Showing posts with label survey. Show all posts
Showing posts with label survey. Show all posts

Friday, June 25, 2010

Pria-pria Jomblo

LIFE-SINGLES

Pria-pria Jomblo

Pria yang menikah menempati ranking pertama sebagai mereka yang paling berbahagia. Wanita lajang menempati ranking kedua sebagai yang paling berbahagia, sedangkan wanita yang menikah menempati ranking ketiga. Ranking keempat (alias yang paling tidak berbahagia) adalah pria yang hidup melajang.

“Kesimpulan itu didapatkan dari suatu penelitian di Amerika Serikat” kata Dr. Miriam Adeney, seorang penulis buku dan pakar antropologi dari Seattle Pacific University, dalam suatu bincang-bincang santai dengan LIFEcrew.

Jika penelitian itu akurat, maka tidak heran jika banyak wanita yang kini memilih untuk hidup melajang. Di luar dekadensi moral yang ditampilkan oleh serial ‘Sex & the City’, ada satu pesan utama yang disampaikan oleh para wanita lajang yang jadi tokoh utama serial ini: kehidupan melajang itu asyik dan menarik, khususnya bagi wanita.

Laporan teranyar dari Biro Sensus Amerika pun membenarkan fenomena ini. Terjadi peningkatan jumlah yang cukup tinggi dari para wanita lajang yang berusia 20 hingga 44 tahun pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1970.

Cuma yang aneh bin ajaib, peningkatan jumlah pria yang melajang (alias pria jomblo – bahasa prokemnya) ternyata jumlahnya jauh lebih tinggi dari para wanitanya. Sebagai perbandingan, jumlah wanita berusia 25 – 29 yang tidak menikah pada tahun 1970 berjumlah sekitar 19% dan pada tahun 2000 meningkat jadi 39%. Sedangkan pria dengan usia yang sama pada tahun 1970 cuma berjumlah sekitar 15%, tapi pada tahun 2000 meningkat drastis menjadi lebih dari 50%. Perbandingan yang serupa terjadi pula pada pria-pria di usia 30 hingga 44 tahun.

Buat para pengusaha, ini berita baik karena para lajang ini menjadi target konsumen yang sangat potensial. Lagipula, 42% dari seluruh angkatan kerja Amerika saat ini adalah para lajang, baik pria maupun wanita.

MENGAPA PRIA MELAJANG?
Yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa para pria jaman sekarang urung untuk menikah? Padahal katanya, orang yang paling tidak berbahagia adalah pria yang melajang. Fenomena ini bukan cuma terjadi di Amerika, tapi juga di negara-negara Asia seperti di Indonesia, termasuk di tengah kalangan Kristen.

Dalam suatu penelitian kecil yang dilakukan oleh LIFEcrews, ternyata ada beberapa alasan mengapa pria Indonesia, khususnya yang sudah berusia 30 plus tetap melajang. Untuk mudahnya, LIFEcrews melakukan pengkategorian tipe berdasarkan alasan-alasan tersebut:




1. Tipe Idealis
Sandi (34) - seorang pengusaha di Bandung termasuk dalam kategori ini. Sandi enggan menikah karena ia masih berangan-angan dapat bersanding dengan wanita tipe idealnya.

“Saya berharap agar saya tidak pernah kuliah di luar negeri. Jika dulu saya kuliah di Indonesia mungkin hidup jadi jauh lebih sederhana dan mungkin saat ini saya sudah mempunyai beberapa anak. Sekarang ini, saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, bukan cuma sekedar menikah untuk memenuhi tuntutan orang tua dan masyarakat. Padahal untuk mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kriteria itu, rasanya sulit sekali. Lagipula saya takut jika saya menikah dengan sembarang orang, saya akan menyakiti istri saya nanti karena saya sebetulnya punya harapan lain.

Saya pernah berpacaran dengan seorang wanita yang bukan tipe ideal saya. Pada suatu kali, saya bertemu dengan seorang wanita istri teman saya yang kebetulan merupakan tipe ideal saya. Dalam hitungan detik, pikiran saya berubah dan saya langsung ingin kembali menjalin hubungan dengan wanita yang jadi tipe ideal saya itu. Memang saat ini saya berdoa agar kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidup saya. Walaupun begitu, dalam hati kecil sich sebetulnya saya masih ingin mendapatkan seorang wanita yang sesuai dengan tipe ideal saya.”

2. Tipe Jomblo Murni
Tipe ini menganggap pernikahan bukan prioritas hidup. Ada yang beralasan karena ia ingin berkonsentrasi melayani Tuhan, tapi ada juga yang karena memiliki kesenangan tersendiri seperti hobi dan pekerjaan, yang tidak mau ditinggalkan.

Jason (36), seorang Indonesia yang bekerja sebagai Financial Staff di California misalnya, merasa dirinya lebih bahagia menjadi lajang. “Dengan melajang saya bisa lebih bebas jika ingin ikut kegiatan misi di luar kota. Atau jika mau mengikuti kegiatan pelayanan apa pun, saya bisa melakukannya dengan semau saya.”

Sementara itu Jimmy (32) terus terang mengatakan ia memang tidak mau menikah. Sarjana arsitektur yang menyandang S2 di bidang Seni Rupa ini juga mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melukis. “Buat saya, melukis adalah panggilan hidup.” kata Jimmy yang sehari-harinya tinggal di Bekasi ini.

Rasul Paulus pun kemungkinan besar termasuk tipe Jomblo murni. Yang paling menyedihkan adalah mereka yang sebetulnya termasuk ke dalam tipe ini, tapi terpaksa menikah karena tuntutan keluarga dan masyarakat. “Saya menikah bukan karena terlalu butuh pasangan hidup, tapi karena didesak terus oleh keluarga.” kata Hermawan (35), seorang insinyur sipil yang pekerjaannya mengharuskan ia harus sering bulak-balik antara Bandung dan Jakarta.


3. Tipe Desperado
Tipe seperti ini biasanya memiliki mata yang ‘jelalatan’ ketika sibuk mencari ‘mangsa’. Setiap ada ‘mahluk cantik’, pasti disatroni, tak perduli itu di gereja, di KKR atau di mall. Biasanya tipe ini cukup tahan banting.

Walaupun begitu, pria-pria tipe ini tidak perlu merasa malu. Ternyata, soal mata pria yang ‘jelalatan’ itu ada penjelasan ilmiahnya. Menurut Allan & Barbara Pease yang menulis buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps”, wanita memiliki kemampuan penglihatan peripheral yang lebih lebar. Sehingga jika diumpamakan, mata wanita itu seperti kamera dengan lensa lebar (wide lens), sedangkan mata pria cenderung lebih terfokus seperti lensa tele yang memiliki kemampuan untuk melihat jauh. Jadi sebetulnya mata wanita pun bisa saja ‘jelalatan’, tetapi kemampuan alami mata wanita menyebabkan mereka jarang tertangkap basah ketika sedang ‘jelalatan’ (kasiaaaann dehh kaum pria...).

4. Tipe Belum PD
Pria tipe ini ingin menikah cuma tidak PD (percaya diri), sebelum mereka memiliki kemampuan keuangan yang mencukupi. “Kebutuhan hidup sekarang ini jauh lebih berat. Untuk menikah saya harus berpikir matang-marang. Saya tidak mau jadi seperti teman saya yang menikah tanpa punya bekal, sehingga akhirnya dilecehkan oleh keluarga mertua.” kata Doni (30) seorang karyawan di Bandung.

Mahluk Aneh Yang Jadi Sumber Rasa Kasihan
Yang disayangkan, pada umumnya gereja-gereja di Indonesia jarang yang berpikir untuk melayani para lajang ini secara khusus, baik lajang wanita maupun lajang pria. Buktinya, kebanyakan gereja-gereja cuma memiliki Komisi Wanita (yang isinya ibu-ibu yang sudah menikah), Komisi Pria (yang isinya para ayah) atau Komisi Pemuda (yang isinya pelajar SMA dan mahasiswa).

Sementara itu, mereka yang ada di luar kategori di atas jadi mahluk aneh yang seringkali terasing atau bahkan jadi sumber untuk dikasihani. Dalam beberapa kasus, mereka akan ‘kabur’ dari gereja tersebut dan mencari tempat lain yang dianggap lebih kondusif.

Hari (35), seorang manager keuangan PMA di Jakarta bercerita tentang kekesalannya
pada gereja tempat ia bertumbuh ketika kecil. “Setiap kali saya ke gereja itu, pertanyaan pertama yang diajukan para pengurus serta jemaat adalah “Kapan menikah?”. Akhirnya saya jawab saja “Ya, nanti April tahun depan. Kalau tidak begitu, mereka akan terus bertanya macam-macam dan saya sudah malas menanggapinya. Atau kalau saya sudah terlalu kesal karena ditanya-tanya terus, biasanya saya menjawab “Saya tidak mau menikah karena melihat contoh pernikahan kamu.” kata Harry sambil tertawa.

Sementara itu Jimmy mengatakan bahwa ia tidak pernah terlalu pusing dengan reaksi orang. “Saya selalu menjawab orang-orang yang menanyakan status perkawinan saya dengan jawaban singkat “saya tidak berencana untuk menikah”. Biasanya, orang-orang itu akan langsung terdiam seribu bahasa.” kata Jimmy.

Walaupun begitu, Jason mengaku ia suka merasa pusing setiap kali mudik ke Indonesia. Soalnya, orang-orang di sekitarnya yang niatnya mungkin baik, tapi jadi menyebalkan karena menjadikan dirinya sumber rasa kasihan.

“Kasihan ya kamu, pasti kesepian! Kadang-kadang saya ingin berteriak pada mereka “Mungkin saya yang harus kasihan pada kalian. Banyak dari kalian yang menikah cuma asal menikah saja tanpa memikirkan pendidikan buat anak, lalu rumah juga masih mengontrak dan hidup pas-pasan.” kata Jason dengan sengit.

** (Yusak Persada, GE)

Friday, April 23, 2010

Soulmate: Ketika Pria dan Wanita Memilih Pasangan

Mitos 1: “Penampilan seorang laki-laki sama sekali tidak penting buat perempuan ketika memilih pasangan. Kalau laki-laki itu baik dan gigih, mau bagaimana pun penampilannya, semua perempuan pasti akan luluh  hatinya.”

(apalagi kalau ia datang naik mobil mewah dan setiap kali bertandang tidak lupa membawa oleh-oleh)

Mitos 2: “Buat laki-laki, prinsipnya adalah dari mata turun ke hati. Jadi kalau mereka memilih pasangan, pasti mereka akan mencari yang cantik karena buat mereka penampilan adalah kriteria nomer satu.”

(karena itu kosmetik pemutih kulit, krim anti kerut, dan obat pelangsing tubuh laku keras di pasaran)

Mitos 3: “Bagi perempuan, lebih baik dicintai daripada mencintai. Seiring berjalannya waktu, perempuan bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai laki-laki yang tadinya tidak ia sukai. Sementara sekali laki-laki menyukai seorang perempuan, selamanya ia tak akan berubah. Begitu pula sebaliknya, jika sejak awal ia tidak menyukai seseorang, ia tak akan pernah bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai orang itu.”

(No comment untuk yang satu ini. LIFEcrew pun sampai  TERKAGET-KAGET mendengarnya)

Diakui atau tidak, kita hidup dalam sebuah dunia yang dipenuhi mitos perbedaan laki-laki dan perempuan, termasuk ketika mereka memilih pasangan. Ada banyak mitos beredar mengenai perbedaan kriteria pasangan yang dicari oleh laki-laki dan perempuan. Sebagian kedengaran cukup logis, sebagian memancing senyum geli dan sebagian lagi menyebabkan kening berkerut dan nada suara meninggi, “Siapa bilang perempuan beranggapan seperti itu?” atau “Tidak semua laki-laki begitu. Aku tidak begitu!”

Untuk menggali lebih jauh mengenai perbedaan prioritas yang dicari laki-laki dan perempuan dari pasangannya, LIFEcrew telah menyebarkan angket kepada seratus empat orang responden laki-laki dan sembilan puluh delapan responden perempuan di Bandung dan Jakarta dengan usia antara 21 sampai 35 tahun. Responden diminta memilih kriteria-kriteria apa saja yang dianggap paling penting dalam memilih pasangan. Selain itu redaksi juga sempat melakukan bincang-bincang santai sambil minum teh sore dengan beberapa anggota kelompok Paduan Suara kontemporer “Glorify The Lord Ensemble(GTLE) di sebuah café di kota kembang Bandung, untuk mendiskusikan hasil angket tersebut.

RUBRIK ADAM


Dari hasil angket yang disebarkan kepada 104 responden kaum Adam diperoleh kesimpulan bahwa kriteria yang paling penting bagi laki-laki ketika memilih pasangan adalah sebagai berikut:

1. iman

2. penampilan dan sikap

3. kesamaan minat

4. level intelektualitas

5. level sosial ekonomi

Sambil bincang-bincang santai dan minum teh sore di sebuah café, Ivan Saba Jr (24) dan Tunggul (23) dari kelompok GTLE mencoba menganalisa urutan yang muncul dia atas.

  • 93 % responden menyatakan bahwa iman kerohanian adalah kriteria yang paling krusial dalam menentukan pasangan


“Itu memang kriteria nomor satu,” kata Ivan tanpa ragu-ragu, ”Harus satu iman dan satu agama.” Ivan yang sore itu tampil kasual dengan handuk putih membungkus kepalanya (supaya praktis tapi tetap trendy, akunya) menegaskan bahwa iman yang sama adalah fondasi untuk membangun sebuah hubungan yang kokoh. “Terutama untuk ke depan kalau nanti kita punya anak, misalnya,” tambah laki-laki yang berprofesi sebagai musisi itu. Rekannya, Tunggul (23), seorang mahasiswa, lebih menekankan pada efek dari kerohanian itu sendiri. “Kalau di dalamnya bagus, pasti di luarnya pun bagus. Jadi level kerohanian seseorang pasti kelihatan dari tingkah lakunya.”

  • 46 % responden memilih penampilan dan sikap


“Yang penting adalah cara pembawaan dirinya dia sehingga di mana pun dia berada bisa membawa suasana jadi menarik,” jelas Tunggul yang merasa kurang PeDe kalau jalan dengan orang yang tidak bisa bawa diri. “Penampilan yang enak dilihat itu penting tapi lebih penting lagi suasana yang nyaman,” Tunggul menambahkan sambil menyebut kriteria perempuan idealnya adalah yang proporsional. Ivan cenderung menyukai perempuan yang matang dan keibuan. “Sebetulnya pembawaan diri yang paling berpengaruh,” Ivan menegaskan kembali apa yang baru dikatakan Tunggul. “Misalnya, kalau musimnya makan di warteg, dia harus bisa makan di warteg. Tapi kalau harus makan di acara resmi, dia juga menguasai table manner.”

  • 38 % responden memilih kesamaan minat dan interest


“Dengan memiliki kesamaan minat dan interest, lebih gampang untuk kita fokus ke depan,” Ivan menjelaskan alasannya menempatkan kriteria ini sebagai nomor tiga terpenting, “Kalau minat kita beda, kemungkinannya kecil untuk bisa langgeng.” Minat pada seni adalah prasyarat yang mau tidak mau mesti dimiliki jika ingin menjadi pasangan Ivan. Hampir berkebalikan 180%, Tunggul justru menginginkan pasangan yang minat dan interest-nya sama sekali berbeda. “Kalau sama, malah bisa jadi jenuh. Aku selalu ingin tahu tentang hal-hal lain jadi kalau pasanganku punya minat dan interest yang beda, kita bisa sama-sama saling belajar hal baru.”

  • 34 % responden memilih kesetimbangan level pendidikan dan intelektualitas


“Cerdas berarti dia tahu bagaimana harus bersikap, punya cara berpikir yang dewasa dan bisa mengerti keadaanku,” Tunggul menguraikan jawabannya dengan lancar sementara Ivan mengaku tidak punya standar level pendidikan untuk pasangannya, “Yang penting wawasannya luas. Orang  yang berpendidikan belum tentu memiliki wawasan yang luas. Aku lebih suka ngobrol dengan lulusan SMP atau SMA tapi tahu banyak daripada lulusan universitas yang tidak tahu apa-apa.”

“Justru orang yang kerjanya sekolah melulu itu sepertinya adalah orang yang takut menghadapi dunia riil, kalau menurut aku lho,” tambah Tunggul lagi.

Ø  Dan hanya 15 % responden memilih kesetimbangan level sosial ekonomi


“Asal pasanganku mau hidup biasa-biasa, tidak ada masalah,” kata Tunggul yang tidak keberatan jika pasangannya punya penghasilan lebih tinggi selama hal itu tidak menjadikannya bersikap sok hebat. Untuk Ivan, yang penting pasangannya mau menerimanya apa adanya. “Tidak masalah kalau ternyata dia datang dari keluarga yang jauh lebih kaya dibanding aku,” kemudian sambil tertawa ia menambahkan, “Bukannya malah bagus?”

RUBRIK EVE


Sementara hasil angket kaum Hawa menampilkan perbedaan prioritas yang menjadi bahan perbincangan yang menarik di antara para anggota perempuan GTLE yang berkumpul sore itu: Santi (21), Nesti (27), Grace (30) dan Intan (27).

Prioritas kriteria seorang perempuan ketika memilih pasangan menurut hasil angket adalah sebagai berikut:

1. iman kerohanian

2. penampilan dan sikap

3. level intelektualitas

4. kesamaan minat

5. level sosial ekonomi



  • 89 % responden memilih iman kerohanian sebagai kriteria yang paling penting ketika menentukan pasangan.


Keempat gadis cantik ini dengan suara bulat mendukung pilihan pertama hasil angket yang diperoleh Get LIFE. “Tidak bisa ditoleransi, pasanganku harus anak Tuhan yang paham bahwa hidup ini adalah kasih karuniaNya,” kata Emmanuela Chrisanti Asterina Abednego yang akrab dipanggil Santi ini. Pendapat Santi didukung oleh rekannya, Yunesti Nugraheni Tyaswati yang sangat mementingkan kesamaan visi dan misi dalam membangun rumah tangga. “Pernikahan itu, kan buat selama-lamanya. Bagaimana bisa tahan kalau visi dan misinya beda?” Lebih lanjut Nesti menambahkan, “Punya pasangan yang seiman juga akan mengurangi resiko hal-hal buruk di kemudian hari, misalnya perceraian.” Sementara Intan yang berstatus mahasiswi percaya bahwa Firman Tuhan adalah landasan untuk membangun hubungan yang sehat.

  • 68 % responden memilih penampilan dan sikap


Grace yang berprofesi sebagai wiraswastawati berargumen bahwa penampilan yang dimaksud di sini bukan wajah atau fisik seorang laki-laki tapi lebih ke arah bagaimana ia bertingkah laku, berbicara, dan berpenampilan. “Cara ia berpakaian misalnya,” kata Grace, “bisa menunjukkan apakah ia memperlakukan dirinya sendiri dengan seenaknya atau ia bisa menghargai diri.” “Dan lewat cara bicaranya, kita bisa tahu bagaimana ia berhubungan dengan orang lain,” tambah Intan. Untuk Santi, pria idealnya haruslah seseorang yang tingkah lakunya mencerminkan teladan Yesus dan bisa menjadi berkat buat orang lain. “Tampang dan penampilan fisik, sih tidak masuk hitungan,” tambahnya yang dibenarkan oleh ketiga rekannya meskipun sambil tertawa akhirnya Grace mengakui bahwa cukup sulit baginya untuk menyukai seorang laki-laki yang tidak memenuhi kriteria idealnya: tinggi, putih, dan bertampang oriental.



  • 57 % responden memilih kesetimbangan tingkat pendidikan dan intelektualitas




Wawasan yang luas ternyata menduduki posisi yang lebih penting dari pada gelar akademik. “Mau lulusan SMP pun tidak masalah, asal cerdas,” kata Intan. “Selama orangnya punya wawasan dan nyambung kalau diajak bicara, titel akademik tidak masalah,” kata Santi yang menyukai laki-laki yang suka membaca. Tapi setelah dikorek lebih lanjut, ia dan Nesti mengakui bahwa pasangan mereka minimal harus lulusan S-1. “Kesannya aneh kalau pasanganku level pendidikannya kurang dari D-3,” Nesti mengakui sambil tertawa renyah. Sementara untuk Grace, pasangannya haruslah seseorang yang wawasan dan level pengetahuannya di atas dia, “Saya harus bisa look up to him karena saya orangnya suka bertukar pikiran dan senang mendapat masukan.”

  • 46 % memilih kesamaan minat dan interests


“Pokoknya pasanganku harus punya minat pada musik,” tegas Santi, “Kalau tidak, aku tidak mungkin jadian dengan dia.” Sementara Intan berharap mendapatkan pasangan yang punya hobi travelling dan punya kecintaan besar terhadap anak-anak muda seperti dirinya. Impiannya adalah melakukan pelayanan untuk anak-anak muda di berbagai kota bersama pasangannya. “Jadi bisa setahun di sini, setahun di sana,” katanya dengan mata berbinar,” Pastinya pasangan saya harus orang yang punya panggilan pelayanan yang sama dan berjiwa petualang.”

Grace mencari pasangan yang menyukai seni dan olahraga. “Rasanya aneh, ya, kalau cowok tidak suka olah raga,” cetusnya. Tapi buat Grace, masalah minat dan interest ini bukan hal yang terlalu krusial. “Kita, kan harus belajar menikmati kesenangan masing-masing. Saya akan mengajak dia olah raga dan menikmati seni, itu toh tidak ada ruginya. Tapi saya juga akan belajar menikmati apa yang dia suka, mengoleksi perangko misalnya.”

  • Dan 21 % menyatakan kesetimbangan level sosial ekonomi


Keempatnya sepakat menempatkan kriteria ini sebagai yang paling tidak penting dibandingkan kelima kriteria lainnya. Intan mengakui bahwa orang tuanya sempat mengingatkan bahwa sebaiknya ia memilih pasangan yang level ekonominya seimbang. “Jangan yang lebih kaya,” katanya, “jadi kita bisa saling menghargai.” Sementara Grace justru berharap tidak mendapat pasangan yang level sosial ekonominya lebih rendah. “Kasihan, kan, dia sebagai laki-laki kalau di-look down.” Tetapi mengenai pemenuhan kebutuhan atau jumlah penghasilan, hal itu sama sekali bukan masalah. “Yang penting punya niat untuk maju dan mau bekerja keras,” kata Santi meskipun ia mengakui bahwa ia juga mempertimbangkan faktor lingkungan sosial di mana pasangannya tumbuh dewasa. Dan Intan menutup bincang-bincang yang menyenangkan itu dengan mengingatkan, “Kita tidak usah kuatir untuk masalah finansial, Tuhan pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kita.” ** (SL)

MamaOla