Monday, June 28, 2010

Kenalkan Ayahku: Frankenstein



Kenalkan Ayahku, Frankenstein

Waktu saya lahir, Mama saya meninggal dan saya diangkat anak oleh temannya. Berdasarkan cerita Mama angkat saya ini, Papa kandung saya kabur waktu tau Mama hamil dan mungkin sudah meninggal entah dimana. Mama angkat saya masih muda, tapi karena dia terlalu sibuk mengurus saya plus bekerja, akhirnya dia gak pernah menikah. Dan karena itu saya gak punya sosok ayah dalam hidup saya. Engkong saya adalah satu-satunya figur pria yang saya miliki, tapi tetap dia bukan ayah saya.

Di masa SMA, saya menemukan Tuhan. Waktu itu banyak pembimbing rohani yang kemudian menjadi contoh buat saya bagaimana seharusnya seorang pria berperilaku. Tahun demi tahun, saya mengalami gonta-ganti pembimbing karena kesibukan mereka masing-masing.

Pembimbing–pembimbing ini sifatnya berbeda–beda dan mengajarkan pengalaman hidup yang berbeda juga. Ada yang mengajarkan doa, baca alkitab, ada yang mengajarkan kesetiaan, ada yang mendampingi waktu saya masih kecil secara rohani, adapula yang memperlengkapi saya tentang bagaimana menjalani hidup ini. Mereka semua seperti potongan-potongan yang membentuk figure ayah bagi saya.

Saya pikir-pikir figur ayah yang terbentuk dalam diri saya jadi seperti Frankenstein. Hehehe.. soalnya terbentuk dari potongan tubuh yang berbeda-beda. Setiap sosok pembimbing yang pernah saya temui seakan-akan menyumbangkan potongan tubuh yang berbeda-beda. Dan saya bersyukur karena hal itu, walaupun tidak sempurna tapi ayah Frankenstein ini mengajarkan banyak hal yang baik dan mengenalkan saya pada kehidupan dan Tuhan.

Saya jadi menyadari betapa saya membutuhkan figur seorang ayah. Senang rasanya kalau melihat ada teman yang akrab dengan ayahnya. Tetapi sedih sekali kalau melihat anak yang ribut terus dengan ayahnya, mereka sepertinya tidak bersyukur memiliki ayah, bahkan mereka seakan-akan berharap kalau bisa ayahnya hilang ditelan bumi saja. Saya rasa mereka tidak menyadari seperti apa rasanya bertumbuh tanpa kehadiran ayah.

Saya percaya Tuhan itu ada, dan saya tahu Dia baik. Saya tahu suatu hari nanti, rasa aman dan perlindungan yang saya impikan itu akan saya dapatkan dari Tuhan. Saya cukup sadar bahwa saya tidak bisa mengharapkan hal ini dari manusia biasa. Seluruh masa depan saya, saya gantungkan pada harapan ini. (min2)

BOX OF LIFE

Mungkin kamu terpaksa atau memilih untuk hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa ortu, tanpa ayah. Tapi jauh di lubuk hati, kita butuh figur ayah, sekalipun itu hanya potongan-potongan. Gak ada yang bisa tumbuh dewasa dengan seimbang tanpa figur itu. Karena itu jangan terus tenggelam dalam kekecewaan, tapi carilah potongan-potongan yang benar supaya cara berpikir kita pun jadi benar dan kita tumbuh sebagai pribadi yang lengkap.

1 comment:

copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com