Key, begitu ia biasa dipanggil, datang bareng adiknya ke studio pemotretan. Kayaknya Key akrab banget deh sama adiknya ini. ”Saya deket amat ama adik. Apa-apa dia suka cerita ama aku, temen sharing. Saling menguatkan satu dan lainnya” ujar pemilik nama lengkap Karen Theresia Pooroe ini. Key yang jebolan Indonesian Idol 2004 ini mengaku mencicipi masa remaja cuman sebentar, soalnya banyak kerjanya! Nah lho, mau lebih tau lagi tentang pribadinya? (est, foto gembira)
.
KAREN IDOL
PERNAH DIKELUARKAN SEKOLAH
Sekarang lagi ngapain aja nih?
Lagi sibuk nyanyi dan buat album, diproduksi sama Ruth Sahanaya Production.
Wah asik dong, album apa?
Kebanyakan lagunya pake bahasa Inggris. Karena memang ada rencana mau dilempar ke pasar Asia. Ada beberapa musisi juga yang terlibat, selain Sai (Oom-nya Key, -red) sebagai vocal director, dan salah satu lagu ciptaannya Keith Martin. Doain aja karena album agak sulit keluar.
Ceritain dong sedikit aja tentang keluargamu?
Keluarga saya orang biasa-biasa saja, Papaku guru di Internasional School, Mama ibu rumah tangga. Sekarang saya merasakan bagaimana hidup di keluarga saya, betapa indahnya keluarga saya. Komunikasi di antara kami bagus, dan saya menyadari betapa indahnya hidup di keluargaku.
Ceritain dong masa remajamu
Waktu SMP hidupku terbawa dengan kehidupan yang ngaco. Saya suka pelayanan dimana-mana tapi hidupnya masih ngaco. Nyanyi di gereja, hanya nyanyi aja, saya tidak merasakan hadirat Tuhan. Saya tau itu dosa, itu menajiskan hadirat Tuhan. Saya juga melakukan banyak kesalahan, membuat orang sakit hati, mengecewakan Papa Mamaku, di sekolah juga sering bolos, masih suka main-main.
Tapi saya merasakan masa remaja hanya sebentar aja. Apalagi setelah Tuhan kasih saya kepercayaan di Indonesian Idol. Masa remaja saya jarang main. Hanya sebentar. Saya mengutamakan cita-cita saya dulu. Hidup saya jadinya hanya kerja dan kerja.
Kalo perjalanan karier kamu?
Aku dari kecil ikut paduan suara-paduan suara di gereja. Dan saya menjadi peserta paling kecil, SMP. Terus aku ikut paduan suara ke Australia, Olimpic Choir. Disitu saingannya berat banget, tapi kita dapet juara dapet mendali emas, kita bawa nama Indonesia. Ikut pemilihan model salah satu produk lotion. Itu pemilihannya dari anak-anak SMP seBandung. Aku jadi juara 3. pokoknya lucu banget deh! Aku nga biasa jalan di catwalk, tiba-tiba jadi jaura 3. trus pernah ikut lomba nyanyi di TVRI. Setelah itu baru ikut Idol deh.., rekaman dan nyanyi-nyanyi offair…
Bagian mana dalam hidupmu yang menurutmu paling berat?
Karena kenakalan saya, saya pernah dikeluarkan dari sekolah. Membuat Mama jadi sakit, keluarga jadi kecewa sama aku, dan dari situ saya mulai mau hidup baik. Dan saya membuat fondasi yang kuat supaya saya tidak goyang. Saya mencari itu sendiri. Aku diajak temen ke komsel, share, banyak dapet kekuatan baru. Dari situ saya dapet kekuatan baru, untuk bangkit.
Ada pengalaman spiritual menarik yang bisa dibagiin?
Saya itu kurang peka, saya hanya melihat, karya Tuhan nyata dalam hidup saya. saya melihat karya Tuhan itu natural terjadi dalam diri saya. saat kita buka hati, dan belajar peka pada apa yang tuhan kasih buat kita. Menurut saya kehidupan kita semua ini saja adalah mujizat Tuhan, dan merupakan pengalaman yang berharga untuk kita menjalani hidup kit ake depan.
Saya lebih melihat karya Tuhan itu nyata dalam hidupku. Saya hidup dalam keluarga yang cinta Tuhan, keluarga yang utuh. Sekarang saya melihat karya Tuhan nyata dalam hidup saya. Tuhan berkata ini baru sedikit yang kamu lihat, Aku sudah menyediakan banyak buat kamu. Yang saya jalanin itu masih sedikit, di depan ada yang lebih besar lagi.
Punya pegalaman doa yang langsung dikabulin?
Pengen punya mobil, saya udah lama pengen punya mobil. Dalam beberapa bulan masuk di idol, aku bisa beli mobil Honda Jazz baru. Padahal cita-cita saya dulu ah hanya jip kecil kayak Katana, tapi Tuhan kasih saya lebih. Aku sering gitu, aku mintanya apa, Tapi Tuhan kasih saya lebih dari yang aku bayangin. Prinsip aku, apa yang kita jalani, kita harus berpegang sama Tuhan aja. Nga ada yang lain kita pegang selain Tuhan.
Prinsip yang kamu pegang?
Saya mau menjadi apa adanya diri saya. Saya nggak mau jadi orang munafik. Saya bangga dengan diri saya.
Punya cita-cita/ambisi kamu yang belum tercapai gak?
Pengen punya album sendiri (sedang dalam proses) aku lebih megembangkan talenta saya dibidang nyanyi, untuk jadi profesional. Saya nga mau main-main dalam hidup aku. Aku mau mencapai goal saya.
Sebutkan 3 sifat yang mengambarkan kamu
Tengil, bagi orang yang baru liat aku, pelupa berat, ampe nyusahin orang, terutama barang, nggak bisa diem. Itu udha bawaan dari kecil
Bagaimana cara kamu membagi waktu?
Kebetulan keluarga aku kompak banget, saat aku nyanyi, mereka sempetin waktu untuk nonton aku. Untuk sekarang aku belum merasa kesulitan dalam mebagi waktu untuk keluarga. Mungkin yang saya nggak bisa bagi waktu itu untuk istirahat. Dan bagi waktu dengan kerja. Belakangan ini badan saya lagi kecapeaan. Sering sakit and kurus banget.. makan banyak, tapi aku curiga kalo aku cacingan hahaha…
Banyak remaja yang minder dengan keberadaan mereka, apa pesan-pesan kamu buat mereka?
Tuhan menciptakan kita itu berbeda, sekalipun kembar , talenta itu berbeda. Cari talenta kamu dimana. Tanamkan dalam hati kalo Tuhan itu menciptakan kalian itu indah, serupa dengan gambarannya, berbarti kalian itu luar biasa.
Bisa kasih tips nga buat pembaca GFresh!, kalau mereka mau merintis nyanyi seperti kamu, harus punya apa sebagai modal?
Lebih banyak belajar, jadi saat waktu Tuhan sudah dateng, kita bisa kasih yang terbaik. Harus banyak berlatih, harus rendah hati, punya visi dan misi kamu kedepan mau jadi apa. Itu harus didoain, dan dikerjakan sungguh-sungguh. Mungkin banyak orang nyangka, kalau jadi artis itu harus cantik, bla-bla, tapi kita harus ingat Tuhan ciptain kita itu unik, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Percaya diri, dan yakin, dan nggak lupa berdoa.
Apa yang paling kamu syukuri dalam hidup?
Saya besyukur aku jadi aku sekarang ini. Aku bersyukur Tuhan menciptakan sebagai Karen,aku bersyukur atas karya Tuhan dalam pekerjaanku, atas semua orang-orang yang menyayangi aku, keluarga aku, temen aku.
Pesan-pesan buat pembaca GFresh?
Jalanin hidup dengan sebaik-baiknya, jangan sia-siakan waktu, arkena waktu tidak kerasa jalannya, cepat. Dengan kalian tidak melakuakan apa-apa itu sayang banget. Buatlah dir kalian itu se produktif mungkin selagi kalian muda.
DATA DIRI
Nama keren :”Key”.
Birth : 12 November 1987
Anak ke : 1 dari 2.
Ayah : Robert Pieter Pooroe
Ibu : Liesye Hermina Pooroe.
Gereja : JPCC
Prestasi : Olimpic Choir di Linz Austria thn 2000, Testimonial Marina hand & Body Lotion 2004, Indonesian Idol 2004, dll
FAVORITE
Hobby : Jalan-jalan, nonton, hang out.
Makanan : Orak arik buncis, spaghetti, semur ayam.
Minuman : jus Melon.
Tokoh : “Patrick”.
Warna : Merah
Film : The Sound Music, Dream Girl, Fithing temptation.
Musik : Jazz, pop, blues, R & B, Clasic Rock…
Buku : Your Best Life now…
Musisi : Sade, Marry J Blide, Take 6.
Showing posts with label kesaksian. Show all posts
Showing posts with label kesaksian. Show all posts
Saturday, January 28, 2012
Friday, January 27, 2012
BERSAKSI, DUH SUSAH BANGET SIH!
Ambil hp kamu. Liat phone book di hp kamu sekarang. Ya, sekarang!
Liat lagi satu-satu nama-nama temen kamu yang tersimpan disitu. Berapa banyak dari mereka yang belum pernah mendengar tentang kebenaran Yesus Kristus?
Liat tetangga kita. Atau teman les kita. Atau temen sebangku kita di sekolah. Atau mungkin saudara kita. Atau temen-temen di friendster kita. Apa ada di antara mereka yang belum mengenal or bahkan nggak tau sama sekali tentang Tuhan Yesus? (dp/erl/F!)
BERSAKSI, DUH SUSAH BANGET SIH!
MENJADI TERANG ADALAH ‘BERSAKSI’
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)
GF! pernah mikir, apakah yang dimaksud dengan ‘terang’ dalam ayat diatas? Ada yang bilang, jadi ‘terang’ adalah ‘berbuat baik dan berpola hidup yang baik’. Apakah kalo kita bertingkah laku baik dan melakukan perbuatan baik itu berarti kita udah jadi ‘terang’? No! Ternyata tidak! Nah lho! Kalo kita liat di ayat tersebut, ‘terang’ bukanlah perbuatan baik, tapi berfungsi agar perbuatan baik yang kita lakukan bisa dilihat orang dan kemudian orang-orang itu bisa memuliakan Bapa/Yesus.
Jadi, ‘terang’ adalah: ‘bersaksi tentang Yesus’ atau ‘berbicara/memberikan informasi tentang Yesus’. Lho kok bisa? Gini, kalo kita berbuat baik (atau berpola hidup baik), Tuhan bilang kita nggak bisa berhenti disitu aja, tapi orang lain harus tau peruatan baik kita dan kemudian memuliakan Yesus karenanya. Nah gimana caranya orang lain tau dan kemudian memuliakan Yesus kalo kita nggak kasih tau (bersaksi/berbicara/memberikan informasi) tentang Yesus? Tul nggak?
Ayat diatas sering dijadiin dalih/alasan buat kita nggak bersaksi/menginjili. Kita biasanya berdalih kalo bersaksi itu nggak perlu lewat perkataan, cukup dengan perbuatan (ngaku deh, hehe). Ternyata, sebaliknya bo! Ayat ini justru adalah alasan buat kita wajib bersaksi (dengan perkataan/informasi).
Misalnya, kita ngelakuin kegiatan sosial dengan kasih makan gratis ke gelandangan. Apa kita udah jadi ‘terang’? Belum, kita baru ‘ngelakuin perbuatan baik’, si gelandangan itu hanya akan berterimakasih dan memuji kebaikan kita (bukan memuji kebaikan Tuhan Yesus!). Kita baru jadi ‘terang’ kalo kita juga bersaksi/kasih tahu gelandangan itu alasan kenapa kita ngelakuin perbuatan itu (misalnya kasih tahu kalo kita ngelakuinnya karena Tuhan Yesus yang nyuruh kita), maka gelandangan itu akan ‘ngelihat perbuatan baik kita lalu memuliakan Bapa/Yesus’ sesuai dengan ayat di atas. Nah sekarang ngerti kan? Orang-orang nggak bakalan pernah memuliakan Yesus buat segala sesuatu yang kita kerjakan atau yang kita punya dalam hidup kita kecuali kalo kita mengarahkan perhatian mereka pada Yesus! Satu-satunya cara mengarahkannya adalah dengan cara bersaksi tentang Yesus.
Tapi bukan berarti kita berhenti berbuat baik (karena kalo kita berbuat baik pada orang artinya kita berbuat baik pada Yesus juga lho, baca Matius 25:44-45), tapi ternyata berbuat baik aja nggak cukup buat kita bisa jadi ‘terang’.
“TERNYATA KALO KITA HANYA BERBUAT BAIK (MISALNYA DENGAN MEMBERI MAKAN GELANDANGAN), KITA BELUM JADI TERANG!”
KABAR BAIK
Kata Ray Comfort (pemimpin pelayanan Way of Master bareng Kirk Cameron) penginjilan atau bersaksi itu artinya membagikan iman kita ama orang lain. Ato kalo sederhananya, penginjilan itu sering didefinisikan sebagai memberitakan kabar baik. Kabar baik apaan? Ya kabar baik kalo Yesus udah datang ke dunia buat mati menebus dosa kita en kita yang mo percaya ama Dia bisa masuk Surga en menikmati karunia hidup kekal. Satu hal yang nggak boleh kita lupa waktu bersaksi, yaitu Yesus-nya. Soalnya tujuan kita PI itu ‘kan mengenalkan Yesus ama orang-orang yang emang belum kenal Yesus. Gimana caranya? Jangan kuatir, GF! bakalan kasih cara-caranya deh!
BERSAKSI NGGAK SAMA DENGAN MEMENANGKAN JIWA!
Ini yang banyak jadi ‘stress’ buat orang Kristen. Ada yang bilang kalo kita harus memenangkan jiwa. Ternyata, Tuhan nggak pernah kok bilang secara langsung kalo kita harus memenangkan jiwa! Tuhan hanya menyuruh kita buat bersaksi! Beda lho antara bersaksi dengan memenangkan jiwa!
“Sebab Kristus mengutus aku (Paulus) bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil…” (1 Korintus 1:17)
“…dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah 1:8b)
Analoginya ama dengan situasi dalam pengadilan. Ada saksi dan ada pembela. Tugas saksi adalah menerangkan apa yang dia ketahui, bukan buat memenangkan perkara. Sedangkan seorang pembela bertugas untuk berusaha menyelesaikan suatu perkara dengan berhasil. Emang suatu sukacita kalo kita bisa memenangkan jiwa, kalo kita emang bisa. Tapi Tuhan hanya mewajibkan kita buat bersaksi.
BERSAKSI ITU WAJIB!!!
“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15).
Semua orang percaya itu wajib bersaksi. Tapi sekarang ada anggapan kalo yang harus menginjili atau bersaksi itu hanya orang yang udah punya gelar Ev (evangelis), Pdt (pendeta), ato yang emang punya panggilan (jawatan) sebagai penginjil ato cuma mereka-mereka yang punya sebutan hamba Tuhan.
Oke, wait a second, who says so? Alkitab nggak pernah mengajar kita cuman sebagian orang aja yang harus penginjilan, yang lain cuma jadi penonton. Nggak lagi. Kalo dibilang tugas penginjilan buat orang yang punya sebutan hamba Tuhan, itu benar karena semua orang percaya itu adalah hamba Tuhan. Coba kita liat di 1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”
Menjadi saksi Kristus nggak cuman lewat tingkah laku dan pola hidup sehari-hari, tapi juga harus lewat kesaksian iman secara verbal!
MOTIVASI UNTUK BERSAKSI
Apa yang mendorong kita buat bersaksi? Saat kita nggak punya keberanian, atau sibuk atau malas, harus ada motivasi yang bisa bikin kita bangkit dan ngelakuin tugas kita. Tapi motivasi ini harus tulus dan murni. Apa aja sih?
1. Kasih Yesus
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3:16)
“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami..” (2 Korintus 5:14)
Paulus sangat terbeban buat memberitakan Injil karena kasih Kristus yang memotivasinya. Paulus telah diberi kasih karunia keselamatan olehNya, diapun rindu ngebagiin ke orang lain.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
2. Keinginan Tuhan sendiri
“…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13).
Tuhan sendirilah yang ingin atau berkehendak agar semua manusia bisa mendengar kabar baikNya. Dan Tuhan akan memperlengkapi dan memimpin kita dengan Roh KudusNya biar kita bisa melaksanakan keinginan Tuhan ini. Kita hanya perlu taat pada pimpinan Roh Kudus. (baca 3 Langkah Mudah Menghilangkan Kesukaran Bersaksi).
3. Amanat Agung
Bersaksi adalah respon murid-murid Yesus (termasuk kita juga) terhadap perintah Yesus sebelum Dia naik ke surga. Yang kita kenal dengan nama Amanat Agung.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).
Disini ada yang bisa memotivasi kita yakni bahwa Yesus akan menyertai kita (melaksanakan Amanat Agusng) senantiasa sampai akhir jaman! So, jangan takut!
4. Kita punya utang!
“Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.” (Roma 1:14)
Paulus ngerasa punya utang pada Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkannya, ia ngerasa harus bayar utang itu dengan cara memberitakan Injil pada orang lain. Pernah nonton film Pay It Forward? Seorang anak kecil punya misi buat berbuat baik pada tiga orang, dan tiga orang itu ‘berhutang kebaikan’, tapi harus dibayar dengan cara melakukan kebaikan ke tiga orang lainnya.
“Kita telah diselamatkan oleh Tuhan, bayarlah ‘utang’ keselamatan itu dengan cara memberitakan kabar baik keselamatan itu ke orang lain.”
5. Tuhan segera datang!
“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14)
Umat yang cinta Tuhan pasti pengen Tuhan cepetan datang kan? Kalo Tuhan datang berarti udah tiba kesudahannya. Dan Tuhan bilang ‘kesudahannya’ tiba itu kalo injil sudah diberitakan di semua bangsa! Ini bisa memotivasi kita! So, ayo beritakan Injil Kerajaan Tuhan!
APA SYARAT BERSAKSI?
Ada 3 macam sikap tentang mengabarkan Injil: (1) orang yang bersemangat tapi nggak punya pengetahuan yang cukup tentang injil, biasanya sih bisa jalan tapi tanpa arah atau malah salah. (2) yang punya pengetahuan yang cukup tapi nggak punya hati buat bersaksi, jadinya dia nggak ngelakuin apa-apa en nggak ada dalam rencana Allah. (3) punya hati buat bersaksi dan juga punya pengetahuan yang cukup tentang Injil. Semoga kita semua termasuk yang ketiga.
Terus, gimana supaya kita bisa sampein kabar baik itu? Well, GF! nggak mau kasih metode-metode tertentu karena yang penting bukan metodenya, tapi pimpinan Roh Kudus waktu kita mau bersaksi tentang Yesus. GF! percaya kalo kita berani ambil langkah pertama buat bersaksi, Tuhan juga bakal bantu kita buat langkah-langkah selanjutnya. Tapi kalo kita sendiri nggak pernah berani melangkah, kita juga nggak akan ngalamin gimana Tuhan ngelatih kita dan nolong kita buat jadi saksi-Nya itu. So, sebelumnya GF! mau ingetin lagi kalo buat bersaksi, kita perlu:
1. Mengalami dulu keselamatan itu. Ya iya lah! Apanya yang mau disaksiin kalo kita sendiri belum terima keselamatan itu sendiri! Dan jangan sampe deh: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27)
2. Bersedia alias mau (poinnya bukan bisa nggak bisa, tapi mau dulu atau nggak. Kalo mau, Tuhan akan mampukan dan ngelatih kita, percaya deh!). “…kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera.” (Efesus 6:15).
3. Berani melangkah. nggak takut; lawan ketakutan dan minta keberanian. Para rasul juga berdoa minta keberanian, baca Kisah 4:29-31 dan Paulus juga bilang dia pernah gentar tapi dia nggak dihentikan olehnya, baca 1 Korintus 2:3.
4. Bergerak dengan hati yang penuh belas kasihan. minta supaya Tuhan kasih hal itu pada kita. Kesaksian sejati seharusnya bukan karena di-program-kan, tapi karena hati kita emang dipenuhi belas kasihan. Kalo hati kita penuh belas kasihan, mau di gereja dicanangin program penginjilan atau nggak, kita akan tetap gerak sesuai pimpinan Roh Kudus.
5. Percaya dan bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus, termasuk waktu kita membuka mulut dan mulai nyampein pesannya. Kalo kita menginjili secara langsung, nggak usah terlalu dipusingin ama fasih nggaknya lidah kita. Kita emang perlu belajar supaya bisa berkomunikasi dengan baik, tapi jangan gara-gara ngerasa kita nggak pandai bicara jadi ngehalangin kita beritain Injil. Soalnya, Injil disampaikan bukan dengan kekuatan hikmat dan perkataan manusia, tapi Roh-Nya. Jadi, percaya aja! (Liat deh pengakuan Paulus waktu ngejangkau jemaat di 1 Korintus 2:1-5).
“Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.” (2 Timotius 1:8)
APA YANG HARUS DIBAGIKAN?
Beritain kabar baik/Injil itu bisa dengan berbagai cara, tapi yang paling penting pesannya bisa sampai. Nah, kalo kita punya kesempatan buat memberitakan Injil secara langsung (verbal), ada beberapa hal yang bisa kita sampein ke orang itu.
1. Manusia udah berdosa sehingga kehilangan kemuliaan Tuhan dan pasti binasa.
Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia punya kecenderungan dan pasti pernah bikin dosa. Dosa yang misahin manusia dengan Allah. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23a). Dan upah dosa adalah maut! (Roma 6:23).
2. Manusia nggak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Manusia berusaha menghampiri Allah, tapi nggak ada satupun cara bisa berhasil. Amal perbuatan nggak bakalan bisa menebusnya dari dosa, agama pun demikian. Kita nggak bisa nyamperin Tuhan karena dosa kita. Yang bisa bikin hubungan kita kembali baik dengan Tuhan adalah kalo Tuhan yang nyamperin kita! “…pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,” (Titus 3:5)
3. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan.
Bisakah Tuhan menghampiri kita? Tentu bisa! Dan udah dibuktiin dengan menjelma jadi manusia 2000 taon yang lalu, lalu menebus kita dari dosa dengan darahNya, darah Yesus.“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12)
Gimana bisa Yesus jadi Juruselamat kita? Karena Dia udah berkorban dan menebus kita dari dosa, seperti yang Paulus bilang:
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (1 Kor 15:3-4)
Jadi liat kan sebetulnya intinya kabar baik yang harus kita bagiin ke orang-orang itu nggak lain adalah:
1. Kristus mati karena dosa-dosa kita
2. Kristus dikuburkan
3. Kristus bangkit (ending-nya bukan di kematian, tapi Kristus juga bangkit dan hidup)
Berikut ini beberapa hal dasar yang bisa kita bagiin. Walau ini bisa jadi semacam panduan, tapi jangan kaku ya. Bebasin Roh Kudus buat tuntun kita. Bisa jadi kita nggak punya kesempatan bicara banyak atau buka Alkitab segala. Jadi, sambil ngertiin poin-poin ini, tetaplah bergantung sepenuhnya ama Roh Kudus. (poin-poin ini bisa kamu gunting dan lipat biar bisa dibawa-bawa)
DIKOTAKIN DI PINGGIR BIAR BISA DIGUNTING:
1. Sudut pandang Tuhan tentang manusia
Sampein kalo Tuhan mengasihi kita semua (termasuk dia) dan menciptakan kita supaya kita kenal Tuhan secara pribadi. Tuhan punya rencana yang indah buat kita.
Referensi ayatnya, misalnya: Yohanes 3:16 dan Yohanes 17:3
Nah, tapi ternyata ada yang ngehalangin kita buat kenal Dia/bersekutu secara pribadi denganNya. Apa itu?
2. Kondisi kita sebagai manusia yang berdosa
Keadaan kita sebagai manusia adalah berdosa dan gara-gara dosa itu, kita terpisah dari Tuhan. Akibatnya, kita nggak bisa ngalamin Dia secara pribadi dan juga kasih dan rencanaNya. Dalam hal ini, kita bisa bagiin kalo nggak ada satu manusia juga yang nggak pernah bikin dosa. Semua orang udah berbuat dosa dan upah dosa itu maut.
Dosa secara sederhana adalah semua bentuk pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4), sedangkan maut itu artinya perpisahan dengan Tuhan yang bikin hidup nggak bersemangat, tanpa tujuan, hampa, dan ujungnya adalah hukuman di neraka yang berarti juga kematian kekal.
Referensi ayat: Roma 3:23, Roma 6:23
Terus, gimana supaya dosa kita bisa diampuni dan kita bisa berhubungan lagi dengan Tuhan?
3. Kasih Karunia Tuhan
Dosa kita nggak bisa dihapus dengan perbuatan baik, amal, kegiatan-kegiatan agama sekalipun, apalagi harta (baca Yesaya 64:6, Yesaya 1:11-20, dan Matius 16:26 untuk kita tau pandangan Tuhan terhadap usaha manusia buat ‘nyuciin’ diri dari dosanya). Tapi Yesus Kristus-lah satu-satunya jalan yang bisa ngehapus/nebus dosa kita dan bisa bawa kita kembali ngalamin Tuhan en berhubungan denganNya, yaitu dengan mati disalib dan kemudian bangkit lagi.
Referensi ayat: Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, 1 Timotius 1:15
Sebenernya sampai disini udah cukup. Tapi dengan bantuan Roh Kudus, kita bisa berlanjut ke tahap berikutnya:
4. Meresponi Kasih Karunia Tuhan
Tantang orang itu buat terima Yesus Kristus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya karena cuman dengan begitulah kita bisa kenal Tuhan secara pribadi dan ngalamin lagi kasihNya sesudah ngalamin pengampunan. Nah, kalo orang itu mau datang pada Yesus kita bisa pimpin orang itu buat berdoa. Tuntun orang itu dengan cara kita berdoa dan minta dia ngulangin doa kita. (Inget ya, tugas kita beritain kabar baik, sedangkan yang bikin orang mau bertobat dan lahir baru adalah Roh Kudus). Setelah berdoa, teguhin dia kalo dosanya udah diampuni dan namanya udah tercatat di Sorga, bukan karena perbuatan baik dia, dsb, tapi karena dia percaya pada Yesus. Trus, dorong dia deh buat terus bertumbuh dalam Yesus.
Referensi ayat: Roma 10:9–10, Efesus 2:8-9
DUH SAYA NGGAK BISA!!!
4 LANGKAH MENGHAPUS KESUKARAN BERSAKSI
Ada banyak alasan dan kesukaran buat kita memulai bersaksi, biasanya ada 4 hal yang bikin kita nggak melangkah. Mari kita hapus satu persatu kesukaran itu!
1. KESUKARAN PERTAMA: “Gue nggak bisa bikin dia bertobat!”. Kalo ini jadi penghalang kita bersaksi, baca lagi dari awal deh! Bersaksi nggak sama dengan memenangkan atau mempertobatkan jiwa!
2. KESUKARAN KEDUA: “Gue nggak bisa ngomong! Gue nggak berani!”. Taukah kamu kalo dalam penginjilan, Roh Kudus sangat berdaulat disini? “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1 Korintus 2:4). Paulus juga banyak ngalamin pertolongan Tuhan waktu nginjilin, baca di 2 Korintus 2:12.
3. KESUKARAN KETIGA: “Gue nggak tau harus melakukan apa!”. Nah, kalo hal ini… kamu harus belajar, caranya? Baca terus deh, GF! bakalan kasih tau kamu apa yang harus dilakuin!.
4. KESUKARAN KEEMPAT: “Gue takut ditolak!” atau “Gue takut diejek!” atau “Gue malu!”. Selain kita harus tau kalo Roh Kudus bakal bekerja waktu kita bersaksi, GF! punya tips-tips khusus biar kita nggak lagi takut ditolak atau diejek atau merasa malu, baca deh: ‘TIPS MUDAH BERSAKSI’.
“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5)
1001 CARA BERSAKSI
1. Langsung (dari manusia ke manusia)
Ngobrol ama temen/orang yang dikenal. Survey membuktikan kalo kebanyakan orang bertobat gara-gara kesaksian teman dekatnya. Artinya salah satu metode penginjilan yang paling efektif itu adalah kesaksian. Makanya nggak heran kalo Yesus nyuruh kita jadi saksiNya. Ada juga yang pake Phone evangelism (kita buka buku telepon, pilih satu nama secara acak, terus telepon en langsung bersaksi). Ada juga yang disebut Door to door evangelism (Caranya kita jadi kayak salesman. Kalo salesman nawarin barang dari rumah ke rumah, kita nawarin Injil dari rumah ke rumah. Resiko dimarahin, ditolak pasti ada). Atau Man to man evangelism (biasanya dilakuinnya di tempat umum, kayak di mall, angkot, tempat main, dll. Caranya kita liat sekeliling kita, pilih orang, terus dekatin orang itu en langsung bersaksi).
2. Lewat media
Menyampaikan kabar baik tapi dengan media perantara (baik benda maupun cara), misalnya traktat, buku, selebaran, majalah, film, televisi, musik, sulap, drama, radio, konser, game, internet, T-shirt (pakaian), stiker, dan lain-lain.
TIPS MUDAH BERSAKSI
1. Kayak yang dibilang tadi, kalo kita mau bersaksi, halangan yang paling sering muncul adalah: ‘takut diejek’, ‘takut ditolak’, atau ‘takut didebat’ atau ‘malu’. Nah, ini karena kita berhadapan dengan manusia lain, betul? So… kalo emang itu yang jadi masalah, kita bisa pakai media, yaitu traktat (atau majalah). Taon 80-90an sempat ngetrend yang namanya traktat. Traktat itu sebutan buat ‘komik’ kecil yang ukurannya kira-kira 15x8 cm. Isinya juga paling banyak 10 lembar. Sama kayak komik, traktat juga ada gambar, dialog en cerita, yang biasanya diambil dari Alkitab. Dulu sempat jadi trend penginjilan traktat. Maksudnya orang Kristen sibuk bagiin traktat ama semua orang. Tapi sekarang traktat udah jarang keliatan lagi. Tinggalkan traktat di meja pas kita pulang dari kantin, dari bioskop, atau di manapun. Atau poskan lewat surat. Atau langsung kasih ke orang lain. Dan kalo emang Roh Kudus menghendaki kita bisa tinggalkan traktat itu di tempat sampah sekalipun! Setelah itu, Roh Kudus akan bekerja. Mungkin nggak langsung, bahkan mungkin bisa bertaon-taon baru ada dampaknya. Banyak kesaksian udah terjadi lewat traktat. Traktat bisa kamu dapatkan di toko buku Kristen (biasanya di TB Kalam Hidup), atau kirim surat ke PO BOX 1419 Surabaya 60014, atau Kotak Pos 1147 Bandung, atau Kotak Pos 1290 Surabaya 60012.
2. Kalo kita takut ditolak, maka bikin strategi biar orang lain yang ngehampirin atau bertanya duluan ke kita. Misalnya pake simbol, lencana, bawa atau pake sesuatu yang bikin orang bertanya, dan buat ngejelasinnya kita bisa kasih traktat ke dia atau ngomong langsung. Misalnya kita bisa pake t-shirt bertema Kristen yang mengundang orang lain bertanya.
3. Ikutin persekutuan doa, atau gabung dengan komsel (baca edisi lalu tentang komsel), di sana kamu bisa berlatih buat bersaksi. Kalo ada kesempatan buat bersaksi, berdirilah dan ucapkan kesaksian kamu, pengalaman kamu bersama Tuhan dsb. Itu akan melatih dan bikin kita terbiasa bersaksi. Nggak bakalan ada yang menolak atau mengejek kalo disitu kan?
4. Punya temen yang juga punya hati buat bersaksi, biar tambah semangat. Kita bisa melakukannya bersama-sama, atau bercerita pengalaman bersaksi, atau saling bertukar pikiran, atau saling mendoakan dan mendukung.
5. Biasakan diri kita berbicara atau nunjukkin kalo kita anak Tuhan atau orang Kristen atau memuliakan Tuhan. Misalnya dengan sengaja selalu bilang: “Puji Tuhan!”, “Kalau Tuhan Yesus menghendaki”, “Terimakasih Yesus” dsb pas kita lagi ngobrol. Selain kita jadi terbiasa, dan menarik perhatian orang lain dan memudahkan kita buat bersaksi.
6. Jadilah papan iklan Yesus. Jangan malu pake atribut Kristiani, asalkan hati kita sesuai dengan apa yang kita pake. Pakelah kaos rohani, pamerkan Alkitab, pakelah kalung salib, nyanyi atau nyalain musik rohani, apapun yang bisa menarik perhatian orang tentang hal rohani. Melatih kita buat berani menyandang ‘jabatan’ anak Tuhan.
“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” (2 Timotius 2:9)
KALO ADA YANG MAU BERTOBAT... GIMANA?
Ada satu pertanyaan yang sering ditanyain sama teman-teman GF!. Kalo kita udah PI-in satu orang en orang itu bertobat, terus apa yang mesti kita lakuin selanjutnya? Jawabannya bisa banyak. Tapi secara garis besar ada dua pilihan yang bisa kita pilih:
• Jadi orang tua rohani buat orang itu
Orang yang baru bertobat itu kayak bayi (secara rohani ya). Namanya juga bayi belum tau apa-apa, nah sebagai orang yang udah lebih lama kenal Tuhan, yuk kita bantu ‘bayi rohani’ kita. Kasih dia ‘susu rohani’ (maksudnya ajaran dasar kekristenan) en bantu dia bertumbuh supaya jadi dewasa secara rohani.
• Cariin ‘orang tua rohani asuh’
Kalo kita rasanya nggak sanggup jadi orang tua rohani, ada baiknya kita bawa ke gereja ato persekutuan en cariin orang tua rohani yang kira-kira cocok buat orang itu. Jangan terus mentang-mentang nggak sanggup terus dibiarin, tanggung jawab dong.
Nah ada satu hal penting yang mesti kita inget, apapun pilihan kita, kita harus pastiin kalo orang yang baru bertobat itu tertanam di sebuah gereja lokal. Jangan dibiarin sendiri. Ini penting banget, soalnya gereja adalah wujud nyata Yesus di bumi ini. Jadi pastikan kita cariin gereja lokal (bukan gereja setan, bukan gereja sesat) buat orang yang baru bertobat tadi.
KALO DITOLAK?
Di atas udah dibilangin kalo bersaksi nggak sama dengan memenangkan jiwa. Memang salah satu kebingungan yang suka dialami ama orang Kristen waktu bersaksi yaitu apa orang yang kita PI-in itu harus bertobat ato nggak. Daripada pusing-pusing, yuk kita liat aja apa yang Alkitab bilang soal hal ini.
“Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka. Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat” (Markus 6:10-12)
Dari ayat di atas kita bisa liat kalo tiap orang itu punya hak buat nggak mendengarkan pemberitaan Injil kita en kita nggak bisa maksa. Itu udah termasuk hak asasi manusia. Nah kalo ada orang yang nggak mo dengerin pemberitaan Injil kita, apa dong yang mesti kita lakuin? Ada dua jawabannya:
• Tetap beritakan Injil
Tanya ama Roh Kudus, apa kita mesti terus injili orang itu. Inget kita nggak bisa maksa orang buat bertobat. Tapi kita bisa bagiin apa yang kita tau tentang kabar keselamatan. Makanya penting banget buat peka ama suara Roh Kudus dalam saat-saat kayak gini. Apa Roh Kudus menggerakkan kita buat terus injili orang itu? Kalo ya, taati, jangan sampe ada satu orang masuk neraka gara-gara salah kita yang nggak tanggap sama suara Roh Kudus.
• Tinggalin aja
Di sini yang penting itu kepekaan kita ama suara Roh Kudus. Tuhan sayang semua manusia en Dia nggak pengen ada satu pun manusia yang mesti mati gara-gara dosa. Tapi kalo Roh Kudus nggak menggerakkan kita buat terus bersaksi ya udah. Siapa tau orang itu emang bakal bertobat nantinya, tapi bukan ama kita.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:11-12).
PARA PENGINJIL DARI MASA KE MASA
Kalo GF! nulis tentang penginjil dari zaman dulu sampe sekarang, bukan artinya cuman mereka doang yang bisa disebut pengijil. Kita semua itu penginjil. Cuman sekarang, GF! mo kasih liat beberapa nama penginjil terkenal yang dicatat sejarah, mulai dari zaman para rasul sampe zaman modern.
• 12 Rasul Yesus
Yang jadi pionir dalam hal PI adalah 12 rasul Yesus. Mereka itu yang mula-mula PI mulai dari Yerusalem, ke Asia, Eropa sampe Afrika.
• Stefanus
Stefanus itu nama salah satu diaken gereja mula-mula en juga nama martir pertama di Perjanjian Baru. Tapi selain itu Stefanus juga sebenarnya penginjil loh. Dia itu PI ama orang-orang Yahudi yang waktu itu menyalibkan Yesus.
• Filipus
Filipus juga nama salah satu diaken gereja mula-mula yang aktif PI ke orang-orang Samaria en termasuk orang pertama yang PI ama orang non Israel (inget cerita Filipus PI ke sida-sida Etiopia?). Filipus juga nama orang di Perjanjian Baru yang disebut sebagai pemberita Injil.
• Timotius
Anak rohani Paulus ini PI ke orang-orang Efesus. Timotius juga dipercaya jadi gembala jemaat Efesus.
• Ignatius
Penerus Petrus sebagai pemimpin gereja di Antiokhia ini PI di daerah Asia.
• Dionysius
Orang Yunani yang sempat belajar ke Mesir en hadir waktu Yesus disalib ini jadi penginjil buat orang Yunani en akhirnya jadi pemimpin gereja di Athena.
• Berengarius, Henry of Toulouse
Dua-duanya orang Perancis yang PI ama orang-orang Perancis juga.
• Martin Luther
Orang kenal Martin Luther sebagai reformator gereja, tapi pesan yang dia sampein tentang keselamatan oleh iman itu juga sebenarnya PI juga. Makanya banyak orang yang bertobat gara-gara pesan dia yang satu itu.
SEKARANG SAATNYA!
GF!ers tadi kita udah baca tentang gimana bersaksi, mulai dari sejarah sampe apa yang mesti kita lakuin buat follow up. Nah, langkah selanjutnya yang mesti kita lakuin adalah mulai bersaksi sekarang. Jangan tunggu lagi. Ada sebuah lagu dari Melissa Champlion, judulnya Don’t Wait (Jangan Tunggu). Lagu ini jadi pesan buat kita buat jangan tunggu besok buat PI, tapi sekarang saatnya. Ini lagunya:
Another soul is lost, a mother's heart is broken
(satu jiwa lagi hilang, hati ibu ikut hancur)
Another day is passing, another chance is gone
(satu hari lagi berlalu, satu lagi kesempatan hilang)
Another eye cries a tear, Another ear yearns to hear
(satu lagi air mata tumpah, satu lagi telinga rindu mendengar)
that voice which was unspoken, that word which was unheard.
(suara yang tak terkatakan, kata-kata yang tak terdengar itu)
Don't wait another day to tell someone about the Lord
(jangan tunggu besok untuk menceritakan tentang Tuhan)
Dont wait another day to tell someone about Jesus
(jangan tunggu besok untuk menceritakan tentang Yesus)
Can you see their faces In the world today?
(tidakkah kau lihat muka mereka di dunia saat ini?)
Their lost souls and broken dreams they search for a way
(jiwa mereka yang terhilang dan mimpi mereka yang hancur mencari jawaban)
Another laugh will be unheard another song for God unsung
(satu lagi tawa akan hilang, satu lagi pujian kepada Allah tak terdengar)
another smile gone forever, another dream of God's lost
(satu lagi senyum akan hilang, satu lagi impian Tuhan akan hilang) (dp)
PETER YOUNGREN: PENGINJIL MUJIZAT
Mungkin nama yang satu ini udah nggak asing lagi di telinga GF!ers. Peter Youngren. Penginjil asal Canada ini emang sempat datang ke Indonesia taon 2003 kemaren en bikin Festival (sebutan buat KKR penginjilan Peter Youngren) di beberapa kota besar di Indonesia.
Yang uniknya Peter Youngren di tiap kali Festival yang diadainnya selalu bikin acaranya di tempat terbuka, yang bisa muat banyak banget orang. KKR-nya juga selalu penuh ama orang dari agama lain. Yang jadi ciri khas pelayanan Peter Youngren itu demonstrasi mujizat kesembuhan. Jadi di setiap Festival-nya, Tuhan selalu bikin mujizat kesembuhan, terus baru abis itu di-PI-in.
Peter Youngren emang berasal dari keluarga misionaris, makanya nggak heran bebannya buat jiwa-jiwa itu gede banget. Sejak masih muda, Peter emang udah dididik ama ortunya buat taat ama Firman Tuhan, makanya nggak heran begitu udah dewasa salah satu visinya menggenapi Amanat Agung.
Buat menggenapi visinya itu, beliau bikin banyak pelayanan yang emang berhubungan sama penginjilan. Ada Celebrate Jesus International (yang tujuannya melatih orang percaya buat PI, minimal satu jam seminggu), Celebration Bible College (sekolah Alkitab yang emang menekankan dan memperlengkapi orang percaya buat misi), Way Of Peace (pelayanan PI buat orang Arab en Timur Tengah). Selain itu beliau juga banyak nulis buku tentang PI. (dp)
DOA DAN KESAKSIAN
Kalo kita rindu buat beritain Injil, kita jangan pernah juga lupain yang satu ini yah, yaitu doa. Dalam hal ini Dick Eastman pernah bilang, “Saya yakin bahwa bila kita berdiri di depan Allah… kita akan mendapatkan bahwa setiap jiwa yang pernah dibawa kepada pengenalan akan Kristus tentu ada kaitannya dengan doa syafaat yang dinaikkan”. Mungkin kita pernah denger orang bilang gini, “Kalo cuman doa tapi nggak bertindak juga buat apa?” Hhhm… buat GF!, doa pun udah termasuk dalam bertindak. Justru doa adalah tindakan pertama yang harus kita lakuin sebelum ngambil langkah-langkah selanjutnya, termasuk waktu kita mau bersaksi. Dan sebenarnya dengan kita berdoa, kita juga akan jadi peka buat tahu kapan kita harus ambil langkah-langkah selanjutnya.
David Shibley bahkan bilang begini, “Saya sendiri juga percaya bahwa terlepas dari semua faktor lain, doa yang berhasil guna merupakan kunci yang paling kuat bagi penginjilan dunia. Doa memungkinkan segala sesuatu yang kita lakukan dalam misi. Kuasa misi yang terkemuka telah menyatakan bahwa segala kemajuan yang dicapai dalam misi berhubungan langsung dengan doa. Doa telah menyiapkan jalan menuju kemenangan dan telah menjadi kunci dari semua kesuksesan.”
GF! percaya nggak ada kegerakan tanpa doa. Paulus sendiri pun menekankan pentingnya doa dalam kaitan dengan penginjilan kepada Timotius:
“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kira dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru Selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:1-4)
Nah, untuk soal berdoa ini, ada beberapa hal yang harus kita inget sama-sama:
• Berdoalah dengan komitmen, artinya sediain waktu buat doa kayak Petrus dan Yohanes (Kisah 3:1)
• Berdoalah dengan sungguh-sungguh karena doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16)
• Berdoalah secara khusus, artinya kita harus minta bagi jiwa yang kita rindukan buat datang pada Yesus dalam iman. Inget juga, Tuhan kasih kita kunci Kerajaan Sorga (Matius 16:19)
• Berdoalah dengan kesatuan, artinya doa yang sepakat. Ini adalah salah satu kunci nyata dari keberhasilan jemaat mula-mula lho (Kisah 4:24)
• Berdoalah dengan tekun. Yesus ngajar kalo ketekunan dalam doa itu membuahkan hasil (Lukas 11:9)
• Berdoalah dengan berani. Kalo kita mendoakan sesuatu yang ada di hatinya Tuhan, kita akan berdoa dengan berani, tanpa ragu (Ibrani 4:16). Dan kita tahu bahwa kehendak-Nya adalah menyelamatkan mereka yang hilang.
• Berdoalah dengan penuh harap (1 Yohanes 5:14-15).
So, tetaplah berdoa dan dapetin tuntunan Tuhan juga buat melangkah ke step-step berikutnya ya!
“Doa merupakan satu-satunya misi bagi dunia yang dapat dilakukan oleh semua umat Kristen. Melalui doa, setiap kita secara langsung mampu mengasihi orang-orang yang belum terjangkau dengan Injil, bahkan hingga ke ujung bumi sekalipun. Sejauh Allah mampu menjangkau, demikian pula doa itu.” (David Bryant).
Majalah GFRESH! adalah juga sarana misi dan kesaksian. Kamu bisa ikut andil dengan memberikan majalah GFRESH! kepada orang lain yang kamu kenal ataupun gak kamu kenal. Caranya:
• Buat kamu di Bandung, kamu bisa dapetin majalah GFRESH! untuk tujuan misi dan kesaksian hanya dengan membayar seribu rupiah pereksemplar (murah amat bo!, kapan lagi!), datang dan ambil sendiri ke kantor GFRESH! tiap jam kerja.
• Buat kamu-kamu di luar kota Bandung, kamu bisa mendapatkan majalah GFRESH! secara GRATIS untuk tujuan misi dan kesaksian ini (ongkos kirim ditanggung sendiri), sebutkan nama dan alamat kirim kamu lewat email friend@getmedia-online.com atau telepon 022-70791360 untuk menanyakan biaya ongkos kirim.
• Atau kamu bisa menjadi donatur dengan mentransfer sejumlah uang (bebas) ke rekening BCA 1371240069 an Fery Ferdiansyah (pemred). Dana ini akan dipakai oleh GFRESH! sebagai biaya ongkos kirim majalah GFRESH! kepada lembaga/sekolah/gereja/orang di pelosok terpencil yang membutuhkan tetapi kesulitan mendapatkan majalah ini. Kalo udah transfer, harap konfirm lewat sms ke 081809296729 atau email friend@getmedia-online.com atau fax ke 022-4236282.
Liat lagi satu-satu nama-nama temen kamu yang tersimpan disitu. Berapa banyak dari mereka yang belum pernah mendengar tentang kebenaran Yesus Kristus?
Liat tetangga kita. Atau teman les kita. Atau temen sebangku kita di sekolah. Atau mungkin saudara kita. Atau temen-temen di friendster kita. Apa ada di antara mereka yang belum mengenal or bahkan nggak tau sama sekali tentang Tuhan Yesus? (dp/erl/F!)
BERSAKSI, DUH SUSAH BANGET SIH!
MENJADI TERANG ADALAH ‘BERSAKSI’
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)
GF! pernah mikir, apakah yang dimaksud dengan ‘terang’ dalam ayat diatas? Ada yang bilang, jadi ‘terang’ adalah ‘berbuat baik dan berpola hidup yang baik’. Apakah kalo kita bertingkah laku baik dan melakukan perbuatan baik itu berarti kita udah jadi ‘terang’? No! Ternyata tidak! Nah lho! Kalo kita liat di ayat tersebut, ‘terang’ bukanlah perbuatan baik, tapi berfungsi agar perbuatan baik yang kita lakukan bisa dilihat orang dan kemudian orang-orang itu bisa memuliakan Bapa/Yesus.
Jadi, ‘terang’ adalah: ‘bersaksi tentang Yesus’ atau ‘berbicara/memberikan informasi tentang Yesus’. Lho kok bisa? Gini, kalo kita berbuat baik (atau berpola hidup baik), Tuhan bilang kita nggak bisa berhenti disitu aja, tapi orang lain harus tau peruatan baik kita dan kemudian memuliakan Yesus karenanya. Nah gimana caranya orang lain tau dan kemudian memuliakan Yesus kalo kita nggak kasih tau (bersaksi/berbicara/memberikan informasi) tentang Yesus? Tul nggak?
Ayat diatas sering dijadiin dalih/alasan buat kita nggak bersaksi/menginjili. Kita biasanya berdalih kalo bersaksi itu nggak perlu lewat perkataan, cukup dengan perbuatan (ngaku deh, hehe). Ternyata, sebaliknya bo! Ayat ini justru adalah alasan buat kita wajib bersaksi (dengan perkataan/informasi).
Misalnya, kita ngelakuin kegiatan sosial dengan kasih makan gratis ke gelandangan. Apa kita udah jadi ‘terang’? Belum, kita baru ‘ngelakuin perbuatan baik’, si gelandangan itu hanya akan berterimakasih dan memuji kebaikan kita (bukan memuji kebaikan Tuhan Yesus!). Kita baru jadi ‘terang’ kalo kita juga bersaksi/kasih tahu gelandangan itu alasan kenapa kita ngelakuin perbuatan itu (misalnya kasih tahu kalo kita ngelakuinnya karena Tuhan Yesus yang nyuruh kita), maka gelandangan itu akan ‘ngelihat perbuatan baik kita lalu memuliakan Bapa/Yesus’ sesuai dengan ayat di atas. Nah sekarang ngerti kan? Orang-orang nggak bakalan pernah memuliakan Yesus buat segala sesuatu yang kita kerjakan atau yang kita punya dalam hidup kita kecuali kalo kita mengarahkan perhatian mereka pada Yesus! Satu-satunya cara mengarahkannya adalah dengan cara bersaksi tentang Yesus.
Tapi bukan berarti kita berhenti berbuat baik (karena kalo kita berbuat baik pada orang artinya kita berbuat baik pada Yesus juga lho, baca Matius 25:44-45), tapi ternyata berbuat baik aja nggak cukup buat kita bisa jadi ‘terang’.
“TERNYATA KALO KITA HANYA BERBUAT BAIK (MISALNYA DENGAN MEMBERI MAKAN GELANDANGAN), KITA BELUM JADI TERANG!”
KABAR BAIK
Kata Ray Comfort (pemimpin pelayanan Way of Master bareng Kirk Cameron) penginjilan atau bersaksi itu artinya membagikan iman kita ama orang lain. Ato kalo sederhananya, penginjilan itu sering didefinisikan sebagai memberitakan kabar baik. Kabar baik apaan? Ya kabar baik kalo Yesus udah datang ke dunia buat mati menebus dosa kita en kita yang mo percaya ama Dia bisa masuk Surga en menikmati karunia hidup kekal. Satu hal yang nggak boleh kita lupa waktu bersaksi, yaitu Yesus-nya. Soalnya tujuan kita PI itu ‘kan mengenalkan Yesus ama orang-orang yang emang belum kenal Yesus. Gimana caranya? Jangan kuatir, GF! bakalan kasih cara-caranya deh!
BERSAKSI NGGAK SAMA DENGAN MEMENANGKAN JIWA!
Ini yang banyak jadi ‘stress’ buat orang Kristen. Ada yang bilang kalo kita harus memenangkan jiwa. Ternyata, Tuhan nggak pernah kok bilang secara langsung kalo kita harus memenangkan jiwa! Tuhan hanya menyuruh kita buat bersaksi! Beda lho antara bersaksi dengan memenangkan jiwa!
“Sebab Kristus mengutus aku (Paulus) bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil…” (1 Korintus 1:17)
“…dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah 1:8b)
Analoginya ama dengan situasi dalam pengadilan. Ada saksi dan ada pembela. Tugas saksi adalah menerangkan apa yang dia ketahui, bukan buat memenangkan perkara. Sedangkan seorang pembela bertugas untuk berusaha menyelesaikan suatu perkara dengan berhasil. Emang suatu sukacita kalo kita bisa memenangkan jiwa, kalo kita emang bisa. Tapi Tuhan hanya mewajibkan kita buat bersaksi.
BERSAKSI ITU WAJIB!!!
“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15).
Semua orang percaya itu wajib bersaksi. Tapi sekarang ada anggapan kalo yang harus menginjili atau bersaksi itu hanya orang yang udah punya gelar Ev (evangelis), Pdt (pendeta), ato yang emang punya panggilan (jawatan) sebagai penginjil ato cuma mereka-mereka yang punya sebutan hamba Tuhan.
Oke, wait a second, who says so? Alkitab nggak pernah mengajar kita cuman sebagian orang aja yang harus penginjilan, yang lain cuma jadi penonton. Nggak lagi. Kalo dibilang tugas penginjilan buat orang yang punya sebutan hamba Tuhan, itu benar karena semua orang percaya itu adalah hamba Tuhan. Coba kita liat di 1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”
Menjadi saksi Kristus nggak cuman lewat tingkah laku dan pola hidup sehari-hari, tapi juga harus lewat kesaksian iman secara verbal!
MOTIVASI UNTUK BERSAKSI
Apa yang mendorong kita buat bersaksi? Saat kita nggak punya keberanian, atau sibuk atau malas, harus ada motivasi yang bisa bikin kita bangkit dan ngelakuin tugas kita. Tapi motivasi ini harus tulus dan murni. Apa aja sih?
1. Kasih Yesus
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3:16)
“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami..” (2 Korintus 5:14)
Paulus sangat terbeban buat memberitakan Injil karena kasih Kristus yang memotivasinya. Paulus telah diberi kasih karunia keselamatan olehNya, diapun rindu ngebagiin ke orang lain.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
2. Keinginan Tuhan sendiri
“…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13).
Tuhan sendirilah yang ingin atau berkehendak agar semua manusia bisa mendengar kabar baikNya. Dan Tuhan akan memperlengkapi dan memimpin kita dengan Roh KudusNya biar kita bisa melaksanakan keinginan Tuhan ini. Kita hanya perlu taat pada pimpinan Roh Kudus. (baca 3 Langkah Mudah Menghilangkan Kesukaran Bersaksi).
3. Amanat Agung
Bersaksi adalah respon murid-murid Yesus (termasuk kita juga) terhadap perintah Yesus sebelum Dia naik ke surga. Yang kita kenal dengan nama Amanat Agung.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).
Disini ada yang bisa memotivasi kita yakni bahwa Yesus akan menyertai kita (melaksanakan Amanat Agusng) senantiasa sampai akhir jaman! So, jangan takut!
4. Kita punya utang!
“Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.” (Roma 1:14)
Paulus ngerasa punya utang pada Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkannya, ia ngerasa harus bayar utang itu dengan cara memberitakan Injil pada orang lain. Pernah nonton film Pay It Forward? Seorang anak kecil punya misi buat berbuat baik pada tiga orang, dan tiga orang itu ‘berhutang kebaikan’, tapi harus dibayar dengan cara melakukan kebaikan ke tiga orang lainnya.
“Kita telah diselamatkan oleh Tuhan, bayarlah ‘utang’ keselamatan itu dengan cara memberitakan kabar baik keselamatan itu ke orang lain.”
5. Tuhan segera datang!
“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14)
Umat yang cinta Tuhan pasti pengen Tuhan cepetan datang kan? Kalo Tuhan datang berarti udah tiba kesudahannya. Dan Tuhan bilang ‘kesudahannya’ tiba itu kalo injil sudah diberitakan di semua bangsa! Ini bisa memotivasi kita! So, ayo beritakan Injil Kerajaan Tuhan!
APA SYARAT BERSAKSI?
Ada 3 macam sikap tentang mengabarkan Injil: (1) orang yang bersemangat tapi nggak punya pengetahuan yang cukup tentang injil, biasanya sih bisa jalan tapi tanpa arah atau malah salah. (2) yang punya pengetahuan yang cukup tapi nggak punya hati buat bersaksi, jadinya dia nggak ngelakuin apa-apa en nggak ada dalam rencana Allah. (3) punya hati buat bersaksi dan juga punya pengetahuan yang cukup tentang Injil. Semoga kita semua termasuk yang ketiga.
Terus, gimana supaya kita bisa sampein kabar baik itu? Well, GF! nggak mau kasih metode-metode tertentu karena yang penting bukan metodenya, tapi pimpinan Roh Kudus waktu kita mau bersaksi tentang Yesus. GF! percaya kalo kita berani ambil langkah pertama buat bersaksi, Tuhan juga bakal bantu kita buat langkah-langkah selanjutnya. Tapi kalo kita sendiri nggak pernah berani melangkah, kita juga nggak akan ngalamin gimana Tuhan ngelatih kita dan nolong kita buat jadi saksi-Nya itu. So, sebelumnya GF! mau ingetin lagi kalo buat bersaksi, kita perlu:
1. Mengalami dulu keselamatan itu. Ya iya lah! Apanya yang mau disaksiin kalo kita sendiri belum terima keselamatan itu sendiri! Dan jangan sampe deh: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27)
2. Bersedia alias mau (poinnya bukan bisa nggak bisa, tapi mau dulu atau nggak. Kalo mau, Tuhan akan mampukan dan ngelatih kita, percaya deh!). “…kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera.” (Efesus 6:15).
3. Berani melangkah. nggak takut; lawan ketakutan dan minta keberanian. Para rasul juga berdoa minta keberanian, baca Kisah 4:29-31 dan Paulus juga bilang dia pernah gentar tapi dia nggak dihentikan olehnya, baca 1 Korintus 2:3.
4. Bergerak dengan hati yang penuh belas kasihan. minta supaya Tuhan kasih hal itu pada kita. Kesaksian sejati seharusnya bukan karena di-program-kan, tapi karena hati kita emang dipenuhi belas kasihan. Kalo hati kita penuh belas kasihan, mau di gereja dicanangin program penginjilan atau nggak, kita akan tetap gerak sesuai pimpinan Roh Kudus.
5. Percaya dan bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus, termasuk waktu kita membuka mulut dan mulai nyampein pesannya. Kalo kita menginjili secara langsung, nggak usah terlalu dipusingin ama fasih nggaknya lidah kita. Kita emang perlu belajar supaya bisa berkomunikasi dengan baik, tapi jangan gara-gara ngerasa kita nggak pandai bicara jadi ngehalangin kita beritain Injil. Soalnya, Injil disampaikan bukan dengan kekuatan hikmat dan perkataan manusia, tapi Roh-Nya. Jadi, percaya aja! (Liat deh pengakuan Paulus waktu ngejangkau jemaat di 1 Korintus 2:1-5).
“Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.” (2 Timotius 1:8)
APA YANG HARUS DIBAGIKAN?
Beritain kabar baik/Injil itu bisa dengan berbagai cara, tapi yang paling penting pesannya bisa sampai. Nah, kalo kita punya kesempatan buat memberitakan Injil secara langsung (verbal), ada beberapa hal yang bisa kita sampein ke orang itu.
1. Manusia udah berdosa sehingga kehilangan kemuliaan Tuhan dan pasti binasa.
Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia punya kecenderungan dan pasti pernah bikin dosa. Dosa yang misahin manusia dengan Allah. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23a). Dan upah dosa adalah maut! (Roma 6:23).
2. Manusia nggak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Manusia berusaha menghampiri Allah, tapi nggak ada satupun cara bisa berhasil. Amal perbuatan nggak bakalan bisa menebusnya dari dosa, agama pun demikian. Kita nggak bisa nyamperin Tuhan karena dosa kita. Yang bisa bikin hubungan kita kembali baik dengan Tuhan adalah kalo Tuhan yang nyamperin kita! “…pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,” (Titus 3:5)
3. Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan.
Bisakah Tuhan menghampiri kita? Tentu bisa! Dan udah dibuktiin dengan menjelma jadi manusia 2000 taon yang lalu, lalu menebus kita dari dosa dengan darahNya, darah Yesus.“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12)
Gimana bisa Yesus jadi Juruselamat kita? Karena Dia udah berkorban dan menebus kita dari dosa, seperti yang Paulus bilang:
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (1 Kor 15:3-4)
Jadi liat kan sebetulnya intinya kabar baik yang harus kita bagiin ke orang-orang itu nggak lain adalah:
1. Kristus mati karena dosa-dosa kita
2. Kristus dikuburkan
3. Kristus bangkit (ending-nya bukan di kematian, tapi Kristus juga bangkit dan hidup)
Berikut ini beberapa hal dasar yang bisa kita bagiin. Walau ini bisa jadi semacam panduan, tapi jangan kaku ya. Bebasin Roh Kudus buat tuntun kita. Bisa jadi kita nggak punya kesempatan bicara banyak atau buka Alkitab segala. Jadi, sambil ngertiin poin-poin ini, tetaplah bergantung sepenuhnya ama Roh Kudus. (poin-poin ini bisa kamu gunting dan lipat biar bisa dibawa-bawa)
DIKOTAKIN DI PINGGIR BIAR BISA DIGUNTING:
1. Sudut pandang Tuhan tentang manusia
Sampein kalo Tuhan mengasihi kita semua (termasuk dia) dan menciptakan kita supaya kita kenal Tuhan secara pribadi. Tuhan punya rencana yang indah buat kita.
Referensi ayatnya, misalnya: Yohanes 3:16 dan Yohanes 17:3
Nah, tapi ternyata ada yang ngehalangin kita buat kenal Dia/bersekutu secara pribadi denganNya. Apa itu?
2. Kondisi kita sebagai manusia yang berdosa
Keadaan kita sebagai manusia adalah berdosa dan gara-gara dosa itu, kita terpisah dari Tuhan. Akibatnya, kita nggak bisa ngalamin Dia secara pribadi dan juga kasih dan rencanaNya. Dalam hal ini, kita bisa bagiin kalo nggak ada satu manusia juga yang nggak pernah bikin dosa. Semua orang udah berbuat dosa dan upah dosa itu maut.
Dosa secara sederhana adalah semua bentuk pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4), sedangkan maut itu artinya perpisahan dengan Tuhan yang bikin hidup nggak bersemangat, tanpa tujuan, hampa, dan ujungnya adalah hukuman di neraka yang berarti juga kematian kekal.
Referensi ayat: Roma 3:23, Roma 6:23
Terus, gimana supaya dosa kita bisa diampuni dan kita bisa berhubungan lagi dengan Tuhan?
3. Kasih Karunia Tuhan
Dosa kita nggak bisa dihapus dengan perbuatan baik, amal, kegiatan-kegiatan agama sekalipun, apalagi harta (baca Yesaya 64:6, Yesaya 1:11-20, dan Matius 16:26 untuk kita tau pandangan Tuhan terhadap usaha manusia buat ‘nyuciin’ diri dari dosanya). Tapi Yesus Kristus-lah satu-satunya jalan yang bisa ngehapus/nebus dosa kita dan bisa bawa kita kembali ngalamin Tuhan en berhubungan denganNya, yaitu dengan mati disalib dan kemudian bangkit lagi.
Referensi ayat: Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, 1 Timotius 1:15
Sebenernya sampai disini udah cukup. Tapi dengan bantuan Roh Kudus, kita bisa berlanjut ke tahap berikutnya:
4. Meresponi Kasih Karunia Tuhan
Tantang orang itu buat terima Yesus Kristus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya karena cuman dengan begitulah kita bisa kenal Tuhan secara pribadi dan ngalamin lagi kasihNya sesudah ngalamin pengampunan. Nah, kalo orang itu mau datang pada Yesus kita bisa pimpin orang itu buat berdoa. Tuntun orang itu dengan cara kita berdoa dan minta dia ngulangin doa kita. (Inget ya, tugas kita beritain kabar baik, sedangkan yang bikin orang mau bertobat dan lahir baru adalah Roh Kudus). Setelah berdoa, teguhin dia kalo dosanya udah diampuni dan namanya udah tercatat di Sorga, bukan karena perbuatan baik dia, dsb, tapi karena dia percaya pada Yesus. Trus, dorong dia deh buat terus bertumbuh dalam Yesus.
Referensi ayat: Roma 10:9–10, Efesus 2:8-9
DUH SAYA NGGAK BISA!!!
4 LANGKAH MENGHAPUS KESUKARAN BERSAKSI
Ada banyak alasan dan kesukaran buat kita memulai bersaksi, biasanya ada 4 hal yang bikin kita nggak melangkah. Mari kita hapus satu persatu kesukaran itu!
1. KESUKARAN PERTAMA: “Gue nggak bisa bikin dia bertobat!”. Kalo ini jadi penghalang kita bersaksi, baca lagi dari awal deh! Bersaksi nggak sama dengan memenangkan atau mempertobatkan jiwa!
2. KESUKARAN KEDUA: “Gue nggak bisa ngomong! Gue nggak berani!”. Taukah kamu kalo dalam penginjilan, Roh Kudus sangat berdaulat disini? “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1 Korintus 2:4). Paulus juga banyak ngalamin pertolongan Tuhan waktu nginjilin, baca di 2 Korintus 2:12.
3. KESUKARAN KETIGA: “Gue nggak tau harus melakukan apa!”. Nah, kalo hal ini… kamu harus belajar, caranya? Baca terus deh, GF! bakalan kasih tau kamu apa yang harus dilakuin!.
4. KESUKARAN KEEMPAT: “Gue takut ditolak!” atau “Gue takut diejek!” atau “Gue malu!”. Selain kita harus tau kalo Roh Kudus bakal bekerja waktu kita bersaksi, GF! punya tips-tips khusus biar kita nggak lagi takut ditolak atau diejek atau merasa malu, baca deh: ‘TIPS MUDAH BERSAKSI’.
“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5)
1001 CARA BERSAKSI
1. Langsung (dari manusia ke manusia)
Ngobrol ama temen/orang yang dikenal. Survey membuktikan kalo kebanyakan orang bertobat gara-gara kesaksian teman dekatnya. Artinya salah satu metode penginjilan yang paling efektif itu adalah kesaksian. Makanya nggak heran kalo Yesus nyuruh kita jadi saksiNya. Ada juga yang pake Phone evangelism (kita buka buku telepon, pilih satu nama secara acak, terus telepon en langsung bersaksi). Ada juga yang disebut Door to door evangelism (Caranya kita jadi kayak salesman. Kalo salesman nawarin barang dari rumah ke rumah, kita nawarin Injil dari rumah ke rumah. Resiko dimarahin, ditolak pasti ada). Atau Man to man evangelism (biasanya dilakuinnya di tempat umum, kayak di mall, angkot, tempat main, dll. Caranya kita liat sekeliling kita, pilih orang, terus dekatin orang itu en langsung bersaksi).
2. Lewat media
Menyampaikan kabar baik tapi dengan media perantara (baik benda maupun cara), misalnya traktat, buku, selebaran, majalah, film, televisi, musik, sulap, drama, radio, konser, game, internet, T-shirt (pakaian), stiker, dan lain-lain.
TIPS MUDAH BERSAKSI
1. Kayak yang dibilang tadi, kalo kita mau bersaksi, halangan yang paling sering muncul adalah: ‘takut diejek’, ‘takut ditolak’, atau ‘takut didebat’ atau ‘malu’. Nah, ini karena kita berhadapan dengan manusia lain, betul? So… kalo emang itu yang jadi masalah, kita bisa pakai media, yaitu traktat (atau majalah). Taon 80-90an sempat ngetrend yang namanya traktat. Traktat itu sebutan buat ‘komik’ kecil yang ukurannya kira-kira 15x8 cm. Isinya juga paling banyak 10 lembar. Sama kayak komik, traktat juga ada gambar, dialog en cerita, yang biasanya diambil dari Alkitab. Dulu sempat jadi trend penginjilan traktat. Maksudnya orang Kristen sibuk bagiin traktat ama semua orang. Tapi sekarang traktat udah jarang keliatan lagi. Tinggalkan traktat di meja pas kita pulang dari kantin, dari bioskop, atau di manapun. Atau poskan lewat surat. Atau langsung kasih ke orang lain. Dan kalo emang Roh Kudus menghendaki kita bisa tinggalkan traktat itu di tempat sampah sekalipun! Setelah itu, Roh Kudus akan bekerja. Mungkin nggak langsung, bahkan mungkin bisa bertaon-taon baru ada dampaknya. Banyak kesaksian udah terjadi lewat traktat. Traktat bisa kamu dapatkan di toko buku Kristen (biasanya di TB Kalam Hidup), atau kirim surat ke PO BOX 1419 Surabaya 60014, atau Kotak Pos 1147 Bandung, atau Kotak Pos 1290 Surabaya 60012.
2. Kalo kita takut ditolak, maka bikin strategi biar orang lain yang ngehampirin atau bertanya duluan ke kita. Misalnya pake simbol, lencana, bawa atau pake sesuatu yang bikin orang bertanya, dan buat ngejelasinnya kita bisa kasih traktat ke dia atau ngomong langsung. Misalnya kita bisa pake t-shirt bertema Kristen yang mengundang orang lain bertanya.
3. Ikutin persekutuan doa, atau gabung dengan komsel (baca edisi lalu tentang komsel), di sana kamu bisa berlatih buat bersaksi. Kalo ada kesempatan buat bersaksi, berdirilah dan ucapkan kesaksian kamu, pengalaman kamu bersama Tuhan dsb. Itu akan melatih dan bikin kita terbiasa bersaksi. Nggak bakalan ada yang menolak atau mengejek kalo disitu kan?
4. Punya temen yang juga punya hati buat bersaksi, biar tambah semangat. Kita bisa melakukannya bersama-sama, atau bercerita pengalaman bersaksi, atau saling bertukar pikiran, atau saling mendoakan dan mendukung.
5. Biasakan diri kita berbicara atau nunjukkin kalo kita anak Tuhan atau orang Kristen atau memuliakan Tuhan. Misalnya dengan sengaja selalu bilang: “Puji Tuhan!”, “Kalau Tuhan Yesus menghendaki”, “Terimakasih Yesus” dsb pas kita lagi ngobrol. Selain kita jadi terbiasa, dan menarik perhatian orang lain dan memudahkan kita buat bersaksi.
6. Jadilah papan iklan Yesus. Jangan malu pake atribut Kristiani, asalkan hati kita sesuai dengan apa yang kita pake. Pakelah kaos rohani, pamerkan Alkitab, pakelah kalung salib, nyanyi atau nyalain musik rohani, apapun yang bisa menarik perhatian orang tentang hal rohani. Melatih kita buat berani menyandang ‘jabatan’ anak Tuhan.
“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” (2 Timotius 2:9)
KALO ADA YANG MAU BERTOBAT... GIMANA?
Ada satu pertanyaan yang sering ditanyain sama teman-teman GF!. Kalo kita udah PI-in satu orang en orang itu bertobat, terus apa yang mesti kita lakuin selanjutnya? Jawabannya bisa banyak. Tapi secara garis besar ada dua pilihan yang bisa kita pilih:
• Jadi orang tua rohani buat orang itu
Orang yang baru bertobat itu kayak bayi (secara rohani ya). Namanya juga bayi belum tau apa-apa, nah sebagai orang yang udah lebih lama kenal Tuhan, yuk kita bantu ‘bayi rohani’ kita. Kasih dia ‘susu rohani’ (maksudnya ajaran dasar kekristenan) en bantu dia bertumbuh supaya jadi dewasa secara rohani.
• Cariin ‘orang tua rohani asuh’
Kalo kita rasanya nggak sanggup jadi orang tua rohani, ada baiknya kita bawa ke gereja ato persekutuan en cariin orang tua rohani yang kira-kira cocok buat orang itu. Jangan terus mentang-mentang nggak sanggup terus dibiarin, tanggung jawab dong.
Nah ada satu hal penting yang mesti kita inget, apapun pilihan kita, kita harus pastiin kalo orang yang baru bertobat itu tertanam di sebuah gereja lokal. Jangan dibiarin sendiri. Ini penting banget, soalnya gereja adalah wujud nyata Yesus di bumi ini. Jadi pastikan kita cariin gereja lokal (bukan gereja setan, bukan gereja sesat) buat orang yang baru bertobat tadi.
KALO DITOLAK?
Di atas udah dibilangin kalo bersaksi nggak sama dengan memenangkan jiwa. Memang salah satu kebingungan yang suka dialami ama orang Kristen waktu bersaksi yaitu apa orang yang kita PI-in itu harus bertobat ato nggak. Daripada pusing-pusing, yuk kita liat aja apa yang Alkitab bilang soal hal ini.
“Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka. Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat” (Markus 6:10-12)
Dari ayat di atas kita bisa liat kalo tiap orang itu punya hak buat nggak mendengarkan pemberitaan Injil kita en kita nggak bisa maksa. Itu udah termasuk hak asasi manusia. Nah kalo ada orang yang nggak mo dengerin pemberitaan Injil kita, apa dong yang mesti kita lakuin? Ada dua jawabannya:
• Tetap beritakan Injil
Tanya ama Roh Kudus, apa kita mesti terus injili orang itu. Inget kita nggak bisa maksa orang buat bertobat. Tapi kita bisa bagiin apa yang kita tau tentang kabar keselamatan. Makanya penting banget buat peka ama suara Roh Kudus dalam saat-saat kayak gini. Apa Roh Kudus menggerakkan kita buat terus injili orang itu? Kalo ya, taati, jangan sampe ada satu orang masuk neraka gara-gara salah kita yang nggak tanggap sama suara Roh Kudus.
• Tinggalin aja
Di sini yang penting itu kepekaan kita ama suara Roh Kudus. Tuhan sayang semua manusia en Dia nggak pengen ada satu pun manusia yang mesti mati gara-gara dosa. Tapi kalo Roh Kudus nggak menggerakkan kita buat terus bersaksi ya udah. Siapa tau orang itu emang bakal bertobat nantinya, tapi bukan ama kita.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:11-12).
PARA PENGINJIL DARI MASA KE MASA
Kalo GF! nulis tentang penginjil dari zaman dulu sampe sekarang, bukan artinya cuman mereka doang yang bisa disebut pengijil. Kita semua itu penginjil. Cuman sekarang, GF! mo kasih liat beberapa nama penginjil terkenal yang dicatat sejarah, mulai dari zaman para rasul sampe zaman modern.
• 12 Rasul Yesus
Yang jadi pionir dalam hal PI adalah 12 rasul Yesus. Mereka itu yang mula-mula PI mulai dari Yerusalem, ke Asia, Eropa sampe Afrika.
• Stefanus
Stefanus itu nama salah satu diaken gereja mula-mula en juga nama martir pertama di Perjanjian Baru. Tapi selain itu Stefanus juga sebenarnya penginjil loh. Dia itu PI ama orang-orang Yahudi yang waktu itu menyalibkan Yesus.
• Filipus
Filipus juga nama salah satu diaken gereja mula-mula yang aktif PI ke orang-orang Samaria en termasuk orang pertama yang PI ama orang non Israel (inget cerita Filipus PI ke sida-sida Etiopia?). Filipus juga nama orang di Perjanjian Baru yang disebut sebagai pemberita Injil.
• Timotius
Anak rohani Paulus ini PI ke orang-orang Efesus. Timotius juga dipercaya jadi gembala jemaat Efesus.
• Ignatius
Penerus Petrus sebagai pemimpin gereja di Antiokhia ini PI di daerah Asia.
• Dionysius
Orang Yunani yang sempat belajar ke Mesir en hadir waktu Yesus disalib ini jadi penginjil buat orang Yunani en akhirnya jadi pemimpin gereja di Athena.
• Berengarius, Henry of Toulouse
Dua-duanya orang Perancis yang PI ama orang-orang Perancis juga.
• Martin Luther
Orang kenal Martin Luther sebagai reformator gereja, tapi pesan yang dia sampein tentang keselamatan oleh iman itu juga sebenarnya PI juga. Makanya banyak orang yang bertobat gara-gara pesan dia yang satu itu.
SEKARANG SAATNYA!
GF!ers tadi kita udah baca tentang gimana bersaksi, mulai dari sejarah sampe apa yang mesti kita lakuin buat follow up. Nah, langkah selanjutnya yang mesti kita lakuin adalah mulai bersaksi sekarang. Jangan tunggu lagi. Ada sebuah lagu dari Melissa Champlion, judulnya Don’t Wait (Jangan Tunggu). Lagu ini jadi pesan buat kita buat jangan tunggu besok buat PI, tapi sekarang saatnya. Ini lagunya:
Another soul is lost, a mother's heart is broken
(satu jiwa lagi hilang, hati ibu ikut hancur)
Another day is passing, another chance is gone
(satu hari lagi berlalu, satu lagi kesempatan hilang)
Another eye cries a tear, Another ear yearns to hear
(satu lagi air mata tumpah, satu lagi telinga rindu mendengar)
that voice which was unspoken, that word which was unheard.
(suara yang tak terkatakan, kata-kata yang tak terdengar itu)
Don't wait another day to tell someone about the Lord
(jangan tunggu besok untuk menceritakan tentang Tuhan)
Dont wait another day to tell someone about Jesus
(jangan tunggu besok untuk menceritakan tentang Yesus)
Can you see their faces In the world today?
(tidakkah kau lihat muka mereka di dunia saat ini?)
Their lost souls and broken dreams they search for a way
(jiwa mereka yang terhilang dan mimpi mereka yang hancur mencari jawaban)
Another laugh will be unheard another song for God unsung
(satu lagi tawa akan hilang, satu lagi pujian kepada Allah tak terdengar)
another smile gone forever, another dream of God's lost
(satu lagi senyum akan hilang, satu lagi impian Tuhan akan hilang) (dp)
PETER YOUNGREN: PENGINJIL MUJIZAT
Mungkin nama yang satu ini udah nggak asing lagi di telinga GF!ers. Peter Youngren. Penginjil asal Canada ini emang sempat datang ke Indonesia taon 2003 kemaren en bikin Festival (sebutan buat KKR penginjilan Peter Youngren) di beberapa kota besar di Indonesia.
Yang uniknya Peter Youngren di tiap kali Festival yang diadainnya selalu bikin acaranya di tempat terbuka, yang bisa muat banyak banget orang. KKR-nya juga selalu penuh ama orang dari agama lain. Yang jadi ciri khas pelayanan Peter Youngren itu demonstrasi mujizat kesembuhan. Jadi di setiap Festival-nya, Tuhan selalu bikin mujizat kesembuhan, terus baru abis itu di-PI-in.
Peter Youngren emang berasal dari keluarga misionaris, makanya nggak heran bebannya buat jiwa-jiwa itu gede banget. Sejak masih muda, Peter emang udah dididik ama ortunya buat taat ama Firman Tuhan, makanya nggak heran begitu udah dewasa salah satu visinya menggenapi Amanat Agung.
Buat menggenapi visinya itu, beliau bikin banyak pelayanan yang emang berhubungan sama penginjilan. Ada Celebrate Jesus International (yang tujuannya melatih orang percaya buat PI, minimal satu jam seminggu), Celebration Bible College (sekolah Alkitab yang emang menekankan dan memperlengkapi orang percaya buat misi), Way Of Peace (pelayanan PI buat orang Arab en Timur Tengah). Selain itu beliau juga banyak nulis buku tentang PI. (dp)
DOA DAN KESAKSIAN
Kalo kita rindu buat beritain Injil, kita jangan pernah juga lupain yang satu ini yah, yaitu doa. Dalam hal ini Dick Eastman pernah bilang, “Saya yakin bahwa bila kita berdiri di depan Allah… kita akan mendapatkan bahwa setiap jiwa yang pernah dibawa kepada pengenalan akan Kristus tentu ada kaitannya dengan doa syafaat yang dinaikkan”. Mungkin kita pernah denger orang bilang gini, “Kalo cuman doa tapi nggak bertindak juga buat apa?” Hhhm… buat GF!, doa pun udah termasuk dalam bertindak. Justru doa adalah tindakan pertama yang harus kita lakuin sebelum ngambil langkah-langkah selanjutnya, termasuk waktu kita mau bersaksi. Dan sebenarnya dengan kita berdoa, kita juga akan jadi peka buat tahu kapan kita harus ambil langkah-langkah selanjutnya.
David Shibley bahkan bilang begini, “Saya sendiri juga percaya bahwa terlepas dari semua faktor lain, doa yang berhasil guna merupakan kunci yang paling kuat bagi penginjilan dunia. Doa memungkinkan segala sesuatu yang kita lakukan dalam misi. Kuasa misi yang terkemuka telah menyatakan bahwa segala kemajuan yang dicapai dalam misi berhubungan langsung dengan doa. Doa telah menyiapkan jalan menuju kemenangan dan telah menjadi kunci dari semua kesuksesan.”
GF! percaya nggak ada kegerakan tanpa doa. Paulus sendiri pun menekankan pentingnya doa dalam kaitan dengan penginjilan kepada Timotius:
“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kira dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru Selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:1-4)
Nah, untuk soal berdoa ini, ada beberapa hal yang harus kita inget sama-sama:
• Berdoalah dengan komitmen, artinya sediain waktu buat doa kayak Petrus dan Yohanes (Kisah 3:1)
• Berdoalah dengan sungguh-sungguh karena doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16)
• Berdoalah secara khusus, artinya kita harus minta bagi jiwa yang kita rindukan buat datang pada Yesus dalam iman. Inget juga, Tuhan kasih kita kunci Kerajaan Sorga (Matius 16:19)
• Berdoalah dengan kesatuan, artinya doa yang sepakat. Ini adalah salah satu kunci nyata dari keberhasilan jemaat mula-mula lho (Kisah 4:24)
• Berdoalah dengan tekun. Yesus ngajar kalo ketekunan dalam doa itu membuahkan hasil (Lukas 11:9)
• Berdoalah dengan berani. Kalo kita mendoakan sesuatu yang ada di hatinya Tuhan, kita akan berdoa dengan berani, tanpa ragu (Ibrani 4:16). Dan kita tahu bahwa kehendak-Nya adalah menyelamatkan mereka yang hilang.
• Berdoalah dengan penuh harap (1 Yohanes 5:14-15).
So, tetaplah berdoa dan dapetin tuntunan Tuhan juga buat melangkah ke step-step berikutnya ya!
“Doa merupakan satu-satunya misi bagi dunia yang dapat dilakukan oleh semua umat Kristen. Melalui doa, setiap kita secara langsung mampu mengasihi orang-orang yang belum terjangkau dengan Injil, bahkan hingga ke ujung bumi sekalipun. Sejauh Allah mampu menjangkau, demikian pula doa itu.” (David Bryant).
Majalah GFRESH! adalah juga sarana misi dan kesaksian. Kamu bisa ikut andil dengan memberikan majalah GFRESH! kepada orang lain yang kamu kenal ataupun gak kamu kenal. Caranya:
• Buat kamu di Bandung, kamu bisa dapetin majalah GFRESH! untuk tujuan misi dan kesaksian hanya dengan membayar seribu rupiah pereksemplar (murah amat bo!, kapan lagi!), datang dan ambil sendiri ke kantor GFRESH! tiap jam kerja.
• Buat kamu-kamu di luar kota Bandung, kamu bisa mendapatkan majalah GFRESH! secara GRATIS untuk tujuan misi dan kesaksian ini (ongkos kirim ditanggung sendiri), sebutkan nama dan alamat kirim kamu lewat email friend@getmedia-online.com atau telepon 022-70791360 untuk menanyakan biaya ongkos kirim.
• Atau kamu bisa menjadi donatur dengan mentransfer sejumlah uang (bebas) ke rekening BCA 1371240069 an Fery Ferdiansyah (pemred). Dana ini akan dipakai oleh GFRESH! sebagai biaya ongkos kirim majalah GFRESH! kepada lembaga/sekolah/gereja/orang di pelosok terpencil yang membutuhkan tetapi kesulitan mendapatkan majalah ini. Kalo udah transfer, harap konfirm lewat sms ke 081809296729 atau email friend@getmedia-online.com atau fax ke 022-4236282.
Labels:
bersaksi,
kesaksian,
keselamatan,
penginjilan,
saksi,
Yesus
Wednesday, December 7, 2011
GLENN BERTOBAT DI KAMPUS SALEMBA
GLENN
BERTOBAT DI KAMPUS SALEMBA
Pemeran Alung di Sinetron Alung ini udah
lama banget nggak keliatan di dunia artis Indonesia. Siapa sangka kalo selama
ini Glenn mengalami perjumpaannya dengan Yesus yang diawalinya di ‘kampus
Salemba’. “Saya bertobat tuh sebenernya
akhir tahun 2005. Saya pake narkoba en ditangkep polisi. 7 bulan saya di
penjara Salemba. Disitulah saya berjumpa ama Yesus. Dia yang memulihkan saya
secara luar biasa. Puji Tuhan, orang tua dan keluarga saya menerima saya walaupun
saya udah jatuh sedemikian dalam.”
Glenn sebetulnya udah kenal Yesus dari
kecil karena berasal dari keluarga Kristen. Karir yang dirintisnya sejak taon
1995 harus hancur lebur gara-gara narkoba. “Awal
karir saya di Bandung, dari foto model. Tahun 1995 saya jadi top model Bandung.
Dari situ saya ikut pemilihan peragawan se-Indonesia dan jadi juara umum. Trus
saya ikutan taekwondo dan pernah jadi juara I se-Bandung. Bareng Ari Wibowo
saya maen sinetron Darah dan Cinta. Maen di layar lebar juga di film Ca Bau
Kan. Dan puncaknya ya waktu jadi Alung di sinetron Alung itu. Semua itu karena
Tuhan yang bekerja. Nah pas di puncak-puncaknya karir itu saya pake narkoba.
Karir saya hancur luar biasa”
Glenn menyesali kegagalannya itu. Tapi
dia berprinsip bahwa penyesalan itu nggak boleh berlarut-larut. Meskipun
sekarang dia harus memulai lagi karirnya dari nol tapi Glenn mensyukuri kasih
Tuhan yang menangkap dia kembali ke jalur yang benar. Sekarang Glenn aktif
melayani di banyak gereja, membagikan kesaksiannya. “Pengalaman pahit saya ini saya bagikan ke banyak orang. Saya selalu
berpesan jangan pernah pake narkoba. Bohong kalo ada orang yang bilang pake
narkoba itu bikin kita deket ama Tuhan. Bohong besar tuh! Karena waktu kita
lagi mabuk narkoba, iblis tuh menggoda dengan luar biasa sehingga kita ngerasa
nggak layak di hadapan Tuhan.”
Glenn yang mulai kembali lagi ke seni
peran lewat FTV Natal bareng Zack Lee ini mengaku jadi selektif sekali memilih
peran sekarang. Pelayanan yang dilakoninya juga dipulihin ama Tuhan, “Dulu saya kalo pelayanan tuh ngerasa nggak enak
gitu, kok gini sih pelayanan itu. Tapi trus Tuhan ingetin kalo kita melayani
tuh sebenernya siapa sih yang kita layani. Tuhan Yesus. Kalo kita mau melayani,
kita harus melayani Tuhan Yesus dan punya hati hamba.” Glenn yang berjemaat
di GKI Guntur ini pun dibawa Tuhan ke banyak tempat, “Waktu saya belum bertobat, syuting yang paling jauh itu ke Pangandaran.
Tapi setelah saya melayani Tuhan Yesus, saya bisa pergi ke tempat yang lebih
jauh dari itu bahkan ke luar negeri. Sumatera, Bengkulu, Kalimantan, Batam,
Sulawesi, Kendari semuanya udah, yang belum ke Papua. Saya rindu pelayanan ke
sana.”
Glenn mengalami perjumpaannya dengan
Yesus dan arti hidupnya diubahkan. “Saya udah
mulai ngerti arti pelayanan. Apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Ya melayani
Tuhan Yesus. Meskipun kita tetep harus bekerja sih karena Firman Tuhan bilang
kan, janganlah kamu makan kalau tidak bekerja.” Pesan yang selalu dibawa
Glenn dan kali ini dibagikannya pada GF!ers adalah “JANGAN PERNAH PAKE NARKOBA!!! Karena kalo udah pake narkoba, pilihan
kamu cuman 3 tempat: pertama, penjara, kayak saya, kedua, rumah sakit jiwa,
ketiga, kuburan. Dan semuanya itu nggak ada yang enak. Makanya kalo kamu punya masalah,
larilah ke Tuhan. Dia yang terbaik dan Maha Besar dari segalanya” (Est)
Friday, July 9, 2010
DOA TIDAK AKAN SIA-SIA
Halo, namaku Lispridona Diner. Dulu, walau kami datang dari keluarga kristen, tapi papa masih suka ngerokok dan males ke gereja, berdoa, dan baca Alkitab. Kerjanya cuma cari uang, uang dan uang. Pokoknya uang di atas segalanya. Mama sering ke gereja, tapi kalau di rumah seringnya ngomel-ngomel dan ngegosip.
Sejak SMU aku kost, karena rumah dan sekolah letaknya berjauhan. Hal inilah yang membuat aku di luar kontrol orang tua. Aku bergaul dengan teman-teman yang suka ngerokok dan minum minuman keras, kerjaanku hanya ngeluyur, nonton, en pulang pagi. Karena sekolahku disiplin, nggak masuk satu hari saja, bisa langsung manggil orang tua, makanya aku terpaksa masuk, walaupun ngantuk aku harus tetep ke sekolah. Setiap pelajaran nggak ada satu pun yang nyangkut di otakku.
Sebenernya aku tahu Yesus, tapi aku nggak kenal sama Dia. Aku ngecewain orang tua karena nilaiku tidak memenuhi syarat untuk masuk di kelas yang diharapkan. Aku menyalahkan Tuhan atas semua itu. Aku merasa hanya teman se-gank aja yang bisa menerima aku. Setelah lulus sekolah, aku ikutan UMPTN dan lulus di Universitas Negeri Manado (UNIMA) jurusan Bahasa Jepang.
Setelah beberapa bulan kuliah, aku diajak oleh seorang teman untuk mengikuti Bina Rohani yang diadakan oleh Unit Pelayanan Kerohanian di Fakultas. Aku coba-coba aja ikut, aku nggak nyangka kalau Roh Kudus betul-betul bekerja. Aku dilawat Tuhan, hatiku hancur dan menangis serta menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Lalu temanku tadi menolongku dan menjadi pembina rohaniku.
Kini aku selalu mendoakan mama, papa dan adikku. Aku sempet putus asa ngedoain mereka, karena selama 2 tahun rasanya nggak ada perubahan dalam keluargaku. Tapi di saat aku pasrah dan benar-benar tak berdaya, aku sungguh berharap pada Tuhan, justru pada saat itulah aku dikuatkan. Tiba-tiba, aku dengar Papa berhenti total merokok, dan yang lebih dahyat, dia mau terima Yesus! Kini ia rajin ke gereja, berdoa dan baca Alkitab. Disusul oleh Mama nggak pernah lagi keluyuran tetapi tinggal di rumah mengurus keluarga. Kalo aku pulang ke kampungku, Papa dan Mama selalu mengajakku ke ibadah.
Puji Tuhan, adikkupun sekarang ini kuliah bersamaku. Sekarang pun ia sudah terima Yesus. Keluargaku semakin dipulihkan. Aku bersyukur, Papa kini sudah mengerti dan melakukan juga perpuluhan. Allah kita adalah Allah yang sellu menyediakan apa yang nggak pernah dilihat, didengar bahkan dipikirkan buat kita yang percaya padaNya.
Kalau saja dulu temanku yang jadi pembina rohaniku itu tidak mau peduli kepadaku, mungkin aku masih belum dipulihkan, dan dari pengalamanku aku ingin sampaikan bahwa jangan putus asa untuk berdoa, apalagi untuk keluarga kita.
Lispridona Diner
Sejak SMU aku kost, karena rumah dan sekolah letaknya berjauhan. Hal inilah yang membuat aku di luar kontrol orang tua. Aku bergaul dengan teman-teman yang suka ngerokok dan minum minuman keras, kerjaanku hanya ngeluyur, nonton, en pulang pagi. Karena sekolahku disiplin, nggak masuk satu hari saja, bisa langsung manggil orang tua, makanya aku terpaksa masuk, walaupun ngantuk aku harus tetep ke sekolah. Setiap pelajaran nggak ada satu pun yang nyangkut di otakku.
Sebenernya aku tahu Yesus, tapi aku nggak kenal sama Dia. Aku ngecewain orang tua karena nilaiku tidak memenuhi syarat untuk masuk di kelas yang diharapkan. Aku menyalahkan Tuhan atas semua itu. Aku merasa hanya teman se-gank aja yang bisa menerima aku. Setelah lulus sekolah, aku ikutan UMPTN dan lulus di Universitas Negeri Manado (UNIMA) jurusan Bahasa Jepang.
Setelah beberapa bulan kuliah, aku diajak oleh seorang teman untuk mengikuti Bina Rohani yang diadakan oleh Unit Pelayanan Kerohanian di Fakultas. Aku coba-coba aja ikut, aku nggak nyangka kalau Roh Kudus betul-betul bekerja. Aku dilawat Tuhan, hatiku hancur dan menangis serta menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Lalu temanku tadi menolongku dan menjadi pembina rohaniku.
Kini aku selalu mendoakan mama, papa dan adikku. Aku sempet putus asa ngedoain mereka, karena selama 2 tahun rasanya nggak ada perubahan dalam keluargaku. Tapi di saat aku pasrah dan benar-benar tak berdaya, aku sungguh berharap pada Tuhan, justru pada saat itulah aku dikuatkan. Tiba-tiba, aku dengar Papa berhenti total merokok, dan yang lebih dahyat, dia mau terima Yesus! Kini ia rajin ke gereja, berdoa dan baca Alkitab. Disusul oleh Mama nggak pernah lagi keluyuran tetapi tinggal di rumah mengurus keluarga. Kalo aku pulang ke kampungku, Papa dan Mama selalu mengajakku ke ibadah.
Puji Tuhan, adikkupun sekarang ini kuliah bersamaku. Sekarang pun ia sudah terima Yesus. Keluargaku semakin dipulihkan. Aku bersyukur, Papa kini sudah mengerti dan melakukan juga perpuluhan. Allah kita adalah Allah yang sellu menyediakan apa yang nggak pernah dilihat, didengar bahkan dipikirkan buat kita yang percaya padaNya.
Kalau saja dulu temanku yang jadi pembina rohaniku itu tidak mau peduli kepadaku, mungkin aku masih belum dipulihkan, dan dari pengalamanku aku ingin sampaikan bahwa jangan putus asa untuk berdoa, apalagi untuk keluarga kita.
Lispridona Diner
Tuesday, June 29, 2010
ORTUKU CERAI, SO WHAT?
REAL LIFE STORY
ORTUKU CERAI, SO WHAT?
By Steven, 24tahun
Kelas 5 SD saya harus mendengar bahwa Mama dan Papa mau bercerai. Tapi tidak seperti anak-anak lain, mendengar rencana perceraian ini saya justru merasa bahagia, karena saya dan Papa tidak terlalu akur. Papa sering banget memukuli saya. Itu yang membuat saya benci sama dia.
Setelah mereka bercerai, kehidupan berjalan normal. Saya tidak lagi merasa tertekan seperti yang sebelumnya saya alami waktu masih bersama Papa. Saya sekolah seperti anak lainnya, walau kadang ada perasaan yang saya tidak sadari, yaitu rasa kehilangan sosok ayah.
Saya menganggap perasaan itu tidak ada, saya bermain bersama teman-teman dan saya bertumbuh menjadi anak yang saya rasa lebih kuat dari anak-anak lainnya karena saya terbiasa melindungi diri saya sendiri dan keluarga saya.
Saya baru semakin menyadari perasaan itu ketika saya main ke rumah teman saya dan melihat papa teman saya yang sangat baik dan melindungi anaknya. Saya pulang dengan perasaan yang bergejolak dan saya kangen sama Papa. Sedih rasanya. Rasa penyesalan yang tidak pernah berhenti. Tapi semua sudah terjadi dan saya harus hadapi kenyataan ini.
Pernah suatu kali saya memarahi teman saya, karena dia tidak menghargai tindakan papanya yang udah bantuin dia. Saya marah besar dan saya bilang sama teman saya, “..loe tuh harusnya bersyukur punya papa yang udah nyediain semua buat loe, pulang kerja yang dia lakuin bukan beristirahat tapi masih bisa nyuci motor loe, ngisiin bensinnya, nanya apa uang jajan masih ada apa tidak. Loe mau punya papa kayak papa gua? Apa loe mau tukeran aja papa loe sama papa gua?!”
Itu perasaan yang timbul secara tidak sengaja. Disitu saya menyadari bahwa diri saya ini seperti bom waktu yang mudah meledak. Banyak perasaan yang saya pendam dan tidak saya sadari yang ternyata saya coba salurkan pada hobby saya. Saya jadi orang yang gila basket, saya bisa melupakan segalanya ketika saya bermain basket.
Sosok papa yang tadinya saya buang, ternyata sangat saya butuhkan. Saya kehilangan contoh dan pegangan dalam hidup ini. Waktu sudah seumur sekarang, saya merasakan kalo saya sulit menentukan tujuan hidup, sering gak pede rasanya karena seperti tidak ada yang support, yang memberi saya semangat karena saya gak punya figure ayah.
Buat teman-teman yang masih punya papa mama, syukuri itu. Mereka mungkin jauh dari sempurna, tapi kalian masih jauh lebih baik dari keadaan saya saat ini. Buat yang mengalami hal yang sama dengan saya, saya percaya hanya Tuhan yang bisa memulihkan kita menjadi pribadi yang utuh lagi. (**)
box of life
Seringkali kita tidak sadar bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga, sampai kita kehilangan hal itu. Sebelum semuanya terlambat, mungkin akan jauh lebih baik bagi kita untuk mulai berusaha menemukan sesuatu yang positif , daripada terus menyerang kesalahan mereka? Karena penyesalan selalu datang terlambat.
ORTUKU CERAI, SO WHAT?
By Steven, 24tahun
Kelas 5 SD saya harus mendengar bahwa Mama dan Papa mau bercerai. Tapi tidak seperti anak-anak lain, mendengar rencana perceraian ini saya justru merasa bahagia, karena saya dan Papa tidak terlalu akur. Papa sering banget memukuli saya. Itu yang membuat saya benci sama dia.
Setelah mereka bercerai, kehidupan berjalan normal. Saya tidak lagi merasa tertekan seperti yang sebelumnya saya alami waktu masih bersama Papa. Saya sekolah seperti anak lainnya, walau kadang ada perasaan yang saya tidak sadari, yaitu rasa kehilangan sosok ayah.
Saya menganggap perasaan itu tidak ada, saya bermain bersama teman-teman dan saya bertumbuh menjadi anak yang saya rasa lebih kuat dari anak-anak lainnya karena saya terbiasa melindungi diri saya sendiri dan keluarga saya.
Saya baru semakin menyadari perasaan itu ketika saya main ke rumah teman saya dan melihat papa teman saya yang sangat baik dan melindungi anaknya. Saya pulang dengan perasaan yang bergejolak dan saya kangen sama Papa. Sedih rasanya. Rasa penyesalan yang tidak pernah berhenti. Tapi semua sudah terjadi dan saya harus hadapi kenyataan ini.
Pernah suatu kali saya memarahi teman saya, karena dia tidak menghargai tindakan papanya yang udah bantuin dia. Saya marah besar dan saya bilang sama teman saya, “..loe tuh harusnya bersyukur punya papa yang udah nyediain semua buat loe, pulang kerja yang dia lakuin bukan beristirahat tapi masih bisa nyuci motor loe, ngisiin bensinnya, nanya apa uang jajan masih ada apa tidak. Loe mau punya papa kayak papa gua? Apa loe mau tukeran aja papa loe sama papa gua?!”
Itu perasaan yang timbul secara tidak sengaja. Disitu saya menyadari bahwa diri saya ini seperti bom waktu yang mudah meledak. Banyak perasaan yang saya pendam dan tidak saya sadari yang ternyata saya coba salurkan pada hobby saya. Saya jadi orang yang gila basket, saya bisa melupakan segalanya ketika saya bermain basket.
Sosok papa yang tadinya saya buang, ternyata sangat saya butuhkan. Saya kehilangan contoh dan pegangan dalam hidup ini. Waktu sudah seumur sekarang, saya merasakan kalo saya sulit menentukan tujuan hidup, sering gak pede rasanya karena seperti tidak ada yang support, yang memberi saya semangat karena saya gak punya figure ayah.
Buat teman-teman yang masih punya papa mama, syukuri itu. Mereka mungkin jauh dari sempurna, tapi kalian masih jauh lebih baik dari keadaan saya saat ini. Buat yang mengalami hal yang sama dengan saya, saya percaya hanya Tuhan yang bisa memulihkan kita menjadi pribadi yang utuh lagi. (**)
box of life
Seringkali kita tidak sadar bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga, sampai kita kehilangan hal itu. Sebelum semuanya terlambat, mungkin akan jauh lebih baik bagi kita untuk mulai berusaha menemukan sesuatu yang positif , daripada terus menyerang kesalahan mereka? Karena penyesalan selalu datang terlambat.
Friday, April 30, 2010
Yohanes Surya Ph.D: Menabur Benih, Menuai Nobel Fisika
Yohanes Surya Ph.D:
Sejak berhasil melatih siswa-siswa Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional mulai tahun 1993, nama Yohanes Surya, Ph.D langsung berkibar di belantara Fisika Indonesia. Doktor Fisika Nuklir ini juga terkenal dengan visinya untuk mencetak para calon peraih Nobel Fisika dari Indonesia di tahun 2020.
Pola dari cetakannya itu sudah mulai terlihat ketika para alumni TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang mendapatkan medali (baik perunggu, perak mapun emas) sejak tahun 1993 sudah diterima di universitas-universitas top di berbagai penjuru dunia, termasuk di Princeton, M.I.T., Harvard, dan lain sebagainya. Beberapa dari para alumni ini bahkan sudah menjadi asisten langsung dari para peraih Nobel Fisika.
Di balik gemerlapnya prestasi President dari Asian Pyhsics Olympiad yang sehari-harinya menjabat sebagai Dekan Fakultas MIPA Universitas Pelita Harapan ini, ternyata terdapat sebuah cerita yang luar biasa dari seseorang yang dipanggil olehNya untuk melayani di ladangNya.
Pada waktu SD dan SMP saya tidak menyukai Fisika karena lingkungan yang tidak mendukung. Keluarga kami berasal dari perkampungan kumuh Jakarta di daerah Klender yang biasa disebut orang sebagai ‘Pulo Kambing’. Karena cuma orang biasa, orang tua tidak terlalu pusing saya mau jadi apa. Tiga kakak saya yang tertua hanya bersekolah hingga SMA karena tidak ada biaya, yang 2 masuk ke sekolah pendeta, sedang yang 1 diangkat anak oleh kakak Mama saya.
Saya baru menyukai Fisika ketika di SMA (SMAN 12). Waktu itu ada seorang guru bernama (Alm) Pak Handoyo yang dapat menerangkan Fisika dengan sangat menarik. Berkat dorongan beliau, akhirnya saya memutuskan untuk memilih jurusan Fisika ketika mendaftar di Universitas Indonesia tahun 1981.
Tahun 1984, ketika saya sudah menjadi mahasiwa, saya mengikuti KKR berjudul “Kemana Arah Hidup” yang dibawakan oleh Pdt. Yeremia Lim. Ketika pulang dari KKR, saya terus berpikir apa yang menjadi tujuan hidup saya. Saya pun mulai berdoa dan bertanya pada Tuhan apa yang Ia inginkan dalam hidup saya.
Akhirnya terpikir oleh saya untuk menjadi seorang ilmuwan yang dapat mengembangkan Fisika di Indonesia, tapi untuk itu tidak cukup kalau saya hanya lulus S-1. Saya harus bisa sekolah lagi di Amerika karena di sanalah pusat ilmu Fisika, tapi saya sungguh tidak tahu bagaimana caranya dan kemana jalurnya.
Walaupun begitu saya terus berusaha dan berdoa, termasuk mengikuti tes TOEFL (tes kemampuan berbahasa Inggris–red) dan mencari-cari jalan untuk bisa melanjutkan sekolah. Tak disangka, saya bertemu dengan seorang profesor dari Amerika yang memang sedang mencari murid di Indonesia. Saya dan 3 orang lainnya diwawancarai dan akhirnya diterima untuk mendapat beasiswa S-2 dan kemudian S-3 di College of William & Mary di Virgina, Amerika Serikat.
Tahun 1992 ketika saya sudah hampir lulus, saya kembali bertanya pada Tuhan, “Tuhan, apa selanjutnya yang harus saya lakukan?”. Tak lama kemudian saya melihat ada pengumuman penyelenggaran Olimpiade Fisika Internasional, yang anehnya diselenggarakan di kampus saya. Pada saat itu, saya langsung tahu apa yang harus saya lakukan: mengundang siswa Indonesia ke olimpiade ini.
Bersama beberapa kawan dan dengan dibantu oleh Universitas, kami mencari 5 orang siswa SMA terbaik dari Indonesia untuk menjadi peserta olimpiade. Karena kekurangan sponsor, beberapa diantaranya terpaksa membayar sendiri biaya penerbangan mereka ke Amerika Para peserta tiba 2 bulan sebelum olimpiade dilangsungkan dan mereka kami latih dengan cukup intensif. Materi training yang begitu banyak dan setara dengan pelajaran universitas memaksa kelima siswa ini belajar dari pukul 07.00 hingga jauh tengah malam setiap harinya. Beberapa siswa bahkan tidur hingga pukul 03.00 dinihari.
Saya sempat merasa semuanya akan sia-sia saja karena waktu latihan yang demikian singkat. Tapi ternyata hasilnya cukup mengejutkan karena salah seorang siswa, Oki Gunawan, berhasil menyabet medali perunggu pertama untuk Indonesia di turnamen sains yang dianggap paling berbobot ini. Pemenang utama saat itu adalah tim Rusia yang meraih 3 medali emas dan 2 perak.
Walaupun begitu, hasil ini telah cukup meyakinkan saya untuk terus melanjutkan misi ini. Ketika mengikuti olimpiade tahun berikutnya di Cina, tim Indonesia tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Soal-soal yang diajukan memang jauh lebih sulit, tetapi dari sini saya belajar bahwa untuk memiliki tim yang tangguh harus dilakukan persiapan yang matang.
Sementara itu, saya telah mendapatkan green card untuk menjadi penduduk tetap (Permanent Resident) di Amerika plus bekerja di pusat nuklir terbesar di dunia dengan gaji USD 5.000 per bulannya. Walaupun begitu, saya merasa tidak sejahtera dan setelah bergumul selama beberapa waktu, akhirnya saya pun mengajak keluarga untuk pulang ke Indonesia.
Menempuh Jalan Yang Jarang Dilalui Orang (The Road Less Travelled)
Di Indonesia kami mengalami perubahan hidup yang cukup drastis. Sebagai calon pegawai pada tahun 1994, saya cuma dibayar Rp 65.000,- per bulannya oleh Universitas Indonesia. Untung saya dibantu oleh Pak Anugerah Pekerti yang memberi Rp 1 Juta Rupiah setiap bulannya untuk membiayai kehidupan saya dan keluarga.
Pilihan hidup seperti ini terasa berat sekali, terutama ketika saya harus meminjam Rp 20.000,- dari orang tua saya untuk ongkos transportasi agar bisa pulang ke rumah. Kakak-kakak saya pun seringkali membantu saya dan keluarga untuk bisa bertahan. Hal ini berlangsung hingga tahun 1996, karena di tahun ini saya mulai punya uang dari hasil penjualan buku.
Sementara itu Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) telah terbentuk. Pada tahun 1994, kami mulai bekerja sama dengan Departemen Pendidikan untuk mengadakan seleksi yang lebih menyebar, ke 27 propinsi di Indonesia. Diantara 1.400 pelajar yang mengikuti seleksi awal pada bulan Oktober 1994, terpilih 24 orang yang dapat mengikuti tahapan kualifikasi selanjutnya. Persiapan yang lebih matang ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada tahun 1995 ketika TOFI memboyong satu medali perak, satu medali perunggu dan tiga penghargaan dari olimpiade di Australia.
Pada tahun 1996-1998 Olimpiade Fisika menjadi semakin populer. Saya melihat ini sebagai kecenderungan positif mengingat buruknya mutu pendidikan di beberapa tempat di Indonesia. Adalah penting memberikan kesempatan kepada para pelajar yang cemerlang untuk mencapai prestasi tanpa harus dikungkung oleh keterbatasan mereka secara ekonomi.
Para sponsor pun banyak membantu, termasuk Pak Radius Prawiro yang meminjamkan Wisma Kinasih plus menyediakan konsumsinya selama 2 bulan penuh untuk para peserta pelatihan. Sejumlah universitas terkenal juga menawarkan beasiswa bagi delapan pelajar yang terpilih. Walaupun tidak mendapatkan perak (cuma 1 perunggu dan 4 penghargaan), olimpiade tahun 1996 di Oslo – Norwegia saya anggap berarti karena beberapa peserta berasal dari daerah pedesaan.
Tahun 1998 perusahaan yang menerbitkan buku saya bangkrut. Untung saya bertemu dengan Pak Mochtar Riady yang menganjurkan saya untuk bicara dengan Pak Yohanes Oentoro dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Akhirnya saya pun diterima mengajar di UPH. Di sini gaji saya cukup untuk menghidupi keluarga dengan layak. Sekretariat TOFI turut dipindahkan ke kampus UPH di Karawaci – Tangerang.
Tahun 1998 menjadi tahun yang terburuk, walaupun pimpinan Tuhan tetap terlihat jelas. Kurs Rupiah yang tiba-tiba melonjak menjadi Rp 16.000,- /1 USD menyebabkan kami mendadak membutuhkan Rp 160 Juta Rupiah, padahal waktu keberangkatan ke olimpiade di Iceland tinggal seminggu lagi. Walaupun begitu, kebutuhan dana sebesar ini dapat teratasi tepat pada waktunya dengan sangat ajaib. Cuma sayang, kali ini TOFI tidak berhasil mendapatkan medali. Saya pikir kerusuhan Mei turut berpengaruh karena para peserta yang dilatih di Karawaci seringkali dibangunkan oleh para tetangga yang meminta mereka untuk ikut berpatroli selama kerusuhan berlangsung.
Kekosongan medali ini ditebus dengan ‘lompatan kuantum’ dalam olimpiade berikutnya di Padua - Italia, ketika TOFI mendapatkan medali emas pertama untuk Indonesia yang diraih oleh Made Agus Wirawan, seorang pelajar dari Bali.
Karena TOFI selalu kekurangan dana, saya mulai berpikir untuk mencoba berbisnis pada tahun 2000. Ternyata Tuhan memberkati bisnis saya, sehingga kini saya maupun TOFI tidak perlu takut lagi kekurangan uang. Kini saya bahkan dapat membiayai dana sekretariat sebesar Rp 33 Juta Rupiah setiap bulannya. Pemerintah pun membantu 50% dari dana training dan transportasi, sedang yang 50% sisanya diharapkan didapat dari sponsor. Jika tidak berhasil mendapat bantuan dari sponsor, saya harus mendanainya sendiri.
Saya pikir, kunci keberhasilan dari apa yang saya dan saudara-saudara saya alami di bidang kami masing-masing adalah doa dari Papa dan Mama, tapi terutama dari Papa. Selama 10 tahun menjelang kematiannya, Papa menjadi pendoa full-time. Ia selalu bangun jam 4 pagi untuk berdoa hingga jam 5.30. Jam 11 ia kembali berdoa hingga sekitar jam 13.00. Jam 17.00 ia akan melanjutkan doanya, dan di malam hari ia akan kembali berdoa.
Saya tidak pernah lupa dengan motta Papa yaitu bahwa ‘anak orang benar, cucunya tidak akan pernah meminta-minta.” Dari sini saya melihat bahwa Papa memiliki iman yang sangat kuat. Tapi saya pun memang seringkali mendapatkan kekuatan dari doa bersama dengan teman-teman di persekutuan. Pada waktu ada pelatihan di Wisma Kinasih misalnya, teman-teman dari PERKANTAS selalu datang setiap minggunya untuk saling menguatkan dan berdoa bersama.
Karena itu, jika sekarang orang suka bertanya “Apa yang jadi pelayananmu?”, maka saya akan selalu menjawab “Olimpiade Fisika adalah ladang pelayanan saya.”** (GETLIFE – www.inspirasianda.com)
Menabur Benih, Menuai Nobel Fisika
Sejak berhasil melatih siswa-siswa Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional mulai tahun 1993, nama Yohanes Surya, Ph.D langsung berkibar di belantara Fisika Indonesia. Doktor Fisika Nuklir ini juga terkenal dengan visinya untuk mencetak para calon peraih Nobel Fisika dari Indonesia di tahun 2020.
Pola dari cetakannya itu sudah mulai terlihat ketika para alumni TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang mendapatkan medali (baik perunggu, perak mapun emas) sejak tahun 1993 sudah diterima di universitas-universitas top di berbagai penjuru dunia, termasuk di Princeton, M.I.T., Harvard, dan lain sebagainya. Beberapa dari para alumni ini bahkan sudah menjadi asisten langsung dari para peraih Nobel Fisika.
Di balik gemerlapnya prestasi President dari Asian Pyhsics Olympiad yang sehari-harinya menjabat sebagai Dekan Fakultas MIPA Universitas Pelita Harapan ini, ternyata terdapat sebuah cerita yang luar biasa dari seseorang yang dipanggil olehNya untuk melayani di ladangNya.
Pada waktu SD dan SMP saya tidak menyukai Fisika karena lingkungan yang tidak mendukung. Keluarga kami berasal dari perkampungan kumuh Jakarta di daerah Klender yang biasa disebut orang sebagai ‘Pulo Kambing’. Karena cuma orang biasa, orang tua tidak terlalu pusing saya mau jadi apa. Tiga kakak saya yang tertua hanya bersekolah hingga SMA karena tidak ada biaya, yang 2 masuk ke sekolah pendeta, sedang yang 1 diangkat anak oleh kakak Mama saya.
Saya baru menyukai Fisika ketika di SMA (SMAN 12). Waktu itu ada seorang guru bernama (Alm) Pak Handoyo yang dapat menerangkan Fisika dengan sangat menarik. Berkat dorongan beliau, akhirnya saya memutuskan untuk memilih jurusan Fisika ketika mendaftar di Universitas Indonesia tahun 1981.
Tahun 1984, ketika saya sudah menjadi mahasiwa, saya mengikuti KKR berjudul “Kemana Arah Hidup” yang dibawakan oleh Pdt. Yeremia Lim. Ketika pulang dari KKR, saya terus berpikir apa yang menjadi tujuan hidup saya. Saya pun mulai berdoa dan bertanya pada Tuhan apa yang Ia inginkan dalam hidup saya.
Akhirnya terpikir oleh saya untuk menjadi seorang ilmuwan yang dapat mengembangkan Fisika di Indonesia, tapi untuk itu tidak cukup kalau saya hanya lulus S-1. Saya harus bisa sekolah lagi di Amerika karena di sanalah pusat ilmu Fisika, tapi saya sungguh tidak tahu bagaimana caranya dan kemana jalurnya.
Walaupun begitu saya terus berusaha dan berdoa, termasuk mengikuti tes TOEFL (tes kemampuan berbahasa Inggris–red) dan mencari-cari jalan untuk bisa melanjutkan sekolah. Tak disangka, saya bertemu dengan seorang profesor dari Amerika yang memang sedang mencari murid di Indonesia. Saya dan 3 orang lainnya diwawancarai dan akhirnya diterima untuk mendapat beasiswa S-2 dan kemudian S-3 di College of William & Mary di Virgina, Amerika Serikat.
Menciptakan Momentum di Amerika
Tahun 1992 ketika saya sudah hampir lulus, saya kembali bertanya pada Tuhan, “Tuhan, apa selanjutnya yang harus saya lakukan?”. Tak lama kemudian saya melihat ada pengumuman penyelenggaran Olimpiade Fisika Internasional, yang anehnya diselenggarakan di kampus saya. Pada saat itu, saya langsung tahu apa yang harus saya lakukan: mengundang siswa Indonesia ke olimpiade ini.
Bersama beberapa kawan dan dengan dibantu oleh Universitas, kami mencari 5 orang siswa SMA terbaik dari Indonesia untuk menjadi peserta olimpiade. Karena kekurangan sponsor, beberapa diantaranya terpaksa membayar sendiri biaya penerbangan mereka ke Amerika Para peserta tiba 2 bulan sebelum olimpiade dilangsungkan dan mereka kami latih dengan cukup intensif. Materi training yang begitu banyak dan setara dengan pelajaran universitas memaksa kelima siswa ini belajar dari pukul 07.00 hingga jauh tengah malam setiap harinya. Beberapa siswa bahkan tidur hingga pukul 03.00 dinihari.
Saya sempat merasa semuanya akan sia-sia saja karena waktu latihan yang demikian singkat. Tapi ternyata hasilnya cukup mengejutkan karena salah seorang siswa, Oki Gunawan, berhasil menyabet medali perunggu pertama untuk Indonesia di turnamen sains yang dianggap paling berbobot ini. Pemenang utama saat itu adalah tim Rusia yang meraih 3 medali emas dan 2 perak.
Walaupun begitu, hasil ini telah cukup meyakinkan saya untuk terus melanjutkan misi ini. Ketika mengikuti olimpiade tahun berikutnya di Cina, tim Indonesia tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Soal-soal yang diajukan memang jauh lebih sulit, tetapi dari sini saya belajar bahwa untuk memiliki tim yang tangguh harus dilakukan persiapan yang matang.
Sementara itu, saya telah mendapatkan green card untuk menjadi penduduk tetap (Permanent Resident) di Amerika plus bekerja di pusat nuklir terbesar di dunia dengan gaji USD 5.000 per bulannya. Walaupun begitu, saya merasa tidak sejahtera dan setelah bergumul selama beberapa waktu, akhirnya saya pun mengajak keluarga untuk pulang ke Indonesia.
Menempuh Jalan Yang Jarang Dilalui Orang (The Road Less Travelled)
Di Indonesia kami mengalami perubahan hidup yang cukup drastis. Sebagai calon pegawai pada tahun 1994, saya cuma dibayar Rp 65.000,- per bulannya oleh Universitas Indonesia. Untung saya dibantu oleh Pak Anugerah Pekerti yang memberi Rp 1 Juta Rupiah setiap bulannya untuk membiayai kehidupan saya dan keluarga.
Pilihan hidup seperti ini terasa berat sekali, terutama ketika saya harus meminjam Rp 20.000,- dari orang tua saya untuk ongkos transportasi agar bisa pulang ke rumah. Kakak-kakak saya pun seringkali membantu saya dan keluarga untuk bisa bertahan. Hal ini berlangsung hingga tahun 1996, karena di tahun ini saya mulai punya uang dari hasil penjualan buku.
Sementara itu Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) telah terbentuk. Pada tahun 1994, kami mulai bekerja sama dengan Departemen Pendidikan untuk mengadakan seleksi yang lebih menyebar, ke 27 propinsi di Indonesia. Diantara 1.400 pelajar yang mengikuti seleksi awal pada bulan Oktober 1994, terpilih 24 orang yang dapat mengikuti tahapan kualifikasi selanjutnya. Persiapan yang lebih matang ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada tahun 1995 ketika TOFI memboyong satu medali perak, satu medali perunggu dan tiga penghargaan dari olimpiade di Australia.
Pada tahun 1996-1998 Olimpiade Fisika menjadi semakin populer. Saya melihat ini sebagai kecenderungan positif mengingat buruknya mutu pendidikan di beberapa tempat di Indonesia. Adalah penting memberikan kesempatan kepada para pelajar yang cemerlang untuk mencapai prestasi tanpa harus dikungkung oleh keterbatasan mereka secara ekonomi.
Para sponsor pun banyak membantu, termasuk Pak Radius Prawiro yang meminjamkan Wisma Kinasih plus menyediakan konsumsinya selama 2 bulan penuh untuk para peserta pelatihan. Sejumlah universitas terkenal juga menawarkan beasiswa bagi delapan pelajar yang terpilih. Walaupun tidak mendapatkan perak (cuma 1 perunggu dan 4 penghargaan), olimpiade tahun 1996 di Oslo – Norwegia saya anggap berarti karena beberapa peserta berasal dari daerah pedesaan.
Tahun 1998 perusahaan yang menerbitkan buku saya bangkrut. Untung saya bertemu dengan Pak Mochtar Riady yang menganjurkan saya untuk bicara dengan Pak Yohanes Oentoro dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Akhirnya saya pun diterima mengajar di UPH. Di sini gaji saya cukup untuk menghidupi keluarga dengan layak. Sekretariat TOFI turut dipindahkan ke kampus UPH di Karawaci – Tangerang.
Tahun 1998 menjadi tahun yang terburuk, walaupun pimpinan Tuhan tetap terlihat jelas. Kurs Rupiah yang tiba-tiba melonjak menjadi Rp 16.000,- /1 USD menyebabkan kami mendadak membutuhkan Rp 160 Juta Rupiah, padahal waktu keberangkatan ke olimpiade di Iceland tinggal seminggu lagi. Walaupun begitu, kebutuhan dana sebesar ini dapat teratasi tepat pada waktunya dengan sangat ajaib. Cuma sayang, kali ini TOFI tidak berhasil mendapatkan medali. Saya pikir kerusuhan Mei turut berpengaruh karena para peserta yang dilatih di Karawaci seringkali dibangunkan oleh para tetangga yang meminta mereka untuk ikut berpatroli selama kerusuhan berlangsung.
Kekosongan medali ini ditebus dengan ‘lompatan kuantum’ dalam olimpiade berikutnya di Padua - Italia, ketika TOFI mendapatkan medali emas pertama untuk Indonesia yang diraih oleh Made Agus Wirawan, seorang pelajar dari Bali.
Karena TOFI selalu kekurangan dana, saya mulai berpikir untuk mencoba berbisnis pada tahun 2000. Ternyata Tuhan memberkati bisnis saya, sehingga kini saya maupun TOFI tidak perlu takut lagi kekurangan uang. Kini saya bahkan dapat membiayai dana sekretariat sebesar Rp 33 Juta Rupiah setiap bulannya. Pemerintah pun membantu 50% dari dana training dan transportasi, sedang yang 50% sisanya diharapkan didapat dari sponsor. Jika tidak berhasil mendapat bantuan dari sponsor, saya harus mendanainya sendiri.
Kuasa Doa
Saya pikir, kunci keberhasilan dari apa yang saya dan saudara-saudara saya alami di bidang kami masing-masing adalah doa dari Papa dan Mama, tapi terutama dari Papa. Selama 10 tahun menjelang kematiannya, Papa menjadi pendoa full-time. Ia selalu bangun jam 4 pagi untuk berdoa hingga jam 5.30. Jam 11 ia kembali berdoa hingga sekitar jam 13.00. Jam 17.00 ia akan melanjutkan doanya, dan di malam hari ia akan kembali berdoa.
Saya tidak pernah lupa dengan motta Papa yaitu bahwa ‘anak orang benar, cucunya tidak akan pernah meminta-minta.” Dari sini saya melihat bahwa Papa memiliki iman yang sangat kuat. Tapi saya pun memang seringkali mendapatkan kekuatan dari doa bersama dengan teman-teman di persekutuan. Pada waktu ada pelatihan di Wisma Kinasih misalnya, teman-teman dari PERKANTAS selalu datang setiap minggunya untuk saling menguatkan dan berdoa bersama.
Karena itu, jika sekarang orang suka bertanya “Apa yang jadi pelayananmu?”, maka saya akan selalu menjawab “Olimpiade Fisika adalah ladang pelayanan saya.”** (GETLIFE – www.inspirasianda.com)
Friday, March 26, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)