Showing posts with label gambar diri. Show all posts
Showing posts with label gambar diri. Show all posts

Wednesday, March 17, 2010

Apa Yang Kamu Percayai? (Gambar Diri)

Kenapa sih banyak anak muda yang nggak pede,  minder, nggak bisa apa-apa, nggak punya bakat, nggak ada apa-apanya kalo dibanding dengan si A, atau si B, dsb? Mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah karena mereka percaya bahwa itulah diri mereka, bahwa mereka memang dilahirkan demikian, dan mereka gak akan mungkin bisa berubah!!!


Aku pernah dengar khotbah seorang pendeta, dan dia bilang bahwa “Apa yang kita percayai menentukan masa depan kita, what’s ahead us!!”.  Namun sayangnya, kita sering nggak sadar kalo kita punya kepercayaan dan pola pikir yang salah, yang negatif! Misalnya saja, masih banyak orang, terutama orang tua yang kolot, percaya bahwa anak perempuan itu nggak bisa apa-apa, gak perlu sekolah tinggi-tinggi, nantinya juga kerja di dapur. Padahal itu kan nggak benar, right girls? Atau masih banyak orang yang langsung menilai kalau seorang anak yang orang tuanya bercerai, pasti anak itu nggak bisa jadi “orang” (gak berguna/ kurang ajar), padahal belum tentu juga lho!!



HATI-HATI DENGAN PERANGKAP PENAMPILAN

Kamu suka bingung mikirin, besok mau pakai baju apa ya? Atasan ini cocok sama bawahan yang mana ya? Terus kamu coba gonta-ganti baju  sampai 3X dan akhirnya kamu putusin untuk pakai baju pilihan kamu yang pertama, abis itu kamu berpatut di cermin 15 menit and keep asking to yourself ‘How do I look?’ Jujur aja, kadang-kadang aku pun seperti itu… J. Seringkali kita begitu sibuk menjaga penampilan kita untuk merasa lebih baik, lebih ok lebih berharga di mata orang lain. We are so concern about what’s other people going to think about us…

Bukan maksudku kalo penampilan itu gak penting lho!!! Aku sadar banget kok kalau penampilan yang baik (gak harus mahal, yang penting bersih, rapih dan menarik!) itu bisa meningkatkan rasa percaya diri kita. Waktu aku pertama kali jadi asisten dosen, aku juga sibuk hunting kemeja dan rok, sampai mami-ku pusing liatnya. Yang aku tekankan disini adalah bagaimana kita bergantung pada orang lain mengenai gambaran diri kita. Kita percaya bahwa diri kita adalah seperti yang orang lain katakan pada kita.  Dan hal ini mengakibatkan kita menetapkan suatu standar-standar tertentu dalam penampilan kita, bukan hanya penampilan secara fisik, tapi juga penampilan  melalui kecerdasan maupun kesuksesan kita untuk mendapatkan harga diri.

Inget guys, kita gak perlu harus “sukses” atau menyenangkan orang lain supaya kita bisa  memiliki rasa berharga dari keberhargaan yang sehat.  Keberhargaan itu telah diberikan dengan cuma-cuma dan pasti dari Tuhan buat kita!  Memang baik jika kita diakui oleh orang lain, tetapi seandainya orang lain tidak memberi pengakuan pada kita, kita masih dikasihi dan diterima sama Tuhan.

Can you guys see the difference?? Kita gak lagi diperbudak oleh penampilan dan pendapat orang lain, tetapi kita aman dan bebas dalam Kristus.  Tentu saja baik mendapatkan kesuksesan dan pengakuan, tetapi juga sudah jelas bahwa Tuhanlah sumber rasa aman dan dasar dari keberhargaan kita. Right?

HUMILITY

Mother Teresa pernah bilang begini, “Jangan pernah terganggu oleh pendapat orang lain. Jangan pernah menyerah pada kata-kata yang tidak mendukung. Jadilah rendah hati, dan Anda tidak akan pernah terganggu.”

Ada juga ucapan Mother Teresa yang serupa,” Jika Anda rendah hati, tidak ada sesuatupun yang akan menyentuh hati Anda, baik pujian atau cacian, sebab Anda tau siapa diri Anda… Jika Anda adalah seorang yang suci, bersyukurlah kepada Allah. Jika Anda adalah seorang pendosa, jangan tetap menjadi seorang yang demikian.” “Humility is you know who you really are in God. Less or more than that is pride.”

BE PROACTIVE!!!

Nah, jadi sekarang apa yang kamu percayai??? You are what you believe!!! Jadi, kalo kamu percaya bahwa kamu adalah seorang trouble maker yang gak bisa apa-apa dan cuma bisa bikin susah orang, ya itulah kamu… Tapi jika kamu percaya kalau kamu adalah ciptaan Allah yang mulia, kamu mempunyai talenta,dan dengan kesungguhan hati plus kerja keras kamu bisa mengembangkan talenta kamu dan mencapai cita-cita kamu, kamu pasti BISA!!!  So guys, let’s see things in differrent point of view, in God’s point of view! Inget, di mata Tuhan, kita semua berharga!!!  Don’t sell yourself short, don’t belittle yourself!

Jadilah proaktif, meskipun semua orang di luar sana meragukan kemampuan kamu, menganggap remeh kamu, mengatakan bahwa kamu gak berarti, dsb.  percaya deh bahwa gak  ada sesuatu atau seorangpun yang bisa menyakiti kamu tanpa persetujuan kamu! Dan kamu dapat memilih untuk tidak terganggu pada pendapat orang lain, tetapi mempercayai Bapa kita di surga. The great part of trusting the Lord is that He never lets yo down! J


BE YOURSELF & BE WHAT YOU ARE MEANT TO BE…



Aku sedang asyik membaca sebuah  buku  dan aku menemukan tulisan yang menarik didalamnya: “Pada zaman kita sekarang, pernyataan emosi secara terbuka tidak lagi dilakukan orang, kita sudah demikian terpelajar dan maju sehingga kita malu mengungkapkan hati kita. Para ahli ilmu jiwa menyatakan kepada kita, bahwa kita kehilangan banyak kreativitas dan semangat hidup karena alasan ini saja: Kita tidak mau menerima diri kita sendiri dan tidak mau bersikap jujur dalam reaksi-reaksi emosi kita. Kita berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang lain, bahwa kita adalah seorang lain yang berbeda dari kenyataan kita yang sebenarnya. Dan dengan demikian kita kehilangan kuasa untuk menjadi diri kita sendiri.”

LOVE YOURSELF &  JUST BE YOU…


Eits… jangan salah sangka dulu. Aku bukannya minta kamu untuk mencintai diri sendiri dan terus jadi gak peduli sama orang lain,  “Yang lain mo susah kek, mo stress kek, gak pusing,  yang penting gue happy !!!” Bukan gitu maksudku. Mencintai diri sendiri beda lho dengan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri itu bersumber dari sikap hormat terhadap eksistensi kita sebagai manusia. Dalam hal ini kita ditantang untuk menerima kemanusiaan kita sendiri, yaitu diri kita yang mempunyai keunikan dan kelebihan sendiri, tetapi juga diri kita yang punya kekurangan serta kelemahan.


Kamu gak perlu membuktikan pada orang lain betapa menyenangkan dan populernya kamu. Percaya deh sama Bapa, kamu adalah harta yang berharga bagiNya, hanya karena kamu adalah kamu. Bagian dalam diri kamulah yang membuat kamu berharga. Tuhan ingin kamu belajar untuk menghargai diri kamu sendiri. Kamu gak akan bisa benar-benar bahagia sampai kamu bisa menghargai diri kamu. Gak jadi soal  berapa banyak “prestasi besar” yang kamu raih, jika dalam hati kamu masih membenci dirimu sendiri, kamu bakalan menderita! Temukan nilai diri kamu dalam hubungan kamu dengan Tuhan. Tiap pribadi itu istimewa dan langka bagi Tuhan – sama seperti kamu.


Gak ada pemborosan yang lebih besar daripada membandingkan diri kita dengan orang lain. Pasti akan ada orang yang tampil lebih baik dan membuat kita iri hati. Atau ada orang lain lagi yang berpenampilan lebih buruk, dan membuat kita jadi sombong.  So, just be yourself deh! Miliki pandangan yang seimbang mengenai orang lain. Kita memang harus menghormati orang lain, tapi hormati juga diri kita sendiri! (anakmuda.net)

Tuesday, March 16, 2010

Miliki Integritas!

Apaan tuh integritas? Integritas adalah nilai yang kamu berikan pada diri sendiri, kemampuan kamu untuk membuat & memenuhi komitmen terhadap diri  sendiri. Integritas berarti kamu gak akan nyontek bukan karena takut ketauan guru, tapi kamu  gak nyontek karena kamu percaya dan bersyukur  akan kemampuan diri sendiri dan berani tanggung resiko dapet jelek kalo  gak belajar and belon siap ujian. Integritas berarti kamu nolong nenek tua nyebrang jalan bukan karena temen kamu yang cakep itu juga lagi nyebrang bareng kamu, tapi karena kamu tau nenek itu perlu bantuan dan kamu akan membuat hari itu lebih indah buat kamu dan nenek itu kalo kamu tolong dia nyebrang jalan.

“Ukurlah diri Anda terhadap diri sendiri, dan bukan dengan orang lain. Berpikirlah dalam terminologi saat Anda dibandingkan dengan potensi Anda - dan teruslah berjuang untuk menjadi yang terbaik.”


GOD LOVES YOU JUST THE WAY YOU ARE


Kepingin gak sih kamu punya sahabat yang dengan siapa kamu bisa jadi diri kamu sendiri – tanpa kepalsuan, tanpa topeng, tanpa sandiwara, tanpa menyembunyikan sesuatu? Great news: “Tuhan mau jadi sahabat yang seperti itu buat kita!”


Tuhan mengenal kita dan menyukai kita apa adanya. Tuhan suka cara kita berpikir, berbicara, dan tersenyum. Tuhan suka selera humor kita. Tuhan mau banget menghabiskan waktu bersama kita. Kita gak dituntut kok untuk  belajar cara berdoa yang sampe spiritual banget, just talk to the Father. Kalo senang ya bilang, kalo marah ya ngomong; kalo puas ya bersyukur, kalo kecewa ya ceritain juga semuanya. Tuhan gak mau hubunganNya dengan kita jadi kaku hanya karena setiap kali doa kita mesti berusaha nunjukin diri kita yang sangat suci atau sempurna. Tuhan cuma mau kita jujur sama Dia. Tuhan mau menghabiskan waktunya bersama kita, bukan bersama sebuah karakter yang sengaja kita ciptakan untuk membuatNya terkesan.


Mungkin dunia tempat kita tinggal lebih tertarik dengan penampilan luar kita daripada apa yang ada di dalam diri kita. Tapi Tuhan berlawanan. Tuhan meneliti seluruh isi hati kita. Tuhan melihat tanda-tanda di tempat kita terluka oleh perkataan-perkataan tajam maupun oleh perlakuan buruk. Tuhan melihat harapan-harapan kita, hal-hal yang ingin kita raih, dan mimpi-mimpi yang belum menjadi kenyataan.


Tuhanlah yang ciptain diri kita yang sebenarnya, benar-benar sebagaimana adanya kita – Tuhan  yang mengenal kita, dan Tuhan suka akan hasil karyaNya!!! (anakmuda.net)

Monday, March 15, 2010

11 Konsep Diri Positif

HASIL PEMULIHAN GAMBAR DIRI


D.E. Hamachek menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif :

1. Ia menyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi, dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan dia salah.
2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.
4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.
6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.
7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuasan yang mendalam pula.
10.  Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekadar mengisi waktu.
11.  Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain. (Brooks dan Emmert, 1976:56).

Sunday, March 14, 2010

Dampak Gambar Diri Rusak

Banyak banget dampak dari gambar diri yang rusak, dan yang pasti, semuanya negatif. Berikut kamu bisa simak beberapa diantaranya:


1. Merasa minder


Perasaan minder, tidak berarti, tidak berharga merupakan dampak paling umum yang terjadi pada seseorang yang mengalami gambar diri yang rusak. Orang-orang jenis ini tidak bisa menghargai dan mencintai diri mereka sendiri, dan hal ini menyebabkan orang lain  juga tidak menaruh respek terhadap diri mereka.


2. Trauma


Karena kekecewaan yang dialami, seseorang bisa menderita trauma dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang menyakiti hatinya itu. Misalkan saja, seseorang yang berasal dari broken-home family berkaul tidak mau menikah seumur hidupnya karena dia takut akan perceraian. Dia takut dia akan mengalami apa yang telah dialami orang tuanya.


3. Obat-obatan


Obat-obatan merupakan jalan pintas yang paling gampang bagi orang yang telah kehilangan gambar diri. Kelihatannya drugs bisa membuat kita melupakan masalah  and bikin kita happy. Tapi kenyataannya, bukannya solve the problem malah nambahin satu lagi tumpukan masalah. Bikin kecanduan dan bisa-bisa meninggal gara-gara od (over dosis).


4. Free sex


Harus kita akui bahwa free sex makin marak terjadi di kalangan anak muda. Banyak anak muda tidak menjaga kekudusannya dan bebas melakukan hubungan seksual dengan siapa saja yang mereka sukai. Mereka tidak menyadari gambar diri mereka sebagai ciptaan Tuhan yang sudah ditebus dengan harga yang mahal. Mereka tidak menyadari bahwa tubuh mereka adalah bait Allah, dan mereka menyia-nyiakannya dengan pergaulan bebas.


5. Penyimpangan seksual


Selain karena faktor lingkungan dan pergaulan, kepahitan juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya penyimpangan seksual. Misalkan saja, ada seorang anak gadis yang mempunyai ayah yang sangat keras dan otoriter. Gadis ini sangat benci pada ayahnya, malah dia jadi membenci semua pria yang ada, karena dalam dirinya gambaran semua pria adalah sama dengan gambar diri ayahnya yang otoriter. Gambaran yang diperolehnya adalah bahwa semua pria itu brengsek, kerjanya cuma menyakiti hati istri dan anak-anaknya. Dia mulai merasa lebih nyaman bila berada disekeliling wanita. Lama kelamaan, dia mulai merasa tertarik secara fisik dan memiliki nafsu terhadap sesama wanita.


6. Bunuh diri


Orang yang sudah benar-benar frustrasi dan kehilangan gambar dirinya, cuma punya satu solusi yang kelihatannya paling masuk akal untuk dilakukan, yaitu: bunuh diri! Hii! Serem ya!  Kok malah dipikir masuk akal, jelas-jelas bunuh diri bukan solusinya, tapi mana bisa berpikir seperti itu kalo pikiran kita udah dijejali dengan segala masalah dan problema yang ada???



Guys, please remember! Kita adalah kepunyaan Tuhan dan kita sangat berharga di mataNya!!! Apapun masalah yang kita alami, gak peduli betapa besarnya kesalahan yang kita perbuat, gak ada yang bisa merubah kenyataan itu! Kita akan tetap menjadi kepunyaan dan kesayangan Tuhan no matter what!!!


Betapapun besarnya masalah yang kita alami, our God is GREATER!!!  And God is able!!!  So, let’s give God space to work in us, untuk campur tangan dalam hidup kita, biar Tuhan sendiri yang memulihkan gambar diri kita.  (anakmuda.net)

Saturday, March 13, 2010

Rasa Malu (Gambar Diri Rusak)

Inti dari semua penyebab gambar diri yang rusak ada empat. Keempatnya merupakan kepercayaaan yang salah tentang konsep gambar diri. Dari setiap contoh kasus yang sudah dipaparkan, mengarah pada keempat kepercayaan yang salah tersebut, salah satunya yakni: Rasa malu

Mottonya : “Saya memang begini. Saya tidak bisa berubah. Saya tidak berpengharapan”

Tipuan ini mengikat orang-orang sehingga menjadi pesimis dan putus asa dengan harga diri yang buruk. Pendapat tentang dirinya sendiri didasarkan pada kegagalan-kegagalan masa lalunya – itulah dia yang selalu gagal. Dia tidak percaya bahwa dia bisa saja berubah dan membangun suatu kehidupan baru. Mereka gampang menyerah. Masalah-masalah yang umumnya berkaitan dengan rasa malu.

A. Rendah Diri


Perasaan rendah diri merupakan akibat dari pola-pola kegagalan yang sudah lama. Ada suatu perasaan jijik pada diri sendiri akibat pengalaman-pengalaman tertentu yang menyakitkan hatinya, misalnya pengalaman dilecehkan secara seksual, difitnah, diperlakukan secara tidak adil, dsb. Pengalaman ini terus menghantuinya, yang akhirnya membuat dia merasa tidak layak.

B. Kasihan kepada diri sendiri


Ketakutan akan dilukai atau ditolak lagi membuat dia menarik diri ari semua interaksi. Dia mungkin aktif secara sosial, tapi tidak mengijinkan orang lain benar-benar mengenal siapa dia sebenarnya. Rasa malu yang begitu dalam membuatnya menarik diri dari orang lain, merasa asing, dan mengalami rasa kesepian yang luar biasa. (anakmuda.net)

Friday, March 12, 2010

Menyalahkan Orang Lain (Gambar Diri Rusak)

Inti dari semua penyebab gambar diri yang rusak ada empat. Keempatnya merupakan kepercayaaan yang salah tentang konsep gambar diri. Dari setiap contoh kasus yang sudah dipaparkan, mengarah pada keempat kepercayaan yang salah tersebut, salah satunya yakni: Menyalahkan orang lain.


Mottonya : “Barangsiapa yang gagal tidak layak dikasihi dan pantas dihukum, termasuk diri saya sendiri”

Orang-orang berikut ini adalah orang-orang yang keras terhadap dirinya sendiri, dia tidak bisa menerima dirinya sendiri saat dia gagal. Dia nggak bisa toleran dengan kegagalan. Hal ini berdampak pula pada hubungannya dengan orang lain. Dia sering menyalahkan orang lain karena kesalahan yang mereka perbuat dan memenuhi hukum pembalasan. Orang harus mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan. Pola pikir seperti ini berlaku pula pada dirinya sendiri ketika dia gagal. Dia cenderung menuduh diri sendiri, dan mencari-cari apa yang bisa disalahkan atas kegagalan yang terjadi. Ketika dia gagal mendapatkan pengakuan atas penampilannya, dia mencari kambing hitam. Tetapi seringkali dia tidak mendapati siapapun yang dapat disalahkan selain dirinya sendiri. Dia mulai menjalankan penghakiman atas dirinya sendiri dan itu merupakan hukuman yang kejam. Akibat dari takut dihukum adalah menghukum diri sendiri dan orang lain dan takut pada semua hal

Karena tidak punya iman untuk melakukan sesuatu dalam hidup, mereka menjadi pasif dan merupakan akar dari salah satu masalah yang paling umum dari masyarakat kita. Kepasifan adalah pengabaian terhadap pikiran, karunia, atau talenta kita dengan tidak mau bertindak. Kepasifan menghasilkan hidup yang membosankan, penghindaran terhadap resiko, dan kehilangan kesempatan. (anakmuda.net)

Wednesday, March 10, 2010

Gila Pengakuan (Gambar Diri Rusak)

Inti dari semua penyebab gambar diri yang rusak ada empat. Keempatnya merupakan kepercayaaan yang salah tentang konsep gambar diri. Dari setiap contoh kasus yang sudah dipaparkan, mengarah pada keempat kepercayaan yang salah tersebut, salah satunya yakni:  Gila pengakuan

Mottonya : “Saya harus diakui (diterima) dan dihormati oleh orang-orang tertentu supaya merasa enak terhadap diri sendiri”. Orang-orang yang gila pengakuan adalah orang-orang yang takut tertolak. Mereka mendasarkan harga diri pada “apa pendapat orang lain”, sehingga mereka tergila-gila akan pengakuan orang lain. Akibatnya sebagai berikut :

A. Berusaha menyenangkan orang lain dengan harga apapun


Mereka begitu mudah diperalat. Mereka tidak bisa berkata “tidak” pada orang lain. Ini bukanlah suatu “kebaikan hati”, karena pada dasarnya mereka tidak bisa menolak. Mereka berusaha bersikap ramah supaya orang senang, padahal sebenarnya hati mereka menggerutu kesal. Kemarahan, kekesalan, permusuhan.

Hal ini merupakan respon paling umum terhadap penolakan. Mereka begitu menghargai pendapat orang lain, namun ketika orang lain tidak menghargai mereka seperti yang diinginkan, hal itu menyakitkan mereka. Karena itu mereka menjadi marah, kesal dan bahkan menjadi dingin.

B. Sangat sensitif pada kritikan


Mereka takut atau terlalu peka terhadap pendapat orang lain. Mereka tidak mau kalau orang lain mengetahui kejelekan atau kekurangan yang dimilikinya, sehingga mereka berusaha menghindari orang lain. Ada yang secara terang-terangan menghindar dengan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menyendiri. Tetapi ada pula yang bersembunyi di balik tembok kata-kata, senyuman, atau aktifitas mereka. Mungkin mereka memiliki banyak teman, tetapi teman-temannya tidak pernah benar-benar mengenalnya. (anakmuda.net)

Tuesday, March 9, 2010

Perangkap Penampilan (Gambar Diri Rusak)

Inti dari semua penyebab gambar diri yang rusak ada empat. Keempatnya merupakan kepercayaaan yang salah tentang konsep gambar diri. Dari setiap contoh kasus yang sudah dipaparkan, mengarah pada keempat kepercayaan yang salah tersebut, salah satunya yakni: Perangkap penampilan

Mottonya: “Saya harus memenuhi standar-standar tertentu supaya saya merasa enak atau puas dengan diri sendiri”. Orang yang terperangkap dalam perangkap penampilan adalah orang-orang yang takut gagal. Akibat dari rasa “takut gagal” adalah sebagai berikut:

A. Perfeksionis


Perfeksionis adalah orang yang pengen segala sesuatu dilakukan dengan sempurna, sampai pada hal yang kecil sekalipun. Contoh seorang yang perfeksionis dalam Alkitab adalah Marta. Marta ingin melayani Yesus sesempurna mungkin, tetapi akhirnya hatinya penuh dengan kegusaran karena banyak hal yang tidak bisa ia selesaikan sekaligus. Seorang perfeksionis takut gagal. Karena ketakutannya itu, dia berusaha menetapkan suatu standar tertentu yang harus dicapai. Suatu standar dengan perincian yang sedetail-detailnya, yang akhirnya membuat dia hidup dalam lingkaran peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri. Dia mengira dengan demikian hidupnya akan lebih teratur dan kemungkinan untuk gagal tidak ada sama sekali. Tetapi pandangan tersebut keliru, justru seorang perfeksionis akan mendapat banyak kekecewaan karena ia akan mendapati bahwa dirinya sendiri tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Akibatnya sering kali sukacitanya hilang karena hal-hal sepele. Mereka marah dan kesal pada diri sendiri, malah terkadang menyalahkan orang lain sebagai ‘kambing hitam’ kegagalan mereka. Pengalaman takut gagal dan rasa takut gagal yng selanjutnya dapat mengarah pada depresi yang dalam. Orang-orang yang belum mengalami kasih Kristus biasanya akan mencari pelarian dengan nge-drugs atau alkohol. Awalnya hanya sebagai pelarian sementara untuk menghilangkan tekanan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu bertahan tanpa zat-zat kimia tersebut.

B. Gila sukses

Sukses adalah suatu hal yang baik, yang berarti bahwa kita berhasil. Orang-orang sukses berarti orang yang mampu mengatasi kesulitan dan mampu meraih apa yang diinginkannya. Semua orang ingin sukses. Tetapi, ada orang-orang yang keinginan untuk gagal. Orang yang sering mengalami keberhasilan dalam hidupnya cenderung merasa sombong dan selalu tertantang untuk mengejar hal-hal yang lebih hebat lagi. Mereka berkata, “Saya tidak boleh gagal” atau “Saya tidak akan pernah gagal”. Sebenarnya ungkapan itu menyiratkan bahwa mereka takut bila gagal. Manakala kegagalan itu datang, mereka tidak percaya itu bisa terjadi. Ereka tidak percaya bahwa mereka bisa gagal. Karena selama ini mereka menganggap dirinya manusia super.

C. Menghindari resiko


Ini adalah kebalikan dari orang-orang yang gila sukses. Sering kita melihat ada orang yang sebenarnya mampu, namun tidak pernah mau melakukan pekerjaan yang besar karena takut akan resikonya. Dia hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang di bawah kemampuannya. Kreativias, ekspresi diri, dan pelayanan kepada Allah, tidak bisa berkembang dengan baik. Dalam Alkitab, hal ini digambarkan pada perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30). Seorang hamba yang telah diberi kepercayaan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, namun menguburkan potensi (talenta) tersebut di dalam tanah, akhirnya dia dihukum dan dikatakan sebagai hamba “yang tidak berguna” (ayat 30). Orang-orang yang menghindari resiko adalah orang-orang yang penakut yang tidak suka mencoba hal-hal yang baru dan tidak pernah merasa tertantang. Karena itu mereka tidak pernah menjadi orang yang berhasil.

D. Memanipulasi orang lain demi kesuksesan

Ketakutan akan kegagalan memaksanya untuk “memberdayakan” orang lain demi kesuksesannya. Tidak peduli apa yang akan dialami orang lain akibat ambisinya itu.

Tuhan melayakkan setiap kita untuk masuk di hadiratNya tanpa perasaan bersalah, sebab Dia telah membuang semua pelanggaran kita. Kita bukan lagi orang yang terhukum melainkan kita sepenuhnya berkenan kepadaNya. Kita dibenarkan bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia Allah. (anakmuda.net)

Monday, March 8, 2010

5 Tanda Konsep Diri Negatif

AKIBAT GAMBAR DIRI RUSAK

Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976:42-43) ada lima tanda konsep diri negatif.

- Pertama, ia peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan terhadap kritik yang ditrimanya, dan mudah naik darah. Bagi orang ini, koreksi sering kali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru.

- Kedua, responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang-orang yang seperti ini, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

- Ketiga, bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, mereka pun bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun atau siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.

- Keempat, cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi kepada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak bisa melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ian tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan mengangap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.



- Kelima, bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Rumus yang dipakai selama ini, yang merupakan tipu daya iblis, adalah: Harga diri = Prestasi + Pendapat orang lain. (anakmuda.net)

Saturday, March 6, 2010

Harga Diri (Gambar Diri)

Harga Diri Menurut Ukuran Manusia

A. Penampilan

“Eh, gue nggak punya duit nih buat makan. Gue bisa pinjem duit loe ye…, soalnya gue kemaren habis beli baju. Keren abis, bo! Gue nggak tega ngeliat tuh baju mejeng sendirian. Gue kan baik! Hehehe!#*$??”

Pernah nggak denger komentar diatas? Masalah beginian nih paling kerasa dikalangan anak yang nge-kost. Tidak semuanya sih. Ada juga kok yang mampu bertanggung jawab atas uang bulanan yang dikirimin orangtuanya, tapi ada juga sebagian yang tidak bisa ngatur keuangannya. Sebenarnya mereka gak butuh-butuh amat dengan barang atau pakaian atau aksesoris lainnya. Tapi itu harus dibeli karena menurut mereka semuanya itu akan menaikkan harga diri mereka. Kata mereka sih “Demi gengsi, man!”

Ada istilah BKAK (Biar Kecekek (tercekik -red) Asal Keren), biarpun ukuran bajunya nggak enak dipake, tapi demi gaya tetep dipake juga. Di antara suku Minahasa di Sulawesi Utara, ada pepatah yang lumrah yang bunyinya: “Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi.” Artinya, biar kelaparan yang penting gaya tetep OK. Pepatah tersebut memberikan gambaran bahwa kebutuhan pribadi bisa jadi bersumber dari penampilannya. Orang-orang yang sangat mementingkan penampilannya biasanya selalu menjadi korban iklan. Pengennya semua dicoba. Mereka akan puas setelah berhasil membeli atau mendapatkan apa yang menjadi keinginan hatinya. Barang yang semula sangat diinginkan biasanya tak lama kemudian menjadi barang usang, karena udah nggak model lagi. Biasanya sih orang-orang yang seperti ini sangat boros dan tak segan-segan ngeluarin uang banyak untuk merubah penampilannya.

B. Pandangan masyarakat

“…., nanti apa kata orang? Kan malu kalau semua orang tau!”

Setiap kita tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Setiap gerakan, aktivitas, bahkan penampilan kita selalu ditanggapi oleh orang-orang disekitar lingkungan kita. Mereka itu bisa keluarga sendiri, teman-teman, atau tetangga kita. Penilaian masyarakat akan menentukan apakah kita pantas diterima/dihormati atau tidak. Bila nilai kita buruk dimata masyarakat, biasanya diberi cap ’sampah masyarakat’. Tentunya tidak ada yang mau membawa cap ini dalam hidupnya. Setiap orang ingin dihormati. Dan untuk mendapatkan kehormatan ini, orang akan melakukan apa saja, bahkan bertindak secara berlebihan untuk mendapatkan simpatik dari masyarakat. Mereka cenderung berbohong untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Dalam adat suku batak ada yang dikenal dengan upacara mangokkal holi. Itu loh, upacara penggalian kuburan nenek moyang, lalu tulangnya dibersihkan dan ditempatkan di suatu ruangan lain yang berbentuk tugu atau bangunan kecil seperti rumah. Dalam bangunan itulah dikumpulkan tulang-tulang nenek moyang mereka dari beberapa generasi. Untuk upacara ini dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Bisa jutaan bahkan puluhan juta. Biasanya keluarga/keturunan  yang bisa ngadain upacara mangokkal holi, dianggap  terpandang oleh masyarakat. Semakin besar dan mahal pestanya semakin terhormatlah mereka dan ini membuat harga diri keluarga yang menyelenggarakan naik.

Contoh lain seperti hukum adat di Suku Bugis Makasar, Sulawesi Selatan, yang disebut hukum Siri. Kata Siri dalam bahasa Indonesia berarti malu. Salah satu contoh penerapan hukum Siri ini adalah bilamana seorang pria menolak atau tidak bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap sang gadis. Keluarga pihak wanita dapat melakukan tindakan untuk mengambil nyawa si pria itu karena perbuatannya membuat keluarga wanita malu. Bagi suku ini, secara umum, harga diri terletak pada pandangan masyarakat yang baik  terhadap mereka.

C. Pendidikan

“Rajin-rajinlah belajar biar jadi  orang yang berhasil. Kalau kamu udah jadi sarjana atau insinyur, kan orang tuamu bisa bangga punya anak seperti kamu!”

Nasihat orang tua model beginian sudah sering kita dengar. Orang tua sangat mengharapkan keberhasilan dari anak-anaknya karena mereka adalah kebanggan dari orang tuanya. Khususnya bagi kaum intelektual, harga diri didasarkan atas tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin terhormatlah mereka. Apalagi bila bisa meraih beberapa gelar. Karena itu sebagian orang akan berusaha memperoleh  pendidikan setinggi-tingginya untuk mendapatkan gelar dibelakang atau di depan nama mereka. Bahkan kadangkala mereka mengorbankan iman dan tata nilai yang baik demi memperoleh sehelai kertas ijazah.

Anak-anak, oleh orang tuanya, sedini mungkin harus mengikuti kursus ini itu. Ikut les bahasa atau musik. Alasannya agar anaknya nanti punya nilai lebih di mata masyarakat dan teman-temannya. Tuntutan untuk memperoleh pendidikan setingg-tingginya sering terjadi di negara-negara maju. Misalnya di negara Jepang, sejak kecil anak-anak sudah disibukkan dengan berbagai macam kursus atau les. . Persaingan yang ketat membuat anak-anak menjadi stres. Tidak heran semakin banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para remaja sekolahan, karena tidak sanggup menanggung beban moril dan mental yang di taruh di atas mereka.

Contoh lain adalah di antara masyarakat desa di Philipina, pendidikan sangat dihargai sehingga mereka cenderung untuk menggantung ijazah SMU atau bahkan sampai perguruan tinggi di rumah mereka. Tak usah jauh-jauh, di negara kita sendiri pun biasanya orang-orang yang pendidikannya tinggi cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada yang berpendidikan lebih rendah atau yang tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali. Hal ini membuktikan bahwa bagi beberapa orang harga diri atau nama baik seseorang terletak pada tingkat pendidikannya.

D. Kedudukan atau jabatan

“Aku pengen jadi presiden biar banyak uang terus dihormati ama semua orang!” demikian komentar seorang anak ketika ditanya mengenai cita-citanya. Kebutuhan untuk dihormati sudah timbul sejak masa kanak-kanak. Seorang anak yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, perlahan-lahan akan mengakui  adanya suatu pengakuan terhadap status sosial dalam masyarakat. Gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat akan merubah cara pandangnya. Salah satunya adalah bahwa orang yang memiliki jabatan atau kedudukan akan lebih dihormati daripada yang tidak sama sekali. Semakin tinggi jabatannya, maka akan disegani dan dihormati.

Contoh kecil yang mungkin masih kita ingat adalah permainan-permainan dimasa anak-anak. Dalam permainan berkelompok dibutuhkan seorang pemain atau hero. Misalnya pemainan follow the leader. Pemimpin berada ditengah-tengah lingkaran kemudian dia melakukan gerakan-gerakan yang harus diikuti oleh teman-temannya. Yang tidak mengikuti gerakannya akan dihukum.

Contoh lain dalam permainan lompat tali atau tali jalin. Talinya terbuat dari jalinan banyak karet. Ada dua orang yang memegang kedua ujung tali tali dan menggerakannya dengan gerakan berputar  dari atas ke bawah. Pemain dari kelompok lain akan akan melompat-lompat diatas  tali tersebut. Kalau yang mainnya jago dan tidak pernah salah, dia akan membela dan membantu teman-temannya yang gagal. Saat itu dia jadi hero bagi kelompoknya. Posisi yang bagus yang dimilikinya ketika bermain akan membuatnya exciting karena pada saat itu dia dihormati dan dihargai oleh teman-temannya.

Pengertian ini akan semakin bertambah ketika seorang anak beranjak dewasa. Bukan lagi sekedar dalam permainan, tapi juga dilingkungan sekolah bahkan sampai dilingkungan pekerjaan. Dalam lingkungan sekolah, biasanya ketua OSIS mempunyai banyak “fans” ketimbang yang lainnya. Ini disebabkan jabatannya memberikan nilai lebih. Begitu juga di lingkungan pekerjaan. Seorang pegawai biasa akan berusaha untuk meraih jabatan/posisi yang lebih tinggi. Dari pegawai biasa naik menjadi staff pegawai, lalu meningkat menjadi supervisor atau manajer, dan seterusnya. Kedudukan yang tinggi akan meningkatkan harga dirinya.

Ada suatu ungkapan yaitu, “kekuasaan itu dapat merusak seseorang, dan semakin besar kekuasaan seseorang semakin besar kerusakan yang dapat ditimbulkannya.” Memang benar bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar harga dirinya. Tetapi pencobaan yang dihadapi akan semakin lebih banyak dan berat pula. Untuk meraih kedudukan lebih tinggi, sudah bukan hal yang baru lagi bila didengar ada yang bermain politik untuk naik pangkat atau untuk mempertahankan kedudukannya. Cara-cara licik dan curang sudah jadi “barang halal” untuk mandapatkan jabatan yang tinggi. Istilah yang dipakai dalam Alkitab adalah “gila hormat”.

E. Uang

Walaupun uang hanya benda yang bentuknya kecil tapi mampu membuat manusia kalang kabut. Uang atau duit sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Dengan uang, semaunya akan beres dan lancar. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani perlu uang. Untuk perkembangan pekerjaan Tuhan dan untuk penginjilan sedunia pun butuh uang. Bahkan untuk mati pun harus keluar uang. Orang mati, dikubur, kan butuh uang untuk beli tanah dan petinya. Dari kelahiran sampai kematian, uang memiliki peranan besar. Tidak heran, manusia sangat suka dengan uang. Uang sudah dijadikan ilah oleh kebanyakan orang dan mereka mendambakannya lebih dari Tuhan. Setiap hari kerja banting tulang untuk cari uang dan memupuk harta kekayaan. Semua pekerjaan dilakukan dengan alasan “money oriented”.

Musuh terbesar manusia jaman ini adalah cinta akan kekayaan dan harta benda. Manusia membiarkan dirinya diperhamba oleh materialisme. Mengapa? Karena pikirannya yang keliru tentang dasar harga dirinya. Makin banyak harta benda, makin merasa dihargai oleh teman-teman dam masyarakat. Karena hal inilah kejahatan semakin bertambah. Cara apapun akan dilakukan untuk mendapatkan uang. Menjual tubuhnya untuk mendapat segepok uang bukan hal yang asing lagi. Bandar judi semakin banyak. Mafia-mafia obat bius/narkoba terus merajalela tanpa memikirkan nasib generasi bangsa yang akan hancur karena perbuatannya. Manusia sudah jadi hamba uang. Uang adalah segala-galanya dan uang adalah tujuan hidup. “Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” tetapi juga “kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan”. Bila manusia mampu mendudukan uang pada porsi yang benar, yaitu hanya sebagai alat, maka manusia telah nenundukkan uang dengan segala kekuasaannya.

Kelima hal diatas jelas menunjukan bahwa manusia sangat membutuhkan pengakuan akan harga dirinya. Seakan-akan harga diri adalah kebutuhan dasar yang melebihi kebutuhan lainnya. Adalah wajar dan seharusnya setiap orang memiliki harga diri yang sehat. Tetapi persoalanya terletak pada objek atau sumber harga diri itu. Usaha manusia untuk menjadi berarti atau berharga justru membuatnya jadi lupa diri bahkan kehilangan identitas diri yang sebenarnya.

Guys! Tuhan tahu kalo kamu butuh semuanya itu. Masakan dia yang telah menciptakan kita tidak mengerti. Harga diri kita hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan. Dengan mencari pujian dari orang lain dan sikap yang selalu mementingkan ego, berarti kita menipu diri sendiri. Pujian yang sejati berasal dari Allah. Dia tidak berbohong dan menipu kita atau sekedar membesar-besarkan hati kita. Tuhan yang juga adalah Bapa kita, memandang kita dengan terpesona karena kita adalah karyaNya yan paling indah.

Setiap kita ingin tampil sempurna dan tak bercacat cela dihadapan semua orang. Tapi saat kita mengetahui bahwa kita mempunyai beberapa kekurangan dan kelemahan, rasa kecewa dan takut pun mulai timbul. Kita menganggap bahwa kekurangan dan kelemahan kita adalah musuh. Hingga kita mulai memfokuskan perhatian pada kekurangan dan kelemahan yang kita miliki seakan-akan bila tidak diperhatikan ‘sang musuh’ akan merusak segalanya. Padahal karena kita terlalu memfokuskan perhatian pada kekurangan dan kelemahan kita, semuanya jadi hancur. Seperti pepatah yang mengatakan “karena nila setitik hancur susu sebelanga.” Jangan terlalu cepat mencap diri sebagai orang yang gagal hanya karena sedikit kesalahan yang kita lakukan. Rasa bersalah dan tertuduh itu merupakan tipuan si iblis. Iblus membuat kita percaya bahwa kesuksesan akan membaca kepuasan dan kebagahiaan. Dia memimpin dan membutakan kita dan menjadikan kita tawanan karena ketidakmampuan kita memenuhi standard-standard dunia.

Siapakah yang sempurna di dunia ini? Mengalami kegagalan adalah hal yang biasa, tetapi orang yang melihat kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk meraih sukses, itu baru luar biasa. Kegagalan bukan berarti kita bodoh, tetapi kita telah mengalami cobaan iman. Kegagalan bukan berarti kita tidak mencapai apa-apa melainkan berarti kita telah belajar sesuatu. Kegagalan bukan berarti Tuhan telah meninggalkan kita, tetapi Tuhan telah merencanakan sesuatu yang mulia bagi kita. (dari majalah GFresh, anakmuda.net)

Friday, March 5, 2010

Gua Jeleeekk!! (Gambar Diri)

Pernah nggak pas ngaca liat muka sendiri di dalam cermin, lalu ngomong dalam hati: “Aduh, gue jelek banget! Kena kutukan apa sih? Emang Mama gue makan apa waktu ngandung gue?”, Atau pernah terlintas pikiran begini: “Dasar emang gue bego, tulalit, gemuk, jerawatan, kere, jomblo, idup lagi!”

Ups! What happen, guys?! Krisis pede, yach? OK, deh! Sekarang kamu maunya apa? Pengen ngerubah hidung yang pesek jadi mancung? Dunia bilang: “Tenang, ada operasi plastik”. Pengen ngelurusin rambut keriting? Dunia bilang, “Tenang, bisa dibayao kayak Hua Ce Lei!”. Atau pengen langsing? Dunia bilang, “Tenang, minum aja pilnya!”. Atau, biar tampil lebih menarik, beli aja baju en aksesoris yang sedang ngetrend, biar mahal asal keren!

Hmmm…. di jaman sekarang ini apapun bisa terjadi. Dunia bener-bener servis abis, deh! Tapi semuanya pakai money. “Emang kenapa?, duit-duit gua, rese amat sih lu!”. Yaa... biarpun kamu banyak duit, kamu nggak akan pernah bisa puas alias ngerasa dirinya kurang terus. Lebih parah orang yang uangnya pas-pasan, dapat uang dari mana? Nodong? Hi guys… sadar dikit, kamu nggak perlu jadi seperti orang lain, terimalah dirimu apa adanya.

GAMBAR DIRI YANG RUSAK


Kenapa gambar diri seseorang itu bisa rusak? Aku coba kasih beberapa contoh kasus yang aku ambil dari realitas kehidupan kita sehari-hari:


1. Salah tujuan hidup


Andi memaki Anto dengan sangat kasar karena jawaban Anto yang salah menyebabkan kekalahan group mereka. Andi memang selalu begitu. Dia begitu terobsesi dengan kemenangan dan kesuksesan dalam dirinya. Dia merasa dirinya berharga jika dia bisa membuktikan pada dunia bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang hebat. Bahwa dunia gak bisa menganggap remeh dirinya. Memang dia telah membuktikannya dengan menjadi juara kelas dan bintang lapangan voli di sekolahnya, tapi sifatnya yang selalu ingin menang sendiri dan takut tersaingi oleh siapapun membuat dia dijauhi teman-temannya.


Sebenarnya sifat Andi yang seperti ini berakar dari keadaan keluarganya. Andi adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya yang miskin yang sangat mengasihinya. Kakeknya masih berusaha bekerja di sebuah pabrik untuk membiayai hidup mereka meskipun tangannya sudah tidak terlalu cekatan lagi karena sudah termakan umur. Para buruh di pabrik yang tidak suka dengan hasil kerja kakek Andi yang tidak terlalu baik sering meremehkan si kakek dan  mengejek Andi sebagai anak yatim piatu yang tidak berharga. Andi terluka dengan hinaan dan ejekan itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia besar nanti dia akan menjadi orang kaya yang sukses, apapun caranya.



2. Penelantaran orang tua


Mungkin dari luar Lisa kelihatan sangat bahagia. Orang tuanya adalah pengusaha sukses terpandang yang selalu memenuhi keinginannya secara materi. Lisa sendiri adalah seorang primadona kampus: cantik, kaya dan pintar. Tapi, di dalam hati Lisa selalu merasa kesepian dan haus akan perhatian orang lain. Dia merasa kesal karena orang tuanya lebih memprioritaskan pekerjaan mereka dibandingkan dirinya sendiri.


Dia berusaha menutupi kekecewaannya dengan terus pergi berbelanja, bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi yang dia dapat hanyalah kebahagiaan sementara. Barang - barang yang dimiliki tidak dapat memuaskannya, teman-temannya hanya dekat dengan dirinya karena kecantikannya dan kekayaannya. Di dalam dirinya sendiri Lisa merasa kosong dan gak berguna.



3. Pelecehan seksual


Rambut Via kusut. Dia masih gak mau makan. Sudah seminggu dia mengurung diri di kamarnya sejak tragedi itu terjadi. Minggu lalu, sekitar jam sebelas malam seorang laki-laki tidak bermoral telah memperkosanya sewaktu dia berjalan kaki pulang ke rumah. Via merasa dunianya telah runtuh, semua hancur berantakan. Segala sesuatu yang telah dia raih serasa tidak berarti lagi. Dia gak peduli lagi bahwa aksi sosial yang dia pimpin akan berlangsung 2 hari mendatang , dia gak mikirin lagi pernikahannya dengan Budi,tunangannya,  yang  akan dilangsungkan 6 bulan mendatang.


Yang Via rasain sekarang cuma rasa sakit, rasa kotor, rasa gak berarti… Dia merasa jijik sama dirinya sendiri. Dia merasa gak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini, dia merasa malu sama dirinya sendiri, dan terlebih lagi dia merasa malu dan gak berani menghadapi orang lain.



4. Kata-kata Negatif


“Kamu memang gak berguna, bisanya bikin susah orang doang! Mau jadi apa kamu nantinya? Dari sekarang aja cuma bisa buat masalah!!!” , caci ibu Leo. Biasanya Leo  akan melawan, membantah ucapan ibunya dan mengatakan bahwa sebenarnya dia berarti. Namun kali ini Leo diam saja karena terakhir kali dia menyahut, ibunya menjadi sangat marah dan menampar pipinya.


Tahun demi tahun berlalu dan Leo hidup dengan kepercayaan bahwa dirinya tidak berguna, cuma bisa bikin susah dan cari masalah. Leo tidak pernah mendapatkan pekerjaan tetap yang baik, karena selalu saja ada masalah di tempat kerjanya. Dan sedihnya, Leo menganggap semua hal ini wajar, karena dia adalah Leo, seseorang yang tidak berguna dan cuma bisa cari masalah.



5. Broken home family


Dina mengurung diri lagi di kamar dan kembali terisak seorang diri. Sudah sebulan berlalu setelah orang tuanya bercerai dan Dina gak pernah melewati satupun harinya tanpa menangis. Dina gak percaya bahwa ini benar-benar terjadi pada dirinya. Dina gak percaya bahwa orang tuanya benar-benar bercerai!


Dina mulai berpikir bahwa dialah penyebab perceraian ini, “Andaikan saja Dina menjadi anak yang lebih baik, gak suka melawan, lebih patuh lagi, mungkin perceraian ini bisa terelakkan, mungkin papa dan mama gak akan ribut sesering itu, mungkin mereka masih bisa tetap saling memaafkan dan berdamai lagi.”


Dina rindu,sangat rindu akan saat-saat dia bisa bercanda bebas dengan kedua orangtuanya, lengkap. Dina rindu apa rasanya memiliki sebuah keluarga yang utuh, ada papa dan ada mama, bukan cuma salah satu diantara mereka. Dan masih banyak lagi faktor-faktor lain  yang bisa menyebabkan rusaknya gambar diri seseorang. (dari majalah GFresh!)


MamaOla