Showing posts with label Tanya amp; Jawab. Show all posts
Showing posts with label Tanya amp; Jawab. Show all posts

Saturday, July 31, 2010

Teman Bermasalah

Q
Aku punya temen, sekarang ini dia lagi punya banyak banget masalah. Beberapa kali dia curhat sama aku. Yang bikin sedih, dia selalu lari ke hal yang negatif kayak minum-minum, ngerokok, ngebolos, dsb. Aku pengen banget bantuin, setidaknya dia nggak lagi ngeroko, minum or bolos kalo kena masalah. (Confussing gal - somewhere)

A
Hmm… memang nggak banyak yang bisa kamu lakuin selain terus ngedukung dia. Gimanapun juga seseorang gak bisa ngerubah hidupnya kalo dia sendiri gak punya niat untuk berubah. Saya ngomong kayak gini bukan berarti menuduh gebetan kamu orang yang gak mau ngerubah hidupnya. Maksud saya, biarpun kamu ngebujuk atau ngelarang dia, niat untuk berubah itu harus dari dia sendiri, bukan dari kamu. Memang bujukan dan larangan mungkin bisa ngerubah kelakuan seseorang tapi gak akan bertahan lama. Tapi, hanya sekedar punya niat untuk berubah saja gak cukup, harus ada sesuatu yang memampukan orang itu untuk berubah.

Singkatnya, saya cuma mau bilang kalo yang paling dia perlukan sekarang sebenarnya bukan kamu, tapi Tuhan. Memang ini jawaban yang klise, tapi saya gak punya jawaban yang lain. Biarpun kamu dengerin curhatnya ratusan kali, negor dia ribuan kali sekalipun itu gak bakalan menyelesaikan masalah. Biarpun saya bisa jelaskan panjang lebar sebenernya intinya tetep sama, dia butuh Tuhan, gak ada yang lain. Kenapa? Karena cuma Yesus yang bisa memampukan seseorang untuk berubah.

Yang bisa kamu lakukan saat ini hanya dengan berada di dekatnya dan dengerin dia curhat dan sedikit demi sedikit sampaikan kalo Tuhan itu baik dan cuma Yesus yang bisa bantu dia. Jangan terlalu banyak menegur, itu bisa membuat dia jadi menjauh. Jangan terlalu memaksa ketika membicarakan tentang Yesus kepada dia karena bisa saja jadi membela agamanya dan kalian berakhir dengan ribut berdebat mempertahankan agama masing–masing. Bicarakan tentang Yesus pelan–pelan sedikit demi sedikit tiap hari. Kalo dia sudah mulai tersinggung dan marah, jangan diterusin, berhenti aja dan dengerin dia ngomong. Dalam kondisi stress kayak gini, telinga lebih berguna daripada mulut, ngedengerin lebih berguna daripada kamu ngomong terus menerus. Jangan lupa doain supaya waktu kamu ngomong, Roh Kudus bisa senggol–senggol hatinya. (min2)

Friday, July 23, 2010

Pilih Jurusan

Q Dulunya aku pernah kuliah di jurusan musik, dan aku merasa ini jurusan yang Tuhan mau saya jalani. Tapi belom sampe 1 taon aku harus pergi ke luar negeri. Di sana aku kembali mencari jurusan musik, tapi aku jadi bingung lantaran banyak orang yang bilang ke aku kalo kerja di bagian musik itu nggak ada masa depannya! Aku jadi bingung, apakah semuanya ini kehendak Tuhan? Apakah Tuhan pengen saya ambil jurusan yang lain? (Florida)

A Walaaah… pertanyaan yang susah nih! Susah karena ini nyangkut masa depan kamu dan sekali salah pilih akibatnya bisa kerasa seumur hidup. Saya ngerti gimana rasanya karena saya juga pernah bingung jalan apa yang harus saya pilih 2 tahun yang lalu, dan walaupun saya sekarang udah milih tapi terkadang masih ragu juga. Bukan meragukan apakah pilihan saya benar aau tidak tapi meragukan bisakah saya menjalani pilihan yang saya ambil.

Saya gak bisa membantu menentukan pilihan mana yang lebih baik karena masa depan dan visi kamu adalah sesuatu yang harus kamu tentukan sendiri bersama Tuhan tanpa dipengaruhi orang lain. Sebagai gantinya saya bakalan cerita gimana pergumulan saya 2 tahun yang lalu mengenai masalah visi, siapa tau kamu bisa dapat berkat dari sana, OK?

Waktu saya bertobat 9 tahun yang lalu, saya gak pernah punya pikiran kalo saya suatu hari nanti bakalan dipanggil jadi penulis. Saya memang suka baca dari kecil tapi saya gak pernah kepikiran kalo suatu hari nanti saya bakalan menulis sesuatu untuk dibaca orang lain. Waktu itu saya mikirnya cuman namatin kuliah, cari kerja ke salah satu perusahaan di Bandung atau Jakarta, menikah, punya anak dan seterusnya. Saya gak mikir yang aneh–aneh, pelayanan bagi saya berarti melayani di kelompok sel, paling tinggi mungin jadi diaken atau pemimpin salah satu divisi di gereja, gak lebih dari itu.

Sekitar 4 tahun yang lalu, waktu saya ikut kelompok sel di gereja, seorang hamba Tuhan menubuatkan saya menjadi seorang penulis. Kaget juga sih dinubuatin kayak gitu karena sebelomnya gak pernah muncul di pikiran saya soal jadi penulis. Sesudah dinubuatkan, saya gak terlalu mikirin hal ini karena jujur aja, saya gak terlalu percaya sama omongan hamba Tuhan itu. Waktu itu saya pikir mungkin hamba Tuhan itu cuma asal ngomong aja.

Anehnya, sejak itu di pikiran saya terus menerus muncul kata “penulis” itu, walaupun saya berusaha meyakinkan diri sendiri kalo itu bukan dari Tuhan. Alasan saya menolak jalan hidup sebagai penulis karena alasannya sama dengan kamu, gak ada duitnya. Saya pikir berapa sih duit yang bisa didapet dari nulis di Indonesia? Di sini kan orang–orangnya kurang seneng baca, jadi kalo bikin buku pasti gak terlalu laku. Saya anak tunggal jadi harus mikirin juga nanggung orangtua saya selain keluarga sendiri, kalo jadi penulis mana cukup duitnya?

Di saat saya lagi bingung gini ada satu kejadian yang mengubah cara pandang saya. Karena saya suka baca buku, terutama yang berbahasa Inggris karena banyak pilihannya, saya suka pergi ke tukang buku bekas dan nyari–nyari buku novel yang murah di sana. Di sana saya nemu satu buku yang udah lecek banget, halamannya udah kuning, terbitan tahun 60-an dan harganya cuma Rp 1.500. Judulnya, “Hiding Place”, buku ini nyeritain keluarga Corrie Ten Boom, satu keluarga Kristen di Belanda pada perang dunia ke-2. Buku ini sangat memberkati saya dan mengajarkan banyak hal. Saat itu saya melihat sekilas cara kerja Tuhan dalam sebuah tulisan. Buku ini ditulis 40 tahun yang lalu dan entah sudah melalui berapa banyak tangan sebelum sampai ke tangan saya dan mengubah cara pandang saya. Dengan tak terlihat dan tak terduga, tangan Tuhan menuntun tulisan ini melewati ruang dan waktu, 40 tahun kemudian di suatu negara yang jauh dari tempat asal buku ini ditulis, Tuhan membuat buku ini memberkati saya.

Saat itu saya sadar, ketika Tuhan memanggil seseorang, Dia gak main–main dan cuman asal manggil doang. Kalo kita bersedia membayar harganya, Tuhan bisa menjadikan pelayanan kita melewati ruang dan waktu. Mungkin cerita saya terlalu berlebihan, tapi sepertinya saat itu Tuhan mengeluarkan saya dari kotak kecil bernama “Bandung” dan memperlihatkan sejauh apa yang bisa saya capai jika saya bersedia membayar harganya.

Walaupun begitu saya masih perlu waktu 1 tahun untuk benar–benar mengambil keputusan jadi penulis dan melepaskan pekerjaan yang sebelumnya. Saya perlu waktu lama untuk mengambil keputusan karena saya takut membayar harganya. Saya takut hidup susah dan miskin, saya takut gagal. Hanya karena visi itu dari Tuhan bukan berarti gak ada halangan, justru halangannya makin gede karena bakalan ada pihak lawan yang menghalangi kita menjadi maksimal. Gua Adulam, rumah Potifar dan penjara mesir, gua singa menunjukkan kalo orang–orang yang mendapat mimpi dari Tuhan harus melewati rintangan yang besar dan saya takut untuk menghadapi rintangan itu. Kalo bisa, saya lebih suka kembali ke mimpi awal saya yang sederhana, lulus kuliah, kerja dan menikah. Tapi, saya tahu kalo saya lakukan itu, saya tidak akan pernah hidup dengan tenang dan suatu hari nanti akan mati denagn penyesalan.

Akhirnya, saya mengambil keputusan dan Tuhan buka jalan. Lewat seorang teman yang kerja di GF!, sebenarnya kita gak terlalu akrab tapi gak tau gimana bisa jadi deket, saya mulai menulis di majalah GF!. Tentu saja banyak masalah yang muncul, baik dari orangtua, masalah mental maupun finansial dan saya tahu perjalanan saya masih sangat jauh tapi paling tidak saya sudah mengambil keputusan dan mulai menjalani keputusan itu. Sampai saat ini saya yakin dengan pilihan yang saya ambil, masalahnya saya ga tahu kuat gak ya bayar harganya sampe suatu hari nanti saya juga bisa nulis buku yang 40 tahun kemudian masih bisa mendatangkan berkat bagi seseorang di negara yang jauh.

Sepertinya pengalaman saya lebih mengarahkan kamu untuk mengambil kuliah di bidang musik yah? Saya gak ada niat ngarahin kamu kesana, kalo ceritanya lebih ngarah kesana ya itu gak disengaja, pengalaman saya memang gitu ceritanya. Paling gak, saya belajar ada 4 hal yang menjadi ciri apakah suatu visi itu dari Tuhan atau bukan.

Yang pertama, kalo Tuhan manggil, dia ga pernah manggil kita untuk sesuatu yang biasa. Tuhan manggil setiap orang untuk sesuatu yang luar biasa, masalahnya tidak semua orang bersedia bayar harganya. Visi yang luar biasa tidak selalu berarti menjadi hamba Tuhan yang terkenal, menjadi seorang ayah yang baik juga visi yang luar biasa. Visi luar biasa bukan berarti melayani seluruh dunia, melayani satu desa kecil terpencil juga visi yang luar biasa. Visi yang luar biasa sama seperti Yesus, Dia mengubah hidup orang – orang dan ketika Dia naik ke surga, pengaruh itu ngga hilang tapi terus diwariskan.

Yang kedua, visi yang dari Tuhan mustahil dicapai dengan kekuatan kita sendiri. Visi dari Tuhan akan membuat kita membutuhkan Tuhan untuk mencapainya.

Yang ketiga, jika suatu visi dari Tuhan, visi itu gak kan pernah hilang walaupun kita berkali–kali menolaknya. Berapa lama pun dan sekeras apapun usaha kita untuk melupakannya, visi itu akan terus muncul di kepala kita dan tidak bisa kita lupakan.

Yang keempat, ada harga yang mahal yang harus kita bayar untuk visi itu. Visi dari Tuhan bukan visi murahan yang bisa kita capai dengan gampang. Disinilah kesulitan paling besar yang harus kita hadapi saat akan mengambil pilihan.

Saya ga bisa bantu kamu memilih, itu keputusan kamu sendiri. Tapi, saya harap pengalaman saya bisa sedikit membantu mengatasi stress kamu. Masa depan kamu ditentukan oleh kamu sendiri, pilih dengan hati–hati. (min2)

Monday, July 19, 2010

Mati

Q: Beberapa bulan yg lalu, sepupu yang amat dekat dengan aku, meninggal di usianya yang masih muda. Aku shock banget. Sekarang aku udah tenang, tapi di pikiranku hanya ada bahwa gimana kalau aku juga entar mati? Aku membayangkan apa yang akan terjadi bila aku mati. Di benak aku hanya mati, mati & mati. Tolong doakan aq & berikan aq solusi. (Bluegirl - Somewhere)

A: Hai Blue. Wah, kebalik dong sama saya. Saya justru lebih takut hidup daripada mati. Kenapa? Soalnya kalo mati saya bisa langsung ketemu Tuhan en jalan–jalan di surga dengan Tuhan, sementara kalo hidup kan justru banyak susahnya, tul nggak? Kalo tugas saya dari Tuhan di dunia ini selesai, begitu semua tanggung jawab dan pelayanan yang harus saya lakukan di bumi udah beres, saya berharap Tuhan cepet panggil saya pulang.

Bagi saya, hari kematian sama kayak harinya gajian, hari pembagian hadiah, hari kelulusan, hari dimana saya akhirnya bisa pulang ke rumah. Kematian harusnya bukan sesuatu yang menakutkan bagi orang Kristen, justru seharusnya itu hari yang bahagia. Kalo ada yang menyedihkan, itu karena kita harus berpisah dengan orang–orang yang kita sayangi untuk sementara. Kalo ada yang saya takutkan, itu bukan kematiannya sendiri tapi cara matinya. Kalo bisa sih saya matinya dengan tenang dan cepat, bukan menderita karena sakit parah yang berkepanjangan. Tapi apapun caranya, puji Tuhan aja deh.

Maaf, bukan berarti saya meremehkan ketakutan kamu akan kematian. Sejak dulu manusia selalu takut akan kematian karena tidak ada satu orang pun yang tahu persis apa yang terjadi sesudah seseorang mati. Setiap budaya dan agama punya versinya masing–masing mengenai apa yang terjadi sesudah kematian. Kita cenderung takut pada sesuatu yang tidak kita ketahui dan kita kontrol, dan kematian adalah sesuatu yang tidak kita ketahui dan tidak dapat kita kontrol.

Yang paling penting sebenarnya apakah kita akan masuk surga atau nggak kalo mati? Maaf kalo pertanyaan saya berikut ini sepertinya meragukan kamu, tapi saya harus menanyakan ini: Apakah kamu percaya Tuhan Yesus sudah menebus kamu? Bahwa kamu udah diselamatkan dan Tuhan sudah menyiapkan rumah untuk kamu saat kamu pulang nanti? Kalo kamu percaya, jangan takut deh… kamu udah punya kavling di surga dengan nama kamu tercatat di sana. Jangan takut untuk pulang ketika waktunya tiba.

Kalaupun kamu takut meninggalkan orang–orang yang kamu sayangi, jangan takut, itu cuma buat sementara. Lagipula, ketika Tuhan memanggil seorang anaknya pulang, itu berarti semua pekerjaannya sudah selesai dan gak ada beban lagi untuk pulang dan kamu gak perlu khawatir meninggalkan orang – orang yang kamu sayang.

Saya punya teman seorang dokter yang bekerja di rumah sakit dan sering melihat orang – orang yang meninggal. Katanya, ada perbedaan yang nyata antara orang – orang yang mengenal Yesus dan yang tidak ketika mereka meninggal. Orang – orang yang tidak mengenal Yesus yang masih sadar dan tahu kematian mereka sudah dekat menghadapi kematian dengan ketakutan dan terkadang bisa sampe histeris. Ketika mereka meninggal keluarganya cenderung menangis habis–habisan. Sementara orang – orang yang mengenal Yesus menghadapi kematian dengan tenang dan tanpa rasa takut. Ketika mereka meninggal, keluarga mereka walaupun sedih tapi tidak sampai menangis meraung–raung karena mereka percaya suatu hari nanti akan bertemu lagi.

Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti karena Yesus sudah mengalahkan kematian dan ketika kita pulang, Yesus akan menanti di sana. Masalahnya, apakah kita percaya itu? Apakah kita percaya Yesus menanti kita ketika kita pulang nanti?

By the way…walaupun saya ngga keberatan mati muda tapi saya lebih ingin lagi ketika saya pulang nanti saya bisa pulang dan menghadap Yesus dengan bangga karena semua pekerjaan saya di sini sudah selesai. Jadi, berapa tahun pun yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan saya, saya akan terus bertahan di sini seperti kata Paulus di Filipi 1:21: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (min2)

Friday, July 16, 2010

Orang PL Masuk Neraka?

TANYA

Jaman Perjanjian Lama, kemanakah perginya orang-orang secara umum yang meninggal saat itu? Apakah masuk neraka? Soalnya kan belum ada penebusan darah Yesus.

JAWAB

Setiap tubuh orang yang meninggal dunia di jaman manapun tubuhnya menyatu dengan tanah. Tapi roh orang-orang yang nggak beriman kepada YAHWEH (TUHAN) dalam Perjanjian Lama pada saat meninggal dunia nggak langsung ke Neraka tetapi ke ke tempat bernama Sheol. Sheol merupakan tempat sementara untuk kemudian mereka yang tinggal di sana akan dibangkitkan buat dihakimi masuk Neraka (disebut lautan api, baca Wahyu 20:12-15). Sedangkan orang-orang yang beriman kepada YAHWEH dalam Perjanjian Lama saat meninggal rohnya berada pada satu tempat penantian yang disebut Firdaus, yang kemudian akan dibangkitkan untuk masuk ke sorga (kota yang kudus, baca Wahyu 21:10-26).

Seseorang masuk kerajaan surga hanya oleh karena iman (Efesus 2 :8). Setiap orang yang beriman kepada TUHAN dalam Perjanjian Lama pasti memberikan persembahan melalui penyembelihan domba kepada YAHWEH.

Masuk kerajaan surga atau diselamatkan hanya bisa terjadi oleh karena iman kepada Mesias atau kepada pengorbanan Yesus Kristus. Nah, orang-orang beriman di dalam Perjanjian Lama, beriman ke depan, seperti Daud melihat ke depan pada kematian dan kebangkitan Kristus (Kisah 2:31-32). Sementara orang beriman di masa Perjanjian Baru dan sesudah penebusan Kristus beriman ke belakang kepada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib di masa lalu (kematian dan kebangkitan-Nya, baca 1 Korintus 15:3-4). Iman kepada TUHAN di PB dan sesudah penebusan Kristus dibuktikan dengan menerima Yesus secara pribadi (Yoh 1:12; Rm. 10:9-10). Jadi keselamatan orang-orang di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru hanya ada di dalam Yesus Kristus (Yes. 43:3; Yoh. 14:6; 1Yoh. 5:11-13; Yoh. 10:28). (hits)

Tuesday, July 6, 2010

Mendoakan Seorang Gadis

Question
Setelah terima Yesus secara pribadi, semua yang kuharapkan selalu kutanyakan pada-Nya. Begitupun dengan pasangan hidup. Aku bertemu dengan seorang gadis yang aktif dalam pelayanan (sebut aja si A), dia pun udah terima Yesus. Melalui si A inilah Imanku bisa bertumbuh. Aku memohon kepada Tuhan agar dia bisa jadi pacarku. Aku selalu berdoa untuknya bahkan aku berpuasa untuknya. Hubungan saya dengannya sangat dekat, bahkan saya dengannya terlibat bersama-sama dalam pelayanan. Pada suatu saat, saya berdoa memohon hikmat dari Tuhan untuk mengungkapkan perasaanku padanya, namun pada saat itupun aku tahu bahwa teman baikku juga mendoakannya. Dan akhirnya niatku untuk mengungkapkan isi hatiku tertunda. Hanya berselang seminggu, temanku mengungkapkan isi hatinya dan akhirnya merekapun jadian. Aku yang telah menerima-Nya sebagai Tuhan Dan Juruselamatku, sadar bahwa apa yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik yang Ia berikan bagiku. Selama mereka jadian, aku selalu mendoakan mereka.

Empat bulan kemudian aku dekat dengan si B, dan aku selalu membawanya dalam doa, bahkan akupun berpuasa untuknya. Setelah kurang lebih dua bulan aku dekat dengan si B, aku terima kabar bahwa Si A telah putus dengan temanku. Karena si A telah mengetahui bahwa aku pernah mendoakannya, maka iapun kembali dekat denganku. Kedua cewek ini, sama-sama terlibat dalam pelayanan. Melihat kekurangan mereka, masing masing ada kekurangannya sendiri. Namun kekurangan mereka selalu tertutupi dengan kelebihan mereka. Aku jadi bingung mau milih yang mana?
Teman-teman bilang aku harus milih yang si A karena dia yang lebih dulu aku doakan. Namun adapula yang katakan bahwa saya harus fokus dengan doa saya saat ini. (C – Minahasa)

Answer
GF! punya 4 hal yang harus diperhatikan kalau mau milih teman hidup. Yang pertama, cari tahu apakah orang yang kamu doakan itu memang dari Tuhan atau bukan. Gimana taunya? Tentu saja dengan doa, kalo perlu sambil puasa dan siap-siap denger jawaban Tuhan. Yang susah dari langkah pertama biasanya gimana cara denger suara Tuhan. Jawaban Tuhan datengnya bisa lewat macem–macem cara dan berbeda–beda untuk setiap orang. Ada yang lewat firman Tuhan, pas baca Alkitab tiba–tiba ada ayat yang waktu dibaca sepertinya mata kita gak bisa lepas dari ayat itu dan ayat itu mungkin secara implisit atau eksplisit merupakan jawaban doa. Ada juga yang mendapat jawaban secara supranatural, misalnya lewat mimpi, tanda–tanda atau suara Tuhan yang terdengar audible. Apapun caranya, yang penting kita harus bener–bener yakin bahwa orang itu memang dari Tuhan.

Yang kedua, siapkah kamu berkomitmen dengan orang itu? Tuhan kita nggak kayak orangtua Siti Nurbaya, teman hidup yang dia sediakan tentu saja yang terbaik untuk kita tapi Tuhan gak akan memaksa kita untuk menikah dengan pilihan-Nya. Pernikahan adalah persetujuan antara 3 pihak yaitu Tuhan, kamu dan pasangan kamu. Sebelum kita menyatakan setuju, kita harus berpikir baik–baik apakah kita mau berkomitmen dengan orang itu seumur hidup. Apakah kita mau melihat mukanya setiap pagi seumur hidup? Apakah kita mau dia menjadi ayah-ibu dari anak–anak kita nanti? Apakah kita siap menerima karakter, kekurangan dan kelebihan dia? Kalau kita siap maka kita berkomitmen dengan orang itu. Saat kita berkomitmen berarti kita berjanji bahwa apapun yang terjadi dimasa depan, kita akan tetap bersama orang itu.

Yang ketiga, apakah kamu mencintai dan mengasihi orang itu? Banyak yang bilang kalau yang namanya perasaan paling hanya bertahan 4 tahun karena itu hanya reaksi kimia sesaat. Walaupun memang benar perasaan cinta tidak selalu menyala sepanjang hubungan tapi bukan berarti itu tidak penting. Hubungan tanpa perasaan seperti menari tanpa musik. Sekalipun tarian yang ditarikan benar, langkah–langkah kaki dan gerakan tubuhnya sempurna tapi tanpa musik kita ga akan bisa menikmati tarian itu. Walaupun begitu, mungkin saja terjadi ketika langkah pertama dan kedua OK, ternyata langkah ke 3 tidak OK karena kamu gak ada perasaan pada orang itu. Jangan khawatir! Kalo emang jodoh pilihan Tuhan, suatu saat perasaan itu pasti muncul.

Yang keempat, memang baik sih nyari orang yang tepat. Masalahnya apakah kita sendiri udah menjadi orang yang tepat bagi pasangan kita nantinya? Jangan sampe hubungan dengan Tuhan masih acak–acakan udah sibuk doa cari pasangan yang tepat. Kalo memang kitanya masih belum bisa jadi pasangan yang tepat tentu saja Tuhan juga gak akan ngasih pasangan ke kita biarpun kita doanya sambil push up satu tangan pake jempol. Dalam hal ini jawaban Tuhan bukan ya atau tidak, tapi “Tunggu!”

Kalo ngebaca cerita kamu sih sepertinya langkah pertama juga belum lewat yah? Santai aja, masalah teman hidup adalah masalah yang sangat penting. Jangan sampe bikin salah, take your time. Soal jangan sampe menyakiti perasaan... sulit juga karena gimanapun juga kamu harus memilih salah satu dari dua orang itu. Yang dipilih pasti senang dan yang gak dipilih pasti sedih, apa boleh buat. Kalo kamu salah milih, kamu justru akan menyakiti 3 orang. Pasangan yang benar pasti sedih, pasangan yang salah juga sedih karena banyak masalah dalam hubungan dan kamu juga pasti sedih karena kehidupan kamu gak akan bisa maksimal. (min2)

Tuesday, June 29, 2010

KUATIR

KUATIR

GFRESH, aQ mw nanya nih.. gmn caranya mengatasi kekuatiran akan sesuatu yg tidak pasti...??? (Pricella)

Pernah nonton film eksyen hollywood? Kenapa si jagoannya kok kayaknya gak pernah takut menghadapi musuh? Soalnya dia tau dia pasti bisa menghadapi semuanya, kan ada penulis skenario en sutradaranya? Hahaha. Tapi itulah juga terjadi dalam hidup orang yang percaya pada Tuhan. Tuhanlah penulis skenario dan sutradara hidup kita, Dia memelihara kita. So, ngapain kita harus kuatir? “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”. (1 Petrus 5:7).



Selalu berpikir positif, itu kuncinya. Apapun yang terjadi, sekalipun itu buruk (buruk menurut kita), yakinlah di belakang itu semua ada Tuhan yang memelihara. Asal kita tidak mencobaiNya, tidak berbuat kesalahan konyol yang bisa bikin kita menderita di masa depan, kita gak usah kuatir akan hidup kita. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”. (Matius 6:27)
Mau tanya? Join facebook.com/ferygfresh

KEBIASAAN BAIK

KEBIASAAN BAIK

gimana sc carax spya qt bs ngilangin kebiasaan yg gak baik, yg ada didiri qt. Misalnya : ngomong kasar, nonton film porno n laen2. (ethan)

Namanya kebiasaan pasti susah dihilangkan, tapi itu bukan berarti tidak mungkin. Kebiasaan itu kalo semakin dibiarkan maka akan semakin membatu jadi karakter, baik itu kebiasaan baik ataupun buruk. Ingin menghilangkan kebiasaan buruk? Mungkin harus dicoba beberapa hal berikut:

- Ganti dengan kebiasaan baik. Kadang kebiasaan itu gak bisa dilawan, makin dilawan malah makin pengen. Caranya? Ganti! Ganti dengan kegiatan yang mengalihkan kita dari mikir ngerokok mulu.

- Lakukan dengan bertahap kalo gak bisa drastis. Sabar, tekun dan konsisten dengan janji ingin berubah.

- Tekad yang tinggi. Kalo nggak, biasanya berhenti di tengah jalan.

- Jauhi lingkungan yang bikin kamu melakukan kebiasaan buruk itu. Suka liat internet porno? Jangan ke warnet sendirian, misalnya.

- Gaul di lingkungan yang bisa mendukung kamu mengubah kebiasaan buruk jadi baik.

- Googling, cari tau, dan sadari apa aja dampak buruk yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan itu, biar kamu tambah ilfil kalo melakukannya lagi.

- Optimis!

- Minta tolong kekuatan yang tinggi. Bergumullah dengan Tuhan. Minta Tuhan membuat kamu jijik kalo melakukan kebiasaan buruk itu. Trust me it works!

Tuesday, June 15, 2010

Pacarku Nggak Perawan Lagi

Question:
Saya baru tau kalo pacar saya ternyata udah gak perawan lagi, katanya dia pernah ML sama pacarnya yang terdahulu. Gimana dong? Putusin jangan? (Cowok Bingung)

Answer:
Emang kamu juga masih perjaka? Wakakaka. Budaya kita memang masih mengagungkan keperawanan (seorang wanita), jika gak perawan maka dia menanggung aib seumur hidup. Gitu pula dengan cowok, dia malu dan menganggap rendah jika mengetahui ceweknya gak perawan apapun alasannya! Aneh.

Masalah sebenarnya bukanlah soal perawan atau tidak perawan, tapi apa sikap cewekmu saat ini tentang keperawanan tersebut. Kalo hilangnya keperawanan tersebut bukan karena sebuah dosa (misalnya karena terjatuh atau kecelakaan atau –maaf- diperkosa, dsb) itu gak usah dipikirin, terima dia apa adanya.

Tapi jika penyebabnya adalah karena perbuatan dosa kayak yang dia bilang kepadamu (ML sama pacarnya yang dulu) maka tanyakan sikapnya atas perbuatan itu, apakah dia menyesalinya dan bertobat? Jika memang dia bertobat, Tuhan aja mengampuninya dan menerimanya, why don’t you?

Satu hal lagi, sekarang kamu tau kalo cewekmu pernah melakukan dosa di masa lalu, jangan kamu manfaatkan untuk tidak menghargainya sebagai cewek. Perlakukan dia dan sayangi dia layaknya ibumu atau adik perempuanmu. Jadi cowok sejati, dan jangan jadi cowok kayak pacarnya yang dahulu! (***)

Dorongan Seks

Question:
Saya ingin bertanya, bagaimana Yesus waktu hidup sebagai manusia jaman dulu bisa menahan tiap nafsu seksnya? Padahal Ia pernah remaja bukan? Pasti iblis sering menggodai Dia. Waktu itu ia juga merasakan menjadi manusia. Bagaimana Ia bisa melewatinya tanpa adanya pelepasan? (someone)

Answer:
Saya percaya bahwa Yesus 2000 tahun lalu menjelma menjadi 100% manusia, sekalipun Dia juga adalah 100% Tuhan. Dan sebagai manusia tulen, Ia harus menerima resiko merasakan semua yang manusia bisa rasakan: lapar, terluka, rasa menderita, senang, jatuh cinta bahkan dorongan seksual. Bedanya adalah: Yesus punya pengendalian diri, punya keteguhan untuk menyelesaikan misi dan tujuan hidupNya, dan tidak jatuh dalam dosa.

Meskipun tidak diceritakan di Alkitab dan masih prokontra, tapi ada tafsiran bilang bahwa kemungkinan  Yesus pernah jatuh cinta, tapi Yesus tau tujuan hidupNya sehingga Ia tidak dikuasai oleh perasaan itu dan bisa memenuhi panggilanNya. Begitu pula jika memang Dia saat itu punya dorongan seksual, saya percaya Dia bisa mengesampingkannya demi sesuatu yang lebih tinggi: panggilan Bapa. Dan sekarang, kita sebagai manusia, tidak lagi bisa beralasan kalo Tuhan tidak mengerti manusia, karena Tuhan pernah menjadi manusia 100% dan mengalami semua yang manusia bisa alami. Dari sini kita punya harapan untuk bisa mengatasi semua dorongan yang bisa berbuah dosa: jika kita punya tujuan hidup yang lebih tinggi.

Got Question? Klik  HERE

MamaOla