotbah Moody.

Selain berkhotbah dan mengajar tentang Firman Tuhan, Moody juga memperhatikan bidang pendidikan. Makanya, dia bikin dua badan pendidikan, yaitu Sekolah Northfield Mount Hermon untuk anak laki-laki dan perempuan yang sampai sekarang ini masih berdiri, dan Chicago Evangelism Society (Masyarakat Penginjilan Chicago) yang kemudian berubah nama menjadi Moody Bible Institute. Ia juga sangat peduli sama masalah ketersediaan buku buat umat Kristen, jadi ia mempelopori didirikannya beberapa perusahaan penerbitan yang salah satunya diberi nama Moody Publishing. Semua itu ia lakukan semasa hidupnya yang panjangnya 62 tahun. Sungguh luar biasa segala yang dilakukan si bocah penjual sepatu ini, semua karena Tuhan yang mendukungnya. (cs)

No comments:

Post a Comment

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com