
Sinopsis: Setahun sudah sejak 4 bersaudara Peter, Susan, Edmund dan Lucy meninggalkan Narnia, tapi sekitar 1300 tahun berjalan di negeri Narnia. Narnia kembali mengalami perang dan kalah. Kaum manusia pendatang (telmarines) menjajahnya dan membuat penduduk Narnia ‘punah’. Ternyata mereka masih tersisa, dan Pangeran Caspian dari Telmarine tanpa sengaja memanggil keempat bersaudara ini kembali ke Narnia. Mereka harus memimpin Narnia merebut kembali tanahnya. Tapi Aslan, sang penguasa Narnia, menghilang.
SPIRITUAL SYMBOL

“Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." …. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. (2 Petrus 3:4-10)

- Peter: seorang raja Narnia yang punya hati melayani. Ia bersedia melayani Pangeran Caspian. Menggambarkan servant leadership, kepemimpinan yang melayani. Tapi juga Peter menggambarkan iman yang lemah (karena tidak percaya bahwa Aslan masih ada) dan mengandalkan kekuatan manusia (ketika menyerang Telmarine tanpa mencari Aslan terlebih dahulu).
- Susan: awalnya dia ketakutan akan semua yang terjadi. Tapi ketakutan itu dia ubah jadi kepercayaandiri.
- Edmund: dalam film pertamanya, ia adalah sang pengkhianat. Tapi kali ini ia menebusnya dengan berjuang di jalan yang benar. Sama seperti Petrus yang menyangkal Yesus, tapi kemudian menebusnya dengan menjadi rasul yang berkuasa. Menggambarkan pertobatan yang berbuah.


- Reepicheep: Bangsa tikus penduduk Narnia. Pejuang yang tangguh tapiu


RENUNGAN DARI KUTIPAN FILM
- Lucy bilang kalo ia melihat Aslan. Semua tidak ada yang percaya. Peter bilang ‘Kenapa saya tidak melihatnya?’. Lucy menjawab, “Mungkin karena kamu tidak mencarinya”.
Apakah Tuhan ada? Kenapa Dia tidak menampakan diri? Kenapa Tuhan diam saja? Kenapa Tuhan membiarkannya? Kenapa Tuhan tidak menolong? Dimana Tuhan? Mungkin pertanyaan serupa pernah kita tanyakan. Kenapa? Jawabannya mungkin karena kita tidak betul-betul mencariNya.
- Ketika tidak ada yang percaya bahwa Lucy melihat Aslan, Edmund bilang: “Terakhir kali aku tidak percaya pada Lucy, aku terlihat seperti orang bodoh”.
Edmund menggambarkan kita yang sebenarnya ingin percaya, tapi takut untuk melakukannya apa yang kita percayai. Ia sedikit percaya pada Lucy untuk mencari Aslan, tapi kemudian ia ikut dengan yang lain untuk menempuh jalan sendiri.
- Peter bilang, seandainya saja Aslan bisa memberikan semacam ‘bukti’ akan kehadirannya di hutan tempo hari. Lucy menjawab, “Mungkin justru kitalah yang harus membuktikan diri kita padanya”.
Kadang kita minta bukti akan keberadaan Tuhan, kemahakuasaanNya, kebaikanNya, mujizatnya, pertolonganNya, kehadiranNya. Tapi apakah kita sudah cukup bisa membuktikan diri kita padaNya? Mungkin kita juga bilang kalo kita percaya padaNya, tapi apakah Tuhan percaya pada kita?
“…banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” (Yohanes 2:23-25)

- Ketika Lucy bertemu dengan Aslan, Lucy bilang kalo Aslan terlihat lebih besar. Lalu Aslan menjawab, “Setiap tahun kamu bertumbuh, begitu juga dengan aku”. Versi bukunya bilang, “Setiap tahun kamu bertumbuh, kamu akan melihatku semakin besar”.
Semakin rohani kita bertumbuh, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan adalah segalanya. Tuhan akan semakin besar, dan kita akan jadi semakin kecil. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Sebaliknya jika kerohanian kita menurun, maka kitalah yang menjadi semakin ‘besar’ dan melupakan Tuhan.
- Ketika Lucy bertemu dengan Aslan dan bertanya kenapa Aslan tidak menolong penduduk Narnia seperti yang pernah dilakukannya dulu, Aslan menjawab “Tidak ada hal yang sama terjadi berulang”.
Pertolongan Tuhan sering kali tidak berpola. ‘Pengalaman’ bukanlah guru yang terbaik, bahkan kadang jadi guru yang buruk. Perjalanan hidup kita harus selalu minta petunjuk Tuhan, karena seringkali Tuhan punya rencana yang berbeda dari yang pernah kita alami sebelumnya. Sama kayak Daud yang harus selalu minta petunjuk Tuhan untuk berperang, Tuhan tak pernah memberikan strategi yang sama untuk menghadapi musuh yang berbeda. Suatu saat mungkin Tuhan memberikan jalan keluar A, tapi berikutnya sekalipun kasusnya sama tetapi Tuhan bias saja memberikan jalan keluar B, karena hanay Tuhan yang tau apa yang terbaik.
- Ketika Peter mengambil keputusan untuk menyerang Telmarine tanpa mencari dahulu Aslan, Lucy bertanya: “Kau melakukan ini untuk siapa?”
Seringkali kita seolah-olah melakukan kebenaran atau hal untuk kebaikan, tapi selidikilah motivasi terdalam kita. Apakah untuk memuliakan Tuhan atau memuliakan diri sendiri? Untuk menolong orang lain atau ego?
- Ketika tahta Narnia akan diberikan pada Caspian, dengan rendah hati Caspian bilang: “Aku pikir aku tidak pantas (untuk menjadi raja Narnia)” dan Aslan bilang, “Justru karena alasan itulah, saya tau kamu pantas”.
Kerendahanhati adalah tanda kita siap menjadi pemimpin yang baik. Yesus sendiri menekankan: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26-28). (by FeryGFRESH! www.kacamata3d.blogspot.com, jangan beli bajakan!)
HOME
Apapun pendapat orang ttg film ini, saya percaya film ini ga dibuat secara kebetulan.. yup.. i think.. ada campur tangan Tuhan dlm prosesnya.. Amazing.. smua ulasan K Fery ttg film ini seharusnya bisa dibaca semua orang.. coz, secara ga langsung film ini menggambarkan kehidupan manusia skrang yang meragukan keTuhanan dan menyepelekan iman..
ReplyDeleteC. S. Lewis has a superb way of evangelism!! nice nice writings. i love it. ^^ God bless... :D
ReplyDeletewow...nice post.thx ya buat renungannya. bikin aku jadi mikir balik :)
ReplyDeleteYap..setuju ama Olive, apa yang telah dirancangkanNya bukanlah sesuatu yang kebetulan dan biasa-biasa saja.
God bless :)
Ho..Ho...Ho...
ReplyDeleteSalut buat Producer Narnia dan C.S Lewis pengarang novel aslinya..
TOP BGT lah!
Memang banyak hal yang dapat dipelajari dari Film Prince Caspian ini...
Terutama saat si Lucy cuma mengeluarkan Pisau Kecilnya sambil tersenyum saat berhadapan dengan ribuan tentara TelMarine. Ya iya lah terang aja berani, wong ada ASLAN dibelakang jadi bekingnya...
Who not fear??
-black stone
Wah... lengkap!! :D
ReplyDeletehehehe...
Nice bro..
SEMANGAT!!!
Jbu
good job ,Bro
ReplyDeletethumbs^^d
cu ^^/
sy belum berkesempatan melihat filem ini...tapi sy usahakan untuk mendapatkan kan DVD nya...tambah-tambah lagi ada ulasan yang mantap..buat saya tidak sabar untuk menontonnya sendiri....
ReplyDeleteterus menulis untuk Tuhan ya Bro...
sy sangat diberkati..
salam dari Malaysia
-renny-
artikel-nya memberkati.. :)
ReplyDeletethanks ya.. terus berkarya dalam Tuhan.. GBu