Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Monday, April 2, 2012

PASKAH ALA NASHA

PASKAH ALA NASHA

    Semburat warna oranye menghiasi langit senja. Sesekali bola mata Nasha bergerak memandangi keindahannya. Ah, malam sebentar lagi tiba. Nasha sudah tak sabar menanti datangnya waktu makan malam bersama mama dan papa. Rencananya nanti Nasha ingin mengajukan usulnya menyambut perayaan Paskah yang tak lama lagi tiba. Nasha mengulum senyum mengingat-ingat usulnya itu. Bukan usul yang luar biasa sebenarnya, tapi Nasha sudah sejak lama ingin mewujudkannya.
    Pada saat di meja makan, Nasha segera membuka pembicaraan. “Ma, Pa sudah ada rencana untuk merayakan Paskah minggu depan belum?”
    “Belum. Memangnya ada apa? Bukankah biasanya kita merayakan Paskah dengan mengikuti kebaktian di gereja?” jawab Papa.
    “Itu kan biasanya. Boleh dong kalau sekali-kali kita nggak cuman ibadah di gereja aja?” balas Nasha.
    “Ha... ha... jadi Nasha sudah bosan mengikuti drama Jalan Salib dan perlombaan mencari telur Paskah?” Mama ikutan menanggapi.
    “Yah Mama... bukannya bosan, tapi Nasha kan sudah gede, sudah 16 tahun lagi. Nasha ingin perayaan Paskah kali ini tidak hanya dilalui begitu saja, tapi dengan sesuatu yang berkesan” Nasha menimpali.
    “Lantas Nasha ingin Paskah yang seperti apa?” Papa gantian bertanya.
    “Paskah yang memberkati orang lain” jawab Nasha cepat seraya menyantap makan malamnya.
    “Maksud Nasha?” tanya Papa dan Mama bersamaan.
    Nasha hanya terkekeh-kekeh melihat reaksi kedua orang tuanya yang penasaran.
    “Bagaimana kalo Paskah nanti kita memasak makanan untuk pengemis, gelandangan, saudara-saudara kita yang kurang mampu, juga untuk orang-orang yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita” Nasha menjelaskan.
    “Siapa saja contohnya, yang luput dari perhatian kita?” Mama menanyakan.
    “Ya... orang-orang yang selama ini jarang terlihat di persekutuan atau di gereja, mungkin karena sibuk, sungkan atau malah ingin undur. Bisa juga untuk kenalan jauh atau sahabat lama” terang Nasha panjang lebar.
    “Usul yang bagus” kata Papa sambil manggut-manggut, “Darimana kamu dapat ide itu?”
    “Nasha hanya ingin kita tidak sekedar melewati Paskah tanpa makna, sedangkan saat Natal kita semua merayakan secara besar-besaran dan meriah. Padahal justru saat Paskah, kasih Allah nyata lewat pengorbanan Yesus di kayu salib”
    “Ya, kebanyakan dari kita telah kehilangan makna Paskah yang sesungguhnya” Mama menyetujuinya.

    Hari Sabtu, sehari sebelum Paskah tiba, Nasha dan Papa sudah sibuk berbelanja untuk keperluan memasak sesuai usulnya. Mama di rumah menyiapkan alat dan membaca-baca buku resep. Nasha senang karena mereka sekeluarga bisa saling membantu mempersiapkan kejutan Paskah ini. Kemarin Mama sudah memutuskan untuk memasak nasi, ayam panggang dan lalapan untuk dibagi-bagikan pada pengemis dan gelandangan. Sedangkan untuk saudara-saudara seiman yang selama ini terlupakan dan kurang mendapat perhatian, Mama akan membuat kue brownies kukus dan pisang keju.
    Esoknya setelah pulang dari mengikuti kebaktian Paskah di gereja, Nasha meluangkan waktunya sebentar untuk saling mengucapkan selamat Paskah dengan jemaat yang lain.
    “Lho Sha, kok buru-buru pulang sih? Kita kan mau bantuin anak-anak Sekolah Minggu menyembunyikan telur Paskah?” tanya Sita, sahabatnya.
    Nasha hanya tertawa kecil lalu membalas, “Mau bantu menyembunyikan atau ikut mencari nih?”
    Sahabat-sahabatnya yang lain hanya terbahak-bahak.
    “Sha, biasanya kamu ikut anak-anak Sekolah Minggu lomba melukis telur Paskah kan?” Hagai menawarkan.
    “Itu kan dulu. Nasha hanya ingin memberi kesempatan buat yang lain” tolak Nasha halus.
    “Wah, sudah sadar umur ya?” Hagar tersenyum-senyum, “Mau ada acara apaan sih?”
    “Ada deh, mau tahu aja” ucap Nasha menirukan gaya iklan di televisi.
    Nasha pun segera beranjak pulang setelah berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Nasha tidak merasa kecewa tidak merayakan Paskah bersama teman-temannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Nasha malah bersyukur bisa melewati Paskah tahun ini dengan cara yang berbeda.
    Sesampainya di rumah, Nasha lalu berganti pakaian dan langsung meraih celemek untuk membantu Mamanya memasak nasi, lauk pauk dan kue-kue. Mamanya sudah mulai memasak lebih dulu.
    “Hmm... lezatnya! Kapan nih Papa bisa mencicipi?” canda Papa.
    “Mencicipi boleh tapi nggak gratis lho” ledek Nasha. Mereka pun tertawa bersama.
    “Ma, gimana kalau nasinya dibikin nasi timbel khan Sunda itu lho” usul Nasha tiba-tiba.
    “Boleh” jawab Mamanya.
    Begitulah, Mama dan Nasha sibuk memasak dan Papa ikut membantu membuat kardus buat kue. Sesekali mereka bercanda, kadang-kadang sambil menyanyi pujian yang biasa mereka nyanyikan di gereja.
    “Meski sedikit cape tapi Nasha lebih suka kalau kita sendiri yang menyiapkan semua kejutannya” Nasha membuka obrolan kembali.
    “Betul, karena kita sendiri jadi bisa merasakan sukacita berbagi kasih dengan mereka” Mama mengiyakan.
    Dalam hati Nasha mengucap syukur pada Tuhan Yesus, karena tidak ada kasih yang sebesar kasihNya dan tidak ada pengorbanan yang sebesar pengorbananNya. Kesanggupan Nasha untuk berbagi kasih dengan orang lain seperti ini, merupakan rencana dan pekerjaan Allah saja. Allahlah yang berinisiatif, Nasha dan keluarganya hanya jadi saluran berkat Tuhan buat orang lain.
    Sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit saat loyang terakhir berisi adonan kue pisang keju dimasukkan ke dalam oven. Kue brownies juga sedang dikukus. Semuanya hampir beres, hanya tinggal memanggang ayam sambil menunggu nasi timbel matang.
    Nasha menyandarkan punggungnya di atas sofa yang empuk untuk beristirahat sambil menunggu kuenya matang. Mamanya masih asyik memanggang ayam sedang Papanya memeriksa daftar siapa-siapa saja yang akan menerima kue nanti. Dari dapur terdengar suara Mama dan Papa mengingat-ingat kalau-kalau ada kenalan, kerabat atau sahabat lama yang belum dicatat. Ada dua belas orang jemaat gereja yang mendapat perhatian Nasha dan orang tuanya untuk diberi kejutan saat Paskah ini. Sebagian adalah jemaat yang jarang menghadiri kebaktian, sebagian lagi jemaat yang kurang mampu.
    Nasha memasukkan kue yang sudah matang satu per satu kedalam kotak dus kue. Di atas tutup dus tersebut Nasha menambahkan kartu ucapan bertuliskan

SELAMAT PASKAH
KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH KEMENANGAN
DAN KESELAMATAN BAGI KITA

    Sembilan dus berikutnya disiapkan untuk tetangga Nasha yang berada satu gang.
    “Walaupun tidak semuanya seiman dengan kita tapi berkat dari Allah juga harus dirasakan oleh orang-orang di sekeliling kita” kata Papa.
    “Itu salah satu bukti kalau kita tidak menumpuk berkat Allah untuk diri kita sendiri tapi dibagikan untuk orang lain juga. Jadilah berkat tidak hanya bagi saudara seiman saja tapi bagi mereka yang belum mengenal Kristus” Mama ikut menerangkan.
    “Wah... berarti banyak juga yang harus kita siapkan” Nasha menjawab, “Tapi nggak apa-apa, kan di Galatia enam ayat tujuh juga dibilang apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Nggak hanya menabur uang untuk persembahan di gerea saja tapi bisa juga taburan dalam bentuk perbuatan kita terhadap orang lain, betul kan?” sahut Nasha.
    Pukul setengah dua belas tepat oven menyala. Itu tandanya kue-kue tadi sudah matang. Nasha bergegas mengeluarkannya. Ada empat loyang kue yang masih tersisa. Sambil mendinginkan kue-kuenya, Nasha membantu Mamanya menyiapkan kotak makan yang berisi nasi timbel, ayam panggang, lalapan dan juga air minum cup. Kira-kira pukul satu siang semuanya sudah selesai. Nasha dan orang tuanya merasa sangat puas. Lalu mereka berdoa bersama supaya setiap orang yang menerima berkat Tuhan tersebut tidak hanya menerima berkat jasmani saja tapi juga menerima keselamatan dari Yesus.
    Kira-kira setengah jam kemudian, mereka mulai membagikan kotak-kotak makanan untuk para pengemis dan gelandangan di emperan mall dan trotoar. Bahkan pengamen, tukang sapu dan tukang becak pun juga kebagian. Mereka sangat bersukacita saat melihat wajah-wajah kumal para pengemis dan gelandangan itu berseri-seri saat menerima makanan tersebut. Ucapan terima kasih yang tulus pun terdengar dari bibir mereka. Walau sangat sederhana tapi begitu bermakna.
    Nasha sampai terharu dibuatnya. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kota, saat ucapan terima kasih sudah bukan lagi menjadi budaya, ada orang-orang seperti mereka, yang untuk mereka pula Yesus telah mati di kayu salib.
    Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, lima puluh kotak makan sudah habis dibagikan. Berikutnya mengantarkan kue-kue untuk tetangga dan jemaat gereja. Sebagian merasa terkejut, sebagian lagi merasa bersyukur karena begitu diperhatikan. Selanjutnya masih ada empat dus kue lagi yang tersisa. Orang tua Nasha akhirnya memutuskan untuk memberikan satu pada kawan lama mama yang tinggal di rumah susun dan dua dus lagi pada pegawai kantor Papa yang bertugas sebagai cleaning service dan satpam.
    “Satu dus lagi buat siapa dong?” tanya Nasha sambil menunjuk pada dus kue terakhir.
    Mama dan Papa hanya terdiam. Mencoba berpikir siapa yang akan menerima kue terakhir itu. “Gimana kalau kita berikan pada Oma Bertha saja” usul Papa tiba-tiba.
    Nasha terkejut mendengar usul Papa. Siapa? Oma Bertha? Apa Papanya nggak salah bicara?
    “Jangan ah. Yang lain aja. Kan ada Tante Rhuna, Oom Frans... siapa sajalah yang penting jangan Oma Bertha” tegas Nasha tidak setuju.   
    “Memangnya kenapa Sha? Kalau Tante Rhuna dan Oom Frans kan sudah sering menerima kue dari kita” Mama menanyakan alasannya.
    “Oma Bertha juga. Setiap Natal Mama selalu kirim kue dan parsel. Sebulan yang lalu Mama malah memasak makanan untuk Oma” tukas Nasha.
    Nasha jadi teringat Oma Bertha. Nasha punya kenangan buruk dengan Omanya itu, meski sebenarnya beliau bukan orang tua kandung Mama Papanya tapi masih ada hubungan kerabat. Mama dan Nasha pernah tinggal dengan Oma Bertha selama dua tahun. Waktu itu Nasha kelas tiga SD, Papa Nasha sedang ditugaskan di Papua. Menurut Nasha, Oma Bertha itu galaknya minta ampun. Pukul lima pagi Nasha harus bangun pagi lalu menyapu dan mengepel lantai. Mama Nasha disuruh memasak dan mencuci pakaian. Karena Mama dan Nasha menumpang tanpa biaya disana, jadi pemakaian listrik, air dan telepon harus sehemat mungkin. Teguran dan sidiran Oma Bertha sudah jadi makanan tiap hari. Begitulah resiko menumpang di rumah orang.
    “Sha, jangan mengingat apa yang sudah kita berikan untuk orang lain. Kalau kamu masih mengingatnya itu tidak tulus namanya. Masa Nasha nggak kasihan sama Oma Bertha, bertahun-tahun hidup seorang diri tanpa ada yang memperhatikan” kata Mama lembut.
    “Salah sendiri Oma galak dan pelit. Masih mending kalau Oma baik sama kita. Kita sudah baik sama Oma tapi Oma tetep saja jahat sama kita” kata Nasha.
    “Bukannya Nasha sendiri pernah bilang, kalau apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. Sekarang ada kesempatan untuk kita menabur perbuatan baik, kenapa kita tidak menggunakannya?” Papa bersuara.
    Sesaat suasana menjadi hening. Nasha diam terpaku. Nasha termenung mendengar ucapan Papanya tadi.
    “Bicara memang mudah Sha. Tapi perlu praktek juga” lanjut Papa.
    Nasha tersadar. Ia malu pada dirinya sendiri. Secara teori Nasha mungkin jauh lebih tahu daripada orangtuanya, tapi aplikasinya, Nasha nihil. Kedewasaan rohani tidak diukur dari dalamnya pengetahuan tentang Alkitab, tapi dari perbuatan dan karakter yang serupa dengan Kristus.
    “Ampuni Nasha, ya Tuhan” kata Nasha dalam hati.
    “Baiklah, Nasha mengerti sekarang. Maafkan Nasha ya Pa, Ma. Nasha yang akan mengantarnya sendiri ke rumah Oma Bertha. Save the best for last” kata Nasha sungguh-sungguh.
    “Lho serius Nasha mau mengantarnya sendiri? Rumah Oma kan jauh” tanya Mama kaget.
    “Nggak apa-apa, Nasha ingin kasih kejutan buat Oma Bertha di hari Paskah ini” jawab Nasha.
    Dalam perjalanan menuju rumah Oma Bertha, Nasha kembali melihat indahnya langit senja. Saat mentari perlahan membenam di cakrawala mata, ia menyadari bahwa kekristenan tercermin dari hubungan kita dengan orang lain. Seperti yang Yesus lakukan, memikirkan dan mengutamakan orang lain.
    Nasha berbisik dalam hati. Terima kasih Tuhan untuk Paskah yang indah dan penuh makna. Biarlah bukan hanya hubungan Nasha dengan Allah yang diperdamaikan tapi dengan Oma Bertha juga. Terima kasih Yesus untuk damai yang Kaubawa. (by: Seen)

Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu?
... tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dengan tidak mengharapkan balasan.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati
(Lukas 6:27-36)

Wednesday, March 28, 2012

Cerpen: Gun, Roni dan Heri

Gun, Roni dan Heri

Oleh Jusin

Di suatu pagi.

“Oh, ya Her, ini hari Sabtu ya ?”

“Lha... kepala lu tuh isinya apa sih, nanya-nanya hari segala.”. Heri yang ditanyakan itu malah nyengir sambil ngejotos gundulnya Gun. “Udah, udah, ini kan udah pada taon baru, millenium ketiga lagi, selama dua millenium kalian dapat apa coba, ayo...?”, Rony menyela temannya dengan satu pertanyaan.

“Dapet golok, dapet celurit... buat ngebacok elo..., eh Ron, pertanyaan elo kok gila banget, emangnya lu udah pada hidup dua millenium, buyut elo aja kagak.”. Dengan antusiasnya Heri nendang pertanyaan Roni. “Ron, Her, hari ini hari Sabtu, kan?”, Gun mengulangi lagi pertanyaan konyolnya itu.

“Waduh Gun, iya bener lu kok ‘idola’ banget sekarang?”, Heri memotong pertanyaan Gun. “Ha...ha... idola, hi... hi... uhuk...uhuk... lho, idola apaan?”, Roni tersadar akan spontanitasnya. “Hi, ketawa! Gigi lu tuh nongol, kagak ngerti juga mulutnya selebar sangkakala.. eh ‘idola’ tuh udah idiot, dongok, lamban lagi... hi..hi...”. Heri dengan ketus menjawabnya juga.

“Begini Ron, Her, jam 9 nanti ada komsel di tempatnya Ita, gimana kalo kita ikutan?”, Gun menawarkan dengan mimik serius.

“Uih, Gun lu ini, nggak komsel-lah, KKR-lah, persekutuan.. jalan trus, kapan sih lu nikmatin dunia ini? Buat gue sih, ke gereja hari minggu doang udah cukup. Kita-kita kan perlu happy-happy juga.” Heri menolak tanpa basa-basi.

“Kalao elo gimana Ron?”, Gun beralih ke Roni.

“Gimana ya... gua mikir dulu deng....”

“Wah, elo mau jadi pendeta Ron.! Oh ya, hari ini gue mo ke nge-pantai bareng temen sekosan, kebetulan ceweknya kelebihan satu, mau ikut nggak?”

“Wah... oce punya tuh... kalo gitu sorry nih Gun, gua lain kali aja ikut lu ke komsel.” Roni akhirnya tergugah.

“Up to you, Ron, God Bless You.”, jawab Gun sambil berpisah di persimpangan.”

“Her... kita naik apa ke pantainya?”.

“Tenang aja Ron, ada temen yang support semuanya, kita tinggal ikutan dah, pokoke... dijamin puas.”.

***

Roni terlihat merenung. Tubuhnya lesu, kurus kering, mata cekung dan nggak ada gairah. Roni yang terbawa arus dengan lifestylenya Heri, akhirnya ia terjerumus dengan pergaulan yang tidak dapat ia tolerir lagi. Mulai dari narkoba, freesex, berjalan tanpa sepengetahuan keluarganya.

“Ron, lu kok jadi pendiam sekarang, nggak cerah seperti dulu?”, pertanyaan Gun mengusik lamunan Roni.

“Gue nggak tau lagi harus ngomongin apa ama lu, gue lagi be-te nich, gue pengen nyendiri”, Roni menjawab dengan lesu.

“Ron, sepertinya lu lagi ada problem, bagi-bagi ke kita dong, siapa tau gua bisa nolongin elu”, perhatian Gun akhirnya tersalurkan.

“Gak mungkin lagi Gun, gua udah hancur, gua gak bisa nolaknya lagi, memang hati gua sich bilang jangan, tapi..ah.....”

“Lu ditolak ama cewek Ron, atau....”

“Bukan...”

Gun mereka-reka apa sebenarnya masalah Roni yang masih mengambang di benaknya dan tanpa ambil pusing lagi, Gun akhirnya teringat akan sesuatu yang sangat penting.

“Oh, ya Ron... lu khan lagi be-te, udah deh lu maen ke kosan gua entar malem, kita ngobrol banyak!” Gun berharap akan idenya diterima Roni.

“Iya deng.. daripada gua nambah stress, gua ke sana deh!”

... Terima kasih Tuhan Yesus, doa Gun dalam hati....

***

.....Walaupun dosamu merah seperti buah kirmizi, akan putih seperti salju, ..... Marilah kepadaKU semua yang letih lesu...Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini... Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil dan akan mengampuni segala dosa kita... Tetapi semua orang yang menerimaNya, diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah...

Gun membacakan beberapa ayat setelah mereka mengobrol panjang lebar di kamar kosnya. Malam yang indah itu adalah malam yang paling istimewa dalam kehidupan Roni, saat itu Roni datang dengan hati yang hancur penuh penyesalan dan akhirnya berikrar bahwa Yesus adalah Raja dalam hidupnya.

Berkat dan kasih karunia yang telah ia terima ia bagi-bagi dan ceritakan buat Gun dan temen-temen mereka yang lain. Roni sangat bersyukur dan ia belum terlambat untuk kembali, dan ia menyadari bahwa hidupnya merupakan perpanjangan kasih karunia itu kepada orang lain.

***

“Halo Heri, apa kabar? Eh, gimana kalo entar sore gua maen ke rumah elu, gua mo ceritain sesuatu sama elu...” sapa Roni ketika ia berbicara dengan Heri di telpon. Satu jiwa menanti untuk diselamatkan. (Js)

Pengirim: Jusin Bandar lampung

Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

Sunday, March 25, 2012

Cerpen: Semuanya Sudah Terlambat


Semuanya Sudah Terlambat
Oleh Rudy

Aku merasa tubuhku sangat ringan, bahkan seperti melayang di atas lantai. Aku tersadar ketika aku mendengar suara orang-orang sedang menangis. Kupandang orang-orang disekelilingku, aku terkejut ketika melihat wajah mereka, wajah orang-orang yang sangat kukenal, wajah Papa, Mama, dua orang kakakku dan istri-istri mereka, serta adapula Ribka, gadis yang sangat memperhatikanku selama ini.
Kuperhatikan situasi di sekelilingku dengan penuh tanda tanya. Tempat ini seperti sebuah ruangan di rumah sakit. Hal itu dapat kuketahui dari warna-warna putih yang mendominasi setiap bagian dari ruangan ini.
“Mengapa aku ada di sini? Dan mengapa pula mereka da di sini?”, tanyaku dalam hati.
Padanganku mulai beralih kepada sosok tubuh yang terbaring di atas tempat tidur yang sedang dikelilingi oleh keluargaku, sayang sekali aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang yang sedang terbujur kaku tersebut, karena tertutup oleh kepala dan tubuh mamaku yang sedang memeluk sambil menangis dengan sedihnya di atas tubuh itu.
Kuhampiri papaku yang sedang berdiri tepat di samping Mama, “Pa, ada apa ini? Mengapa kita semua ada di sini dan mengapa kita semua ada di sini? Dan mengapa kalian semua menangis?”, tanyaku dengan cemas.
Aku heran Papa diam saja seperti tidak mendengar suaraku. Kuulangi lagi pertanyaanku dengan suara yang lebih keras, tapi jangankan menjawab, menoleh ke arahku saja tidak. Beberapa saat kemudian mamaku bangkit berdiri dan memeluk papaku dengan kepala yang bersandar di dada Papa, dengan mata yang berkaca-kaca, terus memandang wajah orang yang terbaring di atas tempat tidur itu. Saat itu baru aku bisa melihat dengan jelas wajah orang yang terbaring kaku di atas tempat tidur tersebut. Seperti disambar petir rasanya tubuhku saat itu. Gemetar dan terasa goyak kakiku saat itu. Saat kulihat wajah itu yang adalah wajahku sendiri. Aku masih belum percaya akan semuanya itu. Aku tidak pedulikan apa yang baru saja kulihat, kupalingkan wajahku kepada orang-orang yang ada disitu.
“Mama, Papa, kakak,... ini Ryan, aku ada di sini!”, ucapku dengan suara keras.
Tak satupun dari mereka yang mendengarku. Harapanku yang terakhir ada pada Ribka yang berdiri sambil terisak di sisi ranjang yang lain. Kuhampiri dia, “Ika, ini aku, Ryan..., aku di sini. Tolong jawab aku!”
Ribka tetap diam saja, bahkan ketika kau menyentuhnya dan berusaha menggoyang-goyangkan bagunya supaya ia bisa merasakan kehadiranku, aku hanya seperti menyentuh udara hampa. Saat itu aku percaya kalau aku sudah meninggal, dan tubuh yang terbaring kaku itu adalah jasadku.
Dengan hati yang hancur, aku berdiri di dekat jasadku dan terasa hampa ketika tanganku mengisap wajah jasadku yang kurus dan mulai membiru. Sesaat kemudian aku berteriak, meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya.

Kembali muncul dalam ingatanku hari-hariku selama hidup di dunia. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Papa dan mamaku adalah orang Kristen KTP, yang belum lahir baru. Dalam kehidupan rumah tangga mereka selalu bertengkar. Ketika kedua kakakku laki-laki sudah sekolah di tingkat SLTA dan SLTP, mamaku kembali mengandung, ia dan Papa sangat mengidamkan seorang anak perempuan, namun kenyataannya lahirlah seorang bayi laki-laki, dan bayi itu adalah aku. Mama merawatku seperti seorang anak perempuan, ia begitu memperhatikanku dan bahkan mendominasi setiap tingkah laku dan keputusan-keputusan yang harus aku ambil. Ia sangat melindungiku bahkan aku tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat, yang layaknya dilakukan oleh anak laki-laki seusiaku.
Dilain pihak, ayahku adalah seorang yang keras dan pemarah. Ia sering kali main pukul terhadap Mama, dan kami anak-anaknya, jika ada sesuatu yang tidak dikenan hatinya. Aku benci kepada ayahku dan sering terbesit dalam benakku suatu waktu nanti aku akan membunuhnya. Aku tidak menemukan kasih yang kubutuhkan di saat aku mencari identitas diriku sebagai seorang laki-laki yang seharusnya kuperoleh dari ayah.

Menginjak usia lima belasan aku mulai merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku akan merasa nyaman bila berada dekat dengan seorang pria yang memperhatikanku. Dan lama kelamaan ini mengarah kepada perasaaan secara seksual yang lebih tertarik kepada orang berjenis kelamin sama denganku. Menginjak kuliah, aku mulai jatuh kedalam kehidupan gay, aku banyak bertemu dengan orang-orang yang memperhatikanku dan memenuhi kebutuhanku akan kasih, namun dalam bentuk yang menyimpang dan terkutuk. Seringkali aku menyadari bahwa yang kulakukan selama ini adalah salah dan sangat berdosa di mata Tuhan, karena aku hanya akan dapat menemukan identitas diri yang sejari di dalam Akkah dan aku berharga di mataNya.
Namun aku tetap keras hari dan jatuh semakin dalam, dan seringkali aku berpikir untuk bunuh firi kiha mengingat akan  rusaknya hidupku ini. Jurang keputusasaan semakin dalam dan hidupku semakin hancur. Aku berhenti kuliah, dan mencoba lari kepada nakotika dan obat-obatan terlarang yang bisa membuatjy sesaat keluar dari masalah –masalah hidupku. Sejak saar itu, hidupku makin parah, kau menjadi pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang selama bertahun-tahun. Tubuhku yang dulu berisi kini susut dan nampak kurus, tinggal kulit pembungkus tulang. Wajahku yang lumayan tampan kini peyot, kusam tak terawat.
Ribka, teman baikku sejak SMU adalah seorang Kristen yang sudah lahir baru. Sejak dulu ia sangat memperhatikanku dan aku tahu bahwa dia juga mencintaiku. Tapi ia tidak tahu akan kelainan yang ada dalam diriku. Seringkali aku merasa kasihan kepadanya. Seringkali ia berkata: “Ryan, kamu harus bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu!”. Setiap ia berkata demikian aku hanya tertawa dan menganggap ia seperti pendeta tua di gereja kami yang sering berkata seperti itu.meskipun demikian, ia tetap memperhatikan dan mengasihiku sampai hari-hari menjelang kematianku, namun ia pasti terpukul karena ia tahu aku meninggal pada saat aku terhilang dari Tuhan.
Masih aku ingat beberapa hari yang lalu, aku dan kawan-kawanku berkumpul di sebuah rumah kontrakkan seorang kawan kami. Di sana kami berpesta narkotika dan obat-obatan terlarang. Karena aku menggunakan terlalu banyak, akhirnya aku over dosis dan tidak sadar selama berhari-hari sampai nafasku yang terakhir berhembus.

Hari ini begitu mendung di pemakaman umum, sementara mereka yang mengelilingi sebuah liang kubur, berwajah suram dan kelam, sekelam warna pakaian yang mereka pakai. Tukang-tukang penggali kubur mulai menimbun peti dimana di dalamnya terdapat jasadku. Terbentuklah sebuah gundukkan tanah merah dengan sebuah salib dari kayu yang tertancap di bagian kepala dari gundukkan itu. Salib yang bertuliskan nama dan keterangan-keterangan penting lainnya tentang diriku. Orang-orang mulai menaburu gundukkan tanah merah itu dengan bunga-bunga yang berwarna-warni.
Kudekati mamaku, walaupun dengan pelukan yang terasa hampa dan terasa seperti memeluk angin. Kucium pipi mamaku untuk yang terakhir kali, sambil kubisikkan, “Mama, Ryan sayang Mama... selamat tinggal, Ma...”
Sesaat kemudian kurasakan ada dua tangan kuat yang menarikku kebelakang, sambil kumenoleh kebelakang, kulihat dua orang malaikat maut berjubah hitam dikanan-kiriku, mereka menarikku dengan keras. Aku berontak dan meronta-ronta, sambil berteriak, “Mama, Papa, tolong Ryan... Ribka tolong aku...!”
Tak ada satupun dari mereka yang ada di pemakaman itu yang menoleh ke arahku. Namun tarikkan kedua malaikat maut itu semakin keras kurasakan dan aku tak kuat lagi menahannya. Tubuhku makin menjauh, suara teriakku makin mengecil seiring dengan mengecilnya orang-orang di pemakaman itu dari pandanganku, dan akhirnya menghilang sama sekali. Saat itu aku sadar dan berbisik dalam hati, “Semuanya sudah terlambat...” 

Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

Friday, March 16, 2012

Cerpen M A N G K A T


M A N G K A T

Kaget dan tidak percaya. Itulah yang dialami Irma, begitu dia mendengar kabar, Tante Ratih meninggal. Tante yang sudah memelihara dan mau membiayai sekolah selama 6 semester, meninggal. Rasanya tidak mungkin. Pagi tadi, Irma masih bercanda, sarapan bersama, bahkan sempat mencium pipi Tante Ratih sebelum berangkat. Ah, rasanya tidak mungkin. Dea pasti bercanda.

Dengan berlari kecil, Irma menuju kantin di belakang sekolah. Begitu melihat Dea di sudut kantin, Irma menghampiri dan sengaja membuatnya terkejut.
“Hai! Melamun saja!!” seru Irma setengah berteriak di telinga Dea. Buku-buku yang ada dalam pelukannya, Irma letakkan  di meja.  Irma duduk menghadap Dea. Sapaan yang Irma perkirakan akan mendapat umpatan dari Dea, ternyata tidak mendapat tanggapan. Dengan sedikit kecewa, Irma memperhatikan wajah Dea.
“De, kamu sehat-sehat saja ‘kan?” nada suara Irma sedikit kuatir melihat wajah sahabatnya yang pucat. Kedua matanya pun memerah.
Irma memegang tangan Dea dan mengguncangnya.
“Ayolah Dea, kamu jangan begitu”
Sorot mata Dea memandang Irma dengan raut muka yang tidak berubah.
“Ir…, kamu tidak percaya dengan berita yang aku sampaikan tadi. Ir, aku tidak bohong. Tante Ratih benar-benar meninggal jam 9.00”
Ada suatu aliran hangat yang mendesak  ke dada, saat Irma mendengar ucapan Dea yang serius. Antara percaya dan tidak, Irma harus menerima kenyataannya. Ingin rasanya Ia menangis, tetapi rasanya tidak mampu. Mendadak kepala Irma menjadi sakit, dan wajahnya menjadi pucat. Sebagian dirinya, tetap menolak kenyataan meninggalnya Tante Ratih.
Sekarang gantian Dea yang merasa kuatir.
“Ir, sebaiknya kita pulang yuk. Aku rasa, mereka yang di rumah sudah menunggumu.”
Dengan lesu, Irma menganggukan kepalanya. Diikutinya saran Dea. Sambil beriringan mereka berdua berjalan meninggalkan kantin sekolah. Sejak kecil, Dea sudah menjadi sahabat, sekaligus menjadi tempat Irma bercerita. Kata orang, Dea dan dirinya memiliki kemiripan. Baik raut wajah, cara berjalan bahkan cara bicarapun sama. Bedanya, mereka berdua tidak sedarah tetapi satu perasaan. Dan mereka sama-sama mencintai Tante Ratih.

Rumah Tante Ratih yang juga tempat tinggal Irma sejak ayah dan ibunya meninggal, terlihat ramai. Tergesa, Irma masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, terlihat peti mati dari jati yang diukir sepanjang tepiannya. Bunga mawar tersusun rapi membentuk salib, berada di bawah peti. Sepasang lilin putih menyala, berada di atas meja. Foto Tante Ratih, tersenyum. Sorot matanya, seolah menatap Irma dengan lembut, berkata “Selama tinggal Irma”
Kedua lutut Irma menjadi lemas. Matanya berkunang-kunang. Mendadak semuanya menjadi gelap.
“Ir, Irma sadar. Sadar Ir!”  seru seseorang sambil menepuk-nepuk pipi Irma. Bau minyak putih yang tajam, membuat Irma tersadar dari pingsannya. Kelopak mata Irma sedikit terbuka, ketika kesadarannya mulai pulih. Antara sadar dan tidak, rasanya Irma baru saja melihat Tante Ratih berada di sampingnya.
“Tante…jangan tinggalkan Irma, Tante” rintih Irma perlahan.
“Ir, kamu harus tabah. Tabah ya Ir” kata Dea terisak.
Irma mencoba bangun dari pembaringan. Sambil terhuyung-huyung, Irma berjalan menuju ruang tamu. Ia tidak menghiraukan orang-orang yang memandangnya dengan sorot mata kasihan.
“Tante, kenapa Tante tega ninggalin Irma? Bagaimana dengan Irma nanti Tante? Kenapa Tante tidak tunggu Irma….?” Tangis Irma meledak saat melihat mayat Tante Ratih terbaring dalam peti. Dengan cepat, Dea memeluknya.
“Sudahlah Ir. Kita harus menerima kepergian Tante Ratih. Relakan Ir! Sekarang Tante Ratih sudah berada dengan Bapa di surga” hibur Dea dengan suara serak.

Dea, membimbing Irma ke kamar. Dibiarkannya Irma menangis sepuasnya. Di dalama kamar, Dea mendengar, di luar suara anak-anak Tante Ratih  yang baru datang dari luar kota. Mereka tampaknya menangis dengan histeris.

Acara pemakaman berjalan dengan lancar. Setelah semuanya selesai, di rumah almh. Tante Ratih masih tinggal beberapa kerabat dari luar kota. Ketiga anak Tante Ratihpun masih ada. Terus terang keberadaan orang-orang itu, membuat Irma tidak tahu harus berbuat apa.  
Meskipun Irma sudah dianggap anak oleh Tante Ratih, tetapi Irma tidak mengenal dekat dengan anak-anak Tante Ratih. Saat Irma tinggal dengan Tantenya, saat itu anak Tante Ratih sudah berada  di luar kota  dan berkeluarga. Mereka jarang mengunjungi  ibunya. Hal ini yang membuat Irma tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Sikap ketiga anak Tante Ratih, mulai berbeda. Mereka menghentikan obrolan, apabila tanpa sengaja Irma mendekati. Irma menjadi tidak enak. Rumah yang dulunya menjadi surga baginya, dalam beberapa hari rasanya menjadi neraka.

“Dea, aku harus bicara sama kamu” kata Irma begitu bertemu Dea di kampus.
“Baiklah. Kita bicara di kantin saja yuk!” ajak Dea sambil memegang tangan Irma.
Begitu sampai di Kantin, mereka memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas minuman dingin.
“De, aku pikir, aku harus keluar dari rumah Tante Ratih.” kata sendu.
“Kenapa Ir?” tanya Dea terkejut.
Irma menceritakan apa yang terjadi di rumah Tante Ratih. Sikap ketiga anak Tante Ratih yang seolah-olah memusuhinya.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Ir” sela Dea.
Irma menggeleng.
“Semuanya benar. Dea, aku masih memiliki beberapa tabungan dan beberapa perhiasan warisan orang tuaku. Aku rasa, masih lebih untuk membayar kamar kos dan makan untuk beberapa bulan, sampai aku mendapat pekerjaan.”
“Kuliahmu bagaimana Ir?”
“Aku akan ambil kuliah sore. Tolong bantu aku cari informasi tempat kos dan kalau bisa, aku perlu juga rekomendasi Papamu untuk mendapat job,  gimana De? please….” Pinta Irma dengan mata berkaca-kaca.
Melihatnya Dea jadi tidak tega.
“Iya… deh! Untuk pekerjaan, aku akan minta tolong Papaku. Tapi, sebelumnya kamu harus janji, belum atau sudah dapat pekerjaan, asal kamu sudah putuskan untuk keluar dari rumah Tante Ratih, kamu harus tinggal di rumahku.”
“Tapi Dea…”
“Tidak ada kata tapi, tapian. Pokoknya, kamu harus ikuti saranku. Kamu tidak usah kuatir, Papa dan Mama yang memintanya untuk membicarannya  masalah ini dengan kamu” potong Dea dengan serius, sambil memegang tangan Irma.
Irma tidak tahu harus berkata apa. Matanya menjadi hangat. Hatinya terharu. Tidak Irma sangka, dunia masih bermurah hati padanya. Dan, ternyata Tuhanpun tidak pernah meninggalkannya. Dia selalu ada,  menjaga, melindungi bahkan menyediakan keperluannya tepat pada waktunya.
“Terima kasih Tuhan untuk semuanya” bisik Irma dalam hati. (Yen – BLBS)

Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

MamaOla