Tuesday, July 6, 2010

Mendoakan Seorang Gadis

Question
Setelah terima Yesus secara pribadi, semua yang kuharapkan selalu kutanyakan pada-Nya. Begitupun dengan pasangan hidup. Aku bertemu dengan seorang gadis yang aktif dalam pelayanan (sebut aja si A), dia pun udah terima Yesus. Melalui si A inilah Imanku bisa bertumbuh. Aku memohon kepada Tuhan agar dia bisa jadi pacarku. Aku selalu berdoa untuknya bahkan aku berpuasa untuknya. Hubungan saya dengannya sangat dekat, bahkan saya dengannya terlibat bersama-sama dalam pelayanan. Pada suatu saat, saya berdoa memohon hikmat dari Tuhan untuk mengungkapkan perasaanku padanya, namun pada saat itupun aku tahu bahwa teman baikku juga mendoakannya. Dan akhirnya niatku untuk mengungkapkan isi hatiku tertunda. Hanya berselang seminggu, temanku mengungkapkan isi hatinya dan akhirnya merekapun jadian. Aku yang telah menerima-Nya sebagai Tuhan Dan Juruselamatku, sadar bahwa apa yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik yang Ia berikan bagiku. Selama mereka jadian, aku selalu mendoakan mereka.

Empat bulan kemudian aku dekat dengan si B, dan aku selalu membawanya dalam doa, bahkan akupun berpuasa untuknya. Setelah kurang lebih dua bulan aku dekat dengan si B, aku terima kabar bahwa Si A telah putus dengan temanku. Karena si A telah mengetahui bahwa aku pernah mendoakannya, maka iapun kembali dekat denganku. Kedua cewek ini, sama-sama terlibat dalam pelayanan. Melihat kekurangan mereka, masing masing ada kekurangannya sendiri. Namun kekurangan mereka selalu tertutupi dengan kelebihan mereka. Aku jadi bingung mau milih yang mana?
Teman-teman bilang aku harus milih yang si A karena dia yang lebih dulu aku doakan. Namun adapula yang katakan bahwa saya harus fokus dengan doa saya saat ini. (C – Minahasa)

Answer
GF! punya 4 hal yang harus diperhatikan kalau mau milih teman hidup. Yang pertama, cari tahu apakah orang yang kamu doakan itu memang dari Tuhan atau bukan. Gimana taunya? Tentu saja dengan doa, kalo perlu sambil puasa dan siap-siap denger jawaban Tuhan. Yang susah dari langkah pertama biasanya gimana cara denger suara Tuhan. Jawaban Tuhan datengnya bisa lewat macem–macem cara dan berbeda–beda untuk setiap orang. Ada yang lewat firman Tuhan, pas baca Alkitab tiba–tiba ada ayat yang waktu dibaca sepertinya mata kita gak bisa lepas dari ayat itu dan ayat itu mungkin secara implisit atau eksplisit merupakan jawaban doa. Ada juga yang mendapat jawaban secara supranatural, misalnya lewat mimpi, tanda–tanda atau suara Tuhan yang terdengar audible. Apapun caranya, yang penting kita harus bener–bener yakin bahwa orang itu memang dari Tuhan.

Yang kedua, siapkah kamu berkomitmen dengan orang itu? Tuhan kita nggak kayak orangtua Siti Nurbaya, teman hidup yang dia sediakan tentu saja yang terbaik untuk kita tapi Tuhan gak akan memaksa kita untuk menikah dengan pilihan-Nya. Pernikahan adalah persetujuan antara 3 pihak yaitu Tuhan, kamu dan pasangan kamu. Sebelum kita menyatakan setuju, kita harus berpikir baik–baik apakah kita mau berkomitmen dengan orang itu seumur hidup. Apakah kita mau melihat mukanya setiap pagi seumur hidup? Apakah kita mau dia menjadi ayah-ibu dari anak–anak kita nanti? Apakah kita siap menerima karakter, kekurangan dan kelebihan dia? Kalau kita siap maka kita berkomitmen dengan orang itu. Saat kita berkomitmen berarti kita berjanji bahwa apapun yang terjadi dimasa depan, kita akan tetap bersama orang itu.

Yang ketiga, apakah kamu mencintai dan mengasihi orang itu? Banyak yang bilang kalau yang namanya perasaan paling hanya bertahan 4 tahun karena itu hanya reaksi kimia sesaat. Walaupun memang benar perasaan cinta tidak selalu menyala sepanjang hubungan tapi bukan berarti itu tidak penting. Hubungan tanpa perasaan seperti menari tanpa musik. Sekalipun tarian yang ditarikan benar, langkah–langkah kaki dan gerakan tubuhnya sempurna tapi tanpa musik kita ga akan bisa menikmati tarian itu. Walaupun begitu, mungkin saja terjadi ketika langkah pertama dan kedua OK, ternyata langkah ke 3 tidak OK karena kamu gak ada perasaan pada orang itu. Jangan khawatir! Kalo emang jodoh pilihan Tuhan, suatu saat perasaan itu pasti muncul.

Yang keempat, memang baik sih nyari orang yang tepat. Masalahnya apakah kita sendiri udah menjadi orang yang tepat bagi pasangan kita nantinya? Jangan sampe hubungan dengan Tuhan masih acak–acakan udah sibuk doa cari pasangan yang tepat. Kalo memang kitanya masih belum bisa jadi pasangan yang tepat tentu saja Tuhan juga gak akan ngasih pasangan ke kita biarpun kita doanya sambil push up satu tangan pake jempol. Dalam hal ini jawaban Tuhan bukan ya atau tidak, tapi “Tunggu!”

Kalo ngebaca cerita kamu sih sepertinya langkah pertama juga belum lewat yah? Santai aja, masalah teman hidup adalah masalah yang sangat penting. Jangan sampe bikin salah, take your time. Soal jangan sampe menyakiti perasaan... sulit juga karena gimanapun juga kamu harus memilih salah satu dari dua orang itu. Yang dipilih pasti senang dan yang gak dipilih pasti sedih, apa boleh buat. Kalo kamu salah milih, kamu justru akan menyakiti 3 orang. Pasangan yang benar pasti sedih, pasangan yang salah juga sedih karena banyak masalah dalam hubungan dan kamu juga pasti sedih karena kehidupan kamu gak akan bisa maksimal. (min2)

Monday, July 5, 2010

The Time Travel, Mungkinkah Terjadi?

Apakah Tuhan menciptakan waktu? Or ‘waktu’ tercipta dengan sendirinya? Ini pertanyaan yang sederhana, tapi bayangkan betapa rumitnya langkah buat nyari jawabannya. Ayat pertama dalam Alkitab bilang, “Pada mulanya adalah Allah”. Apa sih arti “pada mulanya” di Kejadian 1:1 itu? Apakah Allah satu-satunya yang ada sendirian, lalu ketika Allah mulai mencipta, waktu pun secara nggak langsung tercipta, sehingga membatasi “masa pakai” segala ciptaan-Nya? Setidaknya jika diinterpretasi menurut ilmu pengetahuan, begitulah adanya. Waktu adalah salah satu dari empat dimensi fisis (lainnya adalah panjang, lebar, dan tinggi) yang muncul akibat Dentuman Besar (Big Bang) yang mengawali seluruh semesta yang kita kenali sekarang.

Cerpen yang Mengawali Segalanya
Bicara tentang waktu itu sangat tricky. Makanya, semakin manusia memahami waktu, imajinasinya semakin merasa ‘diundang’ buat berlarian dengan bebas. Salah satu topik yang paling menarik tapi sulit dimengerti (bahkan tampaknya para sastrawan dan seniman punya pengertian yang lebih liar tentangnya daripada para ilmuwan fisika) adalah perjalanan lintas waktu. Istilah kerennya: time travel.

Buktinya, kemunculan suatu cerpen fiksi ilmiah berjudul The Clock That Went Backwards (Jam yang Berjalan Mundur) karya Edward Mitchell di koran New York Sun tahun 1881-lah yang menggulingkan bola salju dari konsep time travel ini, baik di kalangan ilmuwan maupun seniman.

Gimana Ngakalin Waktu
Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kita kan bisa melintasi tiga dimensi ruang—kita cuma perlu berjalan—seharusnya kita juga bisa melintasi dimensi waktu sekehendak hati kita. (Pada kenyataannya, setiap detik kita memang melintasi waktu, tetapi kita tidak punya kendali penuh untuk, katakanlah, melompat lima detik ke depan sementara teman kita melompat mundur dua hari ke belakang.) Jadi, pemikiran bahwa betapa mengasyikannya jika kita bisa ‘terbang’ ke masa depan atau masa lalu kayak di film Back to the Future bikin ngiler.

Hmmmh... gimana caranya supaya bisa melakukan time travel ya?
Yang pertama, secara fisika, katanya kita bisa manfaatin yang namanya wormhole, jalan tembus khayal dalam ruang-waktu di alam semesta. Konsep ini masih baru, tapi intinya: kalo kita bisa nerobos masuk ke dalam wormhole pada suatu tempat dan waktu, kita bisa menyeruak di tempat dan waktu yang lain.

Cara lainnya, yang juga masih sekedar teori, adalah berusaha bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Menurut Albert Einstein, hal itu mustahil. Soalnya, katanya, nggak mungkin ada yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya. Tapi justru ia dan dua rekannya, Rosen dan Podolski, mendapati kalo dua partikel yang letaknya sangat jauh bisa ‘saling mengerti’ (menyampaikan informasi) bahkan sebelum cahaya sampai dari partikel yang satu ke partikel yang lain. Para ilmuwan menyebutnya sebagai Paradoks EPR, dan banyak yang menganggap ini bisa dijadikan dasar buat teleportasi kuantum, atau dengan kata lain, time travel is possible!

Paradoks Waktu dan Turis Masa Depan
Sayangnya, paradoks jugalah yang menghadirkan masalah pada konsep tamasya lintas waktu. Yang pertama sekaligus paling melemahkan ide itu adalah Paradoks Sang Kakek. Coba aja bayangin, misalkan mesin waktu udah ditemukan. Lalu kamu menggunakannya buat mundur puluhan tahun ke masa sebelum kamu atau orangtuamu lahir. Misalkan kamu berhasil bertemu dengan kakekmu, tapi kemudian, kamu membunuh kakekmu. Kematian kakekmu berpuluh tahun yang lalu akan membawa dua implikasi: (1) ayah atau ibumu nggak akan pernah lahir, dan otomatis (2) kamu juga nggak akan pernah lahir. Pertanyaannya: apakah yang akan terjadi dengan dirimu saat itu juga? Apakah kamu akan hilang? Trus kalo kamu nggak pernah lahir... kamu juga nggak bisa membunuh kakek kamu, lalu siapa yang membunuh kakek kamu? Bingung kan?

Ilmuwan cacat tetapi brilian Stephen Hawking menjawabnya dengan menyebutkan kalo alam semesta terlindung secara kronologis. Artinya, seandainya mesin waktu ditemukan, dengan itu kita hanya bisa melihat masa lalu dan masa depan, tapi nggak punya kuasa buat mengubah segalanya. Segala sesuatunya akan berjalan sebagaimana seharusnya pada waktunya, tanpa gangguan dari manapun. Ini mirip dengan konsep qismah dalam Islam, atau predestinasi deterministik dalam kerangka Kristiani. Hawking, yang sangat pesimistis mengenai time travel, menambahkan bahwa hingga saat ini kita belum pernah melihat adanya turis dari masa depan yang berkunjung ke masa kini.

Mari Bertamasya Sekarang Juga!
Tapi jangan sedih karena mesin waktu nggak kunjung ditemukan. Sekarang pun sebenarnya kita semua bisa bertamasya lintas waktu. Mesinnya sudah ada dalam diri kita: otak manusia, ciptaan Tuhan sendiri. Bukankah hanya dengan melihat foto, atau sekedar mengingat, kita bisa langsung membayangkan ketika peristiwanya terjadi? Seandainyapun itu hanya di alam imajinasi, tapi kan kita sudah ‘bertamasya’ ke masa lalu. Bukankah itu anugerah Tuhan yang jauh lebih dari cukup? [cs]

Time Travel di Alkitab
Setidaknya ada tiga kejadian dalam Alkitab yang bisa dikategorikan sebagai time travel:
1. Musa dan Elia dibawa Tuhan melintas waktu mengunjungi Yesus yang dimuliakan di atas Gunung Tabor (transfigurasi Kristus ini diceritakan di Matius 17, Markus 9, dan Lukas 9.) Meskipun kita nggak tau pasti kalo Musa dan Elia yang hadir saat itu benar-benar eksis dalam wujud fisik yang nyata, or cuman apparition (bayang-bayang), mereka berasal dari era yang berbeda dengan Yesus. Gimana caranya? Cuma Tuhan yang tahu.
2. Yohanes di pulau Patmos yang ‘diajak’ Yesus untuk mengunjungi masa depan, ia melihat perang dunia, zaman antikristus dan kedatangan Yesus yang kedua kali.
3. Dalam sebuah tafsiran, Henokh dibawa Tuhan ke akhir zaman untuk melihat rapture (pengangkatan) terjadi, dan ia ikut terangkat (Kejadian 5:24 dan Ibrani 11:5). Makanya Henokh bernubuat (mungkin karena melihat) Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya pada saat Yesus datang kedua kali nanti (Yudas 1:14).

Time travel dalam dunia populer:

Buku: The Time Machine oleh H. G. Wells, Through the Looking Glass oleh Lewis Carroll, The Door into Summer oleh Robert Heinlein, Ubik oleh Philip K. Dick.

Film: Back to the Future (1, 2, 3), The Thirteenth Floor, The Time Machine, Bill and Ted’s Excellent Adventure, 12 Monkeys, Time Bandits, Terminator. Austin Powers.

THE KARATE KID FAIL



Oleh Fery Ferdiansyah

Kamu anak baru. Di sekolah gak punya temen. Boro-boro temen, yang ada kamu malah kena kasus bullying; dapet bogem mentah di muka tiap pulang sekolah, uang jajan abis dipalak, bekal makan siang hanya buat diambil orang. Life’s suck!

Lalu kamu ketemu guru karate (atau kungfu or pencak silat). Musik upbeat cepat mulai berkumandang, latihan sana-sini, sit up, lari turun naik tangga, angkat berat dikit, wax on-wax off, musik berhenti dan voila! ..kamu jadi jagoan tak terkalahkan.

Hmmm… andai hidup kayak dalam film The Karate Kid, atau film-film kungfu, tinju, gulat, dsb, yang punya potongan-potongan adegan latihan di tengah-tengah cerita. From zero, wuuuuzz.. jadi hero dalam satu kali take. But life is not that easy.

Christoper Paul Gardner. Kehidupan memusuhi dia. Gara-gara salah ambil keputusan, ia ditinggal istri, kehilangan pekerjaan, kena jerat utang, diusir dari kontrakan, sementara dia harus ngasih makan en ngurusin anak laki-lakinya yang kemudian bersama-sama menggelandang di kota besar sampai tidur di WC umum. Berbagai usaha dia lakukan untuk sekedar bisa makan atau berteduh.

Dan lihat bapak yang satu ini, rasanya kegagalan adalah bakatnya dia: 1831 bisnisnya gagal; 1832 mencoba peruntungan di dunia politik dan gagal di badan legislatif Amrik; 1833 bikin bisnis lagi dan bangkrut; 1839 ikut kontes pembicara dan gagal juga; 1943 gagal dipilih sebagai anggota kongres; 1848 coba lagi jadi anggota kongres dan gagal lagi; 1849 ditolak bekerja sebagai commissioner of the General Land Office; 1854 mencalonkan diri jadi senator Amrik dan gagal; 1856 dicalonkan menjadi wakil presiden Amrik dan gagal pula; 1858 kembali mencoba jadi senator yang kemudian –guess what- gagal! Wah, mati aja lu!

Belum lagi yang ini. Selama 25 tahun Yusuf harus mengalami penderitaan berantai: dimusuhi saudara, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara. Padahal dia punya mimpi jadi pemimpin besar. Bayangkan, 25 tahun! Kalo kamu umur 15 sekarang, sampe umur 40 tahun kamu terus menderita.

Hidup penuh dengan kegagalan demi kegagalan, and sometimes, kita gak menemukan satupun celah pintu yang terbuka walau hanya sedikit. Yang ada hanya pilihan: tinggalkan atau terus terpuruk. Lalu kita berteriak: “Why, God?! Why!?” *sambil mengacungkan kepalan tangan di tengah hujan dengan background suara petir*. Lalu kita berpikir, bukankah lebih baik kalo kita punya semacam remote control dan pencet skip button atau pilih scene selection biar gak usah alami hal-hal yang nggak enak dan kegagalan?

No. No remote control. Sadar gak sadar, kegagalan dan hal-hal yang gak enak yang kita alami ternyata itu perlu. Why? Karena it all make us a better person!

- Gagal terus dan terus bisa melatih kesabaran kita dan akhirnya membentuk karakter baik kita. Kata nenek, orang sabar dikasihi Tuhan. Kata kakek, karakter yang baik dibentuk, bukan sekedar bawaan lahir.

- Mencoba lagi dan lagi akan menambah pengalaman dan mengasah skill en bakat kita. Liat aja lowongan pekerjaan, pasti ada tulisan ‘diutamakan yang berpengalaman’. Kata ortu makan asam garam itu penting.

- Dibatasi, dijegal dan ditekan itu bisa memicu kreatifitas. Kenapa iklan rokok selalu dapet penghargaan iklan terbagus? Karena mereka dibatasi dan ditekan gak boleh memperlihatkan produk rokok dalam setiap iklannya, so mereka tertantang untuk berkreasi di luar batas. Kata kartunis Scott Adams: “kreatifitas adalah mengijinkan dirimu sendiri untuk melakukan kesalahan.”

- Mengoptimalkan potensi. Apa potensimu? Darimana kamu tahu itu adalah potensimu kalo kamu gak mencobanya gara-gara takut gagal? Coba, gali, rasakan, temukan dan munculkan potensimu. Pablo Picasso bilang: “God is really another artist. He invented the giraffe, the elephant and the cat. He has no real style. He just goes on trying other things.”

- Sebagai jalan untuk melihat pilihan terbaik. Kadang pilihan terbaik ada di ujung jalan yang sama sekali tak terlihat karena terhalang tembok, pintu, rambu, batu, tukang baso, beruang, tirai, billboard dan penghalang-penghalang mata lainnya. Untuk mencapainya, kita hanya perlu melangkah, belok, jebol tembok, menyingkirkan batu, membuka pintu, bertanya pada tukang baso, merobek tirai, bergulat dengan beruang, melihat rambu dan menemukan tombol bel untuk membuka pintu pilihan terbaik, sekalipun itu artinya kita harus babak belur.

So, Mr.Han (Jackie Chan) kepada Dre (Jaden Smith) dalam The Karate Kid (2010) bilang: “Life will knock us down but we can choose to get back up”.

Oh iya, kalo kamu gak tau siapa Christoper Paul Gardner, kamu coba nonton film The Pursuit of Happyness yang diambil dari kisah nyata. Sekarang dia adalah seorang milyuner. Terus, bapak yang punya bakat gagal diatas, dia adalah Abraham Lincoln yang tahun 1960 dilantik menjadi Presiden Amrik ke-16 dan menjadi Presiden Amrik terhebat sepanjang masa. Yusuf? Kita tau semua kalo dia meraih mimpinya jadi pemimpin besar yang berkarakter besar! (F!)


Fery Ferdiansyah
Gagal jadi seleb gak bikin dia depresi, setidaknya jadi seleb youtube udah bikin dia hepi. Satu istri, satu balita dan dua kura-kura menemani sehari-harinya sebagai penulis dan chief editor sebuah majalah remaja Kristen. Seorang moviegoers, scifi-geek dan Jesus-freak sejati. Ingin baca pikirannya dia tentang film, hidup dan Tuhan? Kunjungi www.kacamata3d.blogspot.com.

Sunday, July 4, 2010

GNOSTIK

THE DA VINCI CODE
VCD dan DVD film The Da Vinci Code udah rilis. Film yang diangkat dari novel fiksi sejarah berjudul sama karangan Dan Brown ini dibintangi oleh Tom Hanks, Audrey Tautou, Jean Reno dan Ian McKellen. Disutradarai Ron Howard, film yang rencananya mengambil lokasi syuting di gereja katolik Westminster Abbey (lokasi asli novelnya) akhirnya dipindah ke Lincoln Chatedral gara-gara banyaknya protes menolak novel ini difilmkan.

Tentu saja banyak yang protes, bukunya aja udah mengundang kontoversi yang berkepanjangan, karena Dan Brown mengklaim kalo isi bukunya berdasarkan bukti-bukti otentik dan catatan sejarah keagamaan yang real tentang sejarah kekristenan sesungguhnya sampai rahasia tentang keturunan Yesus dari Maria Magdalena.

[SPOILER ALERT!] Cerita bermula dari seorang kurator museum Louvre di Prancis bernama Jacques Sauniere yang ditembak oleh seseorang yang berkata, “...saat kamu mati, itu berarti cuman aku yang tau kebenarannya!”. Sauniere tersentak, lantaran ‘kebenaran’ itu akan lenyap bersamanya tanpa ada pewaris. Di ambang ajalnya ia menemukan sebuah cara untuk mewariskan ‘kebenaran’ itu, ia membuat sebuah petunjuk, sebuah kode, yang harus dipecahkan untuk menguak kebenaran.

Misteri kode itu membuat Robert Langdon, seorang profesor jebolan Harvard, harus bisa memecahkannya bersama Sophie Neveu, cucu Sauniere, tujuan awalnya agar pembunuhnya tertangkap. Tapi ternyata kode itu menuntun mereka kepada hal yang lebih besar, sebuah konspirasi yang disimpan selama 2000 tahun.

Ini dia ‘kebenaran’ versi film/novel itu: Yesus adalah seorang nabi yang mengajarkan kasih dan Tuhan kepada manusia. Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai anak perempuan. Sebuah kelompok Biarawan Sion (The Priory of Sion) berusaha melindungi Maria dan keturunannya setelah Yesus mati dibunuh. Mereka merahasiakan makam Maria dan garis keturunan Yesus. Termasuk anggotan The Priory of Sion adalah Leonardo Da Vinci, Isaac Newton dan Victor Hugo. Dalam Lukisan The Last Supper, Da Vinci menyembunyikan kode-kode rahasia kebenaran itu, termasuk dalam injil-injil Gnostik kayak injil Maria Magdalena, Thomas dan Filipus.

Beratus tahun kemudian, Kaisar Konstantin hendak mempersatukan manusia dengan satu agama, ia dalam sebuah konsili di Nicea merumuskan sebuah agama baru: Kekristenan. Ia merubah isi kitab Perjanjian Baru (Injil) dengan mengubah cerita tentang Yesus. Ia mengangkat Yesus sebagai Tuhan, bahwa Yesus tak pernah menikah, nggak punya keturunan, bangkit di hari ketiga setelah disalib lalu terangkat ke surga. Semua itu demi kepentingan politik dan uang. Agama inilah yang katanya lalu berkembang ke seluruh dunia sampai sekarang. Sebuah kelompok bernama Opus Dei dari Katolik berusaha agar kebenaran itu nggak terungkap, mereka memburu para Biarawan Sion dan membunuh mata rantai terakhir: Sauniere.

THE GNOSTIC CODE
Novel dan film The Da Vinci Code menyebut-sebut soal injil gnostik yang jadi latar belakang ceritanya, kayak injil Maria Magdalena atau injil Filipus. Sebenernya GF!ers tau nggak apa sih gnostik itu?

History
Nah, buat GF!ers yang belon tau (en mo tau), gnostik itu asalnya dari bahasa Yunani yang artinya mencari kebenaran melalui pengalaman pribadi. Pertama kali istilah gnostik dipake buat nyebut sekelompok orang di abad pertama yang ngakunya orang Kristen, percaya Yesus tapi berusaha mencari keselamatan dengan cara ‘mencerahkan’ diri sendiri.

Ajaran
Ajaran gnostik itu ajaran Kristen yang dicampur adukkin sama cerita mitologi, ajaran rabi-rabi Persia, Siria, Mesir en Negara-negara Asia timur laen. Hasilnya? Sebuah ajaran baru yang campur aduk en nggak jelas. For your info, udah bisa dipastiin 100% kalo ajaran gnostik itu nggak sesuai dengan Alkitab.
Biarpun ajaran gnostik itu campur aduk en nggak jelas, tapi banyak loh orang terkenal yang tertarik buat belajar gnostik. Sebut aja Carl Jung (psikolog), William Blake (sastrawan), Eric Voegelin, en masih banyak lagi.

Nag Hammadi
Kayaknya kalo ngomongin ajaran gnostik nggak akan lengkap deh kalo nggak nyebut Nag Hammadi. Nag Hammadi itu nama perpustakaan kuno Mesir yang udah ketutupan pasir selama berabad-abad. Waktu berhasil ditemukan taun 1945, di dalamnya ditemukan 13 codex (gulungan kitab yang diiket jadi satu) yang berisi 55 teks yang berbeda. Semua naskah yang ditemukan di Nag Hammadi itu asalnya dari masa awal kekristenan. Semua teks yang ditemukan di Nag Hammadi itu isinya ajaran gnostik. Teks gnostik yang ditemukan di Nag Hammadi itu kita kenal sekarang sebagai Injil Tomas, Injil Yudas, Injil Maria Magdalena.

Roh dan Jasmani
Kaum gnostik memisahkan antara roh dengan jasmani: roh baik dan jasmani jahat. Manusia adalah jahat, ia akan diselamatkan kalo dia mencapai tingkat pengertian tertentu, suatu bisikan roh dan harus keluar dari jasmaninya yang jahat. Dalam injil Maria Magdalena, Maria adalah termasuk manusia yang mendapatkan pencerahan atau bisikan roh.

Tuhan
Kata kaum gnostik, Tuhan itu makhluk supranatural yang nggak jelas bentuknya en nggak jelas namanya, seperti dewa-dewa. Nah makhluk supranatural ini sama kaum gnostik dikasih nama Aeon. Yang lucunya Aeon itu katanya selalu berpasangan, cowok-cewek. Ada 3 aeon utama Ennoia (pikiran), Charis (kasih), en Sige (kesunyian). Dari 3 Aeon ini lahir lagi Aeon laen: Caen (kekuatan), en Akhana (kebenaran, cinta).

Dalam Alkitab, Kejadian 1 cuma satu contoh kecil di Alkitab yang nyebutin bahwa ada pribadi yang namanya Allah. Kalo GF!ers baca Alkitab dari Kejadian sampe Wahyu, dijamin GF!ers bakal nemuin banyak kata Allah ato Tuhan. Bukan Aeon. Bukan makhluk supanatural yang ngga jelas nama en bentuknya. “Pada mulanya Allah…dan Roh Allah... Berfirmanlah Allah…Allah melihat …Dan Allah …” Kejadian 1: 1-5

Yesus dan Yudas
Menurut kaum gnostik, Yesus itu salah satu Aeon yang terperangkap dalam tubuh manusia yang jahat, tugasnya membantu manusia mencapai tingkat pengertian yang dibutuhkan manusia supaya bisa selamat. Jadi Yesus sama sekali bukan Tuhan. Dia nggak lebih dari sekedar ‘pembantu’ manusia supaya selamat. Makanya dalam injil Yudas, Yesus minta tolong Yudas untuk ‘melepaskan’ Yesus dari tubuh manusia dengan cara Yudas harus mengkhianati Yesus agar Yesus mati disalib dan bebas dari jasmaninya yang jahat. Yudas lalu jadi pahlawan.

Apa kata Alkitab? Alkitab dengan jelas ngasih tau kita kalo Yesus itu bukan Aeon, tapi Dia itu Tuhan. TugasNya juga bukan sekedar jadi ‘pembantu’ manusia supaya bisa selamat, tapi Dia sendiri jalan menuju keselamatan manusia. Sementara Yudas adalah muridNya yang mengkhianati Dia, bukan pahlawan. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1) “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup “ (Yohanes 14:6).

Bumi
Kata kaum gnostik, bumi yang kita tempatin sekarang ini tercipta karena ada kekuatan jahat yang disebut Demiurge (atou iblis) yang nggak sengaja tercipta oleh salah satu Aeon. Si Demiurge ini terus nyiptain dunia manusia tempat kita tinggal sekarang. Kejadian ini disinggung juga dalam injil Yudas. Alam semesta juga tercipta begitu saja. Yang pasti kata mereka, ada satu tuhan yang ngga dikenal namanya yang nyiptain alam semesta ini.

Kayaknya ngga perlu dijelasin lagi juga, GF!ers pasti udah nyadar kalo bumi yang kita tempatin sekarang ini diciptain oleh Tuhan bukan oleh iblis, ato Demiurge. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1). “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:3) (DP!)

Saturday, July 3, 2010

Through the Storm

Hey hey hey… what’s up teens,
Masi semangat jadi “Godly teens”?? ato lagi melempem..?? hehe.
Ok, apa aja yang lagi lu alemin, I have a message dari our BIG man up there, Papa kesayangan kita, the King of kings, Sahabat kita. So listen up, and catch the fire..

By Christian Alexander Leo

Hari-hari ini kalo lu gaul en ngikutin berita alias perkembangan jaman, lu pastinya sering denger soal banyak bencana alam terjadi, especially badai-badai, right? Coba sebutin aja.. ada badai Katrina, Tsunami, dsb. Pastinya ngeri banget kalo kita ngalemin badai, orang-orang akan berusaha sembunyi, lari, pegangan di atas pohon, dll. Waktu itu gw pernah denger cerita gimana sebuah keluarga Kristen selamat setelah mereka diterjang badai Tsunami, walaupun mereka terpisah-pisah, ada yang di atas pohon, atap, lampu jalan, dll. Waaw… Tuhan baek banget masih ijinin mereka hidup ya..

Tapi tau nggak GF!ers, kita mungkin sering liat badai di tipi, denger di radio, ato baca di koran mungkin.. tapi sebenernya ada banyak badai2 yang kita tidak sadari terjadi dalam hidup kita. And masalahnya kita nggak bisa lari dari badai-badai ini, badai apa tuch?

Itulah yang orang-orang sebut “Badai Kehidupan” ato di kamus disebut ‘ma-sa-lah’, hehe. Pernah denger? Hehe, jangankan pernah denger gw jamin kita seriing banget punya masalah. Bahkan kalo kita bangun pagi aja udah langsung dapet masalah, mo makan apa mandi dulu yaa? Hehe. Kalo makan mo makan nasi apa roti? Mo pake baju pake yaa hari ini? Terus ada lagi masalah di sekolah, nilai jeblok, temen nyebelin, guru killer, dsb dll dst dkk. Lama-lama bisa frustasi. Tapi ternyata ada sesuatu dibalik semua Badai yang kita hadapi, gw yakin badai apapun yang kita lagi alemin, Tuhan pengen jelasin kenapa lu harus ngalemin semua ini.

Ok First, lets make this clear ok..
Kalo kita pikir Tuhan jahat karena ada masalah dalem idup kita, wow.. salah besar! Karena yang pertama “Allah turut bekerja dalam hal2 yang mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28). Itu artinya semua untuk kebaikan kita. Kalo bukan untuk kebaikan, artinya masalah itu datangnya dari si iblis atau dari diri kita sendiri!

Emang iblis itu sumber segala kejahatan.. tapi tau gak kalo Iblis itu ga bisa ngacauin hidup kita tanpa seijin kita sendiri! Dia Cuma bisa ngegoda, nawar2in, manfaatin lu, tapi cuman sampai situ doang. Dia nggak punya hak bikin macem-macem dalam hidup lu.

Keliatannya masalah itu nggak ada baik-baiknya. Tapi, itu dari sisi pandang manusia, coba liat apa yang sebenernya Tuhan lagi lakukan. Karena nggak ada satupun hal yang Tuhan ijinin kita alemin dalem hidup yang nggak ada maknanya. Itu pelajaran yang kehidupan ini ajarin ke kita. Contohnya waktu kita TK belajar bedain warna, nulis, ngomong, dll – trus SD – SMP belajar ngitung, bersosialisasi, dll. – SMA belajar berorganisasi, nyelesain masalah2, gimana berpikir lebih realistik. Semua itu mungkin waktu kita pelajarin, kelihatan ga berguna, susah, males, dll. Tapi kenyataannya dalam dunia kehidupan itu semua skill yang kita pelajarin itu berguna dan terpakai secara langsung ataupun nggak langsung. Sama juga sama masalah-masalah ini. Ada peribahasa bilang “di balik badai pasti ada air yang tenang”, so sekarang we are going to find out macem-macem badai, supaya kita ngerti, lagi ngalemin badai yang mana yaa?

1# Storm of Faith
Badai model ini Tuhan ijinin kita alemin, dengan tujuan kita ngalemin pengalaman iman sama Tuhan, ato Tuhan pengen nunjukin penyertaanNya sama kita. Badai yang ini biasanya menghasilkan suatu hal-hal yang mustahil terjadi dalem hidup, seperti mujizat. Kita ngeliat gimana tangan Tuhan menuntun dan menyertai. Murid-murid Yesus pernah ngalemin badai ini, waktu mereka pengan nyebrang sungai, tiba-tiba kapal mereka dihantam “badai” (kali ini bener2 badai^^ hehe), mereka sangat ketakutan saat itu karena mereka udah di ambang kematian, lalu mereka inget sama Tuhan Yesus yang sebenarnya ada sama-sama mereka di kapal itu.. Dia sedang tertidur. Aneh nggak sih? Masa Tuhan Yesus nggak berasa kapalnya di ombang-ambing badai yang begitu dashyat? Kenapa Tuhan nggak langsung nolongin mereka? Hehe, nah Tuhan Yesus bukannya egois ato nggak mo jam tidurnya diganggu. Sebenarnya Dia uda tau kalo akan terjadi badai (masuk akal ga se??? iyaa lahh yaa… Dia kan Tuhan… Maha tau…) tapi Tuhan Yesus pengen liat respon iman mereka. Ternyata murid-murid saat itu saking takutnya melihat badai itu mereka lupa kalo sebenernya Tuhan Yesus ada di dalam kapal itu bersama-sama mereka. Iman mereka langsung ciuut. Nah.. kita juga sering kayak murid-murid itu kan? Waktu kita ngeliat badai/masalah kita yang kelihantan begitu dashyat dan besar, mata kita jadi ketutupan buat ngeliat Tuhan Kita yang sebenernya jauuuuuuh lebih besar dari masalah kita.

Kapal itu ngomongin soal kehidupan kita.. waktu kita dihantam badai don’t forget that Jesus is in ur boat… Tuhan nggak akan biarin kapal kehidupan kita karam, sebesar apapun masalah yang kita hadepin. Mungkin bagi manusia itu sesuatu yang musahil, tapi bagi Tuhan ga ada yang mustahil.. So Keep in Faith teens..

2# Storm of Repentance

Badai pertobatan. Badai ini Tuhan ijinin kita alemin karena Dia mau kita bertobat, karena mungkin kita nggak berjalan dalem RencanaNya. Dia terlalu mengasihi kita, Dia ga mau hidup kita ancur. Kayak Yunus, karena dia nggak taat sama Tuhan waktu disuruh ke Niniwe dia malah kabur liburan ke Tarsis. Tentu aja Tuhan nggak biarin Yunus keluar dari rencana Tuhan, Tuhan kirim badai untuk menghantam kapal yang Yunus naiki. Sampai akhirnya ketahuan oleh semua orang-orang dalem kapal bahwa badai ini sebenernya terjadi karena Yunus nggak taat sama Tuhan. Akhirnya Yunus dibuang ke Laut. Kalo dipikir-pikir malu juga ya kalo kelemahan, dosa atau masalah kita ketahuan sama orang laen, pastinya Yunus malu. Kok Tuhan gitu sih? Nggak jaga privacy orang.. hehe. Tujuan Tuhan tegur kita pake badai-badai kayak gini supaya kita gak kabur lagi dari rencana Tuhan, dan kita bisa bertobat. So kalo kamu kamu gak pengen ngalemin badai yang memalukan ini, mending lu membuka diri dulu sama Tuhan dan orang lain, supaya lu ga keliatan kayak copet ketangkep basah nanti… hehe.

Jangan ketakutan dulu, inget semua ini akan mendatangkan kebaikan dalam hidup lu, dan Tuhan sendiri bakal menyertai dan kasih kekuatan. Buktinya walaupun si Yunus dilempar ke laut, Tuhan pelihara dia dalam perut ikan besar, sampe dia bertobat en mau pergi beritain injil di Niniwe. So proses ini akan berlangsung terus, sampe lu memilih suatu keputusan. So now Teens Face The Storms… karena gak ada yang lebih besar dari Tuhan kita. And kalo Dia dipihak kita, siapakah lawan kita? Tidaak ada!! (CL)

Friday, July 2, 2010

BELUM PUNYA PACAR?

NGGAK MASALAH TUH!

Hiks... Hiks... Temen-temen se-genk ampir semuanya udah punya gandengan. Gue? Orang yang ditaksir juga belom muncul! Duh.. gimana dong? Masa aku mau ngejomblo terus, malu dong ama temen-temen.

Memang sih bukan perkara yang mudah buat remaja kayak kita-kita ini kalo belom punya pacar (apalagi kalo belom pernah punya sama sekali). Itu gara-gara kita suka nempatin kepercayaan diri kita pada status belom atau udah punya pacar. Makanya ada temen-temen kita sampe harus kehilangan harga diri, kehormatan en kekudusannya cuman gara-gara nggak mau kehilangan pacarnya atau buat ngedapetin pacar. Wah.. bisa-bisa masa depan kita jadi suram kalo gitu!

Kehidupan kita memang penuh dengan keinginan buat nyoba hal-hal yang baru, termasuk berpacaran. Tapi itu bukan berarti kita bisa seenaknya kan? Apalagi soal pacaran, kalo sampe salah pilih, bisa-bisa kita harus menanggung akibat yang buruk. Misalnya:

1. Pergaulannya jadi nggak bener
Ada banyak kita-kita asal-asalan dalam milih pacar, bukannya jadi makin baik, tapi justru sebaliknya malah makin buruk. Ada yang mulai suka berbohong, ngelawan sama ortu, suka pulang larut malam, bila dinasehati suka nyepelein ortu en lebih mengikuti kemauan sang pacar, dan sebagainya.

2. Prestasi sekolahnya menurun
Ada juga dari kita abis punya pacar jadi lupa belajar, lalu menurun prestasinya di sekolah. Nilai-nilai raport mulai banyak yang jeblok. Banyak waktu, pikiran dan juga tenaga yang terbuang hanya gara-gara mikirin sang pacar. Padahal seharusnya dapat digunakan untuk belajar untuk meningkatkan prestasi di sekolah.

3. Kemerosotan moral
Ada banyak dari remaja kayak kita yang mulai kebablasan dalam menjalin hubungan berpacaran, yang akhirnya tanpa disadari menjebak kita pada pola berpacaran yang nggak sehat, misalnya ada yang udah berani tidur bersama, ngelakuin freesex, ada yang sudah hamil dan menggugurkan kandungannya, ada juga yang udah mulai kecanduan pornografi. Kesemuanya itu menunjukkan adanya kemerosotan moral dalam diri remaja.

Memang sih, berpacaran bisa juga berpengaruh baik, tapi mengingat banyak juga hal negatif yang bisa terjadi dalam diri remaja ketika berpacaran kayak yang disebutin diatas, maka kita musti hati-hati. Kalo sampe saat ini belum juga punya pacar? So what gitu lho! Nggak masyalah kan? Nggak usah takut, jangan malu, minder, or ngerasa aneh. Justru sebaliknya ada banyak hal positif yang tetap dapat kita lakukan buat jadi remaja yang lebih baik. Apa aja tuh?

1. Jadikan kesempatan buat lebih berkembang.
Kalo kita nggak cuma berorientasi pada punya pacar or nggak, kesempatan buat kita berkembang terbuka sangat luas kan, misalnya dengan ngembangin hobi, olah raga, maupun skill-skill yang lainnya. kita bisa ningkatin prestasi sekolah kita, aktif dalam organisasi siswa yang bisa memberi pengalaman untuk melakukan hal-hal yang positif, dan sebagainya. Dengan belum memiliki pacar, kamu juga masih dapat bergaul yang seluas-luasnya, karena dengan bergaul yang seluas-luasnya, kalian dapat mengenal berbagai tipe orang.

2. Terhindarnya dari godaan seksual.
Kalo kita belom punya pacar, maka godaan seksual juga bisa diminimisasi kan? Soalnya biasanya kalo kita udah gandengan apalagi Cuma berduaan... wah iblis bisa masuk diantaranya. Apalagi sekarang budayanya udah bikin apa-apa yang tadinya tabu jadi biasa. Gandengan tangan udah biasa, pelukan udah biasa, ciuman udah biasa... akhirnya nyemplung deh.

3. Meningkatnya pemahaman terhadap lawan jenis.
Dengan nggak terburu-buru pacaran, berarti kita punya kesempatan yang lebih untuk mengenal teman, terutama teman yang lawan jenis. Hal ini lebih memungkinkan untuk terhindarnya remaja dari kesalahan dalam memilih pacar.

So, ngapain mesti malu kalo belom punya pacar? Yakinlah bahwa kondisi ini jauh lebih baik daripada sekedar memaksakan diri untuk berpacaran, demi sebuah status, atau demi mengikuti trendnya teman-teman. (FPK)

PELATIHAN KEPEMIMPINAN, Masihkah Diperlukan?

PELATIHAN KEPEMIMPINAN, Masihkah Diperlukan?

By: DR. Robby Chandra *)

Mau bicara apa lagi tentang kepemimpinan? Anda mungkin sudah maklum, seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki tiga daya: Daya untuk merumuskan visi dan misi bersama, daya untuk menggerakkan, dan daya untuk mengubah orang sehingga visi tadi tercapai. Orang bergabung dengannya karena ia dapat dipercaya dan tampil sebagai orang yang mengabdi. Karenanya, biasanya, pemimpin yang tidak pernah memiliki visi pribadi, tidak mengalami diubah oleh orang lain dan mengalami bergerak bersama orang lain, sulit mendapatkan kepercayaan tadi. Orang butuh mengamati bahwa Walk the Talk menjadi bagian hidupnya.

Akhir-akhir ini beberapa lembaga memang mulai berkiprah di bidang ini dan cukup menarik perhatian di Indonesia, seperti Haggai Institut, Maxwell, dan YLI (Young Life Indonesia). Bahkan baru-baru ini, Badan Kerja Sama antar Perguruan Tinggi Kristen se-Indonesia membahas soal kepemimpinan sebagai topik utama pertemuan mereka. Mereka berupaya menjawab berbagai kebutuhan dalam urusan kepemimpinan. Mengapa semuanya disambut?

Konon, kualitas kepemimpinan di berbagai bidang memang terkesan buruk. Hal ini kentara baik di bidang politik, pekerjaan sehari-hari, maupun komunitas agama. Manipulator, koruptor, dan tiran spiritual merupakan hal yang lebih sering orang lihat daripada sosok pemimpin yang melayani. Sekurang-kurangnya, kita lebih melihat sosok manajer, birokrat serta pengejar status – dan bukannya pemimpin, bahkan di dalam organisasi agamawi.

Melihat kenyataan ini, masih bergunakah kehadiran pelatihan kepemimpinan untuk menghasilkan sosok-sosok pemimpin yang lebih baik di masa depan?

• Haggai Institut melatih pemimpin-pemimpin yang sudah matang, memperkaya mereka dan menumbuhkan komitmen penginjilan.

• Young Life melatih anak-anak SMU, mahasiswa dan profesional muda. Mereka dikenal karena menggunakan kombinasi kelas, alam bebas, pemulihan gambar diri, serta praktek dalam network yang solid. Dari sudut peralatan, mereka memiliki camp ground, alat-alat lintas alam, dan akses ke kapal-kapal di teluk Jakarta.

• Organisasi di bawah bendera Maxwell juga tidak main-main. Mereka menentukan target 10 juta orang untuk dilatih secara sistematik seperti dalam sistem MLM. Dukungan buku, pelatih dan promosinya pun sangat profesional.

Semua pelatihan tadi memang baik, namun agaknya, ada suatu hal yang jelas tidak dapat tergantikan oleh pelatihan-pelatihan tersebut. Biasanya, hal terakhir inilah yang justru luput untuk dilatih. Apakah itu?

Partial atau Menyeluruh?
Banyak orang membanggakan kepemimpinan si Anu di pekerjaan, masyarakat atau di bidang politik dan kalangan agama. Namun, jarang orang yang mengukur bahwa di dalam hubungan keluarga, ia tampil sebagai pemimpin yang tidak berhasil. Clinton, misalnya. (Amit-amit punya menantu seperti dia. Tak akan rela saya membiarkan putri saya menikah dengannya). Tapi memang banyak pemimpin yang serupa itu. Hubungannya dengan istri, suami, anak atau mertua justru diabaikan. Orang pun lalu menganggap bahwa kesuksesannya di luar rumah menyebabkan pengorbanannya di rumah menjadi sesuatu yang wajar.

Padahal, kepemimpinan sejati harus tercermin, dimulai, dan dibina dengan kepemimpinan diri dan kepemimpinan dalam keluarga, suatu unit terkecil dan inti dari masyarakat. Mengapa demikian?

Memimpin diri, keluar dari zona nyaman
Setiap manusia cenderung berada dalam zona nyamannya. Zona nyaman adalah pola pikir, pola sikap serta pola prilaku dan paradigma spiritual yang seseorang biasa gunakan dan telah membawanya sukses sampai saat ini. Karena terasa nyaman, maka hal itu diulang-ulang serta dipertahankam terus. Akibatnya, seringkali tanpa disadari ia terpenjara dalam hal yang membuatnya nyaman itu.

Untuk membuat orang bergerak, sang pemimpin harus tulus bergerak bersama mereka. Untuk membuat diri bergerak ke arah visi tertentu bersama para pengikut, sang pemimpin harus berani memberi teladan dengan bergerak keluar terlebih dulu dari zona nyamannya.
Hal itu memang sulit. Tapi bila ia berhasil menunjukkan teladan dalam mengatasi hal yang sulit, ia bisa menjadi pemimpin yang inspiratif.

Adakah kaitan antara zona nyaman dengan visi? Orang yang segan keluar dari zona nyaman biasanya segan membuat visi baru. Buat apa perubahan? Tidakkah perubahan membawa ketidakpastian? Karena itu, kalaupun ia membuat visi baru, ia malas mengubah pola-pola di atas. Kenapa musti diubah, kalau ia merasa bahwa hal tadi telah membawanya kepada sukses. Karena itu, bila ingin jadi seorang pemimpin sejati, seseorang perlu terus belajar tentang zonanya.

Memimpin orang lain, keluar dari kesempitan
Bila Anda ingin mengenal siapa seseorang, lihatlah siapa teman-temannya. Lebih dalam lagi, lihat juga siapakah pasangan hidup dan bagaimana anak-anaknya? Mereka semua mencerminkan diri orang itu dan bagaimana ia sesungguhnya memperlakukan orang lain. Jadi, bila ingin melihat jati diri seorang pemimpin dan bagaimana kepemimpinannya dibangun, lihatlah keluarganya.

Pertama, berapa jauh di dalam kepemimpinannya ini ia membangun kepemimpinan kolektif di keluarganya. Lihatlah bagaimana ia berbagi informasi, perspektif dan visi dengan pasangannya. Apakah ia membangun suatu kepemimpinan yang kolektif dimana keputusan diambil bersama? Apakah ia memberi cukup ruang untuk pasangannya mengeksplorasi hidup? Ataukah ia menjadi Kapten kapal di keluarganya? Umumnya, hal ini sering terlihat di Asia. Suami menjadi pemimpin besar. Ia memiliki kata terakhir. Ia adalah kapten kapal.

Jadi dimana tempat istri dan anak? Yah, cukup jadi pengikut yang patuh dan berterimakasih. Umumnya, orang menganggap bentuk pembagian tugas dan pola kepemimpinan serupa itu wajar dan tradisional. Atau dengan kata lain: baik dan stabil. Benar, memang stabil, karena istri dan anak terus menerus memainkan peran manusia yang tidak mandiri. Anehnya, justru peran penting sebagai pemimpin spiritual tidak dimainkan oleh para kapten kapal serupa itu, padahal peran itu adalah jangkar keluarga.

Sebaliknya, ada pemimpin yang menyadari bahwa semakin kompleks urusan yang dihadapi seseorang, semakin perlu ia akan bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Ia mulai dengan melakukan hal itu di rumahnya. Ia ingin melihat anak dan pasangannya mandiri. Untuk itu mereka boleh berbeda pendapat, bahkan berseberangan dengan dirinya.

Kedua, seringkali seorang pemimpin terjebak dalam gaya kepemimpinan yang sama, padahal siklus organisasinya sudah ada di titik yang berbeda. Hal itu mudah terjadi bila ia tidak menyadari perubahan-perubahan yang terjadi di keluarganya. Cobalah lihat cara ia menasehati anaknya yang berusia 9 tahun, yang dinasehatinya dengan cara yang sama ketika sang anak berusia 4 tahun. Ia akan terkejut!

Atau, perlakukanlah istri Anda seperti ketika ia masih gadis imut berusia 18 tahun yang Anda pacari dulu. Yang jelas, Anda akan gagal! Karena itu, perlakukanlah mereka dengan cara yang tepat dan sesuai dengan kondisi mereka dan siklus hidup mereka. Anda akan belajar banyak hal.

Pelatihan kepemimpinan untuk nalar vs untuk gaya hidup

Masih banyak lagi contoh bagaimana kepemimpinan tercermin dan dipraktekkan terus menerus di keluarga. Kepemimpinan juga dimulai dan dipelajari di sana. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang memiliki pimpinan tunggal akan meniru cara itu. Ia mengira itulah pola yang terbaik untuk hidup keluarga. Akibatnya, hal itu ditransfernya juga ke pekerjaan, komunitas agama, dan masyarakat dimana ia hidup. Selama ia tidak diubah dan bergerak keluar dari ruang nyaman, agaknya pelatihan kepemimpinan hanya baik untuk nalar, tapi bukan sebagai gaya hidup. Seorang anak yang memiliki ayah atau ibu yang tidak sensitif terhadap siklus perubahan di dalam keluarga dan masyarakat, akan memiliki keyakinan bahwa ia dapat tetap menjadi pemimpin yang baik walaupun ia tidak punya kepekaan.

Nah, bagaimana? Salahkah bila kita membayangkan bahwa kepemimpinan dan pendidikan tentang hal ini harus terjadi secara utuh di dalam diri pribadi dan keluarga selain di pekerjaan, komunitas agama atau di masyarakat luas? ** (Penulis adalah seorang Master Trainer yang banyak memberikan pelatihan di bidang pengembangan SDM, komunikasi, dan kepemimpinan).



MamaOla

MamaOla