Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, January 26, 2012

“ I’M NOT PERFECT “ cerpen

“ I’M NOT PERFECT “

    “Anak Berkaki Satu” ...
itulah julukan yang sering diberikan kepada Ali, seorang anak berusia 12 tahun yang cacat sejak kecil dan hanya memiliki satu kaki. Hidup di jalanan, mengemis dan dihina teman-temannya telah menjadi suatu hal yang biasa bagi Ali. Semua kebutuhan harus ia peroleh melalui mengemis di pinggir jalan. Terkadang ada orang-orang murah hati yang memberikannya makanan, tapi tidak jarang juga ia dihampiri oleh orang-orang jahat yang merampas semua uangnya. Setiap hari ia seperti mengadu nasib.
    Ali adalah seorang anak yatim piatu. Ia berasal dari keluarga yang kaya raya dan merupakan anak tunggal, sehingga ia sangat dikasihi oleh kedua orang tuanya. Tetapi beberapa tahun yang lalu, ayahnya ditipu oleh seorang rekan kerja sehingga seluruh hartanya habis dalam sekejap. Tidak cukup sampai di situ, ketika mereka sedang bepergian, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Kedua orang tua Ali langsung meninggal di tempat, sedangkan Ali mengalami kelumpuhan yang masih ia derita sampai saat ini.
    “ Hidupnya sangat tragis, “ begitulah pendapat orang-orang yang melihat kehidupan Ali. Tidak seorang pun mau menerimanya karena ia dianggap anak pembawa sial. Ejekan, celaan telah menjadi makanan sehari-hari. Tetapi ia selalu ingat akan ajaran kedua orang tuanya, “ Tetap bersyukur, Nak, apapun yang terjadi. Kamu pasti bisa melaluinya. Tuhan selalu beserta denganmu. “ Perkataan inilah yang selalu membuat Ali kuat dan tetap berjuang untuk hidup.
    Sampai suatu malam...
    Hujan turun dengan sangat deras...
    Ali meringkuk kedinginan di balik selimutnya yang sudah sangat lusuh. Perutnya sangat lapar dan ia tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Ia hanya bisa memaksakan dirinya untuk tidur dalam keadaan tersebut dengan harapan bahwa besok pagi ia dapat memulai hari yang lebih baik dan dapat memperoleh lebih banyak uang. Dan akhirnya ia mulai tertidur.
    Di tengah-tengah tidurnya, Ali mendapat sebuah mimpi ...
    Ada Seorang berjubah putih datang dengan senyuman yang begitu lembut. Ia menghampiri dan memeluk Ali sehingga tubuh Ali merasa sangat hangat. Ali sudah lama sekali tidak pernah merasakan kehangatan seperti itu, dan ia mulai menangis di pelukan-Nya. Orang tersebut membelai kepala Ali sambil berkata, “ Tidurlah, Anak-Ku… Aku menjagamu… “
    Keesokan paginya, Ali terbangun dan ia mulai mengingat mimpinya.
    “ Siapa Orang yang menghampiriku semalam ? “
    “ Aku belum pernah berjumpa dengan Orang seperti itu ! Dia begitu lembut dan pelukan-Nya membuat aku tidur dengan rasa aman. “
    “ Siapa Dia ? Aku ingin bertemu lagi dengan-Nya… “
Ali diam sejenak, sambil berpikir, sampai akhirnya ia sadar …
    “ Apakah Dia Tuhan ? Ya, Dia Tuhan yang ada dalam mimpiku ! “
    “ Tuhan sungguh-sungguh menghampiriku ! “
Ali mulai menangis dan ia mulai berdoa. Sejak kecelakaan yang menimpa keluarganya, Ali sudah tidak pernah berdoa, bahkan ia sudah lupa bagaimana caranya berdoa. Dan saat ini ia hanya bisa berkata :
    “ Tuhan, terima kasih… Aku tahu Engkau ada bersamaku… “

    Beberapa hari kemudian...
    Seperti biasa, Ali mulai mengemis di pinggir jalan. Ia selalu duduk di tempat yang sama setiap hari. Karena kondisi kakinya yang cacat, ia sulit untuk berpindah-pindah tempat. Tiba-tiba ada seorang wanita tua yang kira-kira berusia 65 tahun dengan pakaian yang mewah melalui jalan tersebut. Ali mengamati wanita itu dan ia merasa belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Ali berpikir, “ Mungkin wanita itu sedang berlibur ke kota ini dan ia pasti sangat kaya raya. “
    Wanita itu kemudian berhenti tepat di depan Ali dan Ali sangat terkejut ketika wanita itu mulai menunduk dan menyodorkan tangannya,
    “ Halo, siapa namamu ? Boleh berkenalan ? “
Selama bertahun-tahun Ali duduk mengemis di jalanan tersebut, belum pernah ia bertemu dengan orang yang sangat ramah seperti ini.
Dengan ragu-ragu Ali mulai menyodorkan tangannya dan bersalaman dengan wanita tua tersebut.
    “ eehhh… Nama saya… Ali… “
Wanita itu tersenyum lebar.
    “ Senang berkenalan denganmu, Ali. Nama saya Elisabeth. Kamu bisa memanggil saya Oma Elisabeth. Rumah saya tidak jauh dari sini. Maukah kamu mampir ke rumah Oma ? “
    “ eehhh… gimana ya… bukannya saya tidak mau, tapi saya sulit untuk berjalan… saya tidak mau merepotkan Oma… Terima kasih karena Oma sudah sangat baik kepada saya. “
    “ Tenang saja, kamu sama sekali tidak merepotkan Oma. “

Sebuah mobil mewah berwarna hitam tiba-tiba melaju dan berhenti tepat di depan Oma. Seorang supir yang mengenakan jas dan topi tua, keluar dari mobil tersebut. Dan ia membukakan pintu belakang mobil.
“ Pak Supir, mari bantu Ali untuk masuk ke dalam mobil, “ perintah Oma.
“ Baik Nyonya. “ Ia segera merangkul Ali dan membantunya masuk ke dalam mobil yang mewah tersebut. Semua orang yang melihat hal itu menjadi sangat terkejut. Mana mungkin seorang wanita kaya mau menerima seorang yang cacat seperti Ali. Itu mustahil.

Ali sangat menikmati duduk di mobil mewah tersebut. Ia terus melihat ke luar jendela. “ Sudah lama sekali saya tidak pernah jalan-jalan seperti ini. “ Mobil tersebut kemudian berhenti di sebuah pintu gerbang dan masuk ke sebuah rumah ( mungkin lebih tepat disebut sebuah istana ) yang sangat besar. Ali mengusap-usap matanya, “ Apakah saya sedang bermimpi ? “
“ Haha.. tidak anakku, ini adalah rumahku dan kamu tidak sedang bermimpi. Ayo kita turun… “ Oma menuntun Ali masuk ke dalam rumah dan seorang pelayan menyambut mereka.
“ Silahkan masuk, Nyonya. Silahkan, Tuan Muda… “
“ Tuan Muda ?!? “ tanya Ali terkejut.
“ Anggap saja ini seperti rumahmu sendiri. Oma tidak punya siapa-siapa di sini. Di rumah yang besar ini, Oma hanya tinggal dengan seorang supir dan seorang pelayan. Suami Oma sudah lama meninggal. Oma harap kamu mau tinggal di sini sebagai cucu Oma. Hanya kamu satu-satunya harapan Oma. “
“ Tapi… tapi kenapa harus saya ? Saya tidak layak untuk tinggal di rumah Oma yang mewah ini. Saya lebih pantas tinggal di jalanan. Semua orang menganggap saya anak pembawa sial. Maaf, saya tidak bisa menjadi cucu Oma. “
Mendengar kata-kata itu, Oma langsung memeluk Ali erat-erat.
“ Kemewahan ini tidak akan ada artinya tanpa kehadiran kamu, Nak… “
Akhirnya Ali setuju untuk tinggal di rumah mewah tersebut, meskipun sebenarnya ia tidak tahu apa alasan Oma itu menerima ia di rumahnya. Tapi ia melihat bahwa Oma itu sungguh-sungguh tulus dan tidak ada maksud jahat.
    “ Oma adalah malaikat yang Tuhan utus untukku. “

    Hari demi hari Ali lalui bersama Oma Elisabeth. Oma tidak lagi merasa kesepian dan ia sangat terhibur dengan kehadiran Ali. Ali pun mulai melanjutkan sekolahnya dan ia mulai mengembangkan setiap potensi di dalam dirinya. Ia selalu mengisi waktu luangnya dengan belajar melukis, itu adalah kegemarannya dari sejak kecil. Tangan-tangannya mulai terasa kaku karena sudah lama tidak pernah melukis. Tapi ia terus berlatih dan berlatih.
    Suatu hari, ketika Ali sedang pergi sekolah, Oma masuk ke ruangan tempat Ali belajar melukis. Di ruangan itu dipajang begitu banyak lukisan dan ada beberapa lukisan yang tercecer di lantai.
    “ Memang cucuku ini sangat pandai melukis, “ seru Oma dengan tersenyum bangga. Tidak sengaja, ia hampir saja menginjak sebuah lukisan yang tercecer di lantai.
    “ Wah.. lukisan apa ini ? “ tanya Oma dalam hati sambil mengangkat lukisan tersebut. Ketika ia melihat lukisan itu, ia mulai menitikkan air mata. Ternyata itu adalah sebuah lukisan yang menggambarkan kehidupan Ali. Di lukisan itu digambarkan seorang anak cacat sedang tidur kedinginan di balik selimut, dan ada sosok Pribadi berjubah putih sedang memeluk anak tersebut. Bukan hanya itu, di samping anak itu juga ada seorang Oma yang digambarkan sedang mengulurkan tangannya. Lukisan yang sangat luar biasa.
    “ Aku akan menyimpan lukisan ini dan mengirimkannya ke lomba karya seni bulan depan. Aku yakin lukisan ini pasti menang ! “ Oma menyimpan lukisan itu diam-diam tanpa sepengetahuan Ali.

    Bulan berikutnya ...
    “ Ayo Ali, cepat… kamu harus ikut Oma sekarang… “ seru Oma sambil berlari-lari.
    “ Memangnya kita hari ini mau ke mana Oma ? “ Ali masih asik menyantap sarapan paginya.
    “ Pokoknya ada sesuatu yang penting. Oma mau mengajak kamu ke pameran lukisan. “
    “ Pameran lukisan ? Bukannya dua hari yang lalu kita baru berkunjung ke sana ya ? “ Ali semakin bingung.
    “ Pokoknya hari ini kita harus ke sana. Nanti kamu juga akan mengerti setelah sampai di sana. Ok? “
    “ Ok Oma-ku sayang… “ kata Ali sambil tersenyum.

    Sesampainya di pameran lukisan, orang berbondong-bondong memenuhi ruangan tersebut.
    “ Oma, ada acara apa ya di sini ? Ramai sekali… “
    “ Hari ini adalah hari penghargaan lomba karya seni untuk lukisan terbaik. Ayo kita segera masuk. “
    Beberapa menit kemudian, seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan memulai acara penghargaan tersebut. Ali belum tahu bahwa lukisannya juga dikirim ke perlombaan itu. Oma mulai merasa tidak sabar untuk mendengarkan pengumuman penghargaan.
    Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.
“ Penghargaan utama diberikan pada lukisan berjudul ‘Anak Berkaki Satu’ ! “ Orang-orang bertepuk tangan. Mendengar judul lukisan itu, Ali langsung terkejut dan ia langsung menoleh kepada Oma.
“ Oma, kenapa judul lukisan itu bisa sama dengan lukisanku ? “
“ Itu memang lukisanmu, Nak. Oma yang mengirimkannya. Maafkan Oma karena Oma mengambilnya secara diam-diam, tapi maksud Oma … “
Belum selesai bicara, Ali langsung memeluk Oma.
“ Terima kasih Oma… Oma memang malaikatku… “

Itu adalah hari yang bersejarah untuk Ali, saat pertama kali ia menerima penghargaan atas hasil karyanya. Tapi ia terus berusaha, sehingga ia menjadi salah satu pelukis terkenal di negaranya.
“ Nak, karena kamu sudah berhasil, Oma mau memberimu hadiah. Kamu mau hadiah apa ? Oma akan berikan. “
Ali berpikir sejenak. Ia merasa telah memiliki segala sesuatu sejak tinggal bersama Oma.
“ Hm.. sebenarnya aku sudah tidak perlu hadiah, karena aku sudah sangat bahagia bisa tinggal bersama Oma. Tapi ada satu hal yang aku rindukan dan semoga Oma mau mengabulkannya. “
“ Apa itu Nak ? Sepertinya serius sekali… “
“ Aku ingin sekali bisa membuka sebuah yayasan supaya bisa menampung anak-anak cacat yang bernasib sepertiku. Aku juga ingin mereka merasakan kehidupan yang lebih baik seperti yang aku alami. “
Oma hanya bisa terdiam dan sangat terharu mendengarnya.
“ Itu sangat mulia, Nak… Oma pasti mengabulkannya. “

    Selama proses mendirikan yayasan, yang memakan cukup banyak waktu, Oma mulai sering terserang penyakit. Kondisi fisiknya mulai melemah dan ia sudah tidak kuat untuk berjalan.
    Sampai suatu hari, Oma merasa bahwa waktunya sudah tidak lama lagi. Ia memanggil Ali dan menggenggam tangannya erat-erat.
    “ Kamu mau tahu Nak, apa sebabnya Oma menghampirimu pada waktu kamu sedang mengemis di pinggir jalan ? Apa sebabnya Oma menganggapmu seperti cucu Oma sendiri dan mengizinkanmu tinggal di rumah Oma ? “ suara Oma mulai melemah, tapi ia terus melanjutkan.
    “ Sebenarnya Oma pernah memiliki seorang anak. Tapi ia lahir dalam keadaan cacat. Suami Oma sangat marah melihat kondisi tersebut, sehingga Oma juga sangat membenci anak Oma sendiri. Oma tidak bisa menerimanya dan seringkali memukulnya… “ Oma tidak dapat menahan tangisnya.
    “ Sampai akhirnya anak Oma sakit keras dan Oma mulai menyesal. Tapi penyesalan itu sudah terlambat. Anak Oma kemudian meninggal. “
    Tangan Ali digenggam semakin keras dan Ali pun ikut menangis.
    “ Semenjak kejadian itu Oma tidak pernah keluar rumah. Oma hanya duduk diam di rumah dengan menyimpan penyesalan. Tapi suatu hari, ketika sedang tidur, Oma mendapat sebuah mimpi… ada Pribadi berjubah putih, sama seperti yang ada dalam lukisanmu, mengajak Oma ke suatu tempat di pinggiran jalan dan Pribadi itu memperlihatkan kepada Oma seorang anak yang cacat sedang mengemis. Ia menunjuk kepada anak tersebut dan berkata : Aku mengasihinya. “
    “ Akhirnya, keesokan harinya, Oma keluar rumah dan mencari tempat tersebut. Dan tempat itu sungguh-sungguh ada, tepat seperti yang ada di dalam mimpi. Dan Oma juga berhasil menemukan anak itu. Kamu-lah anak itu, Ali. Tuhan sangat mengasihimu. “
    Ali sangat terkejut mendengar hal itu.
    “ Akhirnya aku mengerti… aku juga pernah mendapat mimpi, berjumpa dengan Pribadi berjubah putih. Dan aku sadar bahwa itu sungguh-sungguh Tuhan. “
    Kemudian mereka berdoa bersama. Oma meninggal dengan suatu kepuasan. Sebelum meninggal, ia sempat mengucapkan sebuah kalimat terakhir kepada Ali : “ Kamu telah membuat hidupku sempurna. “

    Tepat satu tahun kemudian,
    yayasan untuk anak cacat selesai didirikan dan Ali menamakannya ‘Yayasan Elisabeth’ sekaligus untuk mengenang jasa-jasa Oma dalam hidupnya.
    Ketika acara peresmian yayasan tersebut, ada begitu banyak wartawan yang hadir dan mewawancarai Ali :
    “ Apa rahasia Anda sehingga Anda bisa menjadi orang yang sukses meskipun Anda cacat secara fisik ? “
    Ali tersenyum dan menjawab :
    “ Saya bukan orang yang sempurna dan saya juga dikelilingi oleh orang-orang yang tidak sempurna. Tapi justru lewat ketidaksempurnaan itulah kami bisa saling melengkapi dan kami bisa sama-sama memiliki kehidupan yang sempurna. Saya membuat hidup orang lain sempurna dan orang lain membuat hidup saya sempurna. Itu yang membuat saya ada hari ini.  “ 
“ Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. “                  ( 1 Korintus 1 : 27 – 29 )

Writen by    :
Marcella Flaorenzia

Saturday, January 21, 2012

JANGAN MENYERAH



Mendung malam ini tidak begitu kelabu, masih ada setitik sinar bulan yang menerangi. Semilir angin menerpa perlahan, pohon-pohon berguncang ringan. Tidak ada yang lebih menarik untuk dilakukan malam ini selain tidur dengan selimut tebal atau duduk-duduk sambil menikmati segelas cokelat, teh, kopi panas atau sekedar menonton televisi. (DS)

JANGAN MENYERAH
Oleh Devi Syane

                        Ezra duduk terdiam memandang langit yang gelap, di sudut kamarnya. Ia mencoba melihat remang cahaya bulan yang samar-samar karena tertutup awan gelap. Ia merasa ada sesuatu yang istimewa ketika melihat bulan itu. Ia merasa bahwa bulan itu berusaha memberi terang untuknya di malam yang gelap seperti ini.
                        Ezra kembali menghampiri meja belajarnya yang penuh dengan kertas. Malam ini entahlah tidak ada satupun ide yang muncul dalam benaknya. Padahal harus ada artikel yang harus ia kumpulakn 3 hari lagi. “Sepertinya aku harus bekerja keras malam ini, semoga besok aku tidak terlambat kuliah” pikirnya sambil kembali membuka lembaran-lembaran berita, ia berusaha mencari berita yang semenarik mungkin untuk menjadi bahan artikelnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 24.35 tapi tidak ada satupun ide yang muncul. Ezra berjalan menuju tempat tidurnya,ia memutuskan untuk segera tidur karena ia tidak ingin terlambat kuliah besok.

                        Matahari di ufuk timur sudah mulai menampakkan cahayanya. Meskipun kemarin malam tampak mendung tapi pagi ini sangat cerah. Ezra terbangun karena mentari pagi menyilaukan matanya. Ezra langsung berdiri dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Selesai mandi, ia kembali duduk di tempat tidurnya, membuka Alkitabnya dan mengambil sebuah buku renungan. Yosua 1:9. Ezra merasa mendapat kekuatan baru melalui Firman itu. Ezra pun segera bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
                        Di kampus, Ezra bertemu dengan Nico, sahabatnya yang sudah lama tidak bersua.
                        “Ezraaaaa…” teriak Nico dari jauh, “udah lama nggak ketemu, aku kangen banget sama kamu”
                        “Hai friend” mereka berpelukan sebentar.
                        “Gimana kesehatanmu? Kamu tetep minum obat dari dokter kan? Soalnya aku dengar dokter Fandi nungguin kamu sejak 2 minggu lalu tapi kamunya nggak datang-datang. Jangan terlalu sibuk donk. Atau kamu masih belum bisa menerima penyakitmu itu?”
                        “Nic, bukannya aku nggak terima penyakit yang tak tersembuhkan ini tapi…” Ezra terdiam kembali.
                        “Aku tahu pasti ini nggak mudah buat kamu menerima kenyataan kalo kamu menderita leukimia tapi aku Yesus mengasihimu Ez… kalo kamu tahu kamu menderita penyakit ini nggak berarti kamu harus meninggalkan Tuhan, meninggalkan semua pelayananmu. Kamu tahu nggak kalo anak-anak udah kangen sekali padamu. Selama ini kamu yang memotivasi mereka sehingga mereka tetep semangat, kmau yang kasih mereka ketrampilan supaya mereka nggak mengamen di jalanan, kamu yang membawa mereka supaya mengenal Yesus dan datang ke gereja, tapi sekarang kamu nggak pernah datang ke gereja. Kamu selalu bilang pada anak-anak kalo Yesus selalu ada di samping kita menemani kita dan menyelesaikan semua masalah kita. Ingat nggak? Pikirkan baik-baik Ez… kalo sekarang kamu meninggalkan Tuhan karena kecewa, kamu nggak akan dapat apa-apa tapi kamu akan semakin berada dalam masalah. Hari Minggu ini kita ke tempat anak-anak yuk…” Nico menyemangati Ezra panjang lebar.
                        Selama ini Ezra dan Nico membuka pelayanan untuk anak-anak jalanan. Anak-anak itu mereka ambil dari jalanan dan menempatkannya di sebuah rumah kontrakan. Selama ini mereka berdua yang membiayai hidup anak-anak itu dengan dibantu oleh beberapa gereja. Anak-anak itu dapat bersekolah dan setiap sore mereka membuat kue untuk dijual.

                        Hari Minggu…
                        “Ezra, aku tahu kamu pasti datang… wah… mereka pasti senang melihat kamu. Kamu nggak akan pasang muka pepaya kan? tanya Nico sambil tertawa yang disambut dengan tawa juga oleh Ezra, “tentu tidak donk”.
                        Ketika mereka berdua membuka pintu rumah kontrakan itu, mereka disambut dengan teriakan anak-anak yang langsung berhamburan keluar, memeluk Ezra. “Kakak kemana aja? Kami kangen” kata beberapa dari mereka.
                        Ezra tersenyum dan berkata dalam hati, “Aku juga kangen ama kalian”.
                        Anak-anak mengajak Ezra masuk kedalam dan duduk di ruang tamu dan mereka sudah siap duduk di tempat masing-masing. Memang setiap hari Minggu Ezra selalu menceritakan sebuah cerita Alkitab pada mereka. Ezra pun melakukannya dengan gembira, demikian juga anak-anak.
                        Baru kali ini Ezra tertawa lepas sejak ia mengetahui diagnosa penyakitnya. Di tengah-tengah cerita Ezra, tiba-tiba beberapa anak berlarian ke pintu depan dan menyambut seorang gadis yang membawa tas besar di kedua tangannya.
                        “Nico, itu siapa? Kok aku belum pernah melihatnya?” tanya Ezra
                        “Sori friend, aku lupa kasih tau kamu. Itu Nina, rumahnya cuman selisih 5 rumah dari rumah ini. Selama kamu nggak ada, dia yang bantuin aku perhatiin anak-anak” jelas Nico, dan disambut dengan gumaman Ezra, “Oooo…”
                        “Nina…” teriak Nico. Nina bergegas menghampiri Nico dan Ezra.
                        “Hai, Nic, sori aku telat. Tadi di gereja ada rapat dadakan” lalu Nina melihat Ezra, “kamu, Ezra kan? Aku Nina. Hai apa kabar? Anak-anak dan Nico banyak cerita soal kamu” Nina mengulurkan tangan.
                        Ezra menyambutnya, “Iya, aku Ezra, makasih ya selama ini kamu udah bantuin ngurus anak-anak”
                        “Nggak apa-apa, aku malah senang kok disini sama anak-anak, mereka lucu-lucu”
                        Ezra terdiam sebentar lalu melirik ke Nico, “Emang Nico cerita apa aja soal aku?”
                        “Hmmm… semuanya” kata Nina sambil tersenyum sehingga terlihat jelas lesung pipitnya.
                        Ezra terdiam sambil memandang Nico. Untuk memecah suasana, Nina tertawa dan berkata, “Lihat anak-anak main lumpur, mereka sudah seperti badut” yang disambut dengan gelak tawa juga oleh Ezra dan Nico.
                        Sudah tiga minggu berlalu sejak pertemuan Ezra dan Nina. Mereka bertiga mengurus anak-anak secara bergantian. Nico senang sekali melihat Ezra sudah kelihatan kembali bersemangat, berkat Nina yang berusaha membawa Ezra kembali lagi menemukan kehidupannya yang dulu lagi dan mengangkat dia dari keputusasaan dan kekecewaan yang dia alami. Nina seorang gadis yang manis, masih berkuliah di semester 2 di sebuah sekolah musik, bisa dibilang dia gadis yang sempurna. Nina selalu ceria seolah-olah tidak mempunyai masalah dalam hidupnya, takut Tuhan dan setia dalam pelayanan.
                        Tapi kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Suatu hari Nico ditelepon oleh Mamanya Ezra, “Apa? Ezra masuk rumah sakit, Tante? Iya Tante, Nico segera kesana”
                        Nico bergegas menjemput Nina, berdua mereka menjenguk Ezra yang masih terbaring di kasur, tak sadarkan diri. Menurut dokter, Ezra terlalu kelelahan sehingga pingsan. Sejam kemudian, Ezra sudah sadar dan bisa mengenali Papa, Mamanya juga sahabatnya, Nico dan Nina. Selama seminggu Ezra dirawat di rumah sakit. Dokter berpesan supaya Ezra membatasi kegiatannya, jangan terlalu banyak bekerja sehingga kesehatannya jadi makin memburuk.

                        Tapi Ezra masih tetap menjalani kegiatannya sehari-hari yaitu kuliah dan memperhatikan anak-anak. Dia berpikir bahwa dia akan tetap melakukannya sambil menunggu hari kematiannya yang mungkin nggak berapa lama lagi. Sampai pada titik kelelahannya dan akhirnya dia memutuskan untuk kabur dari rumah. Orang tuanya yang kuatir karena sudah jam 11 malam tapi Ezra belum pulang juga, akhirnya menelepon Nico dan Nina.
                        Ponsel Ezra berdering, “Halo, Nina…” jawab Ezra
                        “Ezra… kamu dimana? Papa Mama kamu kuatir karena kamu belum pulang. Ezra, please… kamu dimana?” kata Nina dengan nada kuatir.
                        “Nina, kamu nggak usah kuatirkan aku, aku baik-baik aja. Kamu nggak usah kasihan ama aku. Emang aku sakit tapi bukan berarti aku butuh belas kasihanmu. Kamu kuatir karena kamu kasihan kan ama aku?” kata Ezra
                        “Ezra, kamu ngomong apa barusan? Jangan mikir yang macam-macam” kata Nina yang disambut dengan putusnya hubungan telepon, Ezra telah mematikan ponselnya.
                        Nina diam, dia tidak tahu harus kemana mencari Ezra. Tiba-tiba Nina ingat cerita Ezra tentang satu tempat pertapaannya bila Ezra ingin menyendiri. Nina pun segera pergi dengan mobilnya menuju pantai yang tidak jauh dari kota mereka.
                        Dari jauh, Nina sudah melihat Ezra duduk termenung memandang ombak, seperti orang yang tanpa pengharapan. Nina menghampiri Ezra perlahan, lalu duduk di sampingnya dan berkata, “Ezra, walaupun di dunia ini nggak ada seorangpun yang bisa mengasihimu dengan tulus, tapi Yesus mengasihimu melebihi kasih siapapun di dunia ini”
                        Ezra memalingkan wajahnya pada Nina, “Nina… makasih kamu udah datang kesini. Tapi aku sama sekali nggak butuh penghiburanmu”
                        “Aku nggak datang kesini buat menghibur kamu. Cuman Yesus yang sanggup menghibur kamu. Ezra, sampai kapan kamu hidup dalam keputusasaan dan menyalahkan Yesus? Yesus selalu kasih yang terbaik buat kamu. pengorbananNya di kayu salib jauh lebih berharga daripada sakit yang kamu alami. Yesus udah mati buat kamu, menebus dosamu sehingga kamu diselamatkan dan berhak mendapatkan hidup kekal. Apa gunanya kalo kamu sehat tapi kamu kehilangan hidup kekal? Bukannya lebih beruntung meskipun kamu sakit tapi ada jaminan keselamatan yang akan kamu terima asalkan kamu tetap percaya padaNya?” kata Nina sambil tersenyum.
                        “Nina, kamu nggak tau apa yang aku alami dan rasain sekarang ini. Kalo kamu jadi aku, kamu juga pasti akan kecewa” kata Ezra
                        “Ezra, aku juga mengalaminya, sama seperti kamu” balas Nina. Ezra memandang Nina dengan tatapan tak mengerti.
                        Nina tertawa perlahan dan menarik napas panjang, “Ezra, kamu tuh beruntung masih punya umur beberapa tahun lagi buat menikmati hidup ini bersama Tuhan. Hidupku cuman hitungan hari. Tapi aku tau kemana aku pergi yaitu ke Sorga, bertemu dengan Bapa dan aku yakin aku lebih merasa bahagia disana tanpa harus merasakan penyakitku. Aku juga mengidap leukimia, tapi aku bersyukur karena sambil menunggu hari dimana aku ketemu Yesus, aku boleh berdiri sampai saat ini dan diberi kesempatan buat melayani” Mereka terdiam selama beberapa saat, Ezra coba meresapi perkataan Nina.
                        “Ezra, Yesus mengasihimu. Jangan pernah ninggalin Dia, apapun yang kita alami, kita harus berjuang untuk tetap setia selamanya” kata Nina lembut. Ezra tidak bisa berkata apa-apa, ia memandang Nina. Ia dulu berpikir bahwa Nina bisa tersenyum, tertawa dan selalu menasehati hal-hal yang rohani karena ia tidak mengalami penderitaan seperti dirinya.
                        “Makasih ya… kamu ngingetin aku soal kasih Yesus yang tidak pernah habis. Aku berjanji pada Tuhan, aku nggak akan pernah ninggalin Yesus lagi” (**)


Monday, January 9, 2012

Suatu Hari Di Bukit Hermon

Suatu Hari Di Bukit Hermon


Malam belumlah larut namun suasana di Rumah Retreat Bukit Hermon - Tawangmangu yang hari ini dipakai untuk acara retreat mahasiswa Kristen dari FISIP UNS Solo terlihat sangat sepi. Hal ini dapat dimaklumi sebab acara yang telah berlangsung selama 2 hari ini memang menguras banyak tenaga. Akibatnya semua peserta malam ini lebih memilih tidur mengistirahatkan badan daripada bergadang.

Tapi benarkah semua telah tertidur? Eit tunggu dulu... Ada tiga mahluk hidup yang berlarian menuju kamar paviliun. Apa saja yang menghalangi, mereka terjang, kalau halangannya terlalu berat untuk diterjang ya dilompati, kalau gak bisa diterjang atau dilompati ya nyari jalan lain... yang penting lari... lari... lari... Kelihatan sekali mereka sedang dikejar alias melarikan diri dari sesuatu. Tapi apa ya?

"Gawat, gawat... wah bener-bener gawat, Met!"

Meity yang sedang duduk di depan kamar paviliun heran melihat Burwan, Irvan, dan Arief lari pontang-panting ketakutan, "Ada apa sih?"

"Ada di sana, Met..." jawab Arief sekenanya, "hegh... hegh... hegh..."
"Ada di sana apa?"
"Ada hegh... hegh... hegh... ada hegh... hegh... hegh..."
"Ada hegh... hegh... hegh... apaan?,"
"Ada hantu, Met,"
"Boooong!"

"Bentar, Met nanti kami ceritakan tapi sebelumnya biar kami bernafas dulu, OK?" pinta Burwan yang langsung ditanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Meity.

Tanpa babibu ketiga anak tersebut langsung sibuk mengatur nafasnya masing-masing hegh... hegh... hegh... meong (lho)

"Begini ceritanya," Irvan mulai bercerita setelah merasa irama nafasnya sudah mulai teratur, "tadi kami jalan-jalan ke depan terus melihat Sigit sedang duduk sendirian di depan. Ya kita samperin aja lalu kita ngobrol ngalor-ngidul, utara-selatan tanpa juntrungan. Nah pas asyik-asyiknya ngobrol, Sigit bilang eh kalo wajahku kayak gini cakep gak? Begitu aku liat wajahnya... tiba-tiba sudah berubah jadi tengkorak!"

Burwan ikut nimpali, "kupikir ah paling cuma topeng tapi waktu kulihat di mulai berdiri dan ternyata kakinya gak menyentuh tanah, ya udah kami sepakat untuk lari..."

"Eh, jangan-jangan dia ngejar kalian." goda Meity.

"Hush, jangan bilang gitu donk," protes Arief sambil mengarahkan pandangannya ke lorong menuju arah depan.

"Tadi kalian bilang hantu itu memakai wujud Sigit, ya?" Meity coba kembali menegaskan cerita teman-temannya. Mereka pun hanya menjawab dengan anggukan.

"Wah terjadi lagi, deh," ucap Meity singkat tanpa menunjukkan wajah kaget, takut atau cemas. Ekspresi wajah yang tentu saja mengundang tanda tanya besar bagi teman-temannya. Ada apa dibalik semuanya ini. Mengapa Meity berkata 'wah terjadi lagi' Apakah peristiwa ini sudah terjadi sebelumnya?

"Emangnya ada apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya, "dulu udah pernah kejadian kayak gini, ya?"

"Iya," jawab Meity singkat. Sejurus kemudian ia mulai bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu ada peserta retreat yang meninggal karena kecelakaan. Waktu itu ia datang menyusul retreat. Tapi malangnya di tengah perjalanan ia ditabrak bis dan tewas seketika di tempat itu juga. Hal ini membuat arwahnya masih penasaran untuk mengikuti acara retreat. Akhirnya ia sering menemui siapa saja peserta retreat di Bukit Hermon ini dengan mengambil wujud peserta lain.

"Nah rupanya kali ini ia menampakkan diri kepada kalian dengan mengambil ujud Sigit"

"Hiii..." respon ketiga anak tersebut hampir bersamaan.

"Eh kalian harusnya bangga donk dijumpai arwah orang tersebut," canda Meity, "jarang-jarang lho ada yang bisa melihat penampakannya."

"Enak aja... amit-amit... dibayar berapapun gak sudi aku ngalaminya lagi!! " teriak Burwan.

Akibat teriakan Burwan tersebut, sebuah pintu kamar terbuka. Di depan pintu tersebut terdapat nama "Bambang", ketua panitia retreat. Memang ini adalah kamarnya Bambang, karena sesaat kemudia ia keluar dari kamar.

"Lho, kok kalian belum tidur?" tanya Bambang penasaran.

Tanpa basa-basi, ketiga anak tersebut secara bergantian menceritakan peristiwa yang baru saja mereka alami.

"Kalian masih percaya dengan arwah penasaran ya?!"
"Ya, jelas donk, soalnya tadi kami mengalami sendiri."
"Bagaimana kalian tahu kalau dia adalah arwah penasaran?"
"Kan ceritanya memang begitu, dia itu arwah orang yang meninggal sewaktu hendak pergi..."
"Kalian yakin cerita itu benar?", tanpa memberi kesempatan teman-temannya menjawab Bambang kembali bertanya, "bagaimana kalau yang muncul ke hadapan kalian tadi bukan arwah penasaran?"
"Lalu apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya.
"Setan," jawab Bambang, "setan yang mengambil wujud manusia dengan memanfaatkan peristiwa mengenaskan yang dulu pernah terjadi."

"Kenapa kamu bisa yakin bahwa dia adalah penjelmaan dari setan," kali ini Burwan yang bertanya
"Lho, tadi kan sudah dijelasin secara gamblang saat KKR," jawab Bambang

Ketiga anak tersebut saling berpandangan satu dengan yang lain sebelum akhirnya memberi pengakuan, "Kami tadi gak ikut KKR-nya, hihihihi..."

"Ah, kalian ini." Walaupun agak jengkel karena ada yang tidak menaati peraturan yaitu mengikuti semua acara retreat, Bambang tetap antusias menceritakan isi khotbah saat KKR tadi. Ia menceritakan bahwa dunia orang mati sudah berpisah dengan dunia orang hidup. Orang yang sudah mati tidak dapat lagi berhubungan dengan orang yang masih hidup dan sebaliknya. Ini dilukiskan dalam perumpamaan orang kaya dengan Lazarus. Bila ada orang yang kelihatan seperti orang mati bisa jadi ia adalah setan yang mengambil wujud orang yang sudah mati. Tujuannya tentu saja untuk melemahkan iman seseorang agar ia lebih takut kepada orang yang sudah mati dibandingkan takut kepada Allah.

Pembicaraan satu arah pun akhirnya berkembang menjadi diskusi yang cukup segar. Sesekali mereka bercanda namun isi dari pembicaraan tetap terjaga.

"Hei, kalo mo sharring pelanan dikit dunk?!" bentak Meity yang terganggu dengan suasana ramai diluar kamarnya.

Burwan, Irvan, dan Arief saling berpandangan. Mereka merasa Meity yang tadi duduk di sebelah kiri Burwan belum masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kanan Burwan. Sementara itu jalan satu-satunya masuk kamar ialah melalui pintu kamar tapi sejak mereka datang tadi pintu kamar tersebut sedikitpun belum bergerak.

"Lho, Met sejak kapan kamu masuk kamar? Bukankah tadi kamu masih ngobrol bersama kami?"

"Enak aja! Aku dah tidur sejak jam 9.00 tadi dan baru bangun karena mendengar suara berisik kalian!"

Spontan Burwan, Irvan, dan Arief menoleh ke tempat Meity duduk. Kosong! Ketiga anak tersebut saling berpandangan dan akhirnya sama-sama pingsan.

(Hardhono)

Tuesday, July 27, 2010

GADIS KECIL; 18 & 2

GADIS KECIL; 18 & 2


Apa yang bisa aku katakan tentang gadis kecil ini?

Bahwa ia menarik? Dan semua orang mengakuinya. Atau bahwa ia gadis kecil yang manis dan baru berusia 18 tahun dan bisa menarik semua  hati orang? Ah, semua pasti setuju.

Bahwa betapa kecantikan dan kesupelannya mampu membuat banyak pria jatuh hati dan bertekuk lutut? Tak akan ada yang pernah menyangkalnya.

Bahwa keramahannya mampu membuat semua mempercayainya? Tak ada keraguan untuk itu.

Tapi… mungkin juga semua tahu itu hanya masa lalu. Ah, gadis kecil ini…

Lihat dirimu, tegur sebuah sosok pada pantulan dirinya di cermin. Siapa kau? Kau bukan gadis kecil lagi.

Tak akan ada lagi kebanggaan bagi gadis kecil ini. Tak ada pujian, tak akan ada kepercayaan. It’s over…

Gadis kecil itu… entahlah, bagaimana menyebutnya. Dia terlalu muda, tetapi terlalu jauh melangkah. Dan ketika kakinya terjerat dan tak ada yang bisa membantunya keluar, tak kecantikannya, tak kesupelannya, tak juga kebanggaan masa lalunya. Pun orang-orang yang mengaguminya. Dan pria itu, yang katanya begitu memujanya, kemana dia?

Gadis kecil, dia terlalu muda untuk menanggung beban ini, tapi apa mau dikata? Dia baru 18, tapi sudah ada bentuk kehidupan di tubuhnya. Dan tanpa ikatan yang jelas.

Gadis kecil, 18 & 2 nyawa ada di dalam dirinya.

Sebentar lagi semuanya akan berakhir… Ada tekad yang tak terucap, namun kilatan pisau yang memperlihatkan betapa tajamnya benda itu seolah menguatkan.

Sebentar saja gadis kecil, sakit sedikit dan semuanya akan segera berakhir… tak ada malu, tak ada penderitaan, tak ada kecewa…Ah, suara-suara ini, terasa terus memenuhi gendang telinganya.



Tapi tahukah kau, ini akan berlanjut disana, dengan keadaan yang lebih mengerikan?

Gadis kecil itu mendapat ingatan bagaimana dia di Sekolah Minggu dan mendapat pengertian tentang surga dan neraka.

Aku akan masuk neraka…aku tidak mau…

Gadis kecil, dia berumur 18 dan lebih dari 8 tahun tak pernah lagi berdoa, ketika ingatan akan doanya di masa kecil mengalir begitu saja.

Tuhan ampuni saya yang sudah berdosa. Ampuni saya yang melakukan pelanggaran. Saya, saya…ah, waktu ternyata mengikis beberapa ingatannya. Tapi bukankah Tuhan mau mengampuni saya? Selanjutnya hanya kata-kata yang keluar dari hati yang penuh penyesalan dan keputusasaan yang terdengar. Saya mau terima Tuhan Yesus untuk memperbaharui kehidupan saya, menghapus dosa saya, sebagai Tuhan dan Juruselamat saya satu-satunya. Amin.

Gadis kecil, dia masih 18 dan ada 2 kehidupan di dalam tubuhnya tanpa ikatan yang resmi, tapi ada satu ikatan yang baru yang akan membawanya menjadi kehidupan yang berharga, karena baru saja ia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. And you?

Sunday, July 25, 2010

HARI TERAKHIR

HARI TERAKHIR


Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini?

Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kaucintai? Pergi ke tempat yang menjadi favoritmu? Atau sekedar mengunjungi kafe langganan dan menikmati makanan kesukaanmu untuk terakhir kalinya?

Hampir 6 bulan aku berpikir itulah satu-satunnya cara yang bisa aku lakukan agar aku bisa puas dengan kehidupanku dan bisa pergi dengan tenang, tapi ternyata ada yang kurang.

6 bulan! Begitu vonis dokter hampir 6 bulan yang lalu dan segala cara aku usahakan untuk membuat angka 6 itu bertambah, tapi kata-kata orang pintar dengan gelar dokter itu, itu hanya akan buang-buang tenaga dan jelas, uang. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan kanker otak yang menguasaiku.

6 bulan bisa saja menjadi 8 bulan, setahun, tergantung. Mujizat bisa terjadi, berdoa saja…wah, aku baru tahu ternyata dokterpun punya alternaif lain bila tak mampu lagi menangani pasiennya. Disuruh menunggu mujizat, dan berdoa!

Hmmm….kalau saja berdoa semudah memakan pil-pil dan menerima suntikan dari dokter, dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi…jangan kaget, seumumr hidupku, sampai usiaku 23 ini aku tak pernah berdoa. Aku tak kenal Tuhan. Aku tak tahu Dia ada. Temanku yang baru kukenal 2 bulan menyanggahnya.

“Dia seperti matahari, selalu muncul, selalu bercahaya.”

“Dan statis, selalu dari timur ke barat, begitu?”

“Dia setia, tak pernah berubah dengan janjiNya. Selalu pasti, ya dan amin.”

“…”

“Seperti batu karang itu, kokoh, memberi perlindungan pada apa yang  ada di belakangnya.”

“….”

“Seperti…tukang kerajinan keramik,”wah, perumpamaan aneh. “Akan membentukmu, bahkan mengubahmu dengan sempurna.”

Dia  mampu membuatku tertawa, tawa pertamaku hampir 6 bulan ini.

“Aku sudah 23, apa lagi yang mau di ubah? Bagaimana mengubahnya? Itu mustahil!”

“Asal semuanya mau kau serahkan. Hanya hatimu yang perlu diubah. Dan semuanya akan mengikuti.”

Matahari mulai tenggelam, deburan ombak semakin terdengar dan angin semakin kencang menerpa kulitku. Tak banyak orang yang tersisa. Mungkin mereka pulang, membersihkan badan dan beristirahat untuk menyambut hari esok. Tapi aku, apa yang akan aku jelang esok jika aku tahu, deadline kehidupanku besok?

Jika aku tak bisa membuka mata lagi di dunia ini, akankah aku terbangun di dunia lain? Akankah ada kesakitan? Akankah ada api neraka seperti yang di katakan temanku? Aku tak kenal Tuhan, sedang Tuhan yang punya surga. Aku takut dengan kesakitan lain yang tak dapat kubayangkan, tak mau di neraka, tapi tak ada tempat antara surga dan neraka. Aku mau ke surga, dan kata temanku, aku harus terima Tuhan.

Dan aku baru tahu, ternyata mudah untuk menerima Tuhan dan mendapat karcis ke pintu masuk untuk ke surga. Kau mau dengar ini?

Tuhan Yesus, aku tahu sepanjang hidupku aku nggak pernah mengenalMu tapi aku tahu tak pernah terlambat untuk itu. Saat ini aku buka hatiku untuk menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku yang hidup. Ampuni segala dosa dan pelanggaranku. Terima kasih Tuhan, Amin. (eirenes, anakmuda.net)

Sunday, April 25, 2010

HI, ASL PLZ? (cerita pendek)

Hi, asl plz ?

17 f bdg, dengan cepat Jane mengetikkan jawaban atas pertanyaan yang baru aja diterimanya. Lalu ditekannya enter, dan tak lama kemudian percakapan yang dalam bahasa gaulnya disebut chatting itu pun berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin membuat Jane betah tidak beranjak dari kursinya.

Padahal sudah hampir 2 jam dia duduk di depan komputernya dan gaul dengan internet dan menikmati chattingnya sepulang dari sekolah tadi. Tak diperdulikannya seragam putih abu-abunya yang masih melekat di tubuhnya juga perutnya yang sedari tadi belum diisi dengan barang satu sondok nasi pun.

“Non, Jane…. Makan dulu…..”

“Ah….!”Jane mengibaskan tangannya tak peduli. Air mukanya menunjukkan ketidak nyamanan karena merasa terusik.

“Nanti mama non Jane marah.”

“Biarin aja lah!” Jane menebas ucapan pembantunya tak sabaran.

“Nanti Non sakit…..”

“Uh! Biarin aja napa? Cerewet amat sih?” Hanya sebentar Jane mendelikkan matanya ke arah perempuan tua yang perhatian itu, lalu kembali menatap layar monitor, menunggu foto yang dikirim Andre, temen chat barunya yang dari Jakarta itu dengan harap-harap cemas. Cakep nggak yah?

Nah, rambutnya mulai keliatan, lalu jidatnya. Mulus juga….. lalu hidungnya. Waaah…. Mancung…, Jane berkomentar dalam hati sementara sang Bibi masih mengawasinya dengan harap-harap cemas. Sudah dua bulan belakangan ini nona manisnya ini susah diatur kalo sedang berada di depan komputernya. Dan menjadi tidak ramah saat menjawab. Memangnya apa sih yang dilakukannya itu? Sang Bibi hanya geleng-geleng kepala karena tidak mengerti teknologi itu.

Serius Jane melototin monitornya saat perlahan-lahan pic cowok itu terbuka…….

Waaaaaks! Cakep! Wah……… baru kali ini Jane merasa beruntung mendapat teman chat yang cakep dan langsung saja cerita-cerita manis teman-teman sekolahnya tentang temen-temen chating mereka yang kemudian berhasil jadian dengan mereka terngiang kembali.

Jane hanya senyum-senyum menatap foto cowok cakep di depannya.

“Non………”

“………”

“Non Jane….” Suara si Bibi terdengar sangat mendesak.

“…..”

“Jane!”
Waaaks! Mama! Jane terkesiap melihat mama yang sudah berkacak pinggang di pintu kamarnya.

“Sudah berapa kali mama bilang. Jangan main aja dong. Kamu kan harus belajar! Pasti kamu juga belum makan!” ucap mama yakin melihat baju seragam dan kaus kaki anak gadisnya yang masih melekat di tubuh mungilnya.

“Eh… Mama….” Jane tak mampu berkata-kata. Hanya cengengesan nggak karuan.

***

Ada pepatah “Biar anjing menggonggong, Kafilah tetap berlalu.” Buat Jane itu artinya, “Biar Mama marah-marah terus, chatingnya juga jalan terus!”

Gadis belia itu nggak kapok-kapok dimarahin, diceramahin ama Mama, bahkan diancam itu komputer nggak akan diconect ke internet lagi.

Biarin aja, pikir Jane. Toh bisa ke warnet.

Dan sudah 2 minggu dari pertemuan mayanya dengan Andre, mahasiswa arsitektur itu dan sudah 2 minggu ini juga hari-harinya terasa menyenangkan. Jane sendiri nggak bisa mengerti.                           Apa hanya wajah keren Andre yang mampu membuat ia jadi merasa sukacita terus? Atau ucapan dan janji-janji cowok itu? Dari ucapannya tampaknya cowok itu baik. Ia mampu membangkitkan semangat Jane tatkala Jane merasa gagal dalam ulangan umumnya dan Jane merasa kesal dengan beberapa temannya.

Andre juga yang memampukan Jane untuk kembali bergairah mengikuti Komsel dan kebaktian pemuda tatkala ia merasa bosan dengan Komsel dan kebaktian pemuda dan lebih memilih untuk mengahabiskan waktunya dengan chating.

Dan lebih dari itu… Andre janji akan mengunjunginya akhir pekan ini! Ini hari Kamis, Jane menghitung. Tinggal besok, dan Sabtunya, ia akan bisa bertemu dengan cowok pujaan hatinya., yang diakui Jane sebagai tambatan hatinya. Ia jatuh hati pada cowok itu pada pandangan pertama. Pandangan pertama pada foto cowok itu!

Tariska sudah memperingatkannya untuk tidak terlalu banyak berharap.

“Gua dapet kesan cowok itu cuman pengen sobatan ama elu, Jane. Itu aja! Jangan terlalu banyak berharap deh kalo lo nggak mau kecewa nantinya.”
Tapi telinga Jane sudah tertutup untuk saran seperti itu. Baginya bukan nggak mungkin hubungannya dengan Andre yang hanya via email dan telfon itu bisa berlanjut ke arah yang serius. Mungkin sepertinya ngayal. Tapi boleh donk?

***

Jane mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu sambil sesekali melirik ke jam tangan mungilnya. Andre janji datang jam 4, dan sekarang sudah jam 4 kurang 5 menit. Tapi nggak ada tanda-tanda kedatangan cowok itu.

Ia menghempaskan dirinya dengan kesal dan cemas ke kursi, membiarkan dirinya berpikir. Apa Andre nggak akan datang? Apa cowok itu hanya bercanda? Atau hanya ngisengin dia? Benak Jane dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan tidak enak yang diciptakannnya sendiri sehingga ia tidak sadar dengan suara mobil yang masuk ke pekarangan.

Ia baru sadar saat bel pintu berbunyi. Cepat dirapihkannya pakaiannya dan rambut sebahunya yang hitam legam.

Dengan perasaan nggak karuan dibukanya pintunya.

Andre? Jane langsung bisa mengenali wajah Andre yang ada di depannya. Imut, seperti yang difotonya. Tapi….

“Halo Jane….” Andre juga langsung bisa mengenali wajah manis Jane. “Apa kabar?”

“Ng… baik, baik,” dengan gugup Jane menyambut uluran tangan cowok itu.

Andre menoleh ke belakang dan menganggukkan kepalanya pada seorang pria setengah baya yang masih memegang bagian belakang kursi rodanya. Dan anggukan itu menjadi sebuah kode bagi pria itu untuk pergi.

“Kau tidak mempersilahkan aku masuk?” tanya Andre dengan suara empuknya, seempuk yang sering didengar Jane via kabel telfon.

“Eh… masuk…. masuk….” Jane melebarkan daun pintu dan membiarkan Andre masuk dengan mendorong kursi rodanya sementara Jane masih belum bisa mengatasi kekagetannya. Andre memang secakep yang difotonya, tapi cowok itu nggak bilang kalau dia cacat!

***

Jane menelungkupkan tubuhnya ke kasur. Kejadian beberapa jam yang lalu masih berputar dengan jelas di kepalanya.

Andre memang cakep, tapi dia cacat! Cowok itu duduk di kursi roda tanpa bisa memfungsikan kakinya yang katanya mati rasa saat kecelakaan dua tahun yang lalu di puncak bersama orang tuanya.

“Tapi aku masih bisa bersyukur,” masih terngiang ucapan Andre mengakhiri kisahnya, menjawab tanda tanya yang bisa jelas dibacanya pada wajah Jane.

“Bersyukur?” Jane tak habis mengerti mendengar penuturan cowok itu.

“Setidaknya aku masih hidup. Adik dan kedua orangtuaku tewas seketika.”

Adik dan orangtuanya meninggal, dia sebatang kara dan cacat, lalu dia bilang dia masih bisa bersyukur? Woooo……… Jane benar-benar tak bisa mengerti.

“Banyak hal yang harus aku hadapi sendiri. Pada mulanya aku juga merasa nggak kuat, tapi saat itulah aku melihat arti seorang teman itu. Mereka membangkitkan aku. Mereka ada untuk aku. Dan aku bisa bilang… walau apapun yang terjadi… Tuhan itu baik.”

?@#$%^&*???!!!??” Jane tak habis mengerti mendengar ucapan demi ucapan dari bibir cowok itu ditambah lagi ia tak begitu berminat mendengarkannya.

Baginya Andre hanyalah seorang pembohong. Kenapa dia nggak bilang kalo dia ternyata cacat? Kenapa dia membuat aku berharap terlalu tinggi?

Dan kenapa kau berharap banyak darinya? Toh dia tak menjanjikan apa-apa selain persahabatan. Iya kan? Ada sebuah suara lain di hatinya.

Tapi seandainya aku tau dia cacat…….

Kau bisa menghindar darinya? Kau tak mau berteman dengannya? Kau tak mau mendengar keluh kesahnya seperti yang kau janjikan padanya? Ah, betapa bersyaratnya kau Jane! Mana kasihmu?

Aku….Apa kau jijik padanya? Lihat dia Jane! Dia cacat, tapi dia masih bisa punya semangat hidup. Dia bisa kuliah, dia bisa meneruskan perusahaan Papanya. Dia bisa pelayanan. Dia bisa menghargai temannya dan dia bisa bilang Tuhan itu baik!

Erggghhh!!! Jane menggeram kesal. Ya, ya, ya itu benar. Di matanya keadaan Andre sangat tidak menguntungkan, tapi cowok itu masih bisa mengucap syukur. Bukan seperti dirinya yang selalu uring-uringan kalo ia merasa apa yang menjadi maunya dengan keinginan Mama bertentangan. Atau…. ia selalu marah-marah kalo teman-teman persekutuannya nggak mau diajak shoping dengan alasan macam-macam dan dia merasa mereka begitu sok rohani saat menasehatinya untuk nggak keranjinan chating dan mulai intim lagi ama Tuhan.

Oh! Jane merasa begitu banyak hal yang harus dibenahinya. Ia harus minta maaf pada Andre, harus minta maaf juga sama teman-temannya dan orangtuanya dan juga ama Tuhan……..

Pantas……pantas…….ia kehilangan damai sejahteranya. Itu saat dia mulai nggak mencari Tuhan lagi dan membiarkan suatu hal yang diluar Tuhan menguasai dirinya.

Tapi eh, apa gak boleh chat lagi yah kalo udah tobat? Dan Jane membiarkan otaknya kembali mengingat beberapa perkataan bijak yang pernah didengarnya, untuk melakukan apa yang berguna dan membangun dirinya. Kalo chating emang bisa dipakai untuk membangun dengan cara yang benar dan nggak menyingkirkan posisi Tuhan, kenapa nggak, ya Tuhan? Jane mencoba menawar.

Diambilnya gitarnya yang sudah mulai berdebu dari pojok kamar. Ia teringat satu lagu baru yang akhir-akhir ini sering didengarnya dan ia mulai memetikkan dawai gitarnya dengan penuh kerinduan.

Deeper in love with You…

Deeper in love with You…

……………………………

GFRESH! MAGAZINE

(eirene`s)

MamaOla